• Tidak ada hasil yang ditemukan

Endowment Fund: Potensi UI yang Masih Dinanti

UKT = BKT – BOPTN – NON BP

186 dan oleh karenanya pemerintah wajib menyediakan adanya pendanaan dari negara dalam pembiayaan PTN. Peran pendanaan negara tersebut dalam UU No 12 Tahun 2012 kita temui dalam bentuk Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri(BOPTN).

Pimpinan Universitas

Rektorat sebagai jajaran eksekutif yang berwenang dalam tataran universitas tentunya memiliki andil besar dalam menentukan bagaimana kebijakan BKT ini. Dalam konteks UI, rektorat memiliki andil dalam membentuk format SUC yang kita ketahui saat ini. Selain membentuk format tersebut pihak rektorat juga membentuk asumsi-asumsi yang berkaitan dengan SUC seperti harga-harga, pos-pos perhitungan, hingga asumsi-asumsi lainnya seperti jumlah mahasiswa, penggunaan barang-barang operasional, dan sebagainya. Kemudian, sebagai bentuk legalisasi bentuk dan mekanisme SUC menjadi suatu kebijakan, rektorat adalah pihak yang mengesahkan bentuk dan mekanisme tersebut ke dalam bentuk Surat Keputusan Rektor.

Peran Mahasiswa

Selain rektorat, pihak yang juga berperan sebagai pemangku kepentingan ialah mahasiswa itu sendiri. Dalam penentuan kebijakan ini, masih berdasarkan paparan singkat historis SUC pada bagian latar belakang, pihak rektorat sendiri melemparkan wacana pelibatan mahasiswa dalam perhitungan SUC pada tahun 2008. Sejalan dengan hal tersebut, pada tahun ini wacana perumusan kembali SUC telah digulirkan. Dalam hal ini, mahasiswa melalui lembaga-lembaga yang terlegitimasi berhak turut andil dalam menentukan bagaimana konsep SUC ke depannya.

Kesimpulan

Dari permasalahan-permasalahan yang dibahas di atas, dapat dilhat bahwa penentuan besaran BKT dan UKT tidak sederhana. Dibutuhkan proses yang panjang untuk dapat menemukan nominal yang sesuai untuk UKT yang dibayarkan oleh mahasiswa. Konsep perhitungan yang telah dibuat oleh pemerintah seharusnya dapat dijalankan oleh Universitas. Sehingga, universitas

187 tidak sesat pikir dalam penentuan besaran UKT untuk mahasiswanya,terutama Universitas Indonesia.

Ada beberapa saran dan rekomendasi untuk dipertimbangkan dalam pembentukan kebijakan ke depannya bagi universitas, yaitu :

1. Perlunya peninjauan kembali SUC untuk agar tercapainya perhitungan yang efektif dan efisien sehingga biaya yang dikeluarkan benar-benar sesuai kebutuhan dan dapat dimanfaatkan fasilitasnya.

2. Perlunya peninjauan kembali besaran-besaran serperti koefisien Indeks kemahalan wilayah dan Indeks capaian perguruan tinggi atau komponen-komponen yang berkaitan dengan SUC lainnya, hal ini dapat dilihat dari tingkat harga yang berubah dari waktu ke waktu dan capaian perguruan tinggi yang meningkat dan menurun pula.

3. Penambahan komponen Penerimaan non-BOP dalam rumus perhitungan BKT terutama untuk PTN BH.

4. Optimalisasi peran pemangku-pemangku kepentingan yang berpengaruh dalam perumusan Biaya Kuliah Tunggal(BKT) dalam konteks ini pemerintah, rektorat, dan mahasiswa.

188 Daftar Pustaka

Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2015 tentang Bentuk dan Mekanisme Pendanaan

“Inflasi di Indonesia (Indeks Harga Konsumen)” http://www.indonesia- investments.com/id/keuangan/angka-ekonomi-makro/inflasi-di-indonesia/item254(diakses pada tanggal 28 Maret 2016) www.tradingeconomics.com (diakses 28 Maret 2016)

Permenristekdikti No. 5 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penetapan Standar Satuan

Undang-undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Rekomendasi Kebijakan BK MWA UI UM 2014

189

Ada Apa Dengan BOPTN?

Oleh: Rizki Arif

“Membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa”, begitulah bunyi dari pembukaan Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD) tahun 1945, yang mana ini diejewantahkan lebih lanjut pada pasal 31 UUD’1945 yang berbunyi “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”

Amanat dari Pasal 31 UUD’1945 diatur lebih lanjut dalam Undang – Undang tentang Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), yang mana untuk tahun anggaran 2016 diatur dalam Undang-Undang no.14 tahun 2015 tentang Anggaran Pendapatan Belanja Negara tahun anggaran 2016.

Di dalam Undang-Undang No.14 tahun 2015, dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan anggaran pendidikan adalah alokasi anggaran pada fungsi pendidikan yang dianggarkan melalui kementrian Negara/Lembaga, alokasi anggaran pendidikan melalui transfer ke daerah dan dana desa, dan alokasi anggaran pendidikan melalui pengeluaran pembiayaan, termasuk gaji pendidik, tetapi tidak termasuk anggaran pendidikan kedinasan, untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan yang menjadi tanggung jawab pemerintah.38

38Republik Indonesia. 2015. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2015 tentang Anggaran Pendapatan Belanja Negara tahun anggaran 2016. Pasal 1 angka 40.Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2015, No. 278. Sekretariat Negara, Jakarta.

190 Pada APBN tahun anggaran 2016, anggaran pendidikan sendiri sebesar Rp.419.176.412.756.000,00 (empat ratus sembilan belas triliun seratus tujuh puluh enam miliar empat ratus dua belas juta tujuh ratus lima puluh enam ribu rupiah), dengan pembagian sebagai berikut :39

Dari tabel di atas maka kita dapat melihat bahwa pagut anggaran yang ditetapkan pemerintah khususnya bagi Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengalami penurunan sebesar 3,2 Triliun rupiah, yang mana pada tahun 2015 pagu anggaran bagi Kemenristekdikti sebesar 42,7 Triliun rupiah menjadi 39,5 Triliun rupiah yang mana alokasinya sebagi berikut:

39

Nota keuangan beserta anggaran pendapatan dan belanja negara tahun anggaran 2016

191

Sumber: http://www.dikti.go.id/

Pada pagu anggaran diatas, BOPTN sebagai anggaran yang cukup penting untuk perguruan tinggi tidak mengalami peningkatan dari tahun 2015 yakni 4,5 Triliun, namun sebelum saya akan membahas lebih jauh, mari kita perjelas terlebih dahulu apa itu BOPTN? Bantuan Operasional Pendidikan Tinggi atau kita kenal dengan BOPTN adalah bantuan biaya dari Pemerintah yang diberikan kepada perguruan tinggi negeri untuk membiayai kekurangan biaya operasional sebagai akibat adanya kenaikan sumbangan pendidikan di perguruan tinggi negeri.40Yang mana BOPTN disediakan Pemerintah dengan mengalokasikannya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara41. BOPTN sendiri saat ini telah berganti nama menjadi Bantuan Pendanaan Perguruan Tinggi Negeri (BPPTN) sebagaimanatercantum di dalampasal 1 angka 5 PeraturanPemerintah No.22 tahun 2015, namun agar dapat mudah untuk dikenali, maka terminolgi yang dipakai saat ini tetap Bantuan Opersional Perguruan Tinggi Negeri/BOPTN.

40Republik Indonesia. 2016. Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan TInggi Republik Indonesia nomor 6 tahun 2016 tentang Bantuan Operasional Perguruan Tinggi.Pasal 1.Berita Negara Republik Indonesia tahun 2016, No. 226. Sekretariat Negara, Jakarta.

41Republik Indonesia. 2012. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Pasal 83.Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2012, No. 158. Sekretariat Negara, Jakarta

192 Dari penjelasan di atasdapat disimpulkanbahwatujuan dari pemberian BOPTN adalah agar sebagian besar biaya operasional perguruan tinggi tidak menjadi beban mahasiswa yang daya belinya tidak cukup untuk membayar standar biaya operasional, namun seberapa besarkah pengaruh BOPTN dalam memenuhi total anggaran yang dibutuhkan oleh perguruan tinggi?

Mari kita ambil contoh Universitas Indonesia (UI) sebagai salah satu PTN-BH terbaik di Indonesia. Besaran pendapatan UI sendiri pada tahun 2015 sebagai berikut:42

Yang mana, bila kita mengkomparasi dalam bentuk persentase, maka BOPTN hanya meng-cover sebesar 24% bagian dari seluruh total pemasukan UI.

42

Rencana Kerja dan Anggaran Universitas Indonesia tahun anggaran 2015

234,365

900,618

352,034

BOPTN BP Non BP

D

al

am

M

ili

ar

R

u

p

iah