Bab III : Metode Penelitian
3.9. Metode Analisa
3.9.2 uji Homogenitas
Dalam penelitian ini uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah objek yang di teliti mempunyai varian yang sama. Uji homogenitas ini menggunakan Levene’s test dengan bantuan SPSS version 17.0 for Windows. Data dikatakan homogen jika nilai p > 0.05.
BAB IV
ANALISA DAN INTERPRETASI DATA
Pada bab ini akan dipaparkan hasil penelitian secara keseluruhan sesuai dengan data yang telah diperoleh. Dimulai dengan menguraikan gambaran umum subjek penelitian dan hasil dari penelitian.
4.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini berjumlah 62 orang siswa tunarungu yang berusia 8-15 tahun. Berikut akan disajikan gambaran umum subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin, usia, dan kelas.
1. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa tunarungu yang ada di SLB Taman Pendidikan Islam dan SLB Aisiyah Melati berjumlah 62 orang. Yang terbagi dalam 21 orang berjenis kelamin laki-laki dan 41 orang berjenis kelamin perempuan. Adapun penyebaran subjek berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 2. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Persentase
Laki-Laki 21 34%
Perempuan 41 66%
2. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia
Subjek penelitian ini merupakan siswa tunarungu yang berusia sekitar 8-15 tahun. Berikut ini merupakan tabel penyebaran subjek berdasarkan usia.;
Table 3. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia
Usia Jumlah Persentase
8 Tahun 3 5%
9 Tahun 4 6%
10 Tahun 7 11%
11 Tahun 9 15%
12 Tahun 10 16%
13 Tahun 8 13%
14 Tahun 11 18%
15 Tahun 10 16%
Total 62 100%
3. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Kelas
Penyebaran subjek penelitian berdasarkan kelas dapat dilihat dari tabel berikut:
Total 62 100%
Table 4. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Kelas
Kelas Jumlah Persentase
2 4 6%
3 12 11%
4 19 31%
5 15 24%
6 12 28%
Total 62 100%
4.2 Hasil Penelitian
Berikut ini akan dipaparkan mengenai hasil penelitian, namun sebelumnya akan di jelaskan terlebih dahulu mengenai uji asumsi yang digunakan. Uji asumsi yang digunakan peneliti ialah uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah populasi data terdistribusi normal atau tidak.
Sedangkan uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang dimiliki memiliki varian yang sama atau tidak.
4.2.1 Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan metode Kolmogorov-Smirnov. Dikatakan populasi data terdistribusi normal jika nilai probabilitas berada diatas 0,05. Hasil uji normlitas terhadap nilai raport yang menjadi tolak ukur prestasi belajar dengan pola asuh permisif menunjukkan hasil sebesar 0,072, sedangkan pada pola asuh
otoriter didapat nilai sebesar 0,002, dan terakhir pada pola asuh demokratis nilai yang dapat sebesar 0,034. Sehingga secara secara keseluruhan dapat ditarik kesimpulan bahwa data yang di dapat tidak terdistribusi normal. Untuk lebih jelasnya akan di paparkan pada tabel di bawah ini:
Tabel 5. Uji Normalitas
Pola Asuh Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.
Nilai raport Permisif ,225 13 ,072 ,853 13 ,031
Otoriter ,288 15 ,002 ,741 15 ,001
Demokratis ,216 17 ,034 ,773 17 ,001
Lainnya ,216 17 ,003 ,592 17 ,000
4.2.2 Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk melihat apakah objek penelitian memiliki varian yang sama atau tidak. Metode yang digunakan untuk uji asumsi homogenitas ini adalah levene. Sampel akan dinyatakan homogen apabila probabilitas p˃0,05. Berikut hasil dari uji homogenitas dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 6. Uji Homogenitas
Nilai raport
Levene Statistic df1 df2 Sig.
,442 3 58 ,724
Berdasarkan hasil yang didapat pada tabel diatas, dapat dilihat bahwa nilai p=0,724, p>0,05 yang artinya bahwa data yang ada menunjukkan skor homogen.
Yang artinya data tersebut memilliki varian yang sama.
4.3 Uji Hipotesa Penelitian
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menguji hipotesis penelitian yaitu Ada perbedaan prestasi belajar anak tunarungu bila di tinjau dari pola asuh demokratis,otoriter,dan permisif. Oleh Karena itu, peneliti melakukan uji hipotesis dengan menggunakan uji Kruskal Wallis dengan bantuan SPSS version 18.0 for windows. Uji hipotesis dilakukan dengan non-parametrik test karena data tidak terdistribusi normal.
Tabel 7. Hasil Analisa Uji Kruskal Wallis Prestasi Belajar Ditinjau Dari Pola Asuh Orang Tua
Pola Asuh N Mean Rank
Nilai Raport Permisif 13 25,08
Otoriter 15 20,40
Demokratis 17 23,71
Total 45
Nilai Raport
Chi-square ,963
Df 2
Asymp.sig. ,618
Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa nilai chi- square untuk nilai raport sebesar0,963 dengan signifikansi p=0,618. Dengan nilai p > 0,05, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan prestasi belajar siswa tunarungu bila ditinjau dari pola asuh orang tua.
4.4 Gambaran Pola Asuh Orang Tua
Salah satu tujuan dari enelitian ini ialah untuk memperoleh gambaran mengenai prestasi belajar siswa tunarungu yang diasuh dengan pola asuh demokratis, permisif, dan otioriter. Hasil penelitian yang diperoleh diketahui bahwa skor tertinggi yang didapat adalah 5 sedangkan skor terendah yang diperoleh adalah 1. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah:
Tabel 8. Hasil Analisa Perbedaan Skor Empirik Dan Hipotetik Pola Asuh Orang Tua
Variabel N Data Empirik Data Hipotetik
Skor Mean Sd Skor Mean Sd
Min Max Min Max
Pola Asuh
62 1 4 2,61 1,107 30 150 90 20
Berdasarkan tabel diperoleh mean skor empirik pola asuh orang tua sebesar 2,61 sedangkan mean hipotetik pola asuh sebesatr 90. Artinya bahwa skor hipotetik pola asuh lebih besar daripada skor mean empirik pola asuh.
4.5 Kategorisasi Variabel
Kategorisasi variabel pola asuh dan prestsi belajar yang dilihat dari nilai raport siswa di bagi masing-masing menjadi tiga bagian. Pada skor pola asuh kategorisasi di bagi menjadi tiga kategori, yaitu permisif, demokratis, dan otoriter.
Sedangkan pada nilai raport akan di kategorikan pula menjadi tiga, yaitu tinggi, sedang, dan rendah.
4.5.1 Kategorisasi Skor Pola Asuh
Pada bagian ini, akan dipaparkan mengenai kategorisasi dari masing-masing pola asuh orang tua. Dalam proses pengkategorian ini akan mengacu pada
kriteria yang telah dibuat. Kategori terdiri dari tiga kategori, yaitu permisif, demokratis, dan otoriter. Untuk melihat kategorisasi pola asuh orang tua dilihat dari z sore tiap pola asuh. Kategorisasi data skor pola asuh dapat dilihat pada tabel di bawah:
Tabel 9. Kategorisasi Skor Data Pola Asuh
Variabel Kriteria Bukan Jenjang Kategori Jumlah Persentase Pola asuh Zpermisif ≥ 0,50; Zotoriter < 0; dan
Zdemokratis< 0
permisif 13 21%
Zotoriter ≥ 0,50; Zpermisif < 0; dan Zdemokratis < 0
Otoriter 15 25%
Zdemokratis ≥ 0,50; Zpermisif < 0; dan Zotoriter < 0
Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa pada kategori permisif didapatkan sebanyak 13 orang dengan persentase sebesar 21%, selanjutnya kategori otoriter di dapatkan sebanyak 15 orang dengan jumlah persentase 25%
dan kategori demokratis dengan jumlah 17 orang dengan persentase sebesar 27%, dan yang terakhir untuk kategori lainnya sebanyak 17 orang dengan persentase
sebanyak 27%. Dari tabel diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pola asuh terbanyak terdapat pada kategori demokratis dan lainnya.
4.5.2 Kategorisasi Skor Nilai Raport
Pada bagian ini akan dipaparkan mengenai kategorisasi skor nilai raport siswa dengan kriteria kategori. Kriteria kategorisasi terbagi menjadi tiga, yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Dalam pengkategorian ini dilihat dari jumlah mean tiap raport. Niai raport yang dilihat adalah nilai raport terakhir siswa. Sebelum mengkategorikan nilai raport terlebih dahulu di cari mean dari nilai raport tiap subjek. Kategorisasi ini menggunakan kategori berdasarkan signifikansi perbedaan, sebab data yang dimiliki tidak berdistribusi normal. Sehingga di dapatkan mean raport keseluruhan adalah 76,35. Kategorisasi skor nilai raport dapat dilihat pada tabel dibawah:
Tabel 10. Acuan Pengkategorian Skor Nilai Raport
Kriteria Kategori Nilai
X > K3 Tinggi X > 78,925 K1 ≤ X ≤ K3 Sedang 75,675 ≤ X ≤78,925
X < K1 Rendah X < 75,675
Tabel 11. Kategori Skor Nilai Raport
No. Kategori Jumlah Persentase
1. Tinggi 15 24%
2. Sedang 32 52%
3. Rendah 15 24%
Total 62 100%
‘
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa pada ketegori tinggi didapatkan sebanyak 15 orang dengan persentase sebesar 24%, kemudian pada ketegori sedang didapatkan sebanyak 32 orang dengan jumlah persentase sebesar 52%, dan pada kategori rendah didapatkan sebanyak 15 dengan jumlah persentase 24%. Dengan begitu dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai tertinggi berada pada kategori sedang.
4.5 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa hipotesis alternatif di tolak (Ha) dan hipotesis nol (Ho) di terima yang artinya tidak ada perbedaan prestasi belajar jika ditinjau dari pola asuh orang tua. Hasil yang didapat menunjukkan signfikansi dengan nilai p > 0,05 yaitu sebesar 0,618. Pada penelitian ini menggunakan analisis kruskal wallis sebab data yang didapat tidak normal. Meskipun begitu pola asuh terbanyak terdapat pada kategori demokratis dan lainnya. Sedangkan kategori terbanyak pada nilai raport terdapat pada
kategori sedang. Adapun jumlah subjek dari pola asuh demokratis dan lainnya sebanyak 17 orang dan jumlah nilai raport terbanyak sebesar 32 orang.
Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Florencia (2017) yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan dalam prestasi akademik pada remaja berdasarkan pola asuh, baik oleh ayah maupun ibu, dengan skor p pada pola asuh ayah =. 223 dan skor p pada pola asuh ibu=.737. Dalam penelitiannya Florencia (2017) mengatakan bahwa ada beberapa hal yang mungkin menjadi penentu prestasi belajar, seperti lingkungan dan variabel lain yang berasal dari keluarga. Hal yang sama juga dikatakan oleh Rahmawati (2008) bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar siswa dikaitkan dengan pola asuh orang tua di SMP Negeri 2 Wlingi Kabupaten Blitar.
Hasil uji normalitas perhitungan Kolmogorov-smirnov, dapat diketahui bahwa nilai p < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data dari sampel penelitian tidak berdistribusi normal. Hasil uji homogenitas dari variabel yang ada menunjukkan hasil p > 0,05, yang artinya data tersebut memiliki varian yang sama. Dengan kata lain, data tersebut tidak normal, namun memiliki varian yang sama. Sehingga uji statistik yang digunakan dalam hal ini adalah statistik non-parametrik.
Menurut Hadi (1994) tidak signifikannya suatu hasil penelitian atau ditolaknya hipotesis penelitian dapat diintepretasi oleh dua sebab. Pertama, memang antara variabel bebas dan variabel tergantung tidak terdapat
perbedaan/korelasi yang signifikan. Kedua, sebenarnya antara variabel bebas dan variabel tergantung terdapat perbedaan atau korelasi yang signifikan, akan tetapi karena jumlah kasus yang diselidiki tidak cukup banyak, maka korelasi itu tidak dapat ditemukan dalam perhitungan Menurut penulis ada beberapa faktor yang dapat menyebabkannya tidak diterimanya hipotesis penelitian, antara lain: (1) Jumlah subjek. Pada penelitian ini subjek penelitian sebanyak 62 orang.
Perbandingan jumlah subjek otoriter, demokratis dan permisif yang sangat tidak seimbang, sehingga menyebabkan skor-skor yang diperoleh subjek terutama yang jumlahnya sedikit menjadi kurang variatif . (2) Tidak adanya pengontrolan terhadap variabel luar yang memungkinkan dapat mempengaruhi prestasi belajar, misalnya inteligensi, minat, dan bakat.
Seperti yang diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar terdiri dari dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu tersebut, sedangkan faktor ekternal berasal dari luar individu tersebut. IQ merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar secara internal. Menurut Wechsler (1958) dan Freeman (1962, dalam azwar,1996), bahwa intelegensi adalah kemampuan untuk belajar. Hal ini didukung oleh Thorndike (dalam Azwar 1996) bahwa kemudahan dalam belajar disebabkan oleh inteegensi yang tinggi yang terbentuk oleh ikatan-ikatan syaraf antara stimulus dan respon yang mendapat pengutan. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh H.J Eysenck (2000),yang mengatakan bahwa intelegensi memegang peranan penting untuk mencapai suatu keberhasilan.
Dalam kasus anak tunarungu, seperti yang telah dijelaskan bahwa intelegensi anak tunarungu tidak berbeda dengan anak normal lainnya. Hanya saja prestasi anak tunarungu seringkali lebih rendah daripada anak normal. Hal ini disebabkan oleh hambatan-hambatan yang dimiliki oleh anak tunarungu, seperti ketidakmampuan untuk berkomunikasi yang berdampak pada hal yang lebih luas misalnya keterampilan bahasa, membaca dan menulis. Kendala-kendala ini secara tidak langsung mempengaruhi prestasi belajar anak tunarungu. Jadi bisa saja anak intelegensi anak tunarungu tinggi namun karena keterbatasannya sehingga berdampak pada prestasi belajarnya.
Menurut Syah (2006) tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa, maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses, dan sebaliknya semakin rendah kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh sukses. Hal yang sama juga diungkap oleh Ekowati (2006) yang menyatakan bahwa terdapat kontribusi positif antara intelegensi (kecerdasan) terhadap hasil belajar siswa. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Malik (2002) yang memperoleh kontribusi intelegensi terhadap prestasi akademik sebesar 8% pada 83 orang siswa kelas I dan II SMUN di wilayah Jakarta Timur yang berpartisipasi dalam kegiatan KIR.
Selain itu, minat juga merupakan faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar. Minat sebagai faktor internal yang berasal dari dalam diri individu tersebut. Djamarah (2008) mengatakan minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh.
Sedangkan Slameto (2010) mengatakan minat adalah penerimaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Minat dalam proses belajar mengajar merupakan salah satu faktor yang besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar. Siswa yang minat belajarnya tinggi akan memperoleh prestasi belajar baik. Pentingnya minat belajar siswa terbentuk antara lain agar terjadi perubahan belajar ke arah lebih positif. Bila siswa menyadari bahwa belajar merupakan suatu alat untuk mencapai beberapa tujuan yang dianggapnya penting, dan bila siswa melihat bahwa hasil dari pengalaman belajarnya akan membawa kemajuan pada dirinya kemungkinan besar ia akan berminat dan termotivasi untuk mempelajarinya. Hasil penelitian Novianti (2007) menunjukkan bahwa secara parsial minat belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar sebesar 15%.
Hal lain yang merupakan faktor internal dari prestasi belajar adalah bakat.
Menurut Munandar ( Ali & Asrori, 2005) perwujudan nyata dari bakat adalah prestasi, karena bakat sangat menentukan prestasi seseorang. Sekalipun demikian orang yang berbakat belum tentu berprestasi, hal ini karena bakat bersifat potensial yang membutuhkan latihan dan pengembangan secara maksimal.
Prestasi yang menonjol merupakan cerminan dari bakat khusus. Bakat khusus yang memperoleh kesempatan maksimal yang dikembangkan sejak dini serta didukung oleh fasilitas dan motivasi yang tinggi, akan dapat terealisasi dalam bentuk prestasi unggul. Hasil penelitian Purnawan (2005) menunjukkan bahwa siswa yang berbakat cenderung lebih tinggi prestasi dibanding siswa yang kurang berbakat.
Bakat dapat menjadi kelebihan anak dan peran orang tualah yang menjadi penyokong penting dalam pengembangan bakat anak dari sejak dini. Meskipun anak tunarungu memiliki keterbatsan dalam hal belajar, namun tidak menjadikan mereka tidak memiliki keinginan untuk berprestasi. Seperti Hendry Restiya Susetya, yang meraih juara pertama ujian nasional (UN) jurusan otomotif di sekolahnya. Hendry memperoleh nilai ujian 8,2, dengan nilai tersebut Hendry mampu mengungguli prestasi siswa normal lainnya di sekolahnya (https://nadirannurulizza.wordpress.com/prestasi-abk/tunarungu-wicara/). Bakat yang dimiliki anak tunarungu tidak selalu mengarah pada prestasi akademik, namun juga mengarah pada prestasi non-akademik. Seperti Nabilatul fadilah, seorang siswa tunarungu yang berbakat membuat karya seni menggunakan barang yang sudah tidak terpakai dengan menghasilkan karya seni berupa stoples
(https://www.jawapos.com/features/05/04/2017/nabilatul-fadilah-siswa-tunarungu-multitalenta-segudang-prestasi).
Dalam segi minat dan bakat anak tunarungu juga sama seperti anak normal lainnya yang mempunyai ketertarikan dan kemampuan terhadap sesuatu.
Contohnya dalam olahraga,akademik,seni ataupun kegiatan keterampilan lainnya.
Subjek dalam penelitian ini merupakan anak berkebutuhan khusus (tunarungu). Pada umumnya orangtua akan mengatahui bagaimana perkembangan anak dan bagaimana pola asuh yang sesuai dengan perkembangan anak terutama anak berkutuhan khusus. Beberapa faktor yang mempengaruhi pola asuh anak meliputi tingkat pendidikan dan pengalaman orangtua sangat berpengaruh dalam mengasuh anak, lingkungan, budaya, stres ibu, hubungan suami istri yang kurang
harmonis, aktifitas ibu dan umur ibu (Edward, 2006). Hasil penelitian. Herlina (2013) menunjukan bahwa pendidikan orangtua anak berkebutuhan khusus terbanyak adalah rendah dan pola asuh yang paling dominan diterapkan pada anak adalah pola asuh permisif.
Baumrind (dalam Papalia, et al., 2012) telah membagi pola asuh ke dalam tiga jenis pola asuh yaitu: pola asuh (a) authoritative, (b) authoritarian dan (c) permissive. Tiap pola asuh memiliki ciri yang berbeda yang akan mempengaruhi perkembangan anak begitu juga dengan prestasi belajar anak. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Nurmah (2010) mengenai hubungan pola asuh dengan prestasi belajar belajar anak usia sekolah menunjukkan bahwa dari 39 responden terdapat 20 responden anak dengan pola asuh authoritative mengahasilkan prestasi belajar yang tinggi. Kingsley (2011) juga melakukan penelitian mengenai pengaruh pola asuh authoritative pada pencapaian akademik remaja, dari 239 responden terdapat remaja yang memiliki ibu dengan pola asuh authoritative menghasilkan r = 0.160, p < 0.05, dan yang memiliki ayah dengan pola asuh authoritative menghasilkan r = 0.204, p < 0.01. Hasil tersebut menunjukkan bahwa remaja dengan pengasuhan authoritative memiliki prestasi belajar yang baik.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahayu (2017) bahwa pola asuh demokratis, memberikan kontrol yang fleksibel terhadap anak tunarungu. Orang tua mengontrol dengan mengingatkan dan menyadarkan, bukan memaksakan anak tunarungu. Selain itu pergaulan anak tunarungu tidak dibatasi, hanya saja anaknya sendiri yang merasa minder dengan teman sebaya yang
normal. Sehingga anak lebih senang bermain dengan teman sesame tunarungu dengannya. Dan juga orang tua selalu mengingatkan anak untuk belajar, sholat, tetapi juga tidak terlalu mengekang.
Pendapat dari Schirmer (dalam Hallahan,dkk,2009) yang mengatakan bahwa penerapan pola asuh demokratis oleh orang tua dapat meningkatkan prestasi belajar siswa tunarungu. Seperti dalam penelitian ini, kategori terbanyak dari pola asuh yang diberikan oleh orang tua adalah pola asuh demokratis.
Meskipun jumlah perbandingan dengan pola asuh lainnya tidak signifikan, namun tetap menunjukkan bahwa orang tua memberikan pola asuh terbaik mereka.
Namun jika dilihat hubungkan dengan prestasi belajar siswa tunarungu pendapat Schirmer berbeda dengan hasil temuan peneliti. Sebab peneliti menemukan kategori prestasi belajar siswa tunarungu berada di kategori sedang.
Selain itu terdapat juga penelitian mengenai pola asuh authoritarian, seperti penelitian yang dilakukan oleh Nurmah (2010) mengenai hubungan pola asuh orang tua dengan prestasi belajar anak usia sekolah menunjukan bahwa anak dengan pola asuh authoritarian memiliki prestasi belajar yang tinggi, yaitu dari 39 responden terdapat delapan responden anak dengan pengasuhan authoritarian.
Dari delapan responden tersebut, seluruh responden memiliki prestasi belajar yang tinggi sehingga hasil menunjukkan 100%. Namun pada kenyataannya terdapat beberapa hasil penelitian yang bertolak belakang. Menurut penelitian Yasmin dan Kiani (2015) mengenai peran pola asuh orangtua terhadap pencapaian nilai akademik pada mahasiswa, dari 350 responden menunjukkan bahwa anak dengan
pola asuh authoritarian menghasilkan prestasi belajar yang sangat rendah, di mana hasil pengolahan data menunjukkan r = -323.
Berdasarkan hasil penelitian Dehyadegary et al., (2012) menyatakan bahwa pola asuh permissive merupakan pola asuh yang sangat negatif terhadap prestasi belajar anak sehingga prestasi belajar anak menjadi rendah. Selain itu, Turner et al., (2009) juga telah melakukan penelitian mengenai pengaruh pola asuh orangtua, pencapaian motivasi dan kepercayaan diri terhadap prestasi akademik mahasiswa, dari 264 responden hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh permissive tidak memiliki hasil yang signifikan dalam menentukan prestasi belajar anak. Penelitian lain yang terkait pola asuh permissive, seperti yang dilakukan Pinquart (2016) mengenai asosiasi dari pola asuh dan dimensi pola asuh dengan prestasi belajar pada anak dan remaja menunjukkan bahwa anak yang diasuh oleh pengasuhan neglectful akan memiliki prestasi belajar yang rendah, di mana hasil pengolahan data menunjukkan r = - 0.23.
Hasil penelitian Sipayung (2018) menunjukkan bahwa kecenderungan pola asuh yang diterapkan orang tua tunarungu adalah pola asuh permisif, yaitu memberikan pengawasan yang longgar, memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup dari orang tuanya.
Pengawasan yang diberikan orang tua kepada anak diimplementasikan lewat fungsi keluarga. Ketunarunguan yang dialami anak mengakibatkan orang tua mengalami kesulitan mengasuh anak dan berkomunikasi dengan anak tunarungu.
Jika pengasuhan orang tua terhadap anak tunarungu dilakukan secara maksimal, maka perkembangan dan pertumbuhan pada anak akan mengalami kemajuan sesuai dengan kemampuan anak tunarungu. Sebaliknya jika pengasuhan orang tua terhadap anak tunarungu dilakukan secara tidak maksimal, maka perkembangan dan pertumbuhan pada anak akan menjadi terhambat/terlambat.
Hasil temuan lain yang didapat peneliti saat proses pengambilan data salah satunya ialah kurangnya pemahaman siswa terhadap skala yang diberikan. Karena pada saat proses pengambilan data, peneliti dibantu oleh guru kelas untuk memberikan arahan kepada siswa. Meskipun dalam proses tersebut sudah di bantu oleh guru, tetap saja siswa masih kurang paham akan arahan yang diberikan oleh guru bahkan arahan yang diberikan tersebut sudah lebih disederhanakan. Sehingga guru harus terus mengulang arahan sampain akhirnya siswa mengerti.Hal ini karena bagi anak tunarungu untuk mengerti 1 kata yang sederhana bagi anak normal merupakan hal yang sulit bagi anak tunarungu. Contohnya saat kit menyebut kata “ makan” bagi anak normal akan langsung mengerti maksud dari kaa makan, namun berbeda dengan anak tunarungu. Sebab perkembangan bahasa anak tunarungu memiliki hambatan yang berkaitan dengan pendengarannya.
Temuan lain yang didapat adalah sukar berkonsentrasi. Hal ini dilihat dalam proses pengambilan data, dimana saat guru sedang memberikan arahan beberapa anak tampak sering teralihkan perhatiannya dari guru ke teman-temannya maupun kepada peneliti. Saat disuruh oleh guru untuk memperhatikan, seketika itu pula anak memperhatikan, namun beberapa saat kemudian
Temuan lain yang didapat adalah sukar berkonsentrasi. Hal ini dilihat dalam proses pengambilan data, dimana saat guru sedang memberikan arahan beberapa anak tampak sering teralihkan perhatiannya dari guru ke teman-temannya maupun kepada peneliti. Saat disuruh oleh guru untuk memperhatikan, seketika itu pula anak memperhatikan, namun beberapa saat kemudian