• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : METODE PENELITIAN

3.6 Uji Coba Instrumen

3.6.1 Uji Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi.

Sebaliknya, instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah (Arikunto, 2006). Uji validitas instrumen dilakukan untuk mengetahui instrumen penelitian mampu mencerminkan isi sesuai hal dan sifat yang diukur, artinya, setiap butir instrumen telah benar-benar menggambarkan keseluruhan isi atau sifat bangun konsep yang menjadi dasar penyusunan instrumen. Untuk pengujian ini digunakan korelasi product moment (Arikunto, 2006).

3.6.2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan dengan menghitung nilai alfa atau dengan Cronbach’s Alpha.

Penghitungan Cronbach’s Alpha dilakukan dengan menghitung rata-rata interkorelasi di antara butir-butir pernyataan dalam kuesioner.

3.7. Teknik Analisis Data

Untuk menjawab perumusan masalah pertama mengenai kondisi geografi sosial di Kabupaten Aceh Taming menggunakan analisis deskriptif, yaitu dilakukan dengan cara menganalisis data dari jawaban responden yang telah tersusun dalam bentuk pertanyaan, sehingga dapat diketahui keadaan yang sebenarnya.

Untuk menjawab perumusan kedua dan hipotesis penelitian menggunakan analisis regresi linier berganda, yaitu :

Y = a + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + β5X5 + µ di mana :

Y = Pengembangan wilayah X1 = Dinamisator

X = Katalisator

X3 = Motivator X4 = Inovator X5 = Evaluator a = konstanta b = koefisien regresi µ = Efek error

3.7.1. Uji Penyimpangan Asumsi Klasik

Ada beberapa permasalahan yang bisa terjadi dalam model regresi linier, yang secara statistik permasalahan tersebut dapat mengganggu model yang telah ditentukan, bahkan dapat menyesatkan kesimpulan yang diambil dari persamaan yang terbentuk, maka diperlukan pengujian asumsi klasik yang meliputi pengujian normalitas, mulikolinearitas, dan heteroskedastisitas (Ghozali, 2006).

3.7.1.1. Uji Normalitas Data

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal (Erlina, 2008). Data yang baik adalah data yang mempunyai pola seperti bentuk lonceng pada diagram histogram. Uji normalitas data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Kolmogorov-Smirnov. Kriteria pengujian satu sampel menggunakan pengujian satu sisi yaitu dengan membandingkan probabilitas dengan tingkat signifikansi tertentu yaitu apabila nilai signifikan atau probabilitas < 0,05, maka distribusi data adalah tidak normal dan bila nilai signifikan atau probabilitas > 0,05, maka data terdistribusi secara normal (Ghozali, 2006).

3.7.1.2. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi di antara variabel independen (Erlina, 2008). Jika terjadi korelasi antar variabel independen maka akan ditemukan adanya masalah multikolinearitas. Suatu model regresi yang baik harus tidak menimbulkan masalah multikolinieritas. Untuk itu diperlukan uji multikolinieritas

1. Melihat angka collinearity statistics yang ditunjukkan oleh Nilai Variance inflation Factor (VIF). Jika angka VIF < 10, maka variabel bebas yang ada

memiliki masalah multikolinieritas.

2. Melihat nilai tolerance pada output penilaian multikolinieritas yang tidak menunjukkan nilai > 0,1 akan memberikan kenyataan bahwa tidak terjadi masalah multikolinieritas.

3.7.1.3. Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi heterokedastisitas. Uji heterokedastisitas dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik Scatterplot antara SRESID dan ZPRED.

Dasar analisisnya dapat dilihat :

a) Jika titik-titik yang membentuk pola yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit) maka mengidentifikasikan telah terjadi heterokedastisitas.

b) Jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu y maka tidak terjadi heterokedastisitas.

3.7.2. Uji Hipotesis

Suatu masalah yang erat hubungannya dengan penaksiran koefisien regresi adalah kesesuaian (goodness of fit) regresi sample secara keseluruhan. Kebaikan sesuai diukur dengan koefisien determinasi R2, yang mengatakan proporsi variasi variabel tidak bebas yang dijelaskan oleh variabel yang menjelaskan. R2 ini mempunyai jangkauan antara 0 dan 1, semakin dekat ke 1 maka semakin baik kesesuiannya. Koefisien determinasi R2 bertujuan untuk melihat kekuatan variabel bebas menjelaskan variabel tidak bebas.

Pengujian satistik dilakukan dengan menggunakan uji-t (t-test) dan uji-F (F-test) serta perhitungan nilai koefisien determinasi R2. Uji-t dimaksud untuk mengetahui signifikansi statistik koefisien regresi secara parsial. Sedangkan uji-F dimaksudkan untuk mengetahui signikasi statistik koefisien regresi secara simultan.

Hipotesis Uji Simultan (Uji F) :

Ho : dinamisator, katalisator, motivator, innovator dan evaluator secara simultan berpengaruh positif tidak signifikan terhadap pengembangan wilayah (SDM, SDA dan teknologi)

Ha : dinamisator, katalisator, motivator, innovator dan evaluator secara simultan berpengaruh positif signifikan terhadap pengembangan wilayah (SDM, SDA dan teknologi)

Kriteria pengambilan keputusan terhadap uji t, adalah sebagai berikut : Jika probabilitas < 0,05, Ha diterima, Ho ditolak

Jika probabilitas > 0,05, Ha ditolak, Ho diterima Hipotesis Uji Parsial (Uji t) :

Ho : dinamisator, katalisator, motivator, innovator dan evaluator secara parsial berpengaruh positif tidak signifikan terhadap pengembangan wilayah (SDM, SDA dan teknologi)

Ha : dinamisator, katalisator, motivator, innovator dan evaluator secara parsial berpengaruh positif signifikan terhadap pengembangan wilayah (SDM, SDA dan teknologi)

Kriteria pengambilan keputusan terhadap uji t, adalah sebagai berikut : Jika probabilitas < 0,05, Ha diterima, Ho ditolak

Jika probabilitas > 0,05, Ha ditolak, Ho diterima

3.8. Definisi Variabel Operasional Penelitian

1. Geografi sosial merupakan studi tentang pola dan proses sosial penduduk dalam unsur tradisi, adat istidat, komunitas, kelompok masyarakat dan lembaga-lembaga sosial dalam mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan dengan memanfaatkan ruang.

2. Peran kepemudaan adalah mengadakan perubahan–perubahan dalam masyarakat ke arah perubahan yang lebih baik; melancarkan atau melaksankan pembangunan di segala bidang, baik bersifat fisik maupun non fisik; dan sebagai pelopor dalam pembaharuan (ordinal).

3. Dinamisator adalah pikiran kreatif dan inovatif para pemuda untuk pembangunan, apabila disatukan dengan kemauan dan kemampuan yang sangat kuat, maka akan menjadikan pemuda sebagai penggerak dalm pembangunan.

4. Katalisator pembangunan adalah perancanaan dan pelaksanakan pembangunan terkadang masih menciptakan jarak yang jauh. Disini pemuda dapat menjadi penghubung dan mempercepat perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.

5. Motivator pembangunan adalah pembangunan tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, pembangunan juga dilakukan ioleh setiap lapisan elemen masyarakat. Disini pemuda berperan untuk membantu melaksanakan dan menyukseskan pembangunan.

6. Inovator Pembangunan adalah dengan jiwa inovasi yang dimiliki para pemuda mereka tidak akan merasa puas dan berdiam diri begitu saja dengan keberhasilan yang dicapai.Tapi mereka akan terus berinovasi hingga mencapai keberhasilan lebih dari yang sebelumnya.

7. Evaluator adalah dalam pembangunan tentunya tidak dilakukan dengan mulus, pasti ada penyelewengan-penyelewangan yang dilakukan saat pembangunan. Disini para pemuda mengevaluasi hasil pembangunan dengan cara-cara yang telah mereka tentukan.

8. Pengembangan wilayah mempunyai arti peningkatan nilai manfaat wilayah bagi masyarakat suatu wilayah tertentu mampu menampung lebih banyak penghuni, dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang rata-rata banyak sarana/prasarana, barang atau jasa yang tersedia dan kegiatan usaha-usaha masyarakat yang meningkat, baik dalam arti jenis, intensitas, pelayanan maupun kualitasnya, dengan indikator sumber daya manusia, sumber daya alam dan teknologi (ordinal).

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1.1. Gambaran Umum Wilayah Penelitian

Kabupaten Aceh Tamiang merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Aceh Timur. Kabupaten ini berada di jalur Timur Sumatera yang strategis, dan hanya berjarak lebih kurang 136 km dari Kota Medan ibukota Sumatera Utara.

Kabupaten Aceh Tamiang secara hukum memperoleh status Kabupaten definitif berdasarkan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Tamiang di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Kabupaten Aceh Tamiang terletak pada koordinat 030 53’ – 040 32’

Lintang Utara dan 970 43’ - 980 14’ Bujur Timur, dengan luas wilayah 1.957,025 Km2 yang sebagian besar terdiri dari wilayah perbukitan. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Utara dan merupakan pintu gerbang memasuki Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Berdasarkan kelas ketinggian, 36,02 persen luas Kabupaten Aceh Tamiang berada pada ketinggian 25 – 100 meter diatas permukaan laut yaitu seluas 69.864 Ha dan paling sedikit berada pada ketinggian lebih dari 1.000 meter hanya sekitar 3,84 persen dari luas keseluruhan Kebupaten Aceh Tamiang yaitu sekitar 7.440 Ha. Sedangkan berdasarkan kemiringan lahannya, sebagian besar merupakan

wilayah yang datar dengan kemiringan 0 – 2 persen yaitu sebesar 104.246 Ha (53,74%) yaitu terdapat pada bagian timur pesisir timur dan tengah wilayah Kabupaten Aceh Tamiang. Sementara wilayah yang bergunung dengan kemiringan > 40 persen merupakan jumlah yang terkecil yaitu seluas 7.464 Ha (3,85 %).

Berdasarkan tekstur tanah, wilayah Kabupaten Aceh Tamiang sebagian besar bertekstur halus yaitu seluas 131.233,67 Ha (98,99%). Sisanya 2.011 Ha (1,04%) bertekstur sedang dan 737,14 Ha (0,37%) bertektur kasar yang terdapat dibagian pesisir pantai Timur. Sedangkan menurut jenis tanah yang ada, Kabupaten Aceh Tamiang terdiri dari Alluvial sebesar 4,64%, Hidromorf Kelabu sebesar 42,23%, Organosol dan Gley Humus sebesar 36,61%, Podsolik Merah Kuning sebesar 1,69% serta Podsolik Coklat, Latosol dan Litosol sebesar 14,83%

dari luas wilayah Kabupaten Aceh Tamiang. Pada bagian pesisir Timur wilayah ini didominasi oleh jenis tanah Alluvial dan Hidromorf Kelabu, sedangkan pada bagian Selatan atau pegunungan didominasi oleh jenis tanah Podsolik Coklat, Latosol dan Litosol.

Satuan Wilayah Sungai yang terbesar yang terdapat di Wilayah Kabupaten Aceh Tamiang adalah Satuan Wilayah Sungai Tamiang dan sungai-sungai kecil lainnya (Sungai Simpang Kiri dan Kanan serta Sungai Iyu) yang mengalir ke pantai Timur, sungai-sungai di kabupaten ini merupakan sumber untuk pengairan ke persawahan dan perkebunan baik yang dimanfaatkan oleh masyarakat dan swasta. Aliran hidrologi dari sungai yang ada kemudian mengaliri irigasi semi teknis maupun irigasi sederhana di Kabupaten Aceh Tamiang sehingga sebagian

besar sawah di kabupaten ini dapat ditanami 3 (tiga) kali setahun. Sungai-sungai di Kabupaten Aceh Tamiang sebagian besar berhulu di pegunungan Kecamatan Tamiang Hulu yang terdapat di Kabupaten Aceh Tamiang. Kondisi ini mengakibatkan fluktuasi air sungai sangat di pengaruhi oleh kondisi penggunaan lahan wilayah aliran sungai (WAS) atau di hulunya.

Kondisi hidrologi di Aceh Tamiang yang bertopografi datar dan berombak di bagian Timur Laut, Tengah dan Utara, sedangkan di bagian Barat Laut dan Barat Daya didominasi lahan perbukitan yang relatif curam. Berdasarkan kondisi demikian mulai di bagian hulu terjadi gerakan air permukaan yang cukup deras disusul, dan berkurang di bagian tengah dan makin pelan di bagian hilir, Kondisi demikian, menyebabkan bagian hilir menjadi tempat pengendapan sedimen yang berasal dari bagian hulu (Tamiang Hulu, Bandar Pusaka, Tenggulun dan Sekerak).

Dari segi penggunaan lahan di Kabupaten Aceh Tamiang secara garis besar dibagi menjadi luas lahan pertanian sawah, luas lahan pertanian bukan sawah dan luas lahan non pertanian dengan luas masing-masing sebesar 21.919 Ha, 153.515,5 Ha dan 20.370,5 Ha. Sedangkan secara terperinci wilayah Kabupaten Aceh Tamiang dibagi menjadi wilayah gosong pasir, hutan bakau, hutan primer, hutan sekunder, hutan terdegradasi, ladang, perkebunan kelapa sawit, pemukiman, rawa, sawah dan tambak.

Unsur yang sangat berperan dalam menentukan klasifikasi dan tipe iklim adalah curah hujan. Hal ini berhubungan dengan adanya pengaruh langsung terhadap kondisi fisik dan lingkungan lahan/tanah. Menurut sistem klasifikasi

Schmidt dan Ferguson, wilayah Tamiang tergolong dalam tipe yang relatif kering sampai basah. Namun, disisi lain curah hujannya terdistribusi merata sepanjang tahun.

Secara geografis batas-batas administrasi wilayah Kabupaten Aceh Tamiang adalah sebagai berikut :

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Langsa Timur Kota Langsa dan Selat Malaka.

b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Pinding Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara.

c. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Serbajadi dan Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur.

d. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara dan Selat Malaka.

Berikut adalah peta wilayah administrasi Kabupaten Aceh Tamiang :

Gambar : 4.1. Peta Wilayah Administrasi Kabupaten Aceh Tamiang Tabel 4.1 Luas Wilayah di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2014

No Kecamatan Ibu Kota

Sumber: Aceh Tamiang Dalam Angka, 2013 (diolah)

% Kab upa ten Aceh Timu r

Ke c L ang sa T imur BIRE UENKOTA LHOK SEUM AWE KOTA BAND A A CEH

1. Penyusunan In ven tar isasi Sum ber Daya Alam dan Lingkun gan Kab upaten Aceh Tamian g

Skala : 1:300000 U

BAD AN PEREN CAN AAN PEMBAN GU NAN DAERAH KABU PATEN ACEH TAMIANG

200 7

1 Jala n La in

Dia gra m Peta :

4.1.2. Pengujian Validitas dan Reliabilitas

Pengujian validitas instrumen dengan menggunakan software statistik, nilai validitas dapat dilihat pada kolom Corrected Item-Total Correlation. Jika angka korelasi yang diperoleh lebih besar dari pada angka kritik (hitung > r-tabel) maka instrumen tersebut dikatakan valid, dimana nilai r-tabel untuk sampel sebanyak 30 responden adalah 0,361 (Sugiyono, 2001). Uji reliabilitas dilakukan untuk menunjukkan sejauhmana suatu alat pengukur dapat dipercaya. Secara umum suatu instrumen dikatakan bagus jika memiliki koefisien Cronbach’s alpha

> 0,6 maka kuesioner penelitian tersebut dinyatakan reliabel.

4.1.2.1. Uji Validitas dan Realibilitas Variabel Peran Kepemudaan

Hasil uji validitas dan realibilitas variabel peran kepemudaan sebagai dinamisator, katalisator, motivator, inovator dan evaluator dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Hasil Pengujian Validitas Variabel Peran Kepemudaan Variabel Butir

Pernyataan r-hitung r-tabel Keterangan Koefisien Alpha

Inovator 1

Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer 2015

Berdasarkan hasil uji validitas dapat disimpulkan bahwa seluruh ítem pernyataan variabel peran kepemudaan sebagai dinamisator, katalisator, motivator, inovator dan evaluator dinyatakan valid, hal ini dapat dilihat bahwa r-hitung lebih besar dari r-tabel. Hasil pengujian data menunjukkan bahwa nilai cronbach’s alpha > 0,6. Hal ini menunjukkan bahwa data penelitian dinyatakan reliabel.

4.1.2.2. Uji Validitas dan Realibilitas Variabel Pengembangan Wilayah

Hasil uji validitas dan realibilitas variabel pengembangan wilayah dalam aspek sumber daya manusia, sumber daya alam dan teknologi dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Hasil Pengujian Validitas Variabel Pengembangan Wilayah Variabel Butir

Pernyataan r-hitung r-tabel Keterangan Koefisien Alpha

Sumber

Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer 2015

Berdasarkan hasil uji validitas dapat disimpulkan bahwa seluruh ítem pernyataan variabel pengembangan wilayah dalam aspek sumber daya manusia, sumber daya alam dan teknologi dinyatakan valid, hal ini dapat dilihat bahwa r-hitung lebih besar dari r-tabel. Hasil pengujian data menunjukkan bahwa nilai cronbach’s alpha > 0,6. Hal ini menunjukkan bahwa data penelitian dinyatakan reliabel.

4.1.4. Peran Kepemudaan di Kabupaten Aceh Tamiang

Hasil análisis deskriptif terhadap data tanggapan atau jawaban responden (99 responden) terhadap variabel peran kepemudaan sebagai dinamisator,

katalisator, motivator, inovator dan evaluator dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Masing-masing variabel diukur rata-rata berdasarkan nilai pernyataan responden terhadap setiap pilihan jawaban ítem kuisioner.

Tabel 4.4. Rataan Tanggapan Responden atas Variabel Peran Kepemudaan

No Variabel Rata-rata

1 Dinamisator 3,97

2 Katalisator 3,37

3 Motivator 3,40

4 Inovator 3,62

5 Evaluator 3,24

Sumber : Data Primer Diolah (2015)

Interprestasi terhadap skor dari setiap variabel ini adalah dengan melihat rata-rata dan selanjutnya nilai tersebut dikonsultasikan kepada Tabel 4.5 untuk menyatakan apakah seluruh variabel berada pada daerah yang sangat positif, positif, tengah-tengah, negatif atau sangat negatif.

Tabel 4.5. Dasar Interprestasi Skor Item Kuisioner dalam Variabel Penelitian No Nilai Skor Tem Kuisioner Interprestasi

1 0 < NS ≤ 1 Berada pada daerah sangat negatif

2 1 < NS ≤ 2 Berada pada daerah negatif

3 2 < NS ≤ 3 Berada pada daerah tengah-tengah

4 3 < NS ≤ 4 Berada pada daerah positif

5 4 < NS ≤ 5 Berada pada daerah sangat positif Sumber : Arikunto (1998)

Adapun dasar interprestasi terhadap skor ítem kuisioner dalam setiap variabel penelitian adalah berpedoman pada apa yang digambarkan pada Tabel 4.5. Tabel 4.4 dapat dijelaskan bahwa secara umum tanggapan atau jawaban responden terhadap variabel peran kepemudaan sebagai dinamisator, katalisator, motivator, inovator dan evaluator adalah berada pada daerah positif.

Variabel peran kepemudaan sebagai dinamisator memiliki nilai total rata-rata yaitu 3.97. Variabel peran kepemudaan sebagai katalisator memiliki nilai total rata-rata yaitu 3.37. Variabel peran kepemudaan sebagai motivator memiliki nilai total rata-rata yaitu 3.40. Variabel peran kepemudaan sebagai inovator memiliki nilai total rata-rata yaitu 3.62. Variabel peran kepemudaan sebagai evaluator memiliki nilai total rata-rata yaitu 3.24. Hasil ini mengindikasikan bahwa terdapat kesepahaman pada sebagain besar responden terhadap variabel peran kepemudaan sebagai dinamisator, katalisator, motivator, inovator dan evaluator.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa secara umum variabel peran kepemudaan sebagai dinamisator, katalisator, motivator, inovator dan evaluator merupakan faktor penting yang berperan dalam masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang.

4.1.5. Pengaruh Peran Kepemudaan terhadap Pengembangan Wilayah

4.1.5.1. Pengujian Asumsi Klasik 4.1.5.1.1. Uji Normalitas

Hasil uji normalitas pengaruh peran kepemudaan terhadap pengembangan wilayah dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Gambar 4.2. Normal P-Plot of Regression Standardized Residual

Gambar 4.3. Histogram Pengembangan Wilayah

Hasil tampilan grafik normal plot pada Gambar 4.2. dapat disimpulkan bahwa data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonalnya. Hal ini menunjukan data residual berdistribusi normal. Demikian pula dengan hasil grafik histogram pada Gambar 4.3. yang menunjukkan bahwa data residual berdistribusi normal yang dilihat dari gambar berbentuk lonceng yang hampir sempurna (simetris).

4.1.5.1.2. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas dilakukan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan terdapat problem Multikolinieritas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Pengujian ada tidaknya gejala multikolinearitas dilakukan dengan memperhatikan nilai matriks korelasi yang dihasilkan pada saat pengolahan data serta nilai VIF (Variance Inflation Faktor) dan Tolerance-nya. Nilai dari VIF yang kurang dari 10 dan

tolerance yang lebih dari 0,10 maka menandakan bahwa tidak terjadi adanya gejala multikolinearitas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi tersebut tidak terdapat problem multikolinieritas.

Tabel 4.6. Hasil Uji Multikolinieritas

Model

Collinearity Statistics

Tolerance VIF

1 Dinamisator .397 2.516

Katalisator .279 3.586

Motivator .657 1.522

Inovator .370 2.706

Evaluator .425 2.355

a. Dependent Variabel: Pengembangan Wilayah

Hasil analisis dapat diketahui bahwa nilai VIF dan tolerance sebagai berikut : variabel dinamisator mempunyai nilai VIF sebesar 2,516 dan tolerance sebesar 0,397. Variabel katalisator mempunyai nilai VIF sebesar 3,586 dan tolerance sebesar 0,279. Variabel motivator mempunyai nilai VIF sebesar 1,522

dan tolerance sebesar 0,657. Variabel inovator mempunyai nilai VIF sebesar 2,706 dan tolerance sebesar 0,370. Variabel evaluator mempunyai nilai VIF sebesar 2,355 dan tolerance sebesar 0,425.

Hasil analisis di atas dapat diketahui nilai toleransi semua variabel independen (dinamisator, katalisator, motivator, inovator dan evaluator) lebih dari 0,10 dan nilai VIF kurang dari 10 maka dapat disimpulkan bahwa variabel independennya tidak terjadi multikolinieritas sehingga model tersebut telah memenuhi syarat asumsi klasik dalam analisis regresi, hal ini disebabkan dari ketentuan yang ada bahwa jika nilai VIF < 10 dan tolerance > 0,10 maka tidak terjadi gejala multikolinearitas dan nilai-nilai yang didapat dari perhitungan adalah sesuai dengan ketetapan nilai VIF dan tolerance.

4.1.5.1.3. Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Untuk mendeteksi ada tidaknya heterokedastisitas dapat dilakukan dengan melihat grafik scatterplots.

Gambar 4.4. Grafik scatterplots Pengembangan Wilayah

Hasil grafik scatterplots pada Gambar 4.4. menunjukkan bahwa titik-titik menyebar secara acak serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y dan tidak membentuk pola tertentu yang teratur, hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas pada model regresi. Jadi dapat disimpulkan secara keseluruhan bahwa model regresi memenuhi syarat uji asumsi klasik.

4.1.5.2. Pengujian Hipotesis

4.1.5.2.1. Hasil Uji Koefisien Determinasi ( R2 )

Koefisien determinasi digunakan untuk menguji goodness-fit dari model regresi yang dapat lihat dari nilai Adjusted R Square. Untuk mengetahui hubungan peran kepemudaan sebagai dinamisator, katalisator, motivator, inovator

dan evaluator dengan pengembangan wilayah dapat dilihat melalui besarnya koefisien determinasi.

Tabel 4.7. Koefisien Determinasi

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 .955a .912 .908 .68014

a. Predictors: (Constant), Evaluator, Motivator, Dinamisator, Inovator, Katalisator b. Dependent Variabel: Pengembangan Wilayah

Hasil perhitungan nilai Adjusted R Square adalah 0,908, hal ini berarti 90,8 persen pengembangan wilayah dapat dijelaskan oleh variabel independen (dinamisator, katalisator, motivator, inovator dan evaluator) di atas, sedangkan sisanya yaitu 9,2 persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

4.1.5.2.2 Hasil Uji Simultan (Uji F)

Uji pengaruh simultan digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara bersama-sama atau simultan mempengaruhi variabel dependen.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.8.

Tabel. 4.8. Hasil Uji Simultan Model

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 452.627 5 90.525 195.694 .000a

Residual 43.483 94 .463

Total 496.110 99

a. Predictors: (Constant), Evaluator, Motivator, Dinamisator, Inovator, Katalisator b. Dependent Variabel: Pengembangan Wilayah

Uji statistik secara simultan dapat dilihat dari tingkat probabilitas 0,000.

yang < α = 0,05, yang berarti Ha diterima. Ini berarti bahwa variabel independen (dinamisator, katalisator, motivator, inovator dan evaluator) secara simultan signifikan dalam menjelaskan pengembangan wilayah Kabupaten Aceh Tamiang ditinjau dari perspektif geografi sosial.

4.1.5.2.3. Hasil Uji Parsial (Uji-t)

Pada uji statistik secara parsial dengan nilai t kritis (critical value) pada df

= (n-k), dimana n adalah jumlah sampel dan k adalah jumlah variabel independen termasuk konstanta. Untuk menguji koefisian regresi parsial secara individu dari masing-masing variabel bebas dapat dilihat pada Tabel 4.9.

Tabel 4.9. Uji Statistik-t

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

B Std. Error Beta t Sig.

1 (Constant) -2.290 .978 -2.342 .021

Dinamisator .175 .055 .154 3.180 .002

Katalisator .208 .065 .186 3.221 .002

Motivator .183 .062 .112 2.963 .004

Inovator .585 .048 .612 12.187 .000

Evaluator .029 .047 .029 .614 .541

a. Dependent Variabel: Pengembangan Wilayah

Pada Tabel 4.9 hasil uji statistik t diperoleh, sebagai berikut :

1. Variabel dinamisator berpengaruh positif signifikan terhadap pengembangan wilayah Kabupaten Aceh Tamiang ditinjau dari perspektif geografi sosial.

2. Variabel katalisator berpengaruh positif signifikan terhadap pengembangan wilayah Kabupaten Aceh Tamiang ditinjau dari perspektif geografi sosial.

3. Variabel motivator berpengaruh positif signifikan terhadap pengembangan wilayah Kabupaten Aceh Tamiang ditinjau dari perspektif geografi sosial.

3. Variabel motivator berpengaruh positif signifikan terhadap pengembangan wilayah Kabupaten Aceh Tamiang ditinjau dari perspektif geografi sosial.

Dokumen terkait