Untuk melihat adakah pengaruh signifikan antara pendekatan
Problem Posing terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa, peneliti menguji hipotesis dengan t-test.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa data kemampuan berpikir kreatif siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal dan homogen.
Dari penelitian diperoleh bahwa rata-rata kelas eksperimen (x1) = 85,23 dan kelas kontrol ( x2 ) = 71,45 dengan n1= 34 dan
2 1 2 1 1 1 n n S x x t g a b
74 2
n = 37 dan simpangan baku Sgab= 7,45 diperoleh thitung = 7,82
dengan α = 5% dan dk = ( 37+34)-2 = 69, diperoleh ttabel = 1,99. Kriteria pengujian Ho ditolak dan Ha diterima jika thitung > ttabel, berdasarkan hasil tersebut ternyata thitung > ttabel yaitu 7,82 > 1,99. Dengan demikian dari hasil pengujian hipotesis tersebut Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada pengaruh signifikan antara pendekatan Problem Posing terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada
lampiran IV. E. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian ada 8 indikator respon siswa selama pembelajaran dengan Problem Posing terdapat 7 indikator yang muncul dan 1 indikator yang tidak muncul. Berikut indikator respon siswa yang muncul yaitu sebagai berikut :
a) Kerja Keras
Persentase rata-rata nilai kerja keras dalam penelitian ini adalah 74%. Persentase itu menunjukkan bahwa nilai kerja keras telah muncul dengan baik selama proses pembelajaran. Sesuai dengan tujuannya, pembelajaran dengan pendekatan Problem Posing
menuntut dilakukannya kerja keras, dalam arti diperlukan pengerahan kerja mental besar-besaran saat melakukan berbagai jenis elaborasi dan pertimbangan yang dibutuhkan (PPPPTK Matematika, 2010:18).
75
Nilai kerja keras dapat dilihat melalui observasi dan latihan tertulis siswa.
Selama proses pembelajaran fokus siswa terhadap pekerjaannya masing-masing sudah baik, baik dalam aktifitas diskusi kelompok kecil maupun diskusi kelas. Siswa berusaha untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dengan sebaik mungkin.
Gambar 18. Siswa fokus pada pekerjaan kelompoknya masing- masing
Selain dari observasi, kerja keras juga dapat dilihat dari hasil pekerjaan siswa. Dalam mengerjakan soal siswa dituntut untuk teliti dan tidak mudah menyerah dalam mengerjakan soal. Pada soal yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi, siswa harus mencoba berkali-kali untuk menyelesaiakannya. Sikap pantang menyerah dan tidak mudah putus asa harus dimiliki siswa agar dapat menyelesaikan soal. Seperti pada kutipan wawancara berikut.
Kutipan wawancara peneliti dengan Deni :
Deni : Ngerjoinnyo kemarin dioret-oret dulu, dak langsung kami tulis di LKS.
76
Peneliti : Langsung dapat jawabannya waktu dioret - oret ? Deni : Idak, bu. Kami berapo kali cari - cari dulu.
Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa siswa tersebut bersama kelompoknya tidak langsung mendapatkan jawaban dari soal, tetapi mereka mencari ulang beberapa kali untuk mendapatkan hasil yang dimaksud soal. Dalam hal ini, kelompok Deni memiliki kerja keras untuk menyelesaikan soal tersebut dan tidak mudah putus asa sehingga mau mencoba untuk mengerjakan berulang-ulang.
Meski tidak keseluruhan siswa mengerjakan soal dengan tepat namun sikap fokus dalam pembelajaran, pantang menyerah, tidak mudah putus asa dan ketelitian siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan telah menunjukkan persentase yang baik, hal tersebut berarti bahwa nilai kerja keras telah diterapkan dan muncul selama pembelajaran.
b) Kreatif
Nilai kreatif adalah nilai yang telah direncanakan dalam RPP. Nilai kreatif dapat dilihat selama proses pembelajaran, yaitu dari ide-ide alternatif siswa yang digunakannya untuk mempermudah menyelesaikan sebuah tugas. Dalam penelitian ini deskriptor yang dominan muncul pada siswa adalah penggunaan ide-ide alternatif selama penyelesaian tugas. Kemampuan menunjukkan kekuatan dan kelemahan suatu pemecahan atau penyelesaian masalah juga sudah cukup baik. Siswa sudah mampu memberikan alasan yang tepat
77
terhadap pemilihan suatu alternatif penyelesaian masalah yang digunakannya.
Dalam penelitian ini nilai kreatif muncul sebesar 79 %. Rata - rata persentase tersebut menunjukkan bahwa dengan pendekatan
Problem Posing nilai kreatif dapat muncul dengan baik.
Gambar 19. Siswa menggunakan cara alternatif untuk mempermudah mengerjakan tugas.
c) Mandiri
Dalam penelitian ini, nilai mandiri telah direncanakan dalam RPP pertemuan keempat dan diharapkan muncul pada pertemuan tersebut. Pada proses pembelajaran nilai mandiri telah muncul pada siswa, namun persentasenya masih tergolong kategori cukup, khususnya pada pertemuan keempat. Persentase rata - rata nilai mandiri adalah sebesar 64,38 %.
Pembelajaran berdasarkan masalah pada hakekatnya juga bertujuan untuk membantu siswa menjadi pelajar yang otonom dan mandiri. Pelajar yang otonom dan mandiri ini dalam arti tidak sangat tergantung pada guru (PPPPTK Matematika, 2010:18).
78
Pada pertemuan pertama sampai dengan petemuan ketiga, nilai mandiri dapat dikategorikan cukup baik. Siswa dapat mengerjakan tugasnya masing-masing dengan baik sesuai dengan pembagian tugas di kelompoknya. Peneliti membantu siswa dengan cara membimbing dan mengarahkan siswa melalui pertanyaan-pertanyaan yang dapat membantu mereka berfikir dan menemukan penyelesaian masalah.
Sedangkan pada pertemuan keempat inilah nilai mandiri siswa dapat dikategorikan kurang. Pada pertemuan tersebut siswa diberikan 4 soal uraian untuk dikerjakan secara mandiri. Akan tetapi dalam pelaksanaannya siswa masih berdiskusi dengan teman sebangku atau teman yang duduk tidak jauh darinya untuk memastikan langkah penyelesaian soal. Setelah memastikan langkah pengerjaan, kemudian siswa umumnya menuliskan jawaban dengan cara penulisannya masing-masing dikertas jawaban. Ada pula siswa yang meminta bantuan kepada peneliti untuk membantu mereka menemukan penyelesaian masalah.
Dari wawancara peneliti dengan siswa berikut dapat diketahui bahwa siswa berikut juga berdiskusi dengan teman sebangkunya saat mengerjakan soal mandiri.
Kutipan wawancara peneliti dengan Fani : Peneliti : Kok tanya sama Dyah? Nyontek ya ?
Fani : Idak, bu. Waktu latihan kan dio duduk dengan aku, jadi aku
79
Kemunculan nilai mandiri yang belum maksimal dalam penelitian dikarenakan kurangnya kemampuan peneliti untuk mengontrol kelas tersebut. Selain itu agar tujuan pembelajaran dapat berjalan maka aturan yang jelas sangat dibutuhkan agar siswa mengetahui kapan mereka diharapkan berbicara satu sama lain dan kapan diharapkan mereka untuk bekerja secara mandiri.
d) Demokratis
Nilai demokratis merupakan salah satu nilai yang telah direncanakan dalam RPP peneliti, nilai ini dapat dilihat dari observasi selama proses pembelajaran, diantaranya adalah dengan melihat cara siswa dalam menghargai kesamaan hak antara dirinya dan teman sekelasnya. Pada penelitian ini, nilai demokratis telah muncul pada siswa selama proses pembelajaran dengan rata - rata persentase sebesar 80 % .
Dalam pembelajaran menggunakan pendekatan Problem Posing, siswa diharuskan untuk menyajikan hasil diskusinya, baik secara lisan maupun tulisan. Pada tahap ini, siswa memberikan kesempatan kepada kelompok penyaji untuk menyampaikan hasil diskusinya di depan kelas dan kelompok peserta diskusi mendengarkan presentasi. Sebaliknya, jika terdapat anggota diskusi yang memiliki jawaban berbeda, maka kelompok tersebut berhak menyampaikan pendapatnya dan kelompok yang lain wajib untuk menyimak apa yang disampaikan.
80
Seperti pada pertemuan pertama, pada tahap apersepsi, peneliti mengingatkan kembali kepada siswa mengenai limit. Pada tahap tersebut peneliti meminta siswa untuk menyampaikan pendapatnya mengenai contoh limit dalam kehidupan sehari-hari. Peneliti kemudian menunjuk seorang siswa untuk menyampaikan pendapatnya, siswa tersebut menyatakan bahwa SPBU juga termasuk contoh real dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian siswa yang lain menyampaikan bahwa pendapat tersebut tidak tepat. Menurutnya harga yang jual itu akan bulat tanpa limit. Peneliti kemudian mengajak siswa untuk menganalisis pendapat yang disampaikan oleh siswa-siswa tersebut. Pada tahap tersebut siswa-siswa tidak saling menyalahkan satu sama lain dan memberikan kesempatan untuk saling menyampaikan pendapat.
Pada pertemuan kedua, di mana saat kelompok penyaji mempresentasikan hasil diskusinya, terdapat beberapa kelompok peserta yang memiliki jawaban berbeda. Kelompok yang berbeda pendapat ini kemudian diminta untuk menyampaikan pendapatnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai demokratis telah diterapkan siswa dalam pembelajaran.
81
Kemudian, pada wawancara dengan Annisa diketahui bahwa nilai demokratis juga telah diterapkan oleh siswa ketika menyikapi perbedaan pendapat dalam kelompoknya. Adapun kutipan wawancara peneliti dengan Annisa adalah sebagai berikut.
Kutipan wawancara peneliti dengan Annisa :
Peneliti : Terus kemarin ambil keputusan terakhir untuk
ngerjain itu kayak mana? Ambil pendapat Annisa atau Irfan?
Annisa : Ambil pendapat Annisa. Karena bener jawaban Annisa, bu.
Peneliti : Diskusi gak sama Irfan?
Annisa : Diskusi, bu. Sudah dikasih tahu bahwa itu bukan sifat limit.
Dari kutipan tersebut diketahui bahwa Annisa dan Irfan memiliki pendapat yang berbeda dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan di LKS. Maka untuk mengambil keputusan akhir, kelompok tersebut melakukan diskusi dan diperoleh kesimpulan bahwa jawaban yang akan digunakan adalah jawaban Annisa.
e) Rasa Ingin Tahu
Pada penelitian ini, rasa ingin tahu merupakan salah satu nilai yang muncul dan telah direncanakan dalam RPP. Dalam penelitian ini kemunculan nilai rasa ingin tahu adalah sebesar 70 %. Sesuai dengan sintaks pendekatan Problem Posing, dimana siswa didorong untuk
82
mengumpulkan dan mencari tahu informasi yang sesuai dengan permasalahan yang akan diselesaikan, kemudian melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah (Supinah, 2010:21).
Rasa ingin tahu dapat dilihat langsung melalui observasi dan pengerjaan soal oleh siswa. Rasa ingin tahu siswa juga dapat disimpulkan melalui wawancara.
Kutipan wawancara peneliti dengan Fani :
Peneliti : Kenapa kok kamu mau dengerin temen yang lagi presentasi di depan ?
Fani : Biar ngerti, bu. Kan soalnyo lain-lain. Biar ngerti jugo. Adanya keinginan Fani untuk memperhatikan penjelasan dari kelompok lain yang sedang presentasi menunjukkan bahwa siswa tersebut memiliki rasa ingin tahu.
Gambar 21. Siswa mencari jawaban dibuku cetak matematika Gambar di atas menunjukkan aktivitas siswa yang sedang mencoba mencari informasi yang mereka butuhkan dibuku cetak matematika. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa siswa memiliki rasa ingin tahu atas pertanyaan yang terdapat pada LKS sehingga
83
mereka mencoba mencari dan menemukan informasi yang dapat membantu mereka menyelesaikan permasalahan.
f) Menghargai Prestasi
Nilai menghargai prestasi dalam penelitian ini direncanakan dalam RPP peneliti, akan tetapi nilai tersebut muncul dalam pembelajaran, persentasenya adalah sebesar 74 %. Hal tersebut juga dapat dilihat dari kutipan wawancara berikut.
Kutipan wawancara peneliti dengan Bella :
Peneliti : Kenapa presentasi temennya didengerin ?
Bella : Biar ngerti, bu. Terus biar kalau kita maju, didengerin
juga sama kawan - kawan. Kutipan wawancara peneliti dengan Deni :
Peneliti : Kemarin sewaktu kawannya menjelaskan di depan kelas, kamu dengeringak mereka jelasin apa ?
Deni : Dengerin, bu. Peneliti : Kenapa ?
Deni : Biar nambah ngerti, apa lagikan soalnya ada yang beda, jadi biar faham, bu.
Dari kutipan wawancara di atas dapat dilihat bahwa nilai menghargai prestasi telah diterapkan oleh siswa, yaitu dengan adanya sikap tertib saat memperhatikan penjelasan teman yang sedang mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas, serta keinginan untuk memahami hasil pekerjaan teman.
84 g) Komunikatif
Nilai komunikatif dalam penelitian ini juga telah direncanakan dalam RPP peneliti dan persentase kemunculannya adalah sebesar 78,63% . Nilai komunikatif dapat dilihat selama proses pembelajaran melalui keaktifan siswa menyampaikan pendapat, berdiskusi dengan anggota kelompoknya dan mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya didepan kelas . Seperti yang dikemukakan Indrawati (2009:29) bahwa pendekatan Problem Posing menjadi sarana untuk melatih peserta didik melihat masalah dan memecahkannya dari berbagai sudut pandang keilmuan, bagaimana cara untuk membangun pengetahuan melalui kerja ilimiah, bekerja sama dalam kelompok, belajar berinteraksi dan berkomunikasi, serta bersikap ilmiah. Dalam penelitian ini nilai komunikatif terlihat pada setiap pertemuan, hal tersebut dikarenakan dalam pembelajaran ini siswa dituntut untuk menyampaikan pendapat dan mempresentasikan hasil kerjanya didepan kelas.
85
Berikut adalah soal-soal yang dibuat oleh siswa ( Problem Posing ) pada pertemuan kedua :
Gambar 22. soal Problem Posing 1
Gambar 23. soal Problem Posing 2
Pada gambar dapat dilihat bahwa gambar 22 siswa langsung memasukkan angka kedalam tabel dengan tidak memperlihatkan cara mendapatkan hasilnya. Sedangkan gambar 23 siswa menunjukkan pencarian hasil didalam tabel dengan perhitungan manual.
86
Gambar 24. soal Problem Posing 3 Gambar 25. soal Problem Posing 4 Dari gambar (24 ) dan gambar (25) di atas, dari kelompok penyaji (gambar 25) terdapat perbedaan mulai dari tabel yang cara penulisannya berbeda. Pada kelompok penyaji menggunakan tanda ( ... ) di sekitar angka 5 sedangkan pada kelompok yang membahas (gambar 24) tidak menggunakan tanda tersebut yang berakibat dapat mengurangi penilaian, selain itu pada jawaban di dalam tabel terlihat bahwa perbedaan itu sangat jauh berbeda antara kelompok penyaji dengan kelompok pembahas, pada kelompok penyaji hasil akhirnya diperoleh angka 10 sedangkan pada kelompok pembahas diperoleh angka -5. Adapun kesalahan terulang lagi oleh kelompok pembahas untuk grafik pada kelompok penyaji terlihat jelas perbedaan garis putus-putus dan garis utuh yang digunakan sedangkan pada kelompok pembahas menggunakan semua garis putus-putus. Untuk pembahasan yang tepat adalah pada kelompok penyaji.
87
Gambar 26. soal Problem Posing 5
88
Gambar 28. soal Problem Posing 7 Gambar 29. soal Problem Posing 8 Dari kedua gambar 28 dan gambar 29 diatas dapat terlihat ada perbedaan jawaban dari kelompok penyaji dengan kelompok pembahas. Dari kelompok penyaji (gambar 29) pengerjaan sangat teliti sedangkan pada kelompok pembahas kurang teliti dalam menjawab soal.
89
Gambar 30. soal Problem Posing 9 Gambar 31. soal Problem Posing 10 Dari gambar 30 dan gambar 31 diatas, dapat dilihat bahwa keragaman soal yang dibuat oleh siswa walaupun hanya sekedar tanda – dan + saja. Pada gambar sebelumnya ( gambar 28 ) soal yang dibuat oleh siswa adalah
2 4 lim 2 2 x x x
sedangkan pada gambar 30 di atas
2 4 lim 2 2 x x
x namun kedua soal tersebut tetaplah berbeda. Pada gambar diatas terjadi kekeliruan siswa dalam meletakkan koordinat y= -4 dan x= -2 yang seharusnya koordinat y= -4 terletak dibawah tapi pada kelompok penyaji meletakkan pada bagian atas, sedangkan untuk x= -2 seharusnya diarah kiri oleh kelompok penyaji diletakkan di arah kanan yang bernilai +. Disini terlihat bahwa ada sebagian dari kelompok penyaji yang salah menjawab soal buatan mereka sendiri.
90
Berikut adalah soal yang dibuat siswa ( Problem Posing ) pada pertemuan ketiga :
Gambar 31. soal Problem Posing 11
Pada gambar diatas, di ketahui bahwa ada 3 soal yang dibuat oleh kelompok penyaji namun jawaban dari kelompok pembahas hanya 2 soal. Ini dikarenakan kelompok pembahas kurang memahami soal yang diajukan oleh kelompok penyaji. Namun jawaban kelompok pembahas memiliki banyak gagasan yang baru. Pada soal no 1 kelompok pembahas menjawab dengan rumus singkat sedangkan pada soal no 2 kelompok pembahas memberikan 2 solusi dengan cara yang berbeda yaitu dengan substitusi dan dengan pendiferensialan.
91 Seharusnya 0 ) 2 (lim y
Gambar 32. soal Problem Posing 12
92
Gambar (33) diatas adalah soal yang dibuat oleh siswa pada pertemuan ketiga, pada gambar diatas siswa masih ada yang lupa dalam menuliskan lim
sebelum nilai lim dimasukkan. Pengerjaan soal diatas sudah tepat dijawab oleh siswa namun tetap mengurangi penilaian karena kekurang telitian siswa dalam mengerjakan soal.
Gambar 34. soal Problem Posing 14
Jawaban pada gambar 34 diatas belum tepat karena pada langkah awal mengerjakan soal tersebut sudah ditemukan kesalahan dalam merasionalkan. Sehingga perhitungan akhirnya tidak menemukan solusi yang benar.
Berdasarkan pengujian hipotesis, terbukti bahwa terdapat pengaruh positif penggunaan pendekatan Problem Posing terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Penelitian ini berpusat pada materi limit fungsi kelas XI Madrasah Aliyah. Proses pembelajaran dengan pendekatan Problem
93
Posing menekankan pada peran aktif dan kekreatifan peserta didik untuk membangun pengetahuannya sendiri maupun kelompok. Dengan berkelompok kemampuan berpikir kreatif peserta didik akan lebih berkembang.
Berkembangnya kemampuan berpikir kreatif peserta didik karena adanya peran aktif peserta didik sesuai dengan pendapat Alberti, Jacquie (Slavin, Robert E, 2010 : 39 ) “ cara terbaik untuk mengajari para siswa
supaya memberikan penjelasan lengkap dan bukannya hanya sekedar berbagi jawaban adalah membuat siswa sebagai model dalam
pembelajaran”. Dengan adanya diskusi kelompok dan kreatif siswa membuat soal sendiri, akan melatih peserta didik untuk dapat menyelesaikan masalah dengan cara sendiri dan jika terbiasa akan mengembangkan kemampuan berpikir kreatif pada siswa.
Setelah masing-masing kelompok telah selesai membuat soal maka kelompok yang lainpun harus siap menjawab soal tersebut dengan tepat. Hal ini sesuai dengan Uno (2011:139) bahwa “proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri aturannya baik berupa konsep, teori dan definisi”.
Berbeda dengan proses pembelajaran metode ceramah tanpa metode ataupun pendekatan lain maka peserta didik hanya menerima konsep yang diberikan guru dan contoh penerapannya, sehingga peserta didik hanya menghafal apa yang dijelaskan guru. Akibatnya peserta didik akan mudah lupa dan hanya mampu menyelesaikan soal yang bentuknya sama seperti
94
yang dijelaskan oleh guru, sehingga sulit bagi mereka untuk menyelesaikan permaslahan yang lainnya. Hal tersebut yang menyebabkan pendekatan
Problem posing memiliki pengaruh positif terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa.
Adapun kendala yang dihadapi pada pendekatan Problem Posing yaitu kurangnya alokasi waktu yang diberikan dalam proses pembelajaran, ditambah lagi oleh peserta didik yang sulit beradaptasi dengan teman kelompoknya, sehingga sering kebingungan menyelesaikan permasalahan.
Berdasarkan hasil perolehan dan pengelolahan data yang diuji melalui analisis statistik dapat diperoleh beberapa gambaran bahwa penggunaan Pendekatan Problem Posing pada materi limit fungsi dapat memberikan hasil yang maksimal pada kemampuan berpikir kreatif siswa daripada menggunakan model pembelajaran langsung. Hal ini terjadi karena peserta didik yang menggunakan pendekatan Problem Posing terbiasa dengan memecahkan masalah yang disajikan sehingga mampu mengeksploras kemampuan yang dimiliki peserta didik. Peran aktif pada peserta didik mampu melatih kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Sedangkan pembelajarn langsung kurang membuat peserta didik dalam memecahkan masalah. Kemungkinan besar karena kurangnya keterlibatan mereka selama pembelajaran.
Hasil pengolahan data untuk pembelajaran menggunakan pendekatan
Problem Posing mempunyai rata-rata lebih baik daripada rata-rata yang tidak menggunakan pendekatan Problem Posing. Hal ini menunjukan bahwa
95
pembelajaran dengan penggunakan pendekatan Problem Posing terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa sudah cukup efektif untuk diterapkan.
Berdasarkan dari wawancara pula terhadap beberapa siswa, bahwa mereka merasa lebih aktif dan kreatif dalam belajar selama menggunakan pendekatan Problem Posing daripada tidak menggunakan, peneliti sering mengamati adanya peningkatan berpikir kreatif siswa dalam belajar disetiap pertemuannya. Itu karena pendekatan Problem Posing adalah sebuah pendekatan yang melatih berpikir kreatif yang berpusat pada siswa.
Gambar dibawah ini akan menjelaskan beberapa ketidaktuntasan siswa dalam menganalisis soal dan menyelesaikan soal dengan benar.
Gambar 35. Jawaban siswa soal no. 1 pada pertemuan ke 3 dengan rumus praktis dan mudah Siswa menggunakan
rumus cepat dalam menyelesaikan soal
96
Gambar 36. Jawaban siswa soal no. 1 pertemuan ke 3 dengan cara merasionalkan
Dari kedua gambar diatas dapat disimpulkan bahwa siswa mempunyai kemampuan berpikir lancar, yaitu dapat mencetuskan banyak cara, gagasan dalam menyelesaikan masalah
Namun, soal dibawah ini juga menunjukkan kesalahan siswa dalam menjawab soal :
Gambar 37. Jawaban siswa yang benar soal no. 1 pertemuan ke-2 Jawaban yang benar, namun cara penulisan yang salah Menggunak an kuadrat sempurna Merasionalkan
97
Gambar 38. Jawaban siswa yang salah soal no. 1 pertemuan ke 2 Jawaban yang
salah, sedangkan cara penulisan