BAB III METODE PENELITIAN
3.9. Uji Prasyarat Analisis
3.9.3. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui adanya korelasi antara variable bebas dalam model regresi. Model regresi dapat dikatakan baik jika tidak memiliki multikolineritas. Untuk menguji ada atau tidaknya multikolineritas dalam model regresi pada penelitian ini, maka dapat dilakukan dengan menganalisis nilai variance infaltion factor (VIF). Menurut Ghozali (2016) variabel yang memiliki masalah dalam multikolineritas, jika tolerance ≤ dari 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10. Maka dari itu agar dapat melihat terjadi atau tidaknya multikolinearitas pada penelitian ini, dapat digunakan 2 cara sebagai berikut:
Cara melihat nilai tolerance dan VIF
42 Nilai tolerance:
1. Tidak terjadi multikolinearitas apabila nilai tolerance lebih besar dari 0,1.
2. Tidak terjadi multikolineritas apabila nilai tolerance lebih kecil atau sama dengan 0,1.
Nilai VIF:
1. Tidak terjadi multikolinearitas apabila nilai VIF lebih kecil dari 10,0.
2. Tidak terjadi multikolinearitas apabila nilai VIF lebih besar atau sama dengan 10,0.
3.9.4. Uji Autokolerasi
Menurut (Ghozali 2016 ; 107) tujuan melakukan uji autokorelasi adalah untuk menguji apakah dalam model regresi liner yang digunakanm memiliki korelasi antara kesalahan pada periode t dengan periode t sebelumnya. Model regresi yang baik seharusnya tidak memilki autokorelasi. Pada penelitian ini akan menggunakan autokorelasi dengan uji Durbin - Watson, dengan syarat adanya intercept (konstanta) pada model regresi dan tidak memiliki varibel lag diantara variabel independen.
43 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Penjelasan Singkat Proses Penelitian
Pada bab ini akan memuat penjelasan singkat mengenai proses penelitian mulai dari pengujian instrumen penelitian, penyebaran kuesioner, dan analisis data penelitian. Pada penelitian ini proses penyebaran kuesioner dilakukan secara manual dengan cara memberikan secara langsung lembar kuesioner kepada responden. Kuesioner disebarkan kepada responden dengan kriteria, responden sudah pernah berkunjung dan membeli produk yang dijual oleh Starbucks Coffee Hartono Mall.
Kriteria responden penelitian akan diberikan pertanyaan verifikasi dalam kuesioner agar dapat memastikan responden tersebut sudah sesuai atau tidak dengan penelitian ini dan pertanyaan tesebut berisi “Sejak Kapan Anda Mulai Mengunjungi Starbucks Coffee dan Membeli Produknya”.
Demi menjawab pertanyaan tersebut responden akan diberikan pilihan jawaban dengan optional ganda seperti, SMP, SMA, memiliki pekerjaan tidak tetap, dan memiliki pekerjaan tetap. Jawaban tersebut akan dipilih dan dijawab oleh responden sesuai dengan pengalaman pribadi masing - masing responden. Metode pengisian kuesioner dibagi menjadi dua cara yaitu: Untuk bagian pertama responden diminta untuk mengisi poin pertanyaan mengenai indentitas konsumen dan perilaku konsumen dengan cara memberikan tanda (X) pada pertanyaan - pertanyaan optional ganda yang telah disediakan.
Pada bagian kedua responden diminta untuk menjawab pertanyaan/pernyataan mengenai variabel penelitian yang telah disediakan dalam sebuah tabel dengan pilihan jawaban sangat tidak setuju (STS), tidak setuju (TS), kurang setuju (KS), setuju (S), dan
44 sangat setuju (SS) dan pertanyaan/pernyataan tersebut dijawab dengan memberikan tanda (√) pada kolom tabel yang telah disediakan. Jawaban yang diberikan oleh responden adalah jawaban yang sesuai dengan perasaan dan pilihan responden itu sendiri.
Penyebaran kuesioner dilakukan pada 4 Juli 2021, kuesioner disebarkan kepada responden yang telah sesuai dengan kriteria penelitian dengan cara manual atau membagikan secara langsung lembar kuesioner kepada responden. Hasil dari kuesioner yang telah dijawab oleh konsumen akan diolah oleh peneliti dengan bantuan aplikasi IBM SPSS versi 22.
4.2. Gambaran Umum Responden Penelitian
Pada bagian gambaran umum responden penelitian ini akan berisi tentang hal - hal yang menjadi latar belakang responden. Hal - hal tersebut akan dibagi menjadi dua bagian, pada bagian pertama akan membahas mengenai usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan penghasilan. Pada bagian kedua akan membahas mengenai perilaku konsumen seperti, lama berkunjung, intensitas berkunjung, kunjungan pertama, informasi mengenai Starbucks Coffee Hartono Mall, produk yang dibeli, biaya yang dikeluarkan, lamanya berkunjung, kegiatan, dan kunjungan dilakukan sendiri, bersama teman, kerabat dekat, maupun keluarga.
4.2.1 Usia Responden
Karakteristik responden menurut usia yang telah didapatkan melalui penelitian ini dan akan disajikan pada tabel berikut:
45 Tabel 4.1 Usia Responden
No Usia Frekuensi Persentase
1 Kurang dari 17 Tahun 1 2 %
2 17 - 25 Tahun 26 52 %
3 25 - 30 Tahun 22 44 %
4 30 - 40 Tahun 1 2 %
5 Lebih 40 Tahun 0 0
Total 50 100 %
Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa jumlah persentase responden dengan usia <17 tahun sebesar 2 %, 17 - 25 tahun sebesar 52 %, 20 -30 tahun sebesar 44 %, 30 - 40 tahun sebesar 2 %, dan untuk usia 40 tahun sebesar 0. Usia responden yang dominan dalam penelitian ini adalah usia 17 - 25 tahun sebesar 52 % dan usia 20 - 30 tahun sebesar 44 %.
Jika kita membandingkan usia 17 - 25 tahun dengan 20 - 30 hanya memiliki perbedaan sebesar 8 %.
Oleh karena itu jika kita melihat data perolehan pada tabel dapat ditarik kesimpulan bahwa usia 17 - 25 tahun yang memiliki persentase terbesar, merupakan usia - usia yang cukup produktif atau transisi antar usia muda ke usia dewasa, dengan demikian usia tersebut menggambarkan para konsumen Starbucks Coffee adalah para anak muda maupun para pekerja yang berada di usia produktif.
46 4.2.2. Jenis Kelamin
Karakteristik responden yang telah diperoleh berdasarkan jenis kelamin yang disajikan pada tabel, sebagai berikut:
Tabel 4.2 Jenis Kelamin
N o
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
1 Laki - laki 35 70 %
2 Perempuan 15 30 %
Total 50 100 %
Berdasarkan hasil tabel jenis kelamin di atas responden yang paling banyak mengisi kuesioner ini berjenis kelamin laki - laki yang memiliki persentase sebesar 70 % dan 30 % bagi konsumen berjenis kelamin perempuan. Hal tersebut dapat menggambarkan bahwa responden berjenis kelamin laki - laki lebih tertarik dari pada responden perempuan untuk mengisi kuesioner ini, karena kuesioner penelitian ini disebar secara acak dengan kriteria responden pernah mengunjungi dan membeli produk Starbucks Coffee.
4.2.3. Jenis Pekerjaan
Karakteristik responden yang telah diperoleh berdasarkan Jenis Pekerjaan yang disajikan pada tabel, sebagai berikut:
47 Tabel 4.3 Jenis Pekerjaan
No Jenis Pekerjaan Frekuensi Persentase
1 Pegawai Negeri 0 0
2 Pegawai Swasta 32 64 %
3 TNI / POLRI 3 6 %
4 Wiraswasta 3 6 %
5 Mahasiswa/Pelajar 12 24 %
Total 50 100 %
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah responden yang bekerja sebagai pegawai negeri sebesar 0, pegawai swasta sebesar 64 %, TNI/POLRI sebesar 6 %, wiraswasta sebesar 6 % dan mahasiswa/pelajar sebesar 24 %. Dari hasil tersebut persentase terbesar berdasarkan jenis pekerjaan adalah responden yang bekerja sebagai pegawai swasta dan persentase tersebar kedua adalah mahasiswa/pelajar sebesar 24 %.
Hal tersebut dapat menggambarkan bahwa responden yang berkunjung ke Starbucks Coffee adalah para pegawai swasta yang memiliki fleksibilitas dalam hal tempat bekerja, sehingga responden tersebut dapat bekerja dimana saja termasuk coffee shop seperti Starbucks Coffee. Karena dari pengamatan peneliti sendiri pada saat berkunjung ke Starbucks Coffee, banyak konsumen yang mengunjungi Starbucks untuk bekerja.
4.2.4. Pendapatan
48 Karakteristik responden yang telah diperoleh berdasarkan pendapatan bulanan yang disajikan dalam tabel, sebagai berikut:
Tabel 4.4 Pendapatan
No Pendapatan Frekuensi Persentasi
1 < Rp 500.000 1 2 %
2 Rp 500.000 - 1.000.000 32 64 %
3 Rp 1.000.000 - 5.000.000 3 6 %
4 Rp 5.000.000 - 10.000.000 3 6 %
5 >Rp 10.000.000 11 22 %
Total 50 100 %
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa pendapatan konsumen kurang dari Rp 500.000 sebesar 2 %, Rp 500.000 - 1.000.000 sebesar 32 %, Rp 1.000.000 - 5.000.000 sebesar 6 %, Rp 5.000.000 - 10.000.000 sebesar 6 %, dan pedapatan lebih dari Rp 10.000.000 sebesar 22 %. Melihat hasil tersebut dapat digambarkan bahwa responden yang paling banyak mengunjungi Starbucks Coffee memiliki pendapatan sebesar Rp 500.000 - 1.000.000 dengan persentase sebanyak 64 %. Dapat disimpulkan bahwa konsumen yang mengunjungi atau membeli produk Starbucks Coffee bukan hanya dari kalangan elit saja, melainkan juga kalangan biasa seperti pegawai swasta/mahasiswa/pelajar.
4.2.5. Waktu Yang Dubutuhkan Untuk Pergi ke Starbucks Coffee
49 Karakteristik responden yang telah diperoleh menurut Waktu yang dibutuhkan untuk pergi ke Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta yang disajikan pada tabel, sebagai berikut:
Tabel 4.5 Waktu Yang Dibutuhkan Untuk Pergi ke Starbucks Coffee
No Waktu Frekuensi Persentase
1 < 10 Menit 10 20 %
2 10 - 15 Menit 15 30 %
3 15 - 30 Menit 25 50 %
4 30 - 60 Menit 0 0
5 > 1 jam 0 0
Total 50 100 %
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa responden membutuhkan waktu untuk pergi ke Starbucks Coffee, < 10 menit sebesar 20 %, 10 - 15 menit sebesar 30 %, 15 - 30 menit sebesar 50 %, 30 - 60 menit sebesar 0, dan > 1 jam sebesar 0. Jika melihat hal tersebut dapat digambarkan bahwa waktu yang dibutuhkan konsumen untuk pergi ke Starbucks Coffee paling besar adalah 15 - 30 menit, dengan persentase sebesar 50 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konsumen yang berkunjung ke Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta adalah konsumen yang memiliki tempat tinggal tidak terlalu jauh dari lokasi Starbucks Coffee berada.
4.2.6. Intensitas Berkunjung
50 Karakteristik responden yang telah diperoleh menurut intensitas berkunjung dalam satu bulan yang disajikan pada tabel, sebagai berikut:
Tabel 4.6 Intensitas Berkunjung
No Intensitas Berkunjung Dalam Satu Bulan
Frekuensi Persentase
1 1 - 4 Kali 18 36 %
2 5 - 8 Kali 22 44 %
3 > 8 Kali 10 20 %
Total 50 100 %
Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa intensitas berkunjung responden dalam satu bulan ke Starbucks Coffee, 1- 4 kali sebesar 36 %, 5 - 8 kali sebesar 44 %, dan lebih dari 8 kali sebesar 20 %. Intensitas berkunjung paling besar adalah 5 - 8 kali dalam satu bulan dengan persentase sebesar 44 %. Maka dari itu dapat digambarkan bahwa responden pada penelitian ini memiliki intensitas berkunjung yang cukup sering dalam satu bulannya.
Kunjungan tersebut dapat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti brand image, label halal, pelayanan, cita rasa kekhasan dan masih banyak lagi.
4.2.7. Biaya Yang Dikeluarkan Oleh Responden Pada Saat di Starbucks Coffee.
Karakteristik responden yang telah diperoleh berdasarkan biaya yang dikeluarkan pada saat berkunjung ke Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta yang disajikan pada tabel, sebagai berikut:
51 Tabel 4.7 Biaya Yang Dikeluarkan Oleh Responden Pada Saat di Starbucks Coffee
No Pengeluaran Frekuensi Persentase
1 < Rp 100.000 16 32 %
2 Rp 100.000 - 200.000 22 44 %
3 Rp 200.000 - 300.000 12 24 %
4 Rp 300.000 - 500.000 0 0
5 > Rp 500.000 0 0
Total 50 100 %
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa pengeluaran responden/konsumen selama berkunjung ke Starbucks Coffee adalah kurang dari Rp 100.000 sebesar 32 %, Rp 100.000 - 200.000 sebesar 44 %, Rp 200.000 - 300.000 sebesar 24 %, Rp 300.000 - 500.000 sebesar 0, dan lebih dari Rp 500.000 sebesar 0. Jika digambarkan bahwa responden atau konsumen yang berkunjung ke Starbucks Coffee lebih sering menghabiskan biaya sekitar Rp 100.000 - 200.000 dengan persentase sebesar 44 %. Melihat hal tersebut maka kita dapat menyimpulkan bahwa biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen ketika pergi ke Starbucks Coffee cukup besar.
4.2.8. Lama Berkunjung
Karakteristik responden yang telah diperoleh menurut lama berkunjung yang akan disajikan dalam tabel, sebagai berikut:
52 Tabel 4.8 Lama Berkunjung
No Lama Berkunjung Frekuensi Persentase
1 Kurang dari 15 Menit 10 20 %
2 Kurang dari 1 Jam 0 0
3 1 - 2 Jam 25 50 %
4 2 - 3 Jam 11 22 %
5 > 3 Jam 4 8 %
Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa lama berkunjung responden atau konsumen di Starbucks Coffee adalah kurang dari 15 menit sebesar 20 %, kurang dari 1 jam sebesar 0, 1 - 2 jam sebesar 50 %, 2 - 3 jam sebesar 22 %, dan lebih dari 3 jam sebesar 8 %.
Maka dengan hasil tersebut dapat digambarkan lama berkunjung responden atau konsumen yang paling besar adalah 1 - 2 jam dengan persentase sebesar 50 %.
Dengan besarnya persentase tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa responden atau kosumen tidak hanya berkunjung dan langsung pergi ketika membeli produk Starbucks Coffee, melainkan konsumen memilih untuk tinggal cukup lama 1 -2 jam untuk melakukan kegiatan ditempat tersebut dan tidak menutup kemungkinan konsumen tersebut menikmati suasana dan fasilitas yang disediakan oleh Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta.
4.2.9. Tahap Pengenalan Responden Terhadap Starbucks Coffee
53 Karakteristik responden yang telah diperoleh menurut tahap pengenalan terhadap produk Starbucks Coffee yang disajikan dalam tabel, sebagai berikut:
Tabel 4.9 Tahap Pengenalan Responden Terhadap Starbucks Coffee
No Tahap Frekuensi Persentase
1 SMP 0 0
2 SMA 12 24 %
3 Kuliah 28 56 %
4 Memiliki Pekerjaan Tidak Tetap 6 12 %
5 Memiliki Pekerjaan Tetap 4 8 %
Total 50 100 %
Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa tahap pengenalan responden terhadap Starbucks Coffee dimulai pada saat, SMP sebesar 0, SMA sebesar 24 %, Kuliah sebesar 56
%, memiliki pekerjaan tidak tetap sebesar 8 %, dan memiliki pekerjaan tetap sebesar 8 %.
Melihat hasil tersebut dapat digambarkan bahwa para responden mengenal Starbucks Coffee paling banyak dimulai sejak berkuliah dengan persentase sebesar 56 %.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebanyakan konsumen yang mengunjung Starbucks Coffee mengenal Coffee Shop ini semenjak mereka duduk di bangku SMA. Hal tersebut juga cukup dibuktikan ketika peneliti melakukan observasi langsung di Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta dan melihat ada beberapa pelajar SMA yang berada disana untuk membeli produk yang ditawarkan oleh Starbucks Coffee.
4.2.10. Produk Yang Dibeli
54 Karakteristik responden yang telah diperoleh menurut produk yang dibeli dan akan disajikan dalam tabel, sebagai berikut:
Tabel 4.10 Produk Yang di Beli
No Produk Frekuensi Persentase
1 Minuman 29 58 %
2 Makanan 21 42 %
Total 50 100 %
Berdasarkan hasil tabel tersebut dapat dilihat bahwa produk yang dibeli oleh responden adalah minuman sebesar 58 % dan makanan sebesar 42 %. Hasil tersebut menggambarkan bahwa produk minumanlah yang paling sering dibeli oleh responden atau konsumen dengan bobot persentase sebesar 58 %.
4.3. Hasil Penelitian
Pada penelitian ini data yang digunakan oleh penulis adalah data primer. Untuk mendapatkan data tersebut penulis menggunakan cara menyebarkan lembar kuesioner secara langsung kepada responden. Untuk memastikan data yang diperoleh kredibel, responden yang mengisi kuesioner diberikan kriteria “Pernah Membeli dan Berkunjung ke Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta”. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 50 responden.
Adapun hasil penelitian yang didapatkan, sebagai berikut:
4.3.1. Hasil Uji Instrumen Penelitian
4.3.1.1 Hasil Uji Validitas
55 Menurut Anwar (2000) uji Validitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur yang digunakan dalam melakukan fungsinya. Uji Validitas adalah ukuran yang akan menunjukan ukuran tingkat kevalidan data atau instrumen yang digunakan. Tujuan dalam melakukan uji ini adalah untuk memperjelas ukuran tingkat kevalidan data atau instrumen yang digunakan, agar dapat membuktikan secara akurat mengenai kevalidan data dan instrumen yang digunakan. Peneliti menggunakan teknik pengujian Korelasi Bivariate Pearson. Teknik pengujian ini dilakukan dengan cara mengkorelasikan masing – masing skor item pertanyaan dengan skor total. Jika nilai rhitung rtabel menggunakan uji 2 sisi dengan sig. 0,05.
Tabel 4.11 Uji Validitas Variabel Brand Image
Item rhitung rtabel Keterangan
Butir 1 0,778 0,279 Valid
Butir 2 0,635 0,279 Valid
Butir 3 0,683 0,279 Valid
Butir 4 0,546 0,279 Valid
Butir 5 0,567 0,279 Valid
Butir 6 0,628 0,279 Valid
Butir 7 0,683 0,279 Valid
Butir 8 0,567 0,279 Valid
Butir 9 0,704 0,279 Valid
56
Butir 10 0,431 0,279 Valid
Butir 11 0,621 0,279 Valid
Butir 12 0,595 0,279 Valid
Butir 13 0,732 0,279 Valid
Butir 14 0,817 0,279 Valid
Tabel 4.12 Uji Validitas Variabel Institusi Sertifikasi Halal
Item rhitung rtabel Keterangan
Butir 1 0,787 0,279 Valid
Butir 2 0,741 0,279 Valid
Butir 3 0,842 0,279 Valid
Butir 4 0,912 0,279 Valid
Butir 5 0,843 0,279 Valid
Butir 6 0,881 0,279 Valid
Tabel 4.13 Uji Validitas Variabel Keputusan Pembelian
Item rhitung rtabel Keterangan
Butir 1 0,731 0,279 Valid
57
Butir 2 0,744 0,279 Valid
Butir 3 0,630 0,279 Valid
Butir 4 0,815 0,279 Valid
Butir 5 0,620 0,279 Valid
Butir 6 0,716 0,279 Valid
Butir 7 0,751 0,279 Valid
Butir 8 0,661 0,279 Valid
Butir 9 0,655 0,279 Valid
Butir 10 0,687 0,279 Valid
Butir 11 0,785 0,279 Valid
Butir 12 0,668 0,279 Valid
Butir 13 0,656 0,279 Valid
Butir 14 0,611 0,279 Valid
4.3.1.2 Hasil Uji Reliabilitas
Menurut Sugiono (2005) uji Reliabilitas merupakan tahapan dalam pengukuran yang memiliki konsistensi, apabila pengukuran dilakukan secara berulang dengan alat ukur tersebut. Pada penelitian ini uji reliabilitas dilakukan dengan teknik pronch Alpha, uji ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui instrumen yang dilakukan dalam sebuah penelitian berkualitas dan dapat
58 dipertanggung jawabkan. Syarat instrumen penelitian Reliabel adalah nilai Cronbach harus lebih besar dari pada nilai alpha ( >0,7).
Tabel 4.14 Uji Reliabilitas Variabel Brand Image (X1)
Tabel 4.15 Uji Reliabilitas Variabel Institusi Sertifikasi Halal (X2)
Tabel 4.16 Uji Reliabilitas Variabel Keputusan Pembelian (Y)
4.3.2. Hasil Uji Prasyarat Analisis 4.3.2.1.Uji Normalitas
Cara melakukan uji normalitas data dapat dilakukan dengan Non - parametrik statistik. Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan uji statisttik Kolmogorov - Smirnov. Uji statistik Kolmogorov - Smirnov dilakukan untuk menguji hipotesis komparatif dari dua sampel independen dalam bentuk data ordinal yang disusun dalan tabel distribusi frekuensi kumulatif dan menggunakan sistem interval kelas. Pada penelitian ini
BRAND IMAGE (X1) Nilai yang di
tetapkan Nilai Cronbach kesimpulan
0.7 0.88028177 RELIABEL
INSTITUSI SERTIFIKASI HALAL (X2) Nilai yang di
tetapkan Nilai Cronbach kesimpulan
0.7 0.902315379 RELIABEL
Pengambilan Keputusan (Y) Nilai yang di
tetapkan Nilai Cronbach kesimpulan
0.7 0.915882875 RELIABEL
59 menggunakan uji statistik Kolmogorov - Smirnov dengan tingkat kepercayaan 5 % atau 0,05 dengan tujuan mengetahui data yang telah didapatkan berdistribusi dan berfrekuensi normal atau tidak, dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Jika nilai Signifikansi (asym.sig) > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa nilai residual berdistribusi normal.
2. Jika nilai Signifikansi (asym.sig) < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa nilai residual tidak berdistribusi normal.
Maka dari itu outuput data yang telah diolah menggunakan IBM SPSS versi 22.0, sebagai berikut:
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardiz ed Residual
N 50
Normal Parametersa,b
Mean .0000000
Std.
Deviation
.30215121
Most Extreme
Differences
Absolute .085
Positive .085
Negative -.062
Kolmogorov-Smirnov Z .599
60
Asymp. Sig. (2-tailed) .866
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Nilai sig sebesar 0,866 > 0,05 dengan demikian data terdistribusi normal
4.3.2.2.Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui adanya korelasi antara variable bebas dalam model regresi. Model regresi dapat dikatakan baik jika tidak memiliki multikolineritas. Untuk menguji ada atau tidaknya multikolineritas dalam model regresi pada penelitian ini, maka dapat dilakukan dengan menganalisis nilai variance infaltion factor (VIF). Menurut Ghozali (2016) variabel yang memiliki masalah dalam multikolineritas, jika tolerance ≤ dari 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10. Maka dari itu agar dapat melihat terjadi atau tidaknya multikolinearitas pada penelitian ini, dapat digunakan 2 cara sebagai berikut:
Cara melihat nilai tolerance dan VIF
Nilai tolerance:
1. Tidak terjadi multikolinearitas apabila nilai tolerance lebih besar dari 0,1.
2. Tidak terjadi multikolineritas apabila nilai tolerance lebih kecil atau sama dengan 0,1.
Nilai VIF:
1. Tidak terjadi multikolinearitas apabila nilai VIF lebih kecil dari 10,0.
2. Tidak terjadi multikolinearitas apabila nilai VIF lebih besar atau sama dengan 10,0
61 Coefficientsa
Model Unstandardized
Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig. Collinearity
Statistics
B Std.
Error
Beta Tolerance VIF
1
(Constant) .953 .366 2.604 .012
Sertifikasi Halal
.621 .111 .602 5.578 .000 .696 1.438
brand image .180 .071 .275 2.549 .014 .696 1.438
a. Dependent Variable: Keputusan Pembelian
Nilai Tolerance 0,696> 0,1 dan VIF 1,438< 10 dengan demikian tidak terdapat gangguan multikolinearitas pada penelitian ini.
4.3.2.3.Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas memiliki arti bhawa varian variabel memiliki gangguan yang tidak konstan. Menurut (Ghozali, 2016;134) uji heteroskedastisitas biasanya dilakukan untuk menguji apakah model regresi yang dugunakan memiliki ketidaksamaan varian, yang berasal dari residual satu pengamatan kepada pengamatan lainnya. Pada penelitian ini menggunakan teknik uji Glejser, dalam uji Glejser jika variabel independen signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka terdapat indikasi heteroskedastisitas. Sebaliknya jika variabel
62 independen tidak signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, dengan demikian tidak terdapat indikasi heteroskedastisitas. Hal tersebut akan diamati melalui probabilitas signifikansi dengan tingkat kepercayaan 5 % (Ghozali 2016 ; 138 )
Coefficientsa
Model Unstandardized
Coefficients
Standardized Coefficients
T Sig.
B Std. Error Beta
1
(Constant) .284 .240 1.184 .242
Sertifikasi Halal
-.022 .073 -.052 -.295 .769
brand image .006 .046 .022 .128 .899
a. Dependent Variable: ABS_RES
Nilai sig > 0,05 dengan demikian tidak terdapat gangguan heteroskedastisitas pada penelitian ini.
4.3.2.4.Uji Autokorelasi
Menurut (Ghozali 2016:107) Tujuan melakukan uji autokorelasi adalah untuk menguji apakah dalam model regresi liner yang digunakanm memiliki korelasi antara kesalahan pada periode t dengan periode t sebelumnya. Model regresi yang baik seharusnya tidak memilki
63 autokorelasi. Pada penelitian ini akan menggunakan autokorelasi dengan uji Durbin - Watson, dengan syarat adanya intercept (konstanta) pada model regresi dan tidak memilki varibel lag diantara variabel independen.
Dalam tabel di atas nilai Durbin-Watson sebesar 2,001. Untuk mengetahui ada atau tidak autokorelasi dalam penelitian ini, maka langkah selanjutnya yang dapat kita lakukan adalah mencari nilai dL dan dU dalam tabel Durbin-watson. K; N (K adalah nilai independen dan N adalah jumlah data). K = 2, N = 50, maka nilai Durbin Watson yang kita dapatkan adalah dL = 1,4625
dU = 1,6283
Syarat tidak ada autokorelasi adalah nilai DW lebih besar dari nilai DL dan kurang dari 4 - dU.
DW>dL= 2,00 > 1,4625 dan 4 - dU > DW = 2,3717 > 2,00
Maka dengan melihat nilai di atas kita dapat menyimpulkan tidak ada autokorelasi dalam penelitian ini.
4.3.2.5. Analisis Regresi Berganda
Analisis regresi linier berganda dilakukan untuk mengestimasi hubungan antara dua atau lebih variabel independen dan satu variabel dependen. Menurut Umi Narimawati (2006) analisis regresi linier berganda merupakan suatu analisis yang
64 digunakan secara bersamaan dalam meneliti pengaruh dua atau lebih bariabel independen terhadap satu variabel dependen dengan menggunakan skala interval.
Model Summary
Mode l
R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .787a .620 .604 .30851
a. Predictors: (Constant), brand image , Sertifikasi Halal
Koefisien determinasi sebesar 0,604, artinya variabel-variabel independent mampu memberikan pengaruh terhadap variabel dependen sebesar 60,4% dan sisanya dipengaruhi variabel lain diluar variabel X
ANOVAa
Model Sum of
Squares
df Mean
Square
F Sig.
1
Regression 7.293 2 3.646 38.310 .000b
Residual 4.473 47 .095
Total 11.766 49
a. Dependent Variable: Keputusan Pembelian
b. Predictors: (Constant), brand image , Sertifikasi Halal
65 Nilai sig sebesar 0,000 < 0,05 dengan demikian terdapat pengaruh secara simultan variabel-variabel independent terhadap variabel-variabel dependen
Coefficientsa
Model Unstandardized
Coefficients
Standardized Coefficients
T Sig.
B Std. Error Beta
1
(Constant) .953 .366 2.604 .012
Sertifikasi Halal
.621 .111 .602 5.578 .000
brand image .180 .071 .275 2.549 .014
a. Dependent Variable: Keputusan Pembelian
4.4. Hasil Uji Hipotesis
1. Koefisien regresi sebesar 0,180 dan nilai sig sebesar 0,014 < 0,05, dengan demikian brand image berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian, dan hipotesis H1 diterima.
2. Koefisien regresi sebesar 0,621 dan nilai sig sebesar 0,000 < 0,05, dengan demikian institusi sertifikasi halal berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian, dan hipotesis H2 diterima.
66 4.5. Hasil Pembahasan
Hasil penelitian yang didapatkan pada penelitian ini berjudul “Pengaruh Brand Image Dan Institusi Sertifikasi Halal Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Starbucks Coffee (Studi Kasus: Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta)’’ . Variabel Brand Image berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap variabel Keputusan Pembelian dengan nilai signifikasi sebesar 0,000<0,05. Variabel Institusi Sertifikasi Halal juga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap variabel Keputusan Pembelian dengan nilai signifikasi sebesar 0,014<0,05. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel brand image dan institusi sertifikasi halal berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap variabel keputusan pembelian konsumen. Hasil tersebut juga sama dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Anita Haryanti (2020), persamaan tersebut terlihat dari variabel yang
Hasil penelitian yang didapatkan pada penelitian ini berjudul “Pengaruh Brand Image Dan Institusi Sertifikasi Halal Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Starbucks Coffee (Studi Kasus: Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta)’’ . Variabel Brand Image berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap variabel Keputusan Pembelian dengan nilai signifikasi sebesar 0,000<0,05. Variabel Institusi Sertifikasi Halal juga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap variabel Keputusan Pembelian dengan nilai signifikasi sebesar 0,014<0,05. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel brand image dan institusi sertifikasi halal berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap variabel keputusan pembelian konsumen. Hasil tersebut juga sama dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Anita Haryanti (2020), persamaan tersebut terlihat dari variabel yang