• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKEMA KAB/KOTA LAYAK ANAK

4.2 Deskripsi Data

4.3.1 Ukuran dan tujuan kebijakan

Kinerja implementasi kebijakan dapat diukur tingkat keberhasilannya jika dan hanya ukuran dan tujuan dari kebijkana memang realistis dnengan sosio kultur yang berada di level pelaksana kebijakan dan pengawas kebijakan. Ketika ukuran kebijakan atau tujuan kebijakan terlalu idela untuk dilaksanakan di level masyarakat.

Kebijakan pengembangan kab/kota layak anak merupakan keikutsertaan Indonesia dalam komitmen dunia dalam menciptakan dunia layak anak. latar belakang pembentukan kota layak anak antara lain karena adanya permasahan

sosial yang berdampak kepada masyarakat. Seperti yang disampaikan oleh Kepala Seksi Sudin PPAPP Jakarta Utara :

“Permasalahan sosial bagi mengenai anak, anak sebagai generasi bangsa yang kelak menggantikan pemimpin-pemimpin kita. Maka pemerintah ingin sekali agar anak-anak kita ini bisa menggantkan generasi penerus yang bisa diandalkan terutama dari segi SDM nya. Namun, untuk mempunyai anak yang bisa diandalkan lewat peningkatan kualitas otomatis pemerintah juga harus memperhatikan hak-hak anak. Jadi kalau ingin sumber dayanya berkualitas, hak-hak anak tersebut harus dipenuhi. Nah, hak-hak anak itu kalau menurut Kementrian PP yang mempunyai program KLA yang awalnya memiliki 31 indikator, sekarang yang baru hanya mempunyai 24 indikator. Kenapa bisa menjadi 24 indikator, karena kalau diperhatikan dari 31 indikator itu bisa diringkas yang tadinya 2 menjadi 1.

(wawancara dengan Ibu Yuni Astuti di kantor Sudin PPAPP Jakarta Utara 4 Agustus 2017 pukul 15.30 wib)

Berdasarkan pemaparan yang disampaikan bahwa latar belakang pembentukan KLA berawal dari pemasalahan sosial, yang kemudian dibentuklah program KLA oleh Kementerian PPPA yang kemudian dibuat Peraturan Menteri Kabupaten/Kota Layak Anak. Kemudian dibuatkan pula gugus tugas per masing-masing wilayah kota yang dipimpin oleh Walikota. Berikut pemaparan yang disampaikan oleh Kepala Seksi Dukcapil Jakarta Utara terkait pembagian tugas sesuai dengan gugus tugas :

“Memang sudah dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA) sudah dicanangkan Program itu, jadi SKPD yang terkait hanya mngikuti instruksi yang sudah dicanangkan oleh Kementrian tersebut.” ( wawancara dengan Ibu Saanah di kantor Dukcapil)

Berdasarkan pernyataan tersebut, setiap masing-masing sektor sudah memiliki tupoksi masing-masing yang dibuat oleh Walikota, bagi Kabupaten/kota. Untuk

iya sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat. (ppapp) 4.3.2 Sumberdaya

Keberhasilan proses implementasi kebijakan sangat tergantung dari kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Manusia merupakan sumber daya yang terpenting dalam menentukan suatu keberhasilan proses implementasi. Tahap-tahap tertentu dari keseluruhan proses implementasi menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan pekerjaan yang diisyaratkan oleh kebijakan yang telah ditetapkan secara politik.

Tetapi diluar sumberdaya manusia, sumberdaya lain yang perlu diperhitungkan juga adalah sumberdaya finansial dan sumberdaya waktu. Seperti yang disampaikan oleh Kepala Seksi Rehabilitasi Sudin Sosial Jakarta Utara :

“hambatan bagi kami itu adalah anak-anak yang susah untuk diatur. Padahal ini untuk kehidupan mereka kedepannya tapi justru mereka menyepelekan dan akhirnya mereka menyia-nyiakan pendidikannya dan lain sebagainya. Dalam hal ini juga kita saling bekersama dengan sudin-sudin terkait seperti sudin-sudin pendidikan dan sudin-sudin kesehatan bahkan sudin-sudin PPAPP untuk memproses kelanjutan anak-anak ini baik daribidang pendidikan, kesehatan dan pembinanaan dilingkungan keluarga.”

(wawancara dengan Ibu Widya Astusi di Kantor Sudin Sosial)

Berdasarkan pemaparan beliau, bahwa dalam melakukan pekerjaan justru yang menjadi penghambat adalah anak-anak itu sendiri. Ini mengartikan bahwa sumberdaya manusia khususnya anak-anak masih sangatlah rendah, karena untuk dibimbing menjadi ke arah yang lebih baik justru menolak. Hal ini menjadi salah satu penyebab sumberdaya manusianya masih sangat memprihatinkan.

Selain dengan itu, kesadaran masyarakat akan kesehatan sangatlah rendah. Banyak masyarakat khususnya anak-anak yang terjangkit penyakit karena pola

hidup yang tidak sehat. Jika ingin menjadi kota yang maju, haruslah menajdikan sumberdaya manusianya menjadi masyarakat yang sehat. Namun faktanya, masih banyak ditemukan masyarakat yang tidak memahami akan hal itu. Akan tetapi untuk menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat kepada masyarakat tidaklah mudah. Karena disini yang kita ubah adalah perilakunya. Berikut pemaparan yang disampaikan oleh Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara :

“yang menjadi kendala kadang-kadang mereka itu belum bisa menerima informasi dengan terbuka. Jadi informasi yang sudah kita berikan bagi mereka kadang-kadang itu belum dilakukan langsung, jadi mereka masih cuek. Contoh hal yang paling gampang aja, ngasih makan ke anak tapi makanan itu dikunyah dulu sama ibunya udah halus baru dikasih ke anaknya. Padahal udah kita jelaskan kalau mereka sudah menguyah, sari-sari makanannya dan nutrisinya sudah masuk ke ibunya dan anaknya hanya dapat ampasnya/sisanya. Tapi masih beranggapan bahwa perilaku tersebut sudah turun-temurun dan kondisinya masih baik-baik saja. Hal-hal seperti ini yang masih terus kita upayakan untuk bisa berubah. Tapikan mengubah perilaku itu adalah hal yang paling sulit.” (wawancara dengan dr. Hayfa Husean M.Gizi di Kantor Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara 3 Agustus 2017 pukul 13.00 wib)

Dari pemaparan yang dijelaskan oleh beliau, bahwa sesunnguhnya sudin kesehatan sudah bekerja sesuia dengan apa yang terjadi di lapangan. Sudah bekerjasama dengan puskesmas-puskemsas terkait untuk mempermudah masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan serta rujukan apabila diperlukan. Namun dalam kasus ini, tidak hanya satu pihak yang bekerja keras untuk menjadikan masyarakat sehat seutuhnya tetapi harus ada dukungan pula dari masyarakat yang turut serta membuat dirinya menjadi sehat.

Kemudian, selain dengan perlunya sumberdaya manusia juga sangat memerlukan sumberdaya finansial. Apabila dalam suatu program tidak adanya sumberdaya finansial otomatis tidak akan berjalan sesuai rencana. Berikut yang dipaparkan oleh Kepala Seksi Sudin PPAPP Jakarta Utara :

“kalau misalnya kita katakan menghambat, kalau kemarin-kemarinnya bisa dikatakan begitu karena SKPD nya cuek. Tapi kalau sekarang SKPD terkait sudah sadar akan tupoksi nya masing-masing. Paling untuk di tahun 2017 yang menghambat tiada lain terkiat anggaran, tapi mungkin untuk tahun 2018 anggaran sudah ditetapkan untuk pembangunan anak. Terutama sarana dan prasarananya. Misalnya dengan membangun zona selamat sekolah di sekolah-sekolah yang berada di pinggir jalan besar.”

Menurut pemaparan beliau, bahwa kurangnya anggaran yang dibutuhkan berdampak terhadap pembangunan fasilitas berbasis anak yaitu pembangunan Zona Selamat Sekolah. dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa sumberdaya finansial dianngap kurang untuk menunjang keberhasilan program.

Dokumen terkait