BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Uji Parameter Nonspesifik Ekstrak Kulit Batang Nangka
Sebanyak 1 gram ekstrak ditimbang seksama (W1) dimasukkan dalam kurs yang sebelumnya telah dipijarkan dan ditimbang (W0). Setelah itu ekstrak dipijar dengan menggunakan tanur secara perlahan-lahan dengan suhu dinaikkan secara bertahap hingga 600±25°C sampai arang habis. Kemudian ditimbang hingga bobot tetap (W2) (Depkes RI, 2000).
% Kadar Abu Total = W 2−W 0
�1 x 100% (3. 1)
Keterangan : W0 = bobot cawan kosong (gram) W1 = bobot ekstrak awal (gram)
W2 = bobot cawan + ekstrak setelah pemanasan (gram)
3.4.2.2Kadar Air
Ekstrak ditimbang secara seksama sebanyak 1 gram dan dimasukkan ke dalam botol timbang dangkal bertutup yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu 105ºC selama 30 menit dan telah ditara. Sebelum ditimbang, ekstrak diratakan dalam botol timbang dengan batang pengaduk. Kemudian dikeringkan dalam oven 105ºC selama 5 jam dan ditimbang. Pengeringan dilanjutkan kemudian ditimbang pada jarak 1 jam sampai perbedaan antara 2 penimbangan berturut-turut tidak lebih dari 0,25% (Depkes RI, 2000).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
% Kadar Air = W 0−W 1
�0 x 100% (3. 2)
Keterangan : W0 = bobot ekstrak sebelum dikeringkan (gram) W1 = bobot ekstrak setelah dikeringkan (gram)
3.4.3 Uji Skrining Fitokimia Ekstrak Kulit Batang Nangka 3.4.3.1Alkaloid
Sebanyak 2 mL larutan ekstrak uji diuapkan di atas cawan porselin hingga diperoleh residu. Residu kemudian dilarutkan dengan 5 mL HCl 2N. Larutan yang didapat kemudian dibagi ke dalam 3 tabung reaksi. Tabung pertama ditambahkan dengan asam encer yang berfungsi sebagai blanko. Tabung kedua ditambahkan pereaksi Dragendroff sebanyak 3 tetes dan tabung ketiga ditambahkan pereaksi Mayer sebanyak 3 tetes. Terbentuknya endapan jingga pada tabung kedua dan endapan kuning pada tabung ketiga menunjukkan adanya alkaloid (Farnsworth, 1966).
3.4.3.2 Flavonoid
Sejumlah ekstrak ditambahkan dengan 100 mL air panas, didihkan selama 5 menit, kemudian disaring, diambil filtratnya, dipindahkan ke dalam tabung reaksi. Filtrat sebanyak 5 mL ditambahkan 0,05 g serbuk Mg, 1 mL HCl pekat dan amil alkohol, kemudian dikocok kuat-kuat. Terbentuknya warna merah, kuning, atau jingga menunjukkan sampel mengandung flavonoid (Harborne, 1987).
3.4.3.3Saponin
Beberapa mL ekstrak ditambahkan dengan 10 mL air sambil dikocok selama 1 menit, lalu ditambahkan 2 tetes HCl 1 N. Bila busa yang terbentuk tetap stabil selama kurang lebih 7 menit, maka ekstrak positif mengandung saponin (Harborne, 1987).
3.4.3.4Steroid
Sejumlah 2 mL larutan ekstrak uji diuapkan di atas cawan porselin hingga diperoleh residu. Residu kemudian dilarutkan dalam kloroform dan disaring. Filtrat ditambahkan H2SO4 pekat sebanyak 2 tetes. Larutan dikocok perlahan dan dibiarkan selama beberapa menit. Terbentuknya cincin cokelat kemerahan menunjukkan bahwa ekstrak mengandung steroid (Harborne, 1987).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
3.4.3.5Tanin dan Polifenol
Sejumlah 2 mL larutan ekstrak uji diuapkan di atas cawan porselin hingga diperoleh residu. Residu kemudian direaksikan dengan FeCl3 10%. Terbentuknya warna biru tua, biru kehitaman, atau hitam kehijauan menunjukkan adanya senyawa polifenol dan tanin (Robinson, 1991).
3.4.4 Analisis Kadar Total Senyawa Polifenol Ekstrak Kulit Batang Nangka 3.4.4.1 Pembuatan Larutan Induk Asam Galat dalam Aquadest
Larutan standar asam galat dengan konsentrasi 1000 ppm (µg/mL) dapat dibuat dengan cara 10 mg asam galat standar dilarutkan dalam 1 mL metanol pro analisa lalu ditambahkan aquadest di dalam labu ukur 10 mL sampai tanda batas (Ratnayani, 2012).
3.4.4.2 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Asam Galat dalam
Aquadest
Larutan standar asam galat 40 ppm (µg/mL) dibuat dengan cara mengambil 0,2 mL larutan induk asam galat 1000 ppm (µg/mL), lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 5 mL dan ditambahkan aquadest sampai tanda batas. Sebanyak 0,5 mL larutan standar 40 ppm dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambah 0,3 mL reagen Folin-Ciocalteu dan 2 mL larutan Na2CO3 15%, lalu ditambahkan 2,2 mL aquadest. Larutan diinkubasi pada suhu kamar selama 2 jam. Campuran larutan tersebut kemudian diukur serapannya pada panjang gelombang 400 sampai 800 nm. Hasil yang diperoleh dibuat dalam bentuk kurva, sebagai sumbu y adalah absorbansi dan panjang gelombang cahaya sebagai sumbu x. Dari kurva tersebut dapat ditentukan panjang gelombang yang memberikan serapan maksimum (Alfian, Susanti, 2012; Pontis, Costa, Silva, Flach, 2014).
3.4.4.3 Pembuatan Kurva Standar Asam Galat dalam Aquadest
Larutan standar asam galat dengan konsentrasi 20, 30, 40, 50, 60, 70, dan 80 ppm (µg/mL)dibuat dengan cara mengambil masing-masing sebanyak 0,2 mL; 0,3 mL; 0,4 mL; 0,5 mL; 0,6 mL; 0,7 mL dan 0,8 mL larutan induk asam galat 1000 ppm (µg/mL), lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, dan ditambahkan
aquadest sampai tanda batas. Sebanyak 0,5 mL dari masing-masing seri konsentrasi larutan tersebut dimasukkan dalam tabung reaksi, kemudian ditambah
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
0,3 mL reagen Folin-Ciocalteu dan 2 mL larutan Na2CO3 15%, lalu ditambahkan 2,2 mL aquadest. Campuran larutan tersebut kemudian diinkubasi selama 2 jam. Semua larutan diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 755 nm, kemudian dibuat kurva kalibrasi hubungan antara konsentrasi asam galat (μg/mL) dengan absorbansi (Pontis, Costa, Silva, Flach, 2014).
3.4.4.4 Penentuan Total Senyawa Polifenol dalam Ekstrak Kulit Batang Nangka
Sebanyak 10 mg ekstrak kulit batang nangka dilarutkan dalam 1 mL metanol pro analisa lalu ditambahkan aquadest di dalam labu ukur 10 mL sampai tanda batas. Sebanyak 0,5 mL larutan ekstrak yang diperoleh dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambah 0,3 mL reagen Folin-Ciocalteu dan 2 mL larutan natrium karbonat 15%, lalu ditambahkan 2,2 mL aquadest. Larutan diinkubasi pada suhu kamar selama 2 jam. Campuran larutan tersebut diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 755 nm, kadar senyawa polifenol total dapat dihitung dengan menggunakan persamaan regresi linear dari kurva kalibrasi. Kadar total polifenol ditetapkan sebagai ekivalen asam galat (GAE) (Pontis, Costa, Silva, Flach, 2014).
3.4.5 Preparasi Niosom Ekstrak Kulit Batang Nangka 3.4.5.1 Pembuatan Larutan PBS pH 7,3±0,2
Larutan phosphate buffered saline pH 7,3±0,2 dibuat dengan melarutkan 10 buah tablet phosphate buffered saline yang mengandung natrium klorida (8 g/L), kalium klorida (0,2 g/L), kalium hidrogen fosfat (0,2 g/L), kalium dihidrogen fosfat (0,2 g/L) dan dinatrium hidrogen fosfat (1,15 g/L) dalam 1000 mL air bebas karbondioksida, kemudian diautoklaf pada suhu 115°C selama 10 menit menggunakan autoklaf digital (Oxoid, Inggris).
3.4.5.2 Formulasi Niosom
Niosom yang mengandung ekstrak kulit batang nangka sebagai bahan aktif diformulasikan dengan menggunakan span 60 sebagai surfaktan nonionik, kolesterol sebagai bahan penstabil, dan PBS (phosphate buffered saline) pH 7,3±2 sebagai fase air. Adapun formula niosom yang digunakan terdapat pada Tabel 3.1.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tabel 3.1 Formula Niosom
Bahan F1 F2 F3
Ekstrak kulit batang nangka
50 mg 100 mg 150 mg Kolesterol 200 mg 200 mg 200 mg Span 60 400 mg 400 mg 400 mg PBS pH 7,3 12,5 mL 12,5 mL 12,5 mL
3.4.5.3 Pembuatan Niosom dengan Metode Hidrasi Lapis Tipis
Niosom dibuat dengan menggunakan metode hidrasi lapis tipis. Ekstrak kulit batang nangka, span 60, dan kolesterol (Tabel 3.1) dilarutkan dalam pelarut organik. Ekstrak kulit batang nangka dilarutkan dalam 3 mL metanol, span 60 dilarutkan dalam 4,5 mL kloroform, dan kolesterol dilarutkan dalam 1,5 mL kloroform, dan kemudian dimasukkan ke dalam labu alas bulat. Pelarut kemudian diuapkan dengan vacuum rotary evaporator pada suhu 60°C dengan kecepatan 180 rpm hingga terbentuk lapisan tipis pada dinding labu, kemudian disimpan selama 1x24 jam untuk menghilangkan sisa pelarut dan membentuk lapisan yang
compact. Lapisan film yang terbentuk dihidrasi dengan fase air PBS (Phosphate Buffered Saline) pH 7,3±2 dengan bantuan mekanik glass beads pada suhu 60°C dengan kecepatan 20 rpm untuk membentuk suspensi niosom (Ruckmani, Sankar, 2010).
3.4.6 Karakterisasi Niosom 3.4.6.1 Analisis Ukuran Partikel
Suspensi niosom yang telah terbentuk dapat dianalisis ukuran partikel dan distribusi ukuran partikel serta indeks polidispersitasnya oleh Dynamic Light Scattering (DLS) dengan menggunakan alat Particle Size Analyzer (PSA) (Bayindir, Yuksel, 2009). Suspensi niosom yang telah dihasilkan dari ketiga formula, diteteskan pada wadah sampel alat Particle Size Analyzer (PSA) dilakukan measuring sampai didapatkan hasil ukuran partikel, distribusi ukuran partikel dan indeks polidispersitas.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
3.4.6.2 Penentuan Kadar Polifenol yang Terjerap dan Persen Efisiensi Penjerapan
Kadar polifenol yang terjerap dan efisiensi penjerapan vesikel ditentukan dengan memisahkan obat bebas dari vesikel penjerap obat dengan menggunakan teknik ultrasentrifugasi. Suspensi niosom disentrifugasi selama 50 menit pada 50.000 rpm dan suhu 4°C dengan tujuan untuk memisahkan obat yang tidak terjerap. Jumlah obat bebas (FD) disebut supernatan. Supernatan hasil sentrifugasi ditetapkan kadarnya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis (Pham, Maalej, Charcosset, Fessi, 2012).
Efisiensi Penjerapan (% EP) dihitung dengan rumus : % EP =TD−FD
TD x 100% (3. 3) Keterangan:
TD = total senyawa fenolat yang terdapat dalam formula FD = jumlah senyawa fenolat yang terdeteksi pada supernatan
a. Pembuatan Larutan Induk Asam Galat dalam PBS (Phosphate Buffered Saline)
Larutan standar asam galat dengan konsentrasi 1000 ppm (µg/mL) dapat dibuat dengan cara 10 mg asam galat standar dilarutkan dalam 1 mL metanol pro analisa, lalu ditambahkan PBS (phosphate buffered saline) di dalam labu ukur 10 mL sampai tanda batas (Ratnayani, 2012).
b. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Asam Galat dalam PBS (Phosphate Buffered Saline)
Larutan standar asam galat 40 ppm (µg/mL) dibuat dengan cara mengambil 0,2 mL larutan induk asam galat 1000 ppm (µg/mL), lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 5 mL dan ditambahkan PBS (phosphate buffered saline) sampai tanda batas. Sebanyak 0,5 mL larutan standar 40 ppm (µg/mL) dimasukkan dalam tabung reaksi, kemudian ditambah 0,3 mL reagen Folin-Ciocalteu dan 2 mL larutan Na2CO3 15%, lalu ditambahkan 2,2 mL PBS (phosphate buffered saline). Larutan diinkubasi pada suhu kamar selama 2 jam. Campuran larutan tersebut kemudian diukur serapannya pada panjang gelombang 400 sampai 800 nm. Hasil yang diperoleh dibuat dalam bentuk kurva, sebagai sumbu y adalah absorbansi dan panjang gelombang cahaya sebagai sumbu x. Dari
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
kurva tersebut dapat ditentukan panjang gelombang yang memberikan serapan maksimum (Alvian; Susanti, 2012; Pontis, Costa, Silva, Flach, 2014).
c. Pembuatan Kurva Standar Asam Galat dalam PBS (Phosphate Buffered Saline)
Larutan standar asam galat dengan konsentrasi 20, 30, 40, 50, 60, 70, dan 80 ppm (μg/ml) dibuat dengan cara mengambil masing-masing sebanyak 0,2 mL; 0,3 mL; 0,4 mL; 0,5 mL; 0,6 mL; 0,7 mL dan 0,8 mL larutan induk asam galat 1000 ppm (µg/mL), lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, dan ditambahkan PBS (phosphate buffer saline) sampai tanda batas. Sebanyak 0,5 mL dari masing-masing seri konsentrasi larutan tersebut dimasukkan dalam tabung reaksi, kemudian ditambah 0,3 mL reagen Folin-Ciocalteu dan 2 mL larutan Na2CO3 15%, lalu ditambahkan 2,2 mL PBS (phosphate buffer saline). Larutan tersebut diinkubasi selama 2 jam. Semua larutan diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 756 nm, kemudian dibuat kurva kalibrasi hubungan antara konsentrasi asam galat (μg/ml) dengan
absorbansi (Pontis, Costa, Silva, Flach, 2014).
d. Penentuan Kadar Polifenol Bebas
Sebanyak 0,5 mL supernatan hasil sentrifugasi dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambah 0,3 mL reagen Folin-Ciocalteu dan 2 mL larutan natrium karbonat 15%, lalu ditambahkan 2,2 mL PBS (phosphate buffer saline). Larutan diinkubasi pada suhu kamar selama 2 jam. Campuran larutan tersebut diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 756 nm, kadar senyawa polifenol bebas dapat dihitung dengan menggunakan persamaan regresi linear dari kurva kalibrasi. Kadar polifenol bebas ditetapkan sebagai ekivalen asam galat (GAE) (Pontis, Costa, Silva, Flach, 2014).
38 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Uji Parameter Spesifik Ekstrak Kulit Batang Nangka 4.1.1 Identitas
Ekstrak kulit batang nangka yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari LIPI Serpong Indonesia. Ekstrak kulit batang nangka ini memiliki identitas sebagai berikut :
Nama Ekstrak : Ekstrak kulit batang nangka Nama Latin : Artocarpus heterophyllus L. Bagian yang digunakan : Kulit batang
4.1.2 Organoleptik
Penentuan organoleptik ini termasuk salah satu parameter spesifik yag ditentukan dengan menggunakan panca indera dan bertujuan untuk pengenalan awal secara sederhana dan subjektif. Pada pemeriksaan organoleptik ekstrak meliputi bentuk, warna dan bau (Arifin, Anggraini, Handayani, Rasyid, 2006). Dari pengamatan didapatkan hasil ekstrak kulit batang nangka berkonsistensi kental, berwarna cokelat kehitaman dengan bau khas kulit batang nangka.
4.2 Parameter Nonspesifik Ekstrak Kulit Batang Nangka 4.2.1 Kadar Abu
Penetapan kadar abu bertujuan untuk memberikan gambaran tentang kandungan mineral internal dan eksternal yang berawal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak (Depkes RI, 2000). Tujuan pemanasan yang dilakukan pada uji kadar abu adalah untuk mendestruksi dan menguapkan senyawa organik dan turunannya sampai tinggal unsur mineral dan anorganik saja. Adapun hasil uji kadar abu ekstrak kulit batang nangka dapat dilihat pada Tabel 4.1.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tabel 4.1. Hasil Uji Kadar Abu Ekstrak Kulit Batang Nangka
Sampel Kadar Abu (%) Rata-rata (%)
1 1,266
1,32
2 1,364
Hasil uji kadar abu ekstrak kulit batang nangka adalah 1,32 %. Kadar abu ekstrak kulit batang nangka mengindikasikan bahwa ekstrak yang diperoleh mengandung mineral dan senyawa anorganik sebesar 1,32%. Hasil kadar abu yang didapatkan tersebut sesuai dengan standar simplisia batang nangka di Materia Medika Indonesia yaitu < 3,5% (Depkes RI, 1989). Perhitungan kadar abu ekstrak kulit batang nangka dapat dilihat pada Lampiran 3.
4.2.2 Kadar Air
Tujuan dilakukannya penetapan kadar air adalah untuk memberikan batasan minimal atau rentang besarnya kandungan air di dalam bahan (Depkes RI, 2000). Dalam penelitian ini, uji kadar air dilakukan dengan menggunakan metode gravimetri. Hasil uji kadar air ekstrak kulit batang nangka dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2. Hasil Uji Kadar Air Ekstrak Kulit Batang Nangka
Sampel Kadar Air (%) Rata-rata (%)
1 13,07
13,17
2 13,27
Hasil uji kadar air ekstrak kulit batang nangka adalah 13,17%. Ekstrak kulit batang nangka ini merupakan ekstrak kental dan kadar air yang dihasilkan berada dalam batas untuk ekstrak kental yaitu 5-30% (Saifudin, Rahayu, Teruna, 2011). Adapun perhitungan kadar air ekstrak kulit batang nangka dapat dilihat pada Lampiran 4.