• Tidak ada hasil yang ditemukan

Debitur mendapatkan perlindungan hukum dibidang perbankan dengan adanya restrukturisasi kredit. Debitur yang masih memiliki prospek usaha yang baik dan mempunyai itikad baik dapat menjalankan usahanya kembali dan memenuhi kewajiban-kewajibannya terhadap kreditur.

Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/15/PBI/2012 tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum , menyebutkan bahwa Bank hanya dapat melakukan restrukturisasi kredit terhadap debitur yang memenuhi kriteria sebagai berikut172

1. Debitur mengalami kesulitan pembayaran pokok dan/atau bunga kredit; :

170

Lukman Santoso, Hak dan Kewajiban Hukum Nasabah Bank, (Yogyakarta : Pustaka Yustisia, 2011), hlm. 88.

171

Ibid., hlm. 137.

172

Lihat Pasal 52 Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/15/PBI/2012 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum.

2. Debitur memiliki prospek usaha yang baik dan mampu memenuhi kewajiban setelah kredit direstrukturisasi.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/15/PBI/2012 tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum, yang dimaksud dengan restrukturisasi kredit adalah upaya perbaikan bank dalam kegiatan perkreditan terhadap debitur yang mengalami kesulitan memenuhi kewajibannya, melalui yaitu173

1. Penurunan suku bunga kredit; :

2. Perpanjangan jangka waktu kredit; 3. Pengurangan tunggakan bunga kredit; 4. Pengurangan tunggakan pokok kredit; 5. Penambahan fasilitas kredit; dan/atau

6. Konversi kredit menjadi penyertaan modal sementara.

Terdapat beberapa hal penting yang mungkin memerlukan perhatian khusus dalam mengimplementasikan peraturan ini, yaitu174

1. Restrukturisasi kredit ini hanya dapat dilakukan terhadap debitur yang masih memiliki prospek usaha yang baik dan telah atau diperkirakan akan mengalami kesulitan pembayaran pokok dan/atau bunga kredit.

:

2. Bank dilarang melakukan restrukturisasi kredit dengan tujuan hanya untuk menghindari175

a. Memperbaiki kualitas kredit; :

173

Masyhud Ali, Cermin Retak Perbankan Refleksi Permasalahan dan Alternatif Solusi, (Jakarta : PT Elex Media Komputindo, 1999), hlm. 206. Lihat juga Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 31/150/KEP/DIR tentang Restrukturisasi Kredit.

174

Ibid., hlm. 207.

175

Pasal 53 Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/15/PBI/2012 tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum.

b. Menghindari peningkatan pembentukan penyisihan penghapusan aset (PPA). 3. Bank dapat melaksanakan restrukturisasi kredit dalam bentuk penyertaan modal

sementara.

Penyertaan ini hanya dapat dilakukan untuk kualitas kredit yang kurang lancar, diragukan, atau macet. Secara keseluruhan dengan peraturan ini terbuka peluang bagi dunia usaha untuk memperkuat struktur permodalannya serta untuk meringankan beban cash flow dan dalam batas-batas tertentu dapat menekan beban

cost secara cukup signifikan. Apalagi dalam himpitan krisis yang jelas sangat

berpengaruh pada beban biaya produksi yang meningkat.

Namun demikian, di dalam peraturan tersebut juga terdapat pesan moral yaitu bahwa dunia usaha sektor riil perlu melakukan langkah-langkah restrukturisasi kredit dengan sangat selektif.176 Restrukturisasi tidak mungkin diberikan kepada semua kredit yang bermasalah. Restrukturisasi kredit ini hanya mungkin diberikan kepada debitur yang beritikad baik dan debitur yang usahanya masih memiliki prospek yang baik.177

Terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur apakah debitur mempunyai itikad baik, antara lain

178

1. Sebelum kredit macet :

:

a. Sebelum kredit menjadi macet, nasabah selalu kooperatif terhadap bank dan mau menjalankan segala kewajibannya baik berupa kewajiban untuk mencicil pokok atau kewajiban membayar bunga;

176

Masyhud Ali, Loc.Cit.

177

Budi Untung, Op.Cit., hlm. 124.

178

b. Kredit telah digunakan sesuai dengan maksud dan tujuan yang tertulis di dalam perjanjian kredit. Dengan perkataan lain, tidak terjadi side streaming, yaitu menggunakan untuk tujuan lain selain membiayai proyek atau usaha yang diperjanjikan;

c. Perhitungan kebutuhan jumlah kredit yang tidak di back up, yaitu diajukan kepada bank dengan perhitungan lebih besar dari kebutuhan yang sesungguhnya;

d. Nilai tanah, peralatan dan asset perusahaan lain baik yang dibiayai dengan kredit maupun yang dijadikan agunan tidak di mark up, yaitu dinilai lebih tinggi dari nilai yang sesungguhnya.

2. Setelah kredit macet :

a. Setelah kredit menjadi macet, debitur tidak sulit dihubungi atau menghindar bila dihubungi oleh pihak bank;

b. Setelah kredit menjadi macet, nasabah mengajukan permohonan untuk merestrukturisasi hutangnya kepada bank. Hal ini merupakan pertanda bahwa debitur bersikap positif (baik) terhadap penyelesaian kreditnya.

Menurut Sutan Remy Sjahdeini, utang debitur dianggap layak untuk direstrukturisasi apabila179

1. Perusahaan debitur masih memiliki prospek usaha yang baik untuk mampu melunasi utang tersebut apabila perusahaan debitur diberi penundaan pelunasan utang tersebut dalam jangka waktu tertentu, baik dengan atau tanpa diberi keringanan-keringanan persyaratan dan/atau diberi tambahan utang baru;

:

2. Kreditur akan memperoleh pelunasan utang mereka yang jumlahnya lebih besar melalui restrukturisasi dari pada apabila perusahaan debitur dinyatakan pailit; 3. Syarat-syarat utang berdasarkan kesepakatan restrukturisasi menjadi lebih

menguntungkan bagi para kreditur dari pada apabila tidak dilakukan restrukturisasi.

Ukuran untuk menentukan kredit macet yang layak dilakukan restrukturisasi kredit yaitu180

1. Debitur mengalami kesulitan pembayaran pokok dan bunga kredit; :

2. Debitur kooperatif dalam menyelesaikan kewajibannya;

179

Sutan Remy Sjahdeini, Op.Cit., hlm. 380.

180

Hasil wawancara dengan informan yaitu Pegawai Bank Rakyat Indonesia Cabang Binjai (Junior Account Officer 2) pada tanggal 23 Juni 2014.

3. Debitur masih memiliki prospek usaha;

4. Debitur dinilai mampu memenuhi kewajiban setelah dilakukan restrukturisasi kredit.

Penilaian atas prospek usaha yang baik terhadap debitur diperoleh dari analisis terhadap181

1. Potensi usaha dalam menghasilkan cashflow yang positif dan memadai untuk

membayar kembali kewajiban kredit kepada bank; :

2. Prospek pasar produk atau jasa yang dihasilkan masih cukup baik; 3. Peluang peningkatan efisiensi dan daya saing.

Sedangkan penilaian atas itikad baik debitur dinilai berdasarkan atas kemauan dan kesediaannya untuk hal-hal sebagai berikut182

1. Melakukan negosiasi dengan bank;

:

2. Memberikan data-data keadaan perusahaan dan grupnya secara terbuka;

3. Membuat rencana restrukturisasi atau akan menyampaikan rencana restrukturisasi untuk didiskusikan dengan bank.

181Ibid.

182

BAB IV

HAMBATAN DALAM PROSES RESTRUKTURISASI KREDIT MACET Di BANK RAKYAT INDONESIA CABANG BINJAI

A. Gambaran Umum PT Bank Rakyat Indonesia Cabang Binjai

Bank Rakyat Indonesia adalah salah satu bank milik pemerintah terbesar di Indonesia. Pada awalnya Bank Rakyat Indonesia didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja dengan nama De Poerwokertosche Hulp

en Spaarbank der Inlandsche Hoofden atau Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum

Priyayi Purwokerto, yaitu suatu lembaga keuangan yang melayani orang-orang berkebangsaan Indonesia (pribumi). Bank Rakyat Indonesia berdiri pada tanggal 16 Desember 1895.183

Pada periode setelah kemerdekaan Republik Indonesia, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 1946 tentang Bank Rakyat Indonesia, Pasal 1 menyebutkan bahwa “Bank Rakyat Indonesia adalah bank pemerintah”. Dalam masa perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948, kegiatan Bank Rakyat Indonesia sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai aktif kembali setelah perjanjian renville pada tahun 1949 dengan berubah nama menjadi Bank

Rakyat Indonesia Serikat. Pada waktu itu melalui PERPU Nomor 41 tahun 1960 dibentuklah Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang merupakan peleburan

183

tanggal 27 Juni 2014.

dari Bank Rakyat Indonesia, Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij

(NHM). Kemudian berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan.184

Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-Undang Perbankan Nomor 7 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 21 tahun 1992 status Bank Rakyat Indonesia berubah menjadi perseroan terbatas. Kepemilikan Bank Rakyat Indonesia saat itu masih sepenuhnya ditangan Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 2003, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menjual 30% (tiga puluh persen) saham bank ini, sehingga menjadi perusahaan publik dengan nama resmi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. yang masih dipergunakan sampai dengan saat ini.185

Visi PT Bank Rakyat Indonesia adalah menjadi bank komersial terkemuka yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah. Adapun misi dari PT Bank Rakyat Indonesia adalah186

1. Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan kepada usaha mikro, kecil dan menengah untuk menunjang peningkatan ekonomi masyarakat;

:

2. Memberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan kerja yang tersebar luas dan didukung oleh sumber daya manusia yang profesional dan teknologi informasi yang handal dengan melaksanakan manajemen risiko serta praktek Good Corporate Governance (GCG) yang sangat baik;

3. Memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders). 184 Ibid. 185 Ibid. 186 Ibid.

Bank Rakyat Indonesia memiliki struktur organisasi dalam hal menjalankan visi dan misi yang telah diuraikan di atas yang bertujuan agar pelaksanaan proses perbankan dapat berjalan dengan baik. Struktur Organisasi Bank Rakyat Indonesia Cabang Binjai merupakan alat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Organisasi merupakan hal yang penting dalam menentukan tujuan perusahaan, atas dasar kerjasama yang mempunyai bentuk dan susunan yang jelas merumuskan tugas setiap unsur antara satu dengan yang lainnya dalam hubungan kerja.

Selain itu juga untuk memperlancar dan mempermudah pimpinan untuk mengadakan pengawasan terhadap tugasnya, struktur Bank Rakyat Indonesia cabang Binjai adalah struktur organisasi garis dan staf, dimana setiap atasan mempunyai beberapa bawahan dan seorang bawahannya menerima perintah dari satu orang atasan saja. Kesatuan perintah tetap dilaksanakan oleh satu atasan. Adapun tugas dan tanggung jawab di PT Bank Rakyat Indonesia Cabang Binjai terdiri dari187

1. Pemimpin Cabang selaku wakil dari direksi bertindak untuk dan atas nama bank :

membawahi 3 ( tiga ) manajer yaitu :

a. Manajer pemasaran, membawahi 2 ( dua ) fungsi, yaitu :

1) Fungsi Account Officer, terdiri dari 4 Account Officer, yakni :

a) Account Officer Komersial ( AO OFFICER )

b) Account Officer Konsumer ( AO KONSUMER )

c) Account Officer Program ( AO PROGRAM )

187

Hasil wawancara dengan informan yaitu Pegawai Bank Rakyat Indonesia Cabang Binjai, (Junior Account Officer 2) pada tanggal 23 Juni 2014.

d) Account Officer Rekonstruksi dan Penyelesaian Kredit

Bermasalah ( AO RPKB )

2) Fungsi Funding Officer

b. Manajer Operasional, membawahi 2 ( dua ) asisten manajer, yaitu : 1) Asisten Manajer Penunjang Bisnis ( AMPB ), membawahi :

a) Fungsi Pelayanan Bidang Perkreditan, dikepalai oleh Supervisor Administrasi Kredit, mempunyai 3 (tiga) fungsi : (1) Fungsi Administrasi Kredit ( ADK ) Komersil

(2) Fungsi Administrasi Kredit Konsumer ( AKK ) (3) Fungsi Administrasi Kredit ( ADK ) Program

b) Fungsi Pelayanan Intern, dikepalai oleh Supervisor Pelayanan Intern, mempunyai 3 ( tiga ) fungsi :

(1) Fungsi Kesekretariatan dan Sumber Daya Manuasia (2) Fungsi Logistik Fungsi Laporan, Arsip, dan Pemeliharaan

Teknologi Informasi

2) Asisten Manajer Operasional membawahi 2 ( dua ) asisten manajer, yaitu :

a) Fungsi Pelayanan, dikepalai oleh Supervisor Pelayanan mempunyai 7 ( tujuh ) fungsi :

(1) Fungsi Teller

(2) Fungsi Unit Pelayanan Nasabah (Customer Service)

(4) Fungsi Devisa (5) Fungsi Kliring

(6) Fungsi Tim Kuris Kas ( TKK ) (7) Fungsi Payment Point

c. Manajer Bisnis Mikro, membawahi : 1) Asisten Manajer Mikro

2) Supervisor Administrasi Unit

Produk dan layanan jasa Bank Rakyat Indonesia Cabang Binjai dapat dikelompokkan menjadi 188

1. Produk Simpanan yang terdiri dari : :

a. Simpedes adalah Simpanan masyarakat pedesaan yang dahulunya hanya dipeoleh melalui BRI Unit namun saat ini dapat diperoleh melalui BRI cabang maupun wilayah yang tersebar di Indonesia. Simpedes termasuk ke dalam kelompok tabungan, yang pengambilannya maupun penyetorannya tidak dibatasi dalam jumlah maupun frekuensinya sepanjang saldo memenuhi. Keuntungan dari produk Simpedes adalah tabungan berhadiah (hadiah berupa barang ) yang penarikan undiannya dilaksanakan di setiap kantor cabang sehingga peluang setiap nasabah untuk memperoleh hadiah menjadi lebih besar;

b. Simaskot adalah simpanan masyarakat di BRI unit pelaksana Simaskot, termasuk dalam kelompok tabungan yang pengambilannya maupun

188

penyetorannya tidak dibatasi dalam jumlah maupun frekuensi sepanjang saldonya mencukupi;

c. Britama adalah tabungan yang banyak memberikan manfaat lebih dari sekedar dari tabungan biasa. Layanan tabungan ini dilengkapi dengan fasilitas kartu ATM yang dapat digunakan serta terhubung secara online diseluruh kantor Cabang BRI di wilayah Indonesia;

d. Deposito Rupiah dan Dollar adalah simpanan dari masyarakat kepada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu, sesuai yang telah diperjanjikan antara penyimpan dengan bank yang bersangkutan;

e. Giro adalah simpanan dari masyarakat kepada bank yang penyetoran maupun penarikannya dapat dilakukan setiap saat, dengan tidak dibatasi oleh jumlah maupun frekuensi sepanjang dananya yang mencukupi.

2. Produk Jasa yang terdiri dari layanan transfer, layanan pembayaran PBB (pajak bumi dan bangunan), layanan pembayaran telepon dan layanan SMS Banking

(e-Banking) yaitu merupakan salah satu bentuk layanan electronic channel yang

diterapkan BRI sehingga memungkinkan nasabah BRI untuk bertransaksi perbankan melaui telepon selular menggunakan media SMS.

3. Produk Bisnis yang terdiri dari :

a. Kredit Investasi adalah fasilitas kredit untuk keperluan pembelian aktiva tetap usaha perorangan atau badan hukum, misalnya mesin-mesin, kendaraan, dan

sebagainya. Agunan utama adalah proyek yang dibiayai. Debitur menyerahkan agunan tambahan jika menurut penilaian bank diperlukan; b. Kredit Modal Kerja adalah adalah fasilitas kredit untuk keperluan menambah

modal kerja usaha perorangan atau badan hukum. Fasilitas ini dapat digunakan untuk pembelian bahan baku, pembelian persediaan barang dagangan, biaya operasional, dan sebagainya. Agunan utama adalah usaha yang dibiayai. Debitur menyerahkan agunan tambahan jika menurut penilaian bank diperlukan;

c. Kredit Modal Kerja Ekspor adalah adalah fasilitas kredit untuk pembiayaan kegiatan ekspor. Agunan utama adalah usaha yang dibiayai. Debitur menyerahkan agunan tambahan jika menurut penilaian bank diperlukan;

d. Kredit Modal Kerja Impor adalah adalah fasilitas kredit untuk pembiayaan kegiatan impor. Agunan utama adalah usaha yang dibiayai. Debitur menyerahkan agunan tambahan jika menurut penilaian bank diperlukan;

e. Kredit Modal Kerja Konstruksi adalah fasilitas kredit untuk pembiayaan kegiatan pembangunan gedung, jalan, jembatan dan infrastruktur lainnya. Agunan utama adalah proyek yang dibiayai. Debitur menyerahkan agunan tambahan jika menurut penilaian bank diperlukan;

f. Kretap adalah fasilitas kredit untuk karyawan yang mempunyai penghasilan tetap (PNS, POLRI, BUMN, BUMD, Swasta Bonafide). Setiap debitur mendapatkan perlindungan asuransi jiwa secara otomatis.

Tabel 1. Jumlah Pemberian Kredit Periode Tahun 2011-2013

Tahun Jumlah Pemberian Kredit Jumlah Debitur

2011 Rp. 122.635.000.000,00 427

2012 Rp. 128.789.000.000,00 430

2013 Rp. 134.570.000.000,00 446

Tabel 2. Jumlah Kredit yang Bermasalah Periode Tahun 2011-2013

Tahun Jumlah Kredit Bermasalah Jumlah Debitur

2011 Rp. 8.584.000.000,00 30

2012 Rp. 7.727.000.000,00 26

2013 Rp. 9.419.000.000,00 31

Tabel 3. Jumlah Kredit yang Dilakukan Restrukturisasi

Tahun Jumlah Kredit Direstrukturisasi Jumlah Debitur

2011 Rp. 6.250.000.000,00 18

2012 Rp. 5.350.000.000,00 15

2013 Rp. 5.635.000.000,00 16

Bahwa di tengah semakin meningkatnya kompetisi dibidang perbankan, Bank Rakyat Indonesia Cabang Binjai tetap mampu mempertahankan kapasitasnya baik dalam hal penghimpunan dana maupun penyaluran kredit. Bank Rakyat Indonesia semakin mengokohkan posisi sebagai bank umum terbesar dengan ragam produk dan layanan terlengkap yang berkualitas untuk memenuhi kebutuhan perbankan seluruh lapisan masyarakat.189

Tindakan bank dalam usaha menyelamatkan dan menyelesaikan kredit macet akan beraneka ragam tergantung kepada kondisi kredit macet tersebut. Misalnya apakah debitur kooperatif dalam usaha menyelesaikan kredit macet itu. Bila debitur kooperatif dalam mencari penyelesaian kreditnya dan masih memiliki prospek usaha yang baik maka dilakukan restrukturisasi kredit. Sebaliknya, bagi debitur yang memiliki itikad tidak baik (tidak kooperatif) dan dari aspek hukum kuat (perjanjian kredit, pengikatan barang jaminan, kondisi fisik jaminan dan nilai jaminan) maka tindakan hukum merupakan pilihan yang tidak dapat dihindarkan.

B. Proses Restrukturisasi Kredit

190

Langkah penyelesaian melalui restrukturisasi kredit ini diperlukan syarat paling utama yaitu adanya kemauan dan itikad baik dan kooperatif dari debitur serta bersedia mengikuti syarat-syarat yang ditentukan pihak bank. Karena dalam

189

Laporan Tahunan PT Bank Rakyat Indonesia Tahun 2011.

190

Hasil wawancara dengan informan yaitu Pegawai Bank Rakyat Indonesia Cabang Binjai (Junior Account Officer 2) pada tanggal 23 Juni 2014.

penyelesaian kredit melalui restrukturisasi lebih banyak negosiasi dan solusi yang ditawarkan pihak bank untuk menentukan syarat dan ketentuan restrukturisasi kredit.

Pelaksanaan proses restrukturisasi kredit macet di Bank Rakyat Indonesia Cabang Binjai dilakukan dengan tahapan sebagai berikut191

1. Prakarsa restrukturisasi kredit

:

Prakarsa restrukturisasi kredit diawali dengan memanggil debitur dan mengajukan peringatan dan penagihan sebanyak 3 (tiga) kali baik melalui lisan (telepon) maupun dengan tulisan (surat). Kreditur melakukan wawancara dan melakukan analisa ulang atas kondisi keuangan debitur, menanyakan usaha kedepan dan rencana penyelesaian kewajibannya. Setelah dilakukan pendekatan terhadap debitur terdapat suatu analisis bahwa kondisi keuangan debitur mengalami penurunan pemasukan. Permasalahan tersebut berdampak pada penurunan pemasukan yang mengakibatkan debitur mengalami kerugian dan tidak dapat memenuhi kewajiban. Oleh sebab itu, bank dalam kondisi seperti ini menawarkan dan memutuskan untuk melakukan penyelamatan kredit atau restrukturisasi kredit kepada debitur.

2. Negosiasi dengan debitur untuk penentuan skema restrukturisasi

Negosiasi restrukturisasi kredit dapat dilakukan setiap saat, baik sebelum maupun setelah analisis dan evaluasi restrukturisasi kredit. Negosiasi sebelum analisis dan evaluasi dilakukan untuk mendapatkan gambaran awal mengenai rencana restrukturisasi oleh debitur, sedangkan negosiasi setelah analisis dan evaluasi

191

Hasil wawancara dengan informan yaitu Pegawai Bank Rakyat Indonesia Cabang Binjai (Junior Account Officer 2) pada tanggal 23 Juni 2014.

dilakukan untuk mendapatkan kesepakatan mengenai jenis dan syarat restrukturisasi. Negosiasi restrukturisasi tersebut harus dicatat oleh pejabat pemrakarsa kredit dan didokumentasikan dalam berkas kredit.

3. Analisis dan evaluasi

Kredit yang akan direstrukturisasi wajib dianalisis berdasarkan usaha debitur dan kemampuan membayar sesuai proyeksi arus kas. Setiap tahapan analisis restrukturisasi kredit wajib didokumentasikan secara lengkap dan jelas. Hasil dari analisis dituangkan dalam Memorandum Analisis Restrukturisasi Kredit.

Informasi yang diperlukan dalam analisis dan evaluasi restrukturisasi kredit meliputi data debitur dan analisis permasalahan debitur. Data debitur meliputi nama, alamat, jenis usaha, data pinjaman terakhir, riwayat pinjaman, kolektibilitas debitur, data agunan dan informasi mengenai apakah pinjaman telah diserahkan kejalur hukum. Sedangkan, informasi yang diperlukan dalam analisis permasalahan debitur meliputi tujuan penggunaan kredit, penyebab kredit menjadi macet yang dikaji secara mendalam sebagai dasar penetapan strategi penyelamatan kredit yang tepat, integritas debitur/karakter debitur serta pemilihan alternatif restrukturisasi kredit.

4. Putusan restrukturisasi

Secara umum putusan restrukturisasi kredit dilakukan oleh pejabat pemutus kredit dengan kewenangan setingkat lebih tinggi dari pejabat pemutus pada saat pemberian kredit terakhir sebelum restrukturisasi kredit. Pengertian dari pejabat pemutus setingkat lebih tinggi mengacu kepada ketentuan dari pihak Bank Rakyat

Indonesia. Untuk kredit putusan komite kredit, putusan restrukturisasi dilakukan oleh komite kredit bank tersebut.

5. Dokumentasi restrukturisasi

Dokumentasi yang harus ada dalam restrukturisasi kredit, meliputi : a. Asli surat permohonan debitur

Debitur mengajukan permohonan restrukturisasi kredit kepada PT Bank Rakyat Indonesia.

b. Copy laporan kunjungan kepada nasabah

Setelah diterimanya permohonan restrukturisasi, pihak bank melakukan kunjungan kepada usaha debitur untuk mengetahui secara pasti dan langsung tentang kondisi usaha yang dikelola oleh debitur. Petugas membuat laporan kunjungan tersebut dalam bentuk Laporan Kunjungan Nasabah (LKN).

c. Copy berita acara negosiasi dengan debitur

Negosiasi merupakan gambaran awal serta persepsi mengenai rencana restrukturisasi oleh debitur dengan pihak bank, selanjutnya dibuat berita acara negosiasi (BAN).

d. Copy surat penawaran pembelian agunan dari calon pembeli (untuk restrukturisasi kredit dengan cara penjualan agunan)

Petugas melakukan penawaran atas agunan debitur terhadap calon pembeli. Setelah itu dibuatlah surat hasil penawaran terhadap pembelian agunan kredit debitur dari calon pembeli yang akan membeli agunan debitur tersebut. Harga jual dari agunan tersebut jangan sampai menimbulkan kerugian yang terhadap debitur.

e. Copy hasil pemeriksaan dan penilaian agunan saat ini (dalam rangka restrukturisasi kredit) + foto usaha dan agunan

Petugas memeriksa dan menilai agunan milik debitur serta memeriksa prospek usaha debitur, dimana petugas melihat usaha debitur memiliki prospek usaha yang masih cukup baik, selanjutnya dibuat laporan hasil pemeriksaan dan penilaian agunan saat ini.

f. Asli Memorandum Analisis Restrukturisasi Kredit (MARK) yang telah

ditandatangani oleh pejabat pemrakarsa kredit

Bank langsung terjun ke lapangan dan melihat kondisi usaha debitur dengan melakukan pemantauan keuangan dan keadaan keseluruhan usaha maupun kredit debitur, selanjutnya petugas membuat hasil analisis ini ke dalam Memorandum Analisis Restrukturisasi Kredit (MARK) yang telah ditandatangani oleh pejabat pemrakarsa kredit.

6. Pengawasan (monitoring)

Pengawasan restrukturisasi kredit dilakukan oleh pejabat kredit lini (pejabat pemrakarsa) secara berkala yang bertujuan untuk memantau kesanggupan atau perkembangan debitur. Untuk kredit yang direstrukturisasi, bank diwajibkan melakukan pemantauan secara terus menerus antara lain dalam bentuk penyusunan laporan bulanan perkembangan usaha debitur, mewajibkan debitur untuk menyampaikan laporan keuangan yang diperlukan bank dalam rangka pemantauan kondisi usaha dan keuangan debitur.

Pejabat kredit lini wajib memastikan kesanggupan debitur untuk melakukan pembayaran kembali sesuai dengan persyaratan dalam perjanjian restrukturisasi kredit serta melaporkan perkembangan usaha debitur yang memuat tentang rincian perkembangan usaha, pelaksanaan rencana kegiatan dan pembayaran kembali. Pengawasan secara ketat berlangsung 6 bulan sampai 1 tahun selama proses restrukturisasi berjalan. Setelah dilakukan monitoring oleh pihak bank dan diketahui bahwa kondisi debitur memburuk karena beberapa hal yang tidak dapat diperbaiki maka bank mengambil keputusan untuk menjual agunan (apabila restrukturisasi telah dilakukan sebanyak dua kali sesuai dengan ketentuan yang berlaku).

Bahwa pada dasarnya bank tidak menginginkan usaha debitur terhenti karena akan dapat mematikan kemampuan debitur dalam memenuhi kewajibannya kepada kreditur. Oleh sebab itu, debitur yang mengalami kredit macet akan dilakukan tindakan penyelamatan atas kreditnya dengan tidak terlalu menyulitkan debitur, sehingga dapat mengembalikan kemampuan debitur dalam memenuhi kewajibannya. Akan tetapi, dalam proses penyelamatan kredit tersebut terdapat beberapa hambatan. Untuk itu kreditur dan debitur harus bekerjasama dengan baik agar kepentingan kedua pihak bisa saling terjaga.

C. Hambatan Dalam Proses Restrukturisasi Kredit Di Bank Rakyat Indonesia Cabang Binjai

Kredit yang diberikan kreditur kepada debitur sebenarnya mengandung risiko untuk tidak dapat dikembalikan oleh debitur yang dikenal dengan kredit macet. Untuk menghindari terjadinya kredit macet, bank sebenarnya telah melakukan pengamanan secara preventif yaitu dengan melakukan analisis terhadap kelayakan usaha debitur

Dokumen terkait