• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

3.5. Pengambilan Sampel

3.6.2.3. Ukuran Sedimen

 Sekweness

Sekweness mencirikan ke arah mana dominan ukuran butir dari suatu populasi tersebut, mungkin simetri, condong ke arah sedimen berbutir kasar atau condong ke arah berbutir halus. Nilai Skweness positif menunjukkan suatu populasi sedimen condong berbutir halus, sebaliknya Skweness negatif menunjukkan populasi sedimen condong berbutir kasar (Rifardi, 2008).

Tabel 6. Klasifikasi Tingkat Kepencengan ( Skweness )

No Tingkat Kepencengan Harga Kepencengan

1 Menceng Sangat Kasar (-)1,00 – (-)0,30

2 Menceng Kasar (-)0,30 – (-)0,10

3 Menceng Simetris (-)0,10 – (+)0,10

4 Menceng Halus (+)0.10 – (+)0,30

5 Menceng Sangat Halus (+)0,30 – (+)1,00

Sumber : Folk (1980)

Langkah - langkah untuk menganalisis fraksi kerikil dan pasir menggunakan metode pengayakan kering yaitu sebagai berikut :

a. Analisis Tekstur Kerikil

Grave (kerikil) dianalisis dengan metoda pengayakan sebagai berikut

:Siapkan ayakan dengan ukuran 2 mm (Ø- 1), dimana ayakan dengan mesh size terbesar pada tingkat teratas dan seterusnya. Masukan sampel tersebut dengan ayakan ukuran 2 mm (Ø- 1), kemudian ayakan digoyang sampai semua partikel dalam ayakan terayak secar sempurna. Timbang sampel pada masing-masing ayakan.

b. Analisis Tekstur Pasir

Tekstur pasir di analisis dengan metoda pengayakan sebagai berikut: Bersihkan screen ayakan dengan menggunakan kuas. Susunlah ayakan berdasarkan mesh size yang ada dalam populasi pasir, dimana ayakan dengan mesh size terbesar berada pada tingkat teratas dan seterusnya. Urutan mesh size dari atas kebawah sebagai berikut : 1mm (0Ø), 0,5 mm (1Ø; 500 um), 0,25mm (2Ø: 250 um), 1/8 mm (3Ø:125 um), 1/16 mm (4Ø; 63um). Masukan sampel yang diperoleh diayakan paling atas, kemudian ayakan digoyang sampai semua partikel dalam populasi ini terayak secara sempurna. Timbang sedimen yang tertahan pada masing-masing ayakan dan catat beratnya.

c. Analisis Tekstur Lumpur

Prosedur pelaksanaan dengan metoda analisis tekstur lumpur adalah sebagai berikut : Sedimen yang lolos dari ayakan 1/16 mm (4Ø; 63 um) ditampung dalam sebuah cawan, kemudian dimasukan dalam tabung silinder atau tabung ukur yang mempunyai volume 1.000 mL. Tambahkan air sehingga volume persis 1.000 mL. Aduk larutan tersebut dengan menggunakan sebatang stik dan biarkan selama 4 menit supaya partikel-partikel lengket satu sama lain.

Setelah selesai diaduk selama 4 menit, letakan silinder pada meja datar dan langsung hidupkan stopwatch. Ambil larutan dari tabung silinder dengan menggunakan pipet yang bervolume 20 mL. Pada pipet harus diberi tanda sesuai kedalaman pengambilan pada tabung silinder (10 dan 20 cm). Ambil larutan dari tabung silinder setelah 4 menit sebanyak 20 mL pada kedalaman 10 cm untuk partikel lumpur Ø5. Setelah 15 menit ambil larutan dari tabung silinder dengan kedalaman 10 cm sebanyak 20 mL untuk Ø6. Ambil sebanyak 20 mL pada kedalaman 20 cm setelah 30 menit untuk ukuran Ø7. Tunggu selama 1 jam, ambil sebanyak 20 mL pada kedalaman 20 cm untuk partikel lumpur Ø > 7. Setelah itu hasil yang diperoleh dihitung dan masukkan pada table 7 dibawah ini.

Tabel 7. Penentuan Kelas ukuran butir fraksi sedimen BK Total Phi (Ø) Bc Fraksi BC + Phi (g) Phi (g) Gram fraksi % Fraksi % Phi % Komulatif -1 Kerikil 0 1 2 Pasir 3 4 5 6 7 Lumpur >7 Keterangan :

BK Total = Berat total sampel kering BC = Berat cawan

BC + Phi = Berat cawan + berat sampel kering (g) Phi = (BC + Phi) - BC

Gram fraksi = Sum Phi

% fraksi = (Gram fraksi / BK total ) x 100% % phi = (Phi / Gram fraksi )/ %fraksi % komulatif = Akumulasi %phi

3.6.2.4. Arus

Arus adalah perpindahan massa air dari suatu tempat ke tempat lain. Terjadinya arus secara garis besar bisa disebabkan oleh tiga hal, yaitu angin, gelombang angin yang telah pecah ( breaking waves ) dan akibat pasang surut. Yang paling dominan dari ketiganya adalah arus yang disebabkan oleh gelombang angin dan pasang surut yang berlangsung secara terus menerus ( Romdania. 2010).

Menurut Loupatty. (2013), arus merupakan gerakan air yang sangat luas yang sering terjadi pada seluruh lautan Arus dapat juga membawa sedimen yang mengapung (suspended sediment) maupun yang terdapat didasar laut. Begitu pula dengan arus susur pantai dan arus meretas pantai. Keduanya merupakan arus yang

berperan dalam transport sedimen di sepanjang pantai serta pembentukan berbagai sedimen yang terdapat di pantai.

Kecepatan arus sangat berpengaruh terhadap transportasi dan sebaran sedimen diperairan. Nordstrom dalam Tampubolon (2010) menyatakan bahwa distribusi ukuran dalam endapan sedimen terjadi disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :

(1). Adanya perbedaan ukuran dalam material induk,

(2). Proses yang terjadi dalam endapan sedimen tersebut, khususnya kemampuan aliran.

Jika ditemukan sedimen disuatu perairan dengan ukuran butiran sedimen yang kasar maka perairan tersebut memiliki kekuatan transpor aliran arus yang kuat. Namun apabila diperairan dijumpai ukuran butiran sedimen yang halus maka daerah tersebut memiliki transpor aliran arus yang lemah.

Arus juga merupakan kekuatan yang menentukan arah dan sebaran sedimen. Kekuatan ini juga yang menyebabkan karakteristik sedimen berbeda sehingga pada dasar perairan disusun oleh berbagai kelompok populasi sedimen. Secara umum partikel berukuran kasar akan diendapkan pada lokasi yang tidak jauh dari sumbernya, sebaliknya jika halus akan lebih jauh dari sumbernya (Rifardi, 2008).

3.6.2.5. Gelombang

Di laut dalam, gerak partikel gelombang jarang mencapai dasar laut. Sedangkan di laut dangkal, partikel air dekat dasar bergerak maju dan mundur secara periodik. Kecepatan partikel air di dekat dasar naik dengan bertambahnya tinggi gelombang dan berkurang dengan kedalaman.

Kecepatan partikel air dekat dasar atau yang dinyatakan dalam bentuk tegangan geser tersebut berusaha untuk menarik sedimen dasar. Sementara itu sedimen dasar memberi tahanan yang dinyatakan dalam bentuk kecepatan kritik erosi. Kedua parameter tersebut tergantung pada sifat sedimen dasar seperti diameter, bentuk dan rapat masa sedimen untuk sedimen non kohesif (pasir) dan kohesifitas antara partikel untuk sedimen kohesif (lumpur, lempung).

Dipadang dasar laut berpasir yang datar. Apabila kecepatan di dekat dasar sangat kecil, yang berati juga tegangan geser dasar, partikel sedimen tidak

bergerak. Selanjutnya apabila kecepatan bertambah, sampai pada suatu kecepatan tertentu beberapa butiran mulai bergerak, yang disebut dengan awal gerak sedimen. Selanjutnya kenaikan kecepatan dapat mempercepat gerak tersebut, dan transpor sedimen yang terjadi disebut transpor dasar (bed load).

Dengan semakin bertambahnya keceapatan di dekat dasar, gerak partikel sedimen semakin kuat dan kemudian sedimen membentuk ripple, yaitu dasr laut bergelombangkecil dengan puncaknya tegak lurus arah gelombang.

Dokumen terkait