• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Pengertian Sampah

2.3. Macam-macam Sampah

2.7.2. Ukuran berat jenis/kepadatan

Ukuran ini dapat dipakai bila pemakaian ukuran berat belum dapat terpenuhi. Untuk itu memang diperlukan suatu penelitian dulu ( dengan memakai alat timbangan) untuk mengetahui berat sampah untuk volume sampah tertentu. Dari hasil ini akan didapat berat jenis/kepadatan dari sampah tersebut. Walaupun demikian ukuran ini dipengaruhi juga oleh :

a. Jenis-jenis sampah dan komposisinya.

b. Cara pengisian alat ukur volume apakah dipadatkan atau tidak.

Ukuran ini bila hendak membandingkan hasil produksi sampah suatu daerah dengan daerah lain agak susah oleh karena dipengaruhi oleh jenis dan komposisi sampah masing-masing daerah yang akan dibandingkan, serta dipengaruhi juga oleh cara pengisian container. Bila hendak membandingkan hasil-hasil produksi dengan ukuran ini maka kedua faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran tersebut hendaknya dikontrol atau disamakan (Haryoto, 1986).

2.7.3. Ukuran volume

Ukuran ini sering digunakan terutama untuk negara-negara berkembang dimana masih adanya kesulitan dalam biaya untuk pengadaan alat timbangan maka dipakailah ukuran volume. Ukuran volume ini dapat m3/hari atau 1/orang/hari. Dalam pelaksanaan sehari-hari, sering alat ukuran volume diterapkan langsung pada alat-alat pengumpul atau pengangkut sampah, misalnya bak penampungan sampah: 60 liter atau volume gerobak 2 m3 dan volume truk 12 m2. Dengan demikian maka dengan mengetahui jumlah rate angkutan maka jumlah volume produksi sampah dapat diketahui. Hanya alat atau satuan ukur

volume ini sulit dibandingkan antara satu daerah/kota dengan daerah/kota lain. Hal ini dikarenakan faktor-faktor sebagai berikut :

1. Komposisi jenis sampah suatu daerah dengan daerah lain berbeda.

2. Cara pengisian alat ukur/alat-alat penampung dan pengangkut sampah apakah dengan pemadatan atau tidak.

Jadi bila hendak membandingkan hasil produksi sampah suatu daerah dengan daerah lainnya hendaknya hati-hati, terutama melihat satuan yang dipakai serta cara-cara pengukuran yang dilakukan (Haryoto, 1986).

2.8. Sistem Perencanaan Pengelolaan Persampahan

Sistem pengelolaan persampahan perlu direncanakan sebaik mungkin untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. Didalam penyusunan perencanaan, ini perlu diperhatikan bagaimana kondisi yang ada serta peraturan perundang-undangan dan kebijakan bidang persampahan yang terkait. Tahapan penyusunan perencanaan sistem pengelolaan persampahan ini dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2.4. Tahapan Perencanaan Sistem Pengelolaan Persampahan

Pengum pulan Dat a Kondisi

eksist ing

Kondisi yang diinginkan

Perencanaan pengem bangan sist em

pengelolaan persam pahan dan t ahan pelaksanaan Pot ensi

m asalah

1. Pengumpulan data

Pengumpulan data merupakan langkah penting dalam proses penyusunan studi rencana induk sistem persampahan, karena tingkat keakuratan data menjadi kunci dalam memproyeksikan rencana pengembangan jangka panjang. Metode pengumpulan data dapat dilakukan secara primer (dengan melakukan penelitian atau analisa langsung dilapangan) atau sekunder (dengan menggunakan data atau hasil yang sudah ada). Dalam menyusun studi rencana induk sistem pengelolaan persampahan, diperlukan beberapa data yang meliputi:

 Data kondisi kota dan rencana pengembangan kota

 Data kondisi pengelolaan persampahan yang ada

 Permasalahan yang ada berkaitan dengan sistem pengelolaan persampahan 2. Data kondisi pengelolaan persampahan

Untuk mendapatkan gambaran kondisi pengelolaan persampahan yang ada di wilayah studi, diperlukan pengelolaan persampahan baik untuk aspek teknis, kelembagaan, pembiayaan, peraturan dan peran serta masyarakat.

2.9. Pengaruh Pengelolaan Sampah Terhadap Masyarakat dan Lingkungan

1. Pengaruh Yang Baik Dari Pengelolaan Sampah

Pengelolaan sampah yang baik akan memberikan pengaruh yang positif terhadap masyarakat serta lingkungannya.

Manfaat positif tersebut dapat berupa :

a. Sampah dipergunakan untuk menimbun tanah yang kurang baik (tanah rendah, rawa-rawa dan lain-lain) yang tidak dapat diolah, menjadi tanah-tanah/daerah yang pada akhirnya dapat dipergunakan atau dapat diolah sehingga mendatangkan hasil, atau dapat dipergunakan untuk

kepentingan-kepentingan yang lain (pemukiman, taman-taman, lapangan olah raga dan lain-lain).

b. Pemanfaatan sampah untuk pupuk sangat bermanfaat untuk menyuburkan tanah serta memperbaiki kondisi tanah.

c. Sampah dapat juga dimanfaatkan untuk makanan ternak, dengan melalui proses pengolahan yang telah ditentukan lebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak, guna mencegah pengaruh-pengaruh buruk dari sampah tersebut pada ternak ataupun konsumen ternak tersebut.

d. Sampah ataupun benda-benda yang dibuang dapat diambil kembali untuk dimanfatkan lagi untuk kegunaan yang lain. Ataupun bahan-bahan yang ada dalam sampah diambil kembali untuk diolah secara fisik, kimia dan biologis sehingga menghasilkan barang-barang abru untuk kebutuhan hidup manusia. Manfaat lain adalah :

a. Berkurangnya tempat untuk perkembangbiakan serangga dan binatang pengerat sehingga dengan demikian diharapkan kepadatan populasi vektor-vektor penyakit berkurang.

b. Berkurangnya incidence penyakit-penyakit yang erat hubungannya dengan pengelolaan sampah misalnya penyakit jamur, penyakit-penyakit yang penularannya melaui serangga misalnya penyakit saluran pencernaan dan lain-lain.

c. Keadaan estetika lingkungan (udara, air, tanah) lebih saniter sehingga menumbuhkan kegairahan hidup masyarakat, serta adanya rasa nyaman. d. Keadaan lingkungan yang saniter akan dapat mencerminkan keadaan sosial

e. Keadaan lingkungan yang baik akan dapat mengirit pengeluaran daerah/devisa sehingga dapat meningkatkan keadaan ekonomi daerah dan negara. Lebih-lebih lagi dengan meningkatnya derajat kesehatan masyarakat sehingga produktivitas masyarakat kerja dapat lebih ditingkatkan lagi. Dengan resultan akhir berupa peningkatan taraf sosial ekonomi masyarakat.

2. Pengaruh Negatif Dari Pengelolaan Sampah

Pengelolaan sampah yang kurang baik akan memberikan pengaruh yang negatif terhadap masyarakat dan lingkungannya. Adapun pengaruh-pengaruh tersebut dapat berupa :

1. Terhadap kesehatan

Pengelolaan sampah yang kurang baik akan menyediakan tempat yang baik bagi vektor-vektor penyakit yaitu serangga dan binatang-binatang pengerat untuk mencari makanan dan berkembang biak dengan cepat sehingga mengakibatkan incedence penyakit tertentu dimasyarakat dapat meningkat.

Contoh:

a. Penyakit-penyakit saluran pencernaan (diare, kholera, thypus dan lain-lain) dapat meningkat angka kesakitannya karena banyaknya lalat yang hidup berkembang biak dilingkungan, terutama ditempat-tempat sampah.

b. Penyakit demam berdarah (haemoragic fever) meningkat incidencenya karena banyaknya vektor penyakit tersebut (Aedes Aegypty) yang hidup berkembang biak dilingkungan yang pengelolaan sampahnya kurang baik (banyak kaleng-kaleng dengan genangan-genangan air dan lain-lain).

c. Banyaknya incidence penyakit jamur (penyakit kulit atau parasit-parasit lainnya) dimasyarakat yang penyebab penyakitnya hidup dan berkembang

biak ditempat pengumpulan dan pembuangan sampah yang kurang baik. Baik penularannya melalui kontak langsung ataupun melaui udara.

d. Adanya penyakit-penyakit yang ditularkan melalui binatang, misalnya

Taenia (cacing pita). Hal ini dapat terjadi bila sampah untuk makanan ternak

tidak melalui pengolahan yang telah ditentukan sehingga sisa-sisa makanan/sisa garbage yang masih mengandung bibit penyakit ikut terus didalam mata rantai penularan (sapi, babi).

e. Potongan besi, kaleng, seng serta pecahan-pecahan beling dapat menyebabkan kasus kecelakaan pada pekerja atau masyarakat.

2. Terhadap lingkungan

a. Pengelolaan sampah yang kurang baik akan menyebabkan estetika lingkungan yang kurang sedap dipandang mata misalnya dengan banyaknya tebaran-tebaran sampah disana – sini sehingga mengganggu kenyamanan lingkungan masyarakat.

b. Proses pembusukan sampah oleh mikroorganisme menghasilkan gas-gas tertentu dapat menyebabkan timbulnya bau busuk. Apabila kualitas bau busuk tersebut cukup tinggi, maka dapat mengganggu estetika serta kesegaran udara lingkungan masyarakat.

c. Adanya debu-debu yang berterbangan, dapat menggu mat dan lapangan penglihatan serta pernapasan.

d. Apabila terjadi proses pembakaran dari sampah (sengaja ataupun tidak) maka asapnya dapat menggenggu pernapasan, penglihatan dan penurunan kualitas udara karena ada asap diudara.

e. Apabila konsentrasi debu, asap, gas-gas yang timbul karena pengelolaan sampah padat, telah melewati standard kualitas udara maka dapat pula terjadi peristiwa pencemaran udara.

f. Kebakaran sampah dapat menyebabkan kebakaran yang lebih luas serta dapat juga mengenai/membakar harta benda penduduk sekitarnya.

g. Pembuangan-pembuangan sampah kesaluran-saluran akan menyebabkan estetika yang terganggu, menyebabkan pendangkalan saluran serta mengurangi kemampuan daya aliran saluran, sehingga pengerukan seyogiayanya harus dilakukan.

h. Apabila musim hujan tiba maka saluran yang daya alirannya sudah menurun akan terjadi luapan dari air hujan yang harus dialirkan sehingga banjir tak dapat dihindari lagi.

i. Pembuangan sampah keselokan-selokan atau badan-badan air akan menyebabkan terjadinya pengotoran badan-badan air tersebut juga hasil-hasil dekomposisi biologis yang berupa cairan-cairan organik juga dapat mengotori bahkan mencemari air permukaan ataupun air tanah dangkal. j. Adanya asam organik dalam air serta kemungkinan-kemungkinan terjadinya

banjir maka akan makin cepat terjadinya pengrusakan fasilitas pelayanan masyarakat antara lain jalan-jalan, jembatan-jembatan, saluran-saluran air, fasilitas saringan serta fasilitas pengolahan air kotor.

3. Pengaruh Terhadap Keadaan Sosial Masyarakat

a. Pengelolaan sampah yang kurang baik pada suatu masyarakat akan dapat mencerminkan status keadaan sosial masyarakat didaerah tersebut.

b. Keadaan lingkungan yang kurang saniter, kurang estetika akan menurunkan hasrat orang lain/touris untuk berkunjung kedaerah tersebut.

c. Dapat menyebabkan meningkatnya kriminalitas didaerah tersebut karena pengelolaan sampahnya kurang baik, misalnya dekat suatu rumah-rumah, adanya timbunan-timbunan sampah yang mengganggu penduduk sekitarnya maka dapat terjadi perselisihan antara pembuang sampah dengan penduduk sekitarnya. Hal ini dapat terjadi bila pengelolaan sampahnya kurang baik antara lain siapa yang bertanggung jawab, petugas pengumpul dan bagaimana serta kemana dibuangnya.

4. Terhadap perekonomian daerah-daerah/nasional

a. Pengelolaan sampah yang kurang baik menyebabkan banyaknya tenaga kerja produktif yang menderita sakit atau gairah kerja yang berkurang, serta kenyamanan dan ketentraman hidup berkurang maka produksi daerah atau negara juga dapat menurun.

b. Banyaknya penduduk yang tidak sehat, serta banyaknya terjadi kerusakan-kerusakan lingkungan serta perlunya pengobatan program-program kesehatan dan perbaikan lingkungan yang perlu dikerjakan guna mencapai keadaan yang lebih baik, berarti banyak dana yang diperlukan untuk perbaikan dan pelaksanaan program-program tersebut, yang semestinya dapat dialihkan pada sektor-sektor produktif yang lain.

c. Dengan berkurangnya pengunjung datang kedaerah tersebut maka berarti penurunan pemasukan daerah atau devisa negara dengan akibat selanjutnya adalah penurunan penghasilan perkapita per orang yang berarti kemerosotan ekonomi.

d. Pengelolaan sampah yang kurang baik akan dapat merusak lingkungan, menurunkan kualitas lingkungan dan sumber alam, sehingga menurunkan mutu produksi yang berasal dari sumber alam tersebut.

e. Pengelolaan sampah yang kurang baik menyebabkan kemacetan-kemacetan lalu lintas, sehingga menghambat transportasi barang dan jasa.

2.10. Kerangka Konsep Penelitian

3.

Gambar 2.5. Kerangka Konsep Aspek teknis operasional - Penampungan sampah - Pengumpulan sampah - Pemindahan sampah - Pengangkutan sampah - Pembuangan sampah Aspek Peraturan Sistem pengelolaan sampah Aspek Kelembagaan Aspek Pembiayaan Sistem Perencanaan Pengelolaan Sampah Karakteristik Responden

 Jumlah anggota keluarga

 Pendidikan

 Suku

 Social budaya

 penghasilan

BAB III

METODE PENELITIAN

Dokumen terkait