• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

G. Instrumen Penelitian / Alat Ukur

2. Uji Validitas

Validitas berasal dari kata validity yang berarti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2008:5). Validitas suatu tes adalah taraf sampai di mana suatu tes mampu mengukur apa yang seharusnya diukur (Masidjo, 2010:242). Menurut Furchan (2007:293) validitas menunjuk kepada sejauh mana suatu alat mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Sedangkan menurut Purwanto (2009:137), validitas atau kesahihan adalah kualitas

yang menunjukkan hubungan antara suatu pengukuran (diagnosis) dengan arti atau tujuan kriteria belajar atau tingkah laku.

Suatu alat ukur harus memiliki ketepatan yang akurat sesuai dengan apa yang akan diukur. Misalnya suatu ulangan IPA dikatakan valid apabila ulangan tersebut mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan IPA. Dengan demikian suatu test dikatakan memiliki validitas tinggi jika test tersebut memberikan hasil ukur sesuai dengan maksud diadakannya suatu test. Di bawah ini akan dituliskan indikator-indikator pola asuh orang tua demokratis yang akan diuraikan ke dalam kisi-kisi untuk mencari validitas suatu item. Kisi-kisi item di bawah ini merupakan kisi-kisi sebelum uji coba. Sedangkan kisi-kisi item setelah uji coba dapat dilihat pada lampiran 9 halaman 163.

Tabel 3.5 Kisi-kisi item untuk mencari validitas item

Indikator Item Jumlah (+) (-) Hangat dalam melakukan interaksi antara orang tua dan anak, serta komunikasi yang terjalin dengan baik.

4 2 6 Mengenakan seperangkat standar untuk mengatur anak-anaknya yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan anak. 3 2 5 Menempatkan nilai yang tinggi pada perkembangan kemandirian dan

pengaturan diri sendiri. Menanamkan kebiasaan-kebiasaan rasional, berorientasi pada masalah serta sering melibatkan diri dalam perbincangan dan penjelasan pada anak-anak seputar persoalan disiplin.

3 2 5

Mendorong

tumbuhnya interaksi saling memberi dan menerima antara orang tua dan anak.

3 2 5 Mendukung, menerima dan bertanggung jawab dalam mempertimbangkan berbagai alternatif, akan tetapi tidak mendominasi dari sudut pandangan mereka. 2 3 5 Menggunakan wewenang akan tetapi dalam penerapannya orang tua membimbing serta mengarahkan langkah-langkah yang harus diambil oleh anak. 3 2 5 Melibatkan atau mengijinkan anak dalam membuat keputusannya dan mengekspresikan pendangannya sendiri serta menghargai individualitas anak, sementara orang tua ikut memberikan penjelasan yang masuk akal (bekerjasama dalam

membuat keputusan). Menghargai

pendapat anak dan mendorong untuk mengungkapkannya.

3 2 5

Memberikan waktu kepada anak untuk berfikir dan merenungkan setiap kejadian serta permasalahan yang mereka hadapi. 3 2 5 Meyakinkan anak bahwa orang tua menghargai apa yang ingin dicobalakukan dan apa yang dihasilkan.

2 2 4

Mendorong anak untuk secara berangsur-angsur melepaskan diri dari ketergantungan terhadap peran orang tua untuk memunculkan tanggungjawab serta kemandirian anak.

2 2 4

Validitas yang digunakan dalam menyusun butir-butir pernyataan pada kuesioner berupa validitas konstruk. Validitas konstruk (construct validitas) adalah validitas yang menunjuk kepada seberapa jauh suatu tes mengukur sifat atau bangunan-pengertian (construct) tertentu (Furchan, 2007:301). Dalam hal ini peneliti menggunakan kuesioner yang berisi pernyataan yang harus diisi oleh siswa. Penyusunan butir-butir pernyataan dalam kuesioner didasarkan atas bangunan pengertian (construct) pola asuh demokratis. Kuesioner tersebut diujicobakan terlebih dahulu untuk mengetahui valid atau tidaknya suatu item sebelum digunakan pada

penelitian. Sebelum diujicoba, kuesioner tersebut dikonsultasikan pada dosen pembimbing.

Sedangkan proses pengujian validitas berdasarkan pada validitas butir dari setiap item/pernyataan. Peneliti menggunakan analisis tiap butir soal untuk mengetahui valid atau tidaknya pernyataan yang terdapat dalam kuesioner. Adapun prosedur pengujian validitas dilakukan dengan menganalisis setiap item masing-masing kuesioner dengan mengkorelasikan setiap skor per butir (x) dengan skor total (y). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik korelasi Product Moment dari Pearson. Adapun rumus ini sebagai berikut (Masidjo, 2010:247):

rxy =

Keterangan :

rxy : koefisien korelasi

∑x : jumlah skor dalam sebaran x (skor item per butir) ∑y : jumlah skor dalam sebaran y (skor item total)

∑xy : jumlah hasil kali skor x dan skor y yang berpasangan ∑x2

: jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran x ∑y2

: jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran y N : Jumlah responden

Proses perhitungan taraf validitas dilakukan dengan memberi skor pada setiap butir kemudian memasukkannya ke dalam data uji coba. Setelah memberi skor, selanjutnya dilakukan perhitungan validitas

menggunakan bantuan program SPSS Statistics 17.0 for Windows. Adapun langkah-langkah pengujiannya sebagai berikut:

a. Memasukkan data skor yang diperoleh siswa ke dalam data uji coba dengan bantuan program Microsoft Office Excel 2007.

b. Menghitung skor total yang diperoleh oleh setiap siswa dengan bantuan program Microsoft Office Excel 2007.

c. Mentabulasikan data tersebut ke dalam tabel uji coba pada program SPSS Statistics 17.0 for Windows.

d. Menguji validitas dengan tahap : analyzecorrelatebivariate

memindahkan semua item ke dalam kolom variables  beri tanda √ pada kotak dengan pilihan Pearson dan Two Tailed pada kolom Test of Significance klik OK.

Berdasarkan konsultasi dengan dosen pembimbing maka dirumuskan bahwa untuk skala psikologi sebaiknya digunakan harga koefisien korelasi minimal 0,30. Hal tersebut juga sesuai dengan pendapat Azwar (2009:65), bahwa kriteria pemilihan item berdasarkan korelasi item total dengan menggunakan batasan rxy ≥ 0,30. Ini berarti, untuk butir/item yang nilai korelasinya < 0,30 dinyatakan gugur atau tidak valid sehingga harus didrop. Dengan demikian item/butir yang dianggap valid adalah item yang nilai korelasinya ≥ 0,30.

Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan, maka diperoleh 39 item valid dan 21 item gugur dari 60 item yang diujicobakan kepada siswa. Setelah itu peneliti merevisi satu item untuk mendapatkan 40 item

valid sehingga jumlah item kuesioner menjadi genap. Tabel pengujian validitas tiap indikator dapat dilihat pada lampiran 4 halaman 153. Sedangkan tabel revisi kuesioner dapat dilihat pada lampiran 5 halaman 156. Berdasarkan tabel tersebut, maka peneliti menggunakan 40 item di dalam penelitian mengenai pola asuh orang tua demokratis. Adapun bentuk kuesioner yang akan digunakan di dalam penelitian dapat dilihat pada lampiran 10 halaman 166.

Sedangkan untuk hasil analisis uji validitas kuesioner pola asuh orang tua demokratis dengan bantuan program SPSS dapat dilihat pada lampiran 6 halaman 157.

Dokumen terkait