• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Validitas Konstruk dengan Analisis Faktor

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN (Halaman 71-79)

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN

4. Uji Validitas Konstruk dengan Analisis Faktor

Analisis faktor yang digunakan adalah confirmatory, menunjukkan nilai Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) sebesar 0,731 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (<0,05). Apabila nilai KMO lebih besar dari 0,7 dengan nilai signifikansi <0,05 menunjukkan bahwa butir item berkorelasi tinggi sehingga dapat dilakukan analisis faktor. Menurut Costello dan Osborne (2005)1 mengatakan bahwa struktur faktor telah murni atau fit jika faktor loading lebih besar dari 0,3, tidak ada crossloading (satu item memiliki faktor loading yang tinggi pada dua atau lebih faktor yang dikonfirmasi), dan dalam satu faktor minimal ada 3 item (faktor yang kurang dari 3 item dianggap tidak stabil). Dari hasil analisa data menggunakan SPSS, menunjukkan bahwa nilai KMO adalah 0,731 dengan signifikansi 0,000 (lihat Tabel 4.4)

Tabel 4.4 Skor Kaiser-Meyer-Olkin dan Bartlett’s test of sphericity

Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. recommendations for getting the most from your analysis. Practical Assessment Research &

Evaluation, 10 (7).

61 Tabel 4.4 menunjukkan bahwa nilai KMO sebesar 0,731 dan Bartlett’s Test of Sphericity sebesar 9.075 dengan signifikansi p sebesar 0,000 (p<0,05). Dengan KMO dan signifikansi tersebut, menunjukkan bahwa analisis faktor dapat dilakukan untuk memperoleh persentase total varians yang dapat dijelaskan pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5 Persentase total variance explained

Component Initial Eigenvalues Extraction Sums of Squared Loadings Total % of Variance Cumulative % Total % of Variance Cumulative %

Tabel 4.5 memperlihatkan bahwa alat ukur memiliki total variasi yang dapat dijelaskan sebesar 71,399%. Kontribusi dari aspek kepribadian muthmainnah sebesar

62 25,558%, lawwamah sebesar 18,057%, dan ammarah sebesar 15,882% serta faktor lain sebesar 11,903%. Dari persentase tersebut terlihat bahwa aspek Muthmainnah yang memberikan kontribusi terbesar diantara ketiga aspek dari Islamic Personality Scale (IPS). Selanjutnya, Tabel 4.6 memberikan penjelasan mengenai muatan dari masing-masing aspek Islamic Personality Scale (IPS).

Tabel 4.6 Faktor Loading

63

Selanjutnya tampilan scree plot merupakan penjelasan dari tabel total variance explained dalam bentuk grafik. Diagram scree plot menunjukkan bagaimana kecenderungan penurunan nilai eigen (eigenvalues) yang dipakai untuk menentukan secara subjektif banyaknya faktor yang dipakai.2 Gambar 4.1 berupa scree plot yang menunjukkan muatan faktor yang terbentuk sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa Islamic Personality Scale (IPS) untuk mengukur kepribadian Islam membentuk 3 komponen.

Gambar 4.1 Scree Plot Eigenvalue B. PEMBAHASAN

Item-item Islamic Personality Scale (IPS) dihasilkan berdasarkan pada respon terhadap pertanyaan terbuka yang disebar pada tahap preliminary. Hasil uji validitas isi dengan professional judgement menunjukkan adanya bukti bahwa tidak ada aspek Islamic Personality Scale (IPS) yang gugur. Hal ini menunjukkan bahwa item-item yang dibuat berdasarkan preliminary mampu mencerminkan ketiga aspek dari Islamic Personality Scale (IPS).

2Yusrizal.(2008). Pengujian validitas konstruk dengan menggunakan analisis faktor.Jurnal tabularasa PPS UNIMED, 5 (1) 73-92

64 Hasil uji reliabilitas skala ini sebesar 0,876. Hal ini menunjukkan bahwa skala ini dapat digunakan untuk asesmen maupun untuk mengambil data penelitian mengenai Islamic Personality Scale (IPS). Hasil uji validitas konstruk dengan analisis faktor yang mengkonfirmasi 3 dimensi yang ada pada Islamic Personality Scale (IPS).

Namun, apabila ditinjau dari hasil yang didapatkan, item-item yang disebar masih memiliki efek crossloading antara satu aspek dengan aspek yang lain. Faktor loading yang didapatkan untuk masing-masing item berkisar dari 0,428 ampai dengan 0,757.

Namun masih terlihat adanya tumpang tindih antara item pada aspek satu dengan aspek yang lain. Hal ini dapat disebabkan karena secara garis besar, ketiga aspek yang ada pada Islamic Personality Scale (IPS) saling berhubungan dengan satu sama lain.

Berdasarkan pada penelitian yang telah dilakukan, hal ini menunjukkan bahwa Islamic Personality Scale (IPS) yang diukur dengan skala terlihat merupakan konstruk yang sifatnya undimensional yang terdiri atas tiga aspek yang berbeda namun saling memiliki keterikatan yang tinggi.3 Hal ini juga didukung oleh penelitian yang telah dilakukan oleh Mujib. Secara operasional, kepribadian Islam (al-akhlaq al-Islamiyah) dapat diartikan sebagai tingkah laku individu yang sesuai dengan ajaran Islam (Al-Qur’an, Al-Sunnah dan khazanah Islam sendiri). Struktur kepribadian Islam meliputi struktur jism (aspek biologis), struktur ruhani (aspek psikologis) dan struktur nafsani (aspek psikofisik) dari kepribadian manusia. Berdasarkan definisi operasional di atas, tipologi kepribadian Islam dibagi menjadi 3, antara lain (1) kepribadian ammarah; (2) kepribadian lawwamah dan (3) kepribadian muthmainnah (Mujib, 2017).4

3 Schaufeli, W. B., Salanova, M., Gonzalez-Roma, V., & Bakker, A. A. (2002). The measurement of engagement and burnout: A two sample confirmatory factor analytic approach. Journal of Happiness Studies, 3, 71-92.

4 Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2017), hlm.

28.

65 BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Instrument/alat ukur yang dibuat memiliki internal konsistensi yang tinggi dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,876 dan validitas item berkisar antara 0,863 – 0,879. Hasil uji analisis faktor menunjukkan alat ukur Islamic Personality Scale (IPS) terbagi menjadi 3 faktor yakni aspek tipologi kepribadian ammarah, tipologi kepribadian lawwamah dan tipologi kepribadian muthmainnah. Dengan demikian alat ukur Islamic Personality Scale (IPS) sudah layak menjadi instrument, karena telah memenuhi persyaratan sebagai instrument untuk mengukur aspek kepribadian Islam yang telah dilakukan tahapan uji validitas dan reliabilitas.

Alat ukur Islamic Personality Scale (IPS) yang dipergunakan dalam penelitian ini menunjukkan adanya validitas konstruk, yang ditandai dengan hasil analisis faktor yang menunjukkan bahwa konstruk keribadian Islam mempunyai beragam dimensi meskipun ada sedikit perbedaan tentang bentuk struktur jika dibandingkan dengan teori tentang kepribadian Islam yang melandasi penyusunan alat ukur sebagai bahan utama alat ukur Islamic Personality Scale (IPS) dalam penelitian ini.

Berdasarkan pada hasil penelitian yang didapatkan, dapat disimpulkan alat ukur Islamic Personality Scale (IPS) yang dikembangkan memiliki content validity dan reliabilitas yang tinggi. Hal ini berarti hipotesis dalam penelitian ini diterima karena alat ukur Islamic Personality Scale (IPS) memiliki validitas dan reliabilitas yang dapat dipertanggung jawabkan.Selain itu, hasil penelitian membuktikan tentang adanya multidimensionalitas kepribadian Islam yang didapatkan yaitu kepribadian

66 ammarah (15,45%), kepribadian lawwamah (44,55%) dan kepribadian muthmainnah (40%).

B. SARAN

Alat ukur Islamic Personality Scale (IPS) menunjukkan koefisien reliabilitas (skor komposit) yang tinggi dan juga menunjukkan adanya valditas konstruk, meskipun masih perlu ditingkatkan reliabilitas komponennya. Sehingga, alat ukur Islamic Personality Scale (IPS) bisa dimanfaatkan secara maksimal sebagai alat diagnostik dalam rencana pendidikan dan intervensi konseling pada mahasiswa di Indonesia.

Peneliti selanjutnya agar lebih cermat dalam melakukan analisis data, karena banyak hal yang bisa disampaikan kepada masyarakat dengan menggunakan analisis faktor konfirmatori maupun eksploratori. Perlu juga dipertimbangkan melakukan analisis faktor konfirmatori higher order sehingga pembahasan tentang multidimensionalitas kepribadian Islam bisa lebih komprehensif.

67 DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2007. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Aksara.

Azwar, S. 2013. Penyusunan skala psikologi (Edisi 2). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Baharuddin, 2009. Psikologi Pendidikan Refleksi Teoritis terhadap Fenomena, Jogjakarta: ARRUZZ Media.

Bastaman, H. D. 1998. Integrasi Psikologi dengan Islam, Menuju Psikologi Islam.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Costello, A. B., & Osborne, J. 2005. Best practices in exploratory factor analysis: Four recommendations for getting the most from your analysis. Practical Assessment Research & Evaluation, 10 (7).

Farmawati, C., 2017. The Influence of Da’i Personality and Da’wah Bil-Hal Towards Spiritual Motivation of Mad’u. Jurnal MD, 3(2), pp.141-160

Fatmawati. 2016. Peran Keluarga Terhadap Pembentukan Kepribadian Islami Bagi Remaja. Jurnal RISALAH, Vol. 27 No. 1, Juni 2016: 17-31.

Marimba, A. 2005. Pengantar Filsafat, Jakarta: Bumi Aksara.

Marlina, E. 2007. Kepribadian Islam Aktivis Dakwah ditinjau dari Tarbiyah Islamiyah. Yogyakarta: Repository UGM. Thesis. Tidak diterbitkan

Mastuti, E. 2005. Analisis Faktor Alat Ukur Kepribadian Big Five (Adaptasi dari IPIP) pada Mahasiswa Suku Jawa. Jurnal INSAN Vol. 7 No. 3, Desember 2005.

Mujib, A. 2017. Kepribadian dalam Psikologi Islam, Jakarta: Raja Grafindo.

Najati, M. U. 2005. Psikologi dalam Al-Qur’an, Jakarta: Pustaka Setia.

68 Netty, dkk. 2007. Islam dan Psikologi. Jakarta: Rajawali.

Schaufeli, W. B., Salanova, M., Gonzalez-Roma, V., & Bakker, A. A. 2002. The measurement of engagement and burnout: A two sample confirmatory factor analytic approach. Journal of Happiness Studies, 3, 71-92.

Sekaran, U. 2006. Metode Riset Bisnis. Jakarta: Salemba Empat.

Singh, A. K. 2006. Tests, Measurement and Research Methods in Behavioral Sciences.

New Delhi: Tata McGraw Hill.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Sujanto, A. 2014. Psikologi Kepribadian, Jakarta: Bumi Aksara.

Suryabrata, Sumadi, 2000. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta:

Penerbit Andi.

Syamsu Yusuf LN, & A. Juntika Nurihsan, 2011. Teori Kepribadian, Jakarta PT Remaja Rosda Karya.

Tim Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa P dan K. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Thaha [20]:88. Sedangkan kata al-jism diulang sebanyak dua kali dalam dua surat, yang keduanya menyebutkan fisik manusia (Q.S. Baqarah [2]: 247; Al-Munafiqun {63}).

Thorndike, Robert M. 1997. Measurement and Evaluation in Psychology and Education. New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Zuhairini, 1995. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN (Halaman 71-79)

Dokumen terkait