UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta
ULASAN KARYA
Ulasan karya merupakan uraian yang menjelaskan lebih detail tentang karya yang
ditampilkan dalam tugas akhir ini. Kesesuaian terhadap ide, konsep, teori dan teknik
27
yang digunakan sangat berpengaruh terhadap hasil akhir yang akan disajikan. Pada bab
ini akan ditekankan pembahasan terhadap karya yang dibuat sehingga dapat dimengerti
secara lebih mendetail.
Pantai Parangkusumo (2017)
Ukuran Karya Foto Tunggal: 60x40cm Cetak digital pada kertas matte (doff)
Suasana di Pantai Parangkusumo saat malam hari. Pantai-pantai pada umumnya ramai dikunjungi mulai pagi hingga menjelang malam hari, namun berbeda dengan Pantai Parangkusumo Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini yang ramai didatangi oleh masyarakat yang menganut kepercayaan Kejawen untuk melakukan prosesi ritual dari tenggelamnya matahari hingga menjelang terbitnya matahari pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon dalam penanggalan Jawa. (20/04/2017)
Pada umumnya pantai merupakan salah satu tempat yang ideal bagi masyarakat
untuk menghilangkan lelah dan penat setelah beraktivitas di keramaian kota. Berbeda
dengan Pantai Parangkusumo Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini yang
akan ramai dikunjungi saat malam hingga pagi di malam selasa Kliwon dan Jumat
Kliwon oleh masyarakat yang mempunyai kepercayaan Kejawen. Bagi masyarakat
28
yang memiliki kepercayaan Kejawen Pantai Parangkusumo merupakan tempat yang
ampuh untuk memanjatkan doa-doa, karena menurut kepercayaan mereka Pantai
Parangkusumo diyakini sebagai tempat tinggal Nyai Roro Kidul yang merupakan Ratu
penguasa laut di selatan pulau Jawa. Nyai Roro Kidul merupakan legenda yang hidup
dan diyakini adanya oleh masyarakat Jawa dengan kepercayaan Kejawen.
Karya foto ini direkam pada malam hari menggunakan lensa wide dengan
menggunakan teknik slow speed. Selain untuk mendapatkan pencahayaan yang pas
teknik slow speed juga dimaksudkan untuk mendapatkan efek ombak yang halus agar
lebih terkesan sunyi. Komposisi setengah bidang dipilih untuk mendapatkan
keseimbangan pada foto.
Semedi (2016)
Ukuran Karya Foto Tunggal : 60x40 cm Cetak digital pada kertas matte (doff)
29
Seorang perempuan separuh baya berpakaian kebaya duduk bersimpuh beralaskan pasir sedang khusyuk melakukan Semadi.Bersemadi dengan cara duduk menghadap laut dan memusatkan pikiran kepada satu tujuan merupakan salah satu prosesi yang dilakukan oleh pelaku ritual Kejawen di Pantai Parangkusumo. (16/10/2016)
Bersemedi merupakan salah satu prosesi yang banyak ditemukan di sepanjang
Pantai Parangkusumo saat malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon. Semadi
bertujuan untuk memusatkanpikiran untuk mencapai satu tujuan.Karya foto ini direkam
satu kali jepret dengan cepat agar tidak mengganggu objek yang sedang melakukan
semadi. Penggunaan lampu kilat menjadi satu-satunya pilihan untuk mendapatkan foto
ini karena tidak adanya sumber cahaya lain yangmenyinari objek.
Karya foto ini direkam menggunakan kecepatan rana kamera rendah yang
dibantu lampu kilat agar objek utama tetap tajam dan tidak goyang. Pada saat
pengambilan karya foto ini objek dipotret dengan cepat agar tidak mengganggu prosesi
ritual yang sedang berlangsung karena berada tepat di hadapannya.Pengambilan foto
yang cepat dan rana kamera yang masih terbuka mengasilkan efek cahaya lampu yang
panjang pada latar belakang objek.
30
Menyepi (2017)
Ukuran Karya Foto Tunggal : 60x40 cm Cetak digital pada kertas matte (doff)
Ramainya wisatawan yang mendatangi Pantai Parangkusumo pada malam Selasa dan malam Jumat Kliwon untuk menyaksikan fenomena yang terjadi menjadi hambatan tersendiri bagi para pelaku ritual Kejawen untuk mendapatkan tempat yang bisa khusyuk untuk melakukan ritual. (30/03/2017)
Karya foto ini menggambarkan suasana di Pantai Parangsumo, terlihat keramaian
pengunjung di antara penganut kepercayaan Kejawen yang sedang melakukan ritual.
Karya foto ini terbagi menjadi dua layer, pada posisi atas tampak siluet dari kerumunan
masyarakat dan bagian bawah tampak dua orang yang bersiap-siap untuk melakukan
ritual.
Karya foto ini dipilih untuk menampilkan suasana antara pelaku ritual dengan
kondisi yang ada di sekelilingnya.Karya foto ini direkem menggunakan cahaya yang
ada di sekitar objek tanpa bantuan lampu kilat agar terkesan lebih natural.
31
Kepada Ratu (2017)
Ukuran Karya Foto Tunggal :60x40cm Cetak digital pada kertas matte (doff)
Masyarakat Jawa merepresentasikan sosok Nyai Roro Kidul sebagai seorang wanita dengan pakaian tradisional Jawa berwarna hijau, berselendang, dengan mahkota berwarna emas di kepalanya. Sebagian wanita penganut kepercayaan Kejawen berdandan menyerupai Nyai Roro Kidul saat melakukan ritual di Pantai Parangkusumo sebagai bentuk loyalitas mereka kepada sang ratu. (20/04/2017)
Objek dalam karya foto ini direkam saat seseorang pelaku ritual berjalan di dalam
air laut untuk melarung sesaji. Karya foto ini merepresentasikan Nyai Roro Kidul
sebagai penguasa laut selatan yang menjadi legenda di tengah-tengah masyarakat.
Karya foto ini merupakan hasil eksperimen dari penggunaan lampu kilat yang
dipadukan dengan longexposure. Secarateknisfoto direkam menggunakan lampu kilat
yang langsung ke arah objek lalu dengan cepat menggeser lensa ke arah berbeda dengan
kondisi rana kamera yang masih terbuka. Efek yang didapat adalah objek yang terkena
flash terlihat jelas namun tampak seperti tembus pandang, seakan melayang di atas air.
32 PENUTUP
Kesimpulan
Fenomena budaya ritual yang terjadi setiap malam Selasa Kliwon dan malam
Jumat Kliwon di Pantai Parangkusumo ini disajikan dengan media fotografi
dokumenter.Fotografi dokumenter dipilih agar mampu menyampaikan informasi secara
faktual dan dapat dipertanggungjawabkan. Karya yang berjudul “Prosesi Ritual Kejawen di Pantai Parangkusumo dalam Fotografi Dokumenter” ini diharapkan mampu
menambah pengetahuan baru bagi penonton, dan juga dapat menambah data
perpustakaan dalam bentuk visual sebagai bahan referensi penelitian dengan tema yang
berkaitan berikutnya.
Pemotretan karya ini dilakukan pada setiap malam Selasa Kliwon dan malam
Jumat Kliwon dalam penanggalan Jawa, karena setiap malam tersebut merupakan
malam yang dianggap sakral dan menjadi waktu untuk melakukan ritual di Pantai
Parangkusumo bagi masyarakat penganut kepercayaan Kejawen. Dalam proses
penciptaan karya ini juga dibutuhkan persiapan yang meliputi pengumpulan data dan
perancangan konsep. Pengumpulan data ini menggunakan beberapa metode seperti,
metode observasi dilakukan di lokasi tempat kegiatan berlangsung yaitu dari bibir
Pantai Parangkusumo hingga 3 kilometer ke arah utara. Metode wawancara dilakukan
kepada para pelaku dari ritual Kejawen, warga masyarakat sekitar Pantai
Parangkusumo, dan juga pengunjung Pantai Parangkusumo baik yang terlibat langsung
maupun sekedar mengetahui. Karya tugas akhir fotografi dokumenter ini berjumlah 21
karya foto dengan 14 karya merupakan foto tunggal dan 7 karya merupakan foto
seri.Setiap karya yang diciptakan tentu memiliki nilai estetis kreatif dan teknis dan
disusun sedemikian rupa hingga membentuk sebuah narrative text visual.Sesuai dengan
33
konsep semua foto disajikan dalam monochrome/hitam dan putih dan semua foto yang
dipilih diambil pada malam hari.Hal ini untuk mendapatkan suasana yang terkesan
mistik dan magis yang sesuai dengan suasana yang terjadi sebenarnya.
Penciptaan karya tugas akhir ini tentunya tidak berjalan mulus begitu saja, ada
beberapa hambatan yang terjadi di lapangan ketika proses pemotretan seperti sedikitnya
sumber cahaya saat malam hari di lokasi pemotretan mempersulit mendapatkan fokus
dan matering yang pas, namun hal ini dapat diatasi dengan bekal kemampuan teknik
fotografi yang dipelajari selama mengenyam pendidikan seni fotografi di Institut Seni
Indonesia Yogyakarta, hambatan secara teknis ini juga menjadi peluang untuk
berekplorasi menciptaan visual yang lebih menarik. Hambatan yang lain adalah sulitnya
mendapat informasi secara langsung dari para pelaku ritual karena kurang terbukanya
para pelaku ritual terhadap orang yang baru ditemuinya. Namun hal ini juga dapat
diatasi dengan referensi yang bisa didapat dari buku-buku yang membahas tema yang
sama.
Saran
Dalam proses penciptaan karya fotografi terutama fotografi dokumenter
diperlukan perencanaan yang matang. Mulai dari peralatan, konsep, dan teknik yang
akan digunakan, survey lokasi, observasi sampai pada proses penciptaan. Dengan
perencanaan yang matang kendala-kendala di lapangan nantinya akan dapat
diatasi.Proses selanjutnya berupa eksekusi karya foto. Pada proses eksekusi ini harus
terjadi komunikasi yang baik antara fotografer dan objek penciptaan karya,sehingga
mempermudah dalam pencapaian penciptaan karya. Untuk pembuatan karya foto
dokumenter dengan ritual Kejawen di Pantai Parangkusumo sebagai objek alangkah
lebih baik mempelajari terlebih dahulu mengenai norma-norma dan aturan yang telah
34
ada di masyarakat tempat terjadi kegiatan tersebut, karena banyak aturan-aturan yang
tidak tertulis yang menjadi pantangan untuk dilakukan dilokasi tersebut. Hal tersebut
guna untuk berjaga-jaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat melakukan
pemotretan.