Bab 4 Hasil Penelitian
4.4 Uji Hipotesis Penelitian
9.1.1. Analisis Regresi Variabel Penelitian
Tahap ini dijelaskan pengujian hipotesis penelitian dengan teknik analisis regresi berganda (multiple regression analysis). Pengujian analisis regresi ganda dilakukan dengan bantuan software SPSS versi 22. Pada analisis regresi berganda, ada 3 (tiga) hal yang dilihat. Pertama ialah melihat nilai koefisien determinasi atau R Square (R2) untuk mengetahui presentase (%) pengaruh independent variabel (IV) terhadap
dependent variabel (DV). Kedua melihat nilai signifikansi (Sig), yaitu nilai yang
(DV) secara signifikan atau tidak. Ketiga nilai koefisien regresi, yaitu nilai dan signifikansi dari setiap independent variabel (IV) beserta arah pengaruhnya terhadap dependent variabel (DV).
Langkah pertama yang dilakukan adalah melihat nilai koefisien determinasi atau R Square (R2) untuk mengetahui besar proporsi pengaruh independent variabel (IV) yaitu openness to experience, conscientiousness, extraversion, agreeableness,
neuroticism, self control jenis kelamin dan usia terhadap dependent variabel (DV) cyberloafing. Nilai R Square dapat dilihat dalam tabel 4.5 sebagai berikut:
Tabel 4.5
Model Summary Analisis Regresi
Model R R Squa re Adjust ed R Square Std. Error of the Estima te Change Statistics R Square Change F Chan ge df 1 df2 Sig. F Cha nge 1 .4 59 a .211 .179 8.85855 .211 6.573 8 197 .000
a. Predictors: (Constant), Openess to experience, conscientiousness, extraversion, agreeableness, neuroticism, self control Jenis kelamin, Usia
Pada tabel 4.5 dapat dilihat bahwa nilai R Square yang diperoleh dalam penelitian sebesar .211 atau 21.1%. Artinya proporsi pengaruh openness to experience,
conscientiousness, extraversion, agreeableness, neuroticism, self control, jenis
kelamin dan usia sebesar 21.1%. Sisanya 78.9% dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian.
Langkah kedua ialah melihat hasil dari uji F untuk mengetahui pengaruh
independent variabel : openness to experience, conscientiousness, extraversion, agreeableness, neuroticsm, self control, jenis kelamin dan usia terhadap dependent
variabel cyberloafing signifikan atau tidak. Adapun hasil uji F terdapat pada tabel
4.6 berikut: Tabel 4.6
ANOVA Pengaruh Keseluruhan IV terhadap DV
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 4126.688 8 515.836 6.573 .000b* Residual 15459.354 197 78.474 Total 19586.042 205
Pada tabel 4.6 terdapat signifikansi seluruh variabel independent variabel terhadap dependent variabel. Nilai signifikansi penelitian bisa dilihat pada kolom sig. dengan nilai 0.000. Nilai sig<0.05 menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan. Nilai ini mengkonfimasi bahwa hipotesis mayor dalam penelitian yang mengatakan “Terdapat pengaruh yang signifikan Big five personality trait (Openess
to experience, conscientiousness, extraversion, agreeableness, neuroticism) self control dan Faktor Demografi (Jenis Kelamin, Usia) secara kolektif terhadap cyberloafing” dapat diterima. Sehingga, hal ini bermakna terdapat pengaruh yang
signifikan Big five personality trait (openness to experience, conscientiousness,
extraversion, agreeableness neuroticism) self control dan faktor demografi secara
bersama-sama terhadap cyberloafing.
Langkah ketiga ialah melihat nilai koefisien regresi setiap independent
variabel yang digunakan dalam penelitian. Nilai koefisien regresi setiap variabel
a. Dependent Variable: Cyberloafing
b. Predictors: (Constant), ) Openess to experience, conscientiousness, extraversion, agreeableness, neuroticism, self control Jenis kelamin, Usia
penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.7 seperti yang sudah ditampilkan sebagai berikut: Tabel 4.7 Keofisien Regresi Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 24.020 7.090 3.388 .001 Openess to experience .167 .101 .152 1.647 .101 Conscientiousness -.182 .104 -.167 -1.758 .080 Extraversion .269 .104 .231 2.588 .010* Agreeableness -.077 .095 -.072 -.806 .421 Neuroticsm .238 .073 .228 3.258 .001* Self conrol .111 .107 .107 1.040 .300 Jenis_Kelamin 1.775 1.297 .091 1.369 .173 Usia -3.470 1.319 -.170 -2.632 .009*
a. Dependent Variable: Cyberloafing Keterangan: (*) signifikan (<0.05)
Berdasarkan data pada tabel 4.7 dapat ditunjukkan dengan persamaan regresi sebagai berikut:
Cyberloafing = 24.020 + 0.167 (openess to experience) – 0.182 (conscientiousness) + 0.269 (extraversion*) – 0.077 (agreeableness) + 0.238 (neuroticism*) + 0.111 (self control) + 1.775 (jenis kelamin) – 3.470 (usia*)
Analisis Nilai persamaan regresi yang dihasilkan dari analisis dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Konstan = 24.020
Nilai konstanta positif menunjukan pengaruh positif variabel independen (Big five personality trait, self control dan faktor demografi). Bila variabel independen naik
atau berpengaruh dalam satuan, maka variabel cyberloafing akan naik atau terpenuhi.
2. Openess to experience = 0.167
Nilai 0.167 merupakan koefisien regresi variabel openness to experience terhadap
cyberloafing. Artinya, jika openness to experience mengalami kenaikan satu satuan
maka cyberloafing akan mengalami peningkatan sebesar 16,7% koefisien bernilai positif artinya openness to experience dan cyberloafing memiliki hubungan positif. Kenaikan nilai openness to experience akan mengakibatkan kenaikan pada
cyberloafing.
3. Conscientiousness = -0.182
Nilai -0.182 merupakan koefisien regresi varaiabel conscientiousness terhadap
cyberloafing. Artinya, jika conscientiousness mengalami kenaikan satu satuan
maka cyberloafing akan mengalami penigkatan sebesar -18,2%, koefisien bernilai negatif artinya conscientiousness dan cyberloafing artinya kenaikan nilai
conscientiousness akan mengakibatkan pengurangan pada cyberloafing.
4. Extraversion = 0.269
Nilai 0.269 merupakan koefisien regresi variabel extraversion terhadap
cyberloafing. Artinya, jika extraversion mengalami kenaikan satu satuan maka cyberloafing akan mengalami peningkatan sebesar 26.9%, koefisien bernilai positif
artinya extraversion dan cyberloafing akan mengakibatkan kenaikan pada
5. Agreeableness = -0.077
Nilai -0.077 merupakan koefisien regresi variabel Agreeableness terhadap
cyberloafing. Artinya, jika Agreeableness mengalami kenaikan satu satuan maka cyberloafing akan mengalami peningkatan sebesar -0.77% koefisien bernilai
negatif, artinya kenaikan nilai agreeableness akan mengakibatkan pengurangan pada cyberloafing.
6. Neuroticism = 0.238
Nilai 0.238 merupakan koefisien regresi variabel neuroticism terhadap
cyberloafing. Artinya, jika neuroticism mengalami kenaikan satu satuan maka cyberloafing akan mengalami peningkatan sebesar 23.8% , koefisien bernilai
positif, artinya kenaikan nilai neuroticism akan mengakibatkan kenaikan pada
cyberloafing.
7. Self Control = 0.111
Nilai 0.111 merupakan koefisien regresi variabel self control terhadap cyberloafing. Artinya, jika self control mengalami kenaikan satu satuan maka self control akan mengalami peningkatan sebesar 11.1%, koefisien bernilai negatif, artinya kenaikan
self control akan mengakibatkan pada cyberloafing.
8. Jenis Kelamin = 1.775
Nilai koefisien regresi jenis kelamin sebesar 1.775. Hal ini memiliki makna setiap perbedaan jenis kelamin pegawai satu satuan maka cyberloafing yang dilakukannya juga akan naik sebesar 1.775 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap.
9. Usia = -3.470
Nilai koefisien regresi Usia sebesar -3.470. Hal ini mengandung makna setiap pertambahan usia satu satuan maka cyberloafing yang dilakukannya juga akan naik sebesar -3.470 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap.
Berdasarkan tabel 4.7 nilai signifikansi setiap independent variabel dilihat dari nilai sig. Jika nilai sig<0.05 mengartikan bahwa koefisien regresi yang dihasilkan bermakna signifikan. Hasil uji regresi pada peneltian menunjukkan terdapat tiga variabel memiliki koefisien regresi signifikan, masing-masing variabel
extraversion, neuroticism dan usia. Variabel lain yang diuji pada penelitian ini
(Openness to experience, Conscientiousness, Agreeableness, elf control dan jenis kelamin) tidak menunjukkan nilai koefisien regresi signifikan. Penjelasan nilai koefisien regresi yang diperoleh setiap independent variabel, sebagai berikut: 1. Variabel Openness to experience
Openness to experience menghasilkan nilai koefisien regresi sebesar 0.167 dengan
nilai signifikansi sebesar 0.101 (sig.<0.05). Artinya variabel openness to experience pengaruhnya tidak signifikan terhadap cyberloafing.
2. Variabel Conscientiousness
Conscientiousness menghasilkan nilai koefisien regresi sebesar -0.182 dengan nilai
signifikansi sebesar 0.080 (sig.<0.05). Artinya variabel conscientiousness pengaruhnya tidak signifikan terhadap cyberloafing.
3. Variabel Extraversion
Extraversion menghasilkan nilai koefisien regresi sebesar 0.269 dengan nilai
signifikansi sebesar 0.010 (sig.<0.05). Artinya variabel extraversion berpengaruh secara signifikan dengan arah positif terhadap cyberloafing. Dengan demikian dapat dijelaskan semakin tinggi extraversion maka semakin tinggi cyberloafing. 4. Variabel Agreeableness
Agreeableness menghasilkan nilai koefisien regresi sebesar -0.077 dengan nilai
signifikansi sebesar 0.421 (sig.<0.05). Artinya variabel Agreeableness pengaruhnya tidak signifikan terhadap cyberloafing.
5. Variabel Neuroticism
Neuroticism menghasilkan nilai koefisien regresi sebesar 0.238 dengan nilai
siginifikansi sebesar 0.001 (sig.<0.05). Artinya variabel neuroticism berpengaruh secara signifikan dengan arah positif terhadap cyberloafing. Sehingga, dapat diartikan semakin tinggi neuroticsm maka semakin tinggi cyberloafing.
6. Variabel Self Control
Self Control menghasilkan nilai koefisien regresi sebesar 0.111 dengan nilai
signifikansi sebesar 0.300 (sig.<0.05). Artinya variabel self control pengaruhnya tidak signifikan terhadap cyberloafing.
7. Variabel Jenis Kelamin
Jenis kelamin menghasilkan koefisien regresi sebesar 1.775 dengan nilai signifikansi sebesar 0.173 (sig.<0.05). Artinya variabel jenis kelamin pengaruhnya tidak signifikan terhadap cyberloafing.
8. Variabel Usia
Usia menghasilkan koefisien regresi sebesar -3.470 dengan nilai signifikansi sebesar 0.009 (sig.<0.05). Hal ini berarti variabel usia berpengaruh secara signifikan terhadap cyberloafing.