• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

H. Uji Instrumen Penelitian

Menurut Scravia B. Anderson, Dkk (dalam Suharsimi Arikunto, 2012: 80), sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan istilah sahih. Dalam penelitian ini instrumen tes diukur dengan menggunakan validitas butir soal atau validitas item. Rumus untuk menghitung validitas butir soal bentuk objektif yaitu:

= √ Keterangan:

= koefisien korelasi biserial

= rerata skor dari sbujek yang menjawab betul bagi item yang dicari validitasnya

= rerata skor total

= standar deviasi dari skor total = proporsi siswa menjawab benar = proporsi siswa menjawab salah

(Suharsimi Arikunto, 2012: 93)

Rumus untuk menghitunh validitas butir soal bentuk uraian yaiu rumus korelasi Product Moment dengan angka kasar:

= ∑ xy −(∑X)(∑Y)

2− (∑ )22− (∑ )2 Keterangan:

= koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y dan variabel yang dikorelasikan.

(Suharsimi Arikunto, 2012: 87) Besarnya koefisien korelasi (r) yang dihitung kemudian diinterpretasikan sebagai berikut:

47

- Antara 0,81 sampai dengan 1,00 : Sangat Tinggi - Antara 0.61 sampai dengan 0,80 : Tinggi - Antara 0,41 sampai dengan 0,60 : Cukup - Antara 0,21 sampai dengan 0,40 ; Rendah - Antara 0,00 sampai dengan 0,20 : Sangat Rendah

(Zainal Arifin, 2012: 257) 2. Reliabilitas

Pada soal pilihan ganda untuk mencari Reliabilitas dapat menggunakan K-R 20, sebagai berikut:

11 = − 1 22

Keterangan:

11 = reliabilitas secara keseluruhan = banyaknya item

= proporsi subjek yang menjawab dengan benar = proporsi subjek yang menjawab dengan salah S = standar deviasi dari tes

(Suharsimi Arikunto, 2013: 115) Interpretasi terhadap hasil perhitungan koefisien reliablitas tes ( 11) pada umumnya digunakan sebagai berikut:

a. Apabila 11 sama dengan atau lebih besar daripada 0,70 berarti tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan telah memiliki reliabilitas yang tinggi (=reliable)

b. Apabila 11 lebih kecil daripada 0,70 berarti tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan belum memiliki reliabilitas yang tinggi (un-reliable)

(Anas Sudijono, 2012: 209) Apabila 11 sama dengan atau lebih besar dari 0,70 maka tes hasil belajar yang sedang diuji dinyatakan reliable. Namun jika 11 kurang dari 0,70 maka dapat dinyatalan tidak reliable. Tes yang reable adalah apabila koefisien reliabilitasnya tingi dan kesalahan baku pengukurannya (standard error of measurement) rendah.

3. Tingkat Kesukaran

Rumus untuk mencari indeks kesukaran soal, yaitu :

= Keterangan:

P = indeks kesukaran soal

B = banyaknya siswa yang menjawab benar setiap butir soal N = banyaknya siswa yang memberikan jawaban pada soal yang dimaksudkan.

(Nana Sudjana, 2007: 137) Kriteria yang digunakan adalah semakin kecil indeks yang diperoleh, maka semakin sukar soal tersebut. Kriteria indeks kesulitan soal menurut Suharsimi Arikunto (2013: 225) sebagai berikut:

0, 00 - 0,30 = soal kategori sukar 0,31 - 0,70 = soal kategori sedang 0,71- 1,00 = soal kategori mudah

4. Daya Pembeda

Daya Pembeda adalah analisis yang mengkaji butir-butir soal dengan tujuan untuk mengetahui kesanggupan soal dalam membedakan siswa yang tergolong mampu (tinggi prestasinya) dengan siswa yang tergolong kurang atau lemah prestasinya (Nana Sudjana, 2007: 141). Rumus untuk mengukur daya pembeda adalah:

= − = −

Keterangan:

J = jumlah peserta tes

JA = banyaknya peserta kelompok atas JB = banyaknya peserta kelompok bawah

49

dengan benar

BA = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar

PA = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar PB = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

(Suharsimi Arikunto, 2013: 228-229) Interpretasi terhadap hasil perhitungan daya pembeda dapat digunakan kriteria sebagai berikut:

D = 0,00 – 0,20 kategori Jelek (poor)

D = 0,21 – 0,40 kategori cukup (satisfactory) D = 0,41 – 0,70 kategori baik (good)

D = 0,71 – 1,00 kategori baik sekali (excellent) D = negatif, soal dikategorikan tidak baik

(Suharsimi Arikunto, 2013: 223)

Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks daya pembeda. Semakin tinggi indeks daya pembeda soal berarti semakin mampu soal yang bersngkutan membedakan siswa yang sudah memahami dan belum memahami. Semakin tinggi day pembeda suatu soal maka semakin baik soal tersebut. Jika pembeda negatif berarti soal menggambarkan kualitas peserta tes secara terbalik, dimana siswa pandai disebut bodoh dan siswa bodoh disebut pandai.

5. Pola Jawaban Soal

Pola jawaban soal dapat menghitung banyaknya testee yang memilih pilihan jawaban a, b, c, d, e, atau tidak memilih pilihan manapun dari pola jawaban soal dapat ditentukan apakah pengecoh (distractor) berfungsi sebagai pengecoh dengan baik ataukah tidak (Suharsimi Arikunto, 2012: 233). Lebih lanjut lagi, Suharsimi Arikunto (2012: 234) menyatakan bahwa suatu pengecoh dapat dikatakan

berfungsi dengan baik jika paling sedikit dipilih oleh 5% dari pengikut tes.

I. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif. Dalam penelitian ini, data yang diperoleh dari tes, lembar observasi adalah data kuantitatif. 1. Mengolah Nilai Hasil Belajar Kognitif, Skor Hasil Belajar Afektif dan

Psikomotor.

a. Analisis Data Observasi Hasil Belajar Afektif dan Psikomotor. Data observasi yang diperoleh dihitung kemudian di persentase dengan demikian dapat diketahui sejauh mana peningkatan yang dapat dicapai dalam pembelajaran. Hasil analisis data observasi kemudian disajikan deskriptif. Dalam penelitian ini skala yang digunakan adalah Rating Scale, dengan skor tertinggi 3 dan terendah 1. Dalam penelitian ini masing-masing ada 5 aspek afektif maupun psikomotor yang harus diamati. Selanjutnya untuk memberikan pemaknaan terhadap skor yang dicapai oleh masing-masing siswa, diperlukan pedoman penafsirannya dengan langkah-langkah sebagai berikut (Sukiman, 2012: 248):

1) Menghitung skor terendah, dalam penelitian ini skor terendah 5 2) Menghitung skor tertinggi, dalam penelitiaan ini skor tertinggi 15 3) Menghitung selisih skor, dalam penelitian ini selisih skor = 15-5

= 10.

51 5) Rentangan = − ℎ 6) Rentangan = 15 − 5 4 7) Rentangan = 2,5 dibulatkan menjadi 3 b. Analisis Tes Hasil Belajar Kognitif

Tes hasil belajar digunakan untuk mengukur hasil belajar ranah kognitif. Ketuntasan belajar diukur dari hasil pre test dan post test yang diperoleh siswa pada setiap akhir siklus. Adapun rumus untuk menghitung ketuntasan belajar adalah sebagai berikut:

= 100% Di mana:

KB = ketuntasan belajar

T = jumlah siswa yang memenuhi KKM (≥ 75,0) = jumlah siswa yang mengikuti tes

(Trianto, 2011: 63-64)

Untuk mengukur keefektifan pelaksanaan pembelajaran dan peningkatan hasil belajar selama proses pembelajaran dengan menggunakan Implementasi Lesson Study, diperoleh dari rata-rata nilai post-test dibandingkan dengan hasil rata-rata nilai pretest pada setiap siklus.

Setelah diperoleh data mengenai nilai tes, skor observasi afektif dan psikomotor siswa diolah, data ditampilkan secara sederhana dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik, sehingga lebih mudah dipahami. 3. Menarik Kesimpulan

Penarikan kesimpulan adalah penarikan intisari dari sajian data yang terorganisir. Penarikan kesimpulan dilakukan untuk menjawab rumusan masalah yang diajukan pada awal penelitian ini, setelah data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik, dilakukan pemaknaan data dalam bentuk pernyataan.

Dokumen terkait