• Tidak ada hasil yang ditemukan

Umat Allah sebagai Pelayan Kebersamaan Manusia

Dalam dokumen PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (Halaman 138-154)

MENCIPTAKAN KERUKUNAN ANTARUMAT BERAGAMA

2. Umat Allah sebagai Pelayan Kebersamaan Manusia

Dasar yang kedua adalah pemahaman mengenai umat Allah. Pokok ini sering dianggap sebagai sesuatu yang eksklusif sifatnya. Abraham dipanggil keluar dari Ur supaya menjadi cikal bakal umat Israel, sedangkan umat Israel dipanggil keluar (Exodus) supaya menjadi umat kesayangan Tuhan. Demikian kita baca di dalam Ulangan 7:6. Pemahaman mengenai Israel sebagai umat kesayangan Tuhan, umat yang dipilih Tuhan dari antara bangsa-bangsa yang lain memang amat menonjol di dalam Alkitab. Bahkan, dalam Perjanjian Baru yang sudah berwawasan universal, ide ini tetap kuat juga. Keselamatan datang dari orang Yahudi (Yoh. 4:22). Dalam Surat Paulus kepada jemaat di Roma pasal 11, Paulus tetap mempertahankan bahwa Israel adalah umat Allah sedangkan orang Kristen non-Yahudi cuma “cangkokan” saja (Rm.

11:17). Ide umat Allah kemudian diteruskan dalam Surat-surat Petrus. Orang Kristen menjadi bagian dari “imamat yang rajani” (1 Ptr. 2:9). Berbeda dengan Israel yang mempunyai golongan imam dan awam, Israel baru, jemaat Tuhan, semuanya adalah imam. Dalam Perjanjian Baru tidak banyak ayat yang mengungkapkan kelompok Kristen sebagai umat (laos). Yang banyak dipakai adalah “persekutuan” (koinonia). Dalam teologi tradisional, Gereja biasanya digambarkan menggantikan tempat Israel sebagai umat Allah. Gereja adalah Israel baru, yang menjadi kesayangan Tuhan.

Yang jarang disadari adalah, bahwa di dalam Alkitab juga ada pemahaman mengenai umat Allah yang tidak menekankan status sebagai “kesayangan Tuhan.” Hal ini terutama terdapatn pada ayat-ayat yang dekat sekali dengan masa pembuangan dan yang berasal dari zaman pembuangan. Dalam Zefanya 3:12 umat Israel yang luput dari hukuman Tuhan akan dibiarkan, menjadi

“suatu umat yang rendah hati dan lemah.” Maksudnya, umat yang tidak bisa

138

membanggakan status mereka sebagai umat terpilih, sedangkan dalam Kitab Yesaya terdapat 4 buah syair yang oleh para penafsir disebut “syair-syair Hamba Tuhan” (ebed Yahweh), yaitu Yesaya 42:1-4, 49:1-6, 50:4-11 dan 52:13-53:12. Pada pokoknya, dalam keempat syair ini direfleksikan bagaimana Israel harus memandang penderitaan masa lalunya berupa kehinaan pembuangan yang telah memalukan mereka, bagaimana mereka harus bersikap sekarang dan bagaimana Israel di masa depan sesudah pembuangan berakhir, dapat menjadi bangsa-bangsa, bagaimana harus hidup.

Model ini bukanlah model yang triumfalistik, eksklusif ataupun intoleran, melainkan model yang rendah hati, inklusif dan toleran. Biasanya seorang tokoh tertentu disebut sebagai hamba. Israel secara keseluruhan sebagai umat disebut Hamba. Tekanan tidak lagi pada umat kesayangan, sebab pembuangan telah diinterpretasikan sebagai hukuman yang layak bagi umat yang berdosa dan tidak bisa mempertanggung- jawabkan keberadaan mereka sebagai umat terpilih.

Dalam syair terakhir (Yesaya 52:13-53:12) yang sangat padat makna dan karena itu juga bersifat multitafsir, penderitaan Israel dilihat sebagai sesuatu yang bermakna, bukan hanya bagi Israel sendiri, melainkan juga bagi yang lain.

Israel tidak dilihat sebagai model penampilannya menarik dan mengagumkan, tetapi model yang sebetulnya pantas dipertanyakan, apakah layak menjadi model. Penggambaran yang menjijikkan bermakna sebagai metafor dari Israel dalam pembuangan yang menderita malu yang amat sangat. “Kita” dalam syair terakhir ini adalah dunia (bangsa-bangsa) yang menyaksikan penderitaan Israel. Meskipun menderita malu yang amat sangat, penderitaan ini tidak berdampak traumatik, yang menyebabkan Israel nantinya membangun konsep umat terpilih yang triumfalis, eksklusif dan intoleran sebagai kompensasi atas penderitaan masa lalu dan tidak mau menderita lagi atas alasan apa pun sehingga daripada menderita lebih baik menderitakan orang lain, tetapi penderitaan dilihat sebagai penebusan bagi dunia ini. Israel menderita untuk dunia dalam rangka melayani dunia.

Di dalam narasi Matius kita mencatat ada Khotbah di Bukit (pasal 5-7) yang ditujukan baik kepada para murid dan siapa pun yang mau mendengar dan yang isinya berkaitan dengan bagaimana manusia yang satu berelasi dengan manusia yang lain. Dalam Matius 7:13 Yesus meringkaskan isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi sebagai berikut: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Ratusan tahun sebelumnya Khong Hu Cu sudah berkata demikian,

139

tetapi dengan perumusan yang berbentuk negatif, “yang tidak kamu kehendaki.” Mereka yang berpola pikir partikular akan mengatakan bahwa ucapan Yesus tetap unik oleh karena dirumuskan secara positif, sedangkan ucapan Khong Hu Cu kurang dibandingkan ucapan Yesus oleh karena dirumuskan secara negatif. Di sini terjadi kerancuan berpikir yang menganggap sebuah rumusan yang berbentuk negatif sebagai bermakna negatif! Mengapa tidak menerima saja bahwa baik Yesus maupun Khong Hu Cu mengambil inspirasi dari kebenaran universal yang laku sepanjang masa?

Pada akhir Injil Matius kita menjumpai pasal yang terkenal mengenai penghakiman terakhir (Mat. 25:31-46). Menarik sekali bahwa di sini Yesus mengidentikkan pelayanan kepada-Nya dengan pelayanan kepada mereka yang tersisih dalam masyarakat. Pada penghakiman terakhir “semua bangsa”

harus mempertanggungjawabkan tindak-tanduk mereka. Perikop ini tidak berbicara mengenai penghakiman orang yang tidak percaya, tetapi penghakiman orang yang tidak menolong sesama yang membutuhkan pertolongan konkret. Itu makna dari perikop ini. Dalam sejarah makna ini sering diselubungi dengan makna partikular yang sangat berat sebelah. Pada ayat 32 dan 33 disebutkan mengenai “domba” dan “kambing.” Domba ditempatkan di sebelah kanan sedangkan kambing di sebelah kiri. Yang di sebelah kanan masuk ke hidup yang kekal, tetapi yang di sebelah kiri masuk ke siksaan yang kekal (ayat 46). Otomatis “domba” diidentikkan dengan partikularitas umat!

Dalam rangka mencari dasar Alkitab bagi kerukunan umat antarumat beragama, sudah mendesak adanya upaya menafsirkan kembali ayat- ayat yang universal sifatnya, tetapi yang terang universalnya lama terselubung oleh penafsiran tradisional yang tidak sesuai dengan makna harfiahnya. Uraian di dalam Alkitab mengenai kekhasan umat tidak pernah dapat dilepaskan dari keuniversalan manusia. Kekhasan umat bukanlah tujuan pada dirinya sendiri.

Orang terpanggil untuk menyadari jati dirinya, supaya dapat berkembang bersama yang lain menuju keuniversalan manusia. Oleh karena itu, pembinaan keumatan tidak dapat dilaksanakan terlepas dari pembinaan kemanusiaan.

Menurut Anda, bagaimana sikap orang Kristen terhadap kemajemukan agama-agama? Adakah titik temu antara agama Kristen dengan agama lain?

Bagaimana Anda menyikapi umat lain sementara pokok-pokok kepercayaan sangat berbeda atau bertentangan? Silakan Anda menyatakan argumentasi Anda yang menunjukkan bahwa pluralisme agama sebagai persoalan teologis.

140

Setiap umat beragama, tentu saja, akan menganggap agama yang dianutnya sebagai agama yang benar. Ini tidak bisa disalahkan. Bahkan seharusnya begitu. Agama adalah soal kepercayaan sehingga orang itu tidak layak ragu-ragu terhadap agama yang dianutnya.

Hal yang dikemukakan terakhir ini tidak akan menjadi soal besar andaikata agama yang diturunkan Tuhan hanya satu. Dengan kata lain, andaikata Tuhan menyatakan diri atau kehendak-Nya hanya melalui satu saluran saja. Dalam kenyataannya tidaklah demikian. Ada sekian banyak agama yang kita kenal.

Hebatnya lagi, agama-agama itu selalu mengajarkan hal-hal luhur, walaupun kenyataannya para penganut agama sering membelokkan ajaran-ajaran agama demi tujuan mereka sendiri. Hal inilah yang menyebabkan agama-agama dicemarkan, bahkan tidak jarang mendapat cap yang tidak mengenakkan. Misalnya, Karl Marx, yang memandang agama sebagai candu bagi masyarakat.

Pluralisme agama bukan saja merupakan sebuah kenyataan yang sudah ada selama berabad-abad, melainkan juga merupakan persoalan teologis.

Kalau orang berkata-kata mengenai persoalan teologis, yang dimaksudkan adalah persoalan tentang “kebenaran” itu sendiri. Artinya, jika kita memerhatikan banyak agama haruskah kita berkata bahwa ada satu agama yang benar dengan konsekuensi bahwa agama lain dianggap tidak benar?

Sebuah pertanyaan yang menarik tetapi jawabannya tidak mudah.

G.E. Lessing, seorang filsuf dan teolog yang hidup pada abad XVIII di Jerman, juga dihantui pertanyaaan seperti itu (Yewangoe 2002, 17). Dalam sebuah drama yang berjudul Nathan, der Weise, ia mencoba menguraikan pendapatnya. Konon hiduplah seorang ayah yang mempunyai tiga orang putra. Ketiga-tiganya dikasihi. Tidak ada dari ketiganya yang lebih dikasihi dibanding yang lain. Sebelum meninggal si ayah bermaksud mewariskan sesuatu yang paling berharga bagi ketiga anaknya. Apakah yang paling berharga yang dimiliki sang ayah? Ternyata ia memiliki sebuah cincin yang sangat indah dan mahal. Kalau cincin itu hanya diberikan kepada salah seorang dari ketiganya, terbukti bahwa hanya satu orang yang dikasihi. Ini bertentangan dengan sifat sang ayah yang mengasihi ketiganya. Kalau cincin tersebut dibagi tiga, cincin itu tidak berharga lagi. Akhirnya, sang ayah mendapat akal. Ia memanggil seorang jauhari dan menyuruhnya membuat dua cincin lain yang sama persis dengan cincin yang asli. Begitu sempurnanya tiruan cincin tadi sehingga si ayah pun tidak tahu lagi mana cincin yang sungguh-sungguh asli. Ketika meninggal, sang ayah mewariskan kepada

141

masing-masing anak sebuah cincin dengan klaim bahwa itulah yang asli.

Demikian cerita itu.

Tentu saja, tiga cincin yang dimaksud adalah ibarat tiga agama besar yang sudah dikenal waktu itu: Yahudi, Kristen dan Islam. “Dari ketiga agama ini tentu harus ada satu yang sungguh-sungguh merupakan agama yang benar,”

demikian kata Sultan Saladin yang juga merupakan tokoh dalam drama tersebut. Ia lalu bertanya kepada Nathan, “Seorang yang bijaksana seperti Anda,” kata Saladin selanjutnya, “Tidak bisa tetap berdiri saja di tempat Anda dilahirkan. Kalau pun Anda tetap berdiri di situ, pilihan tersebut harus dapat dijelaskan sebagai yang sungguh-sungguh lebih baik.” Dengan kata lain, Anda harus dapat meyakinkan dengan bukti mengapa Anda memilih agama ini, bukan agama itu. Perlu Anda ketahui bahwa Lessing hidup dalam suatu zaman ketika segala sesuatu harus disertai bukti-bukti yang masuk akal.

Cincin mana yang sejati? Jawaban yang diberikan Nathan adalah bahwa pertanyaan itu tidak berguna, hendaknya mereka bertiga bersama-sama bersikap bijak dan memerintah negara. Kesimpulan dari cerita ini tentunya bahwa segala pertengkaran tentang agama mana yang lebih benar adalah tidak relevan dan kampungan (Suseno 2004, 135-136).

Kembali ke perumpamaan tiga cincin tadi. “Jikalau cincin sejati tidak dapat dibuktikan, biarlah kekuatan cincin sejati itu yang membuktikan dirinya sendiri,”

kata Nathan. Dengan kata lain, biarlah setiap orang membuktikan melalui pengalaman hidupnya bahwa “cincin” yang dipegangnya adalah sungguh- sungguh cincin sejati. “Biarlah setiap orang berperilaku sesuai dengan kasih yang tidak cacat dan cinta yang tanpa iri hati.” Puas? Inikah jawaban yang dinantikan? Ternyata tidak semudah itu. Sebab pertanyaan lanjutan yang muncul adalah apakah memang kebenaran dapat disamakan begitu saja dengan manfaat sebuah agama. Dapatkah kebenaran sebuah agama direduksi hanya lantaran agama itu bermanfaat, menolong, dan memuaskan kebutuhan-kebutuhan?

Anda yang jeli akan segera melihat bahwa pertanyaan tersebut tidak dapat dilepaskan dari persoalan-persoalan teologis. Artinya, kita tidak dapat menyelesaikan begitu saja pertanyaan tersebut dengan satu atau dua jawaban yang kedengarannya sederhana. Kita ditempatkan pada posisi yang terus-menerus mencari, walaupun tidak berarti bahwa kita harus mengisolasi diri dari sesama yang berbeda agama dari kita. Kita bisa menyebutnya sebagai penjelajahan teologis.

142

Adalah Hans Kung, seorang teolog Katolik kondang, yang menggambarkan empat posisi dasar relasi antaragama (Yewangoe 2002, 19).

Posisi pertama adalah tidak ada agama yang benar atau semua agama sama-sama tidak benar. Tentu saja Kung tidak sedang mempromosikan sebuah pandangan yang bersifat ateis di sini. Memang inilah tantangan yang diajukan kepada semua agama. Dalam bentuknya yang ekstrem, dunia pernah mengenal seorang Nietzsche yang memproklamirkan bahwa “Allah Telah Mati.” Barangkali kita tidak perlu cepat-cepat mencela Nietzsche akibat ucapan ini, tetapi kita perlu merenungkannya secara mendalam apa makna beragama dan percaya kepada Tuhan. Posisi kedua adalah bahwa hanya ada satu agama yang benar atau semua agama lain tidak benar. Pendirian ini langsung mengingatkan kita pada pendirian Gereja tradisional yang pada masa awalnya diperkembangkan oleh Origenes, Cyprianus dan Augustinus. Belakangan dalam Konsili Lateran IV (1215) pendirian itu dikenal secara luas sebagai slogan Extra Ecclesia Nulla Salus (Di Luar Gereja Tidak Ada Keselamatan).

Konsili Florence (1442) kembali menegaskan bahwa Gereja percaya dengan teguh sambil mengaku dan menyatakan bahwa tidak ada seorang pun di luar Gereja yang akan mengambil bagian dalam kehidupan kekal.

Sebaliknya mereka, yaitu orang kafir dan orang Yahudi serta semua orang yang tidak percaya telah dikutuk supaya masuk ke dalam api yang kekal kecuali apabila mereka masuk dan ambil bagian dalam Gereja sebelum mereka meninggal. Tentu saja, pendirian ini telah menjadi “masa lalu” dari Gereja. Konsili Vatikan II (1962-1965) dalam konstitusinya mengenai gereja menjelaskan bahwa mereka yang bukan karena kesalahan mereka sendiri tidak mengenal Injil Kristus dan

gereja- Nya, tetapi tetap mencari Allah dengan hati yang jujur serta berupaya memenuhi kehendak-Nya sebagaimana diakui di dalam perintah-perintah suara hati dan dalam perbuatan-perbuatan yang didorong oleh karya anugerah-Nya, akan mencapai keselamatan kekal. Kemudian dalam deklarasi mengenai agama-agama non-Kristen terdapat perhargaan terhadap agama

Sumber:

http://protectthepope.com/?p=2673

143

tersebut yang memuncak pada kalimat berikut: “Gereja Katolik tidak menolak apa yang benar dan kudus di dalam agama-agama ini.”

Posisi ketiga adalah bahwa setiap agama adalah benar atau semua agama sama-sama benar. Jelas pendirian ini cenderung menyamaratakan semua agama yang sebenarnya tidak mungkin. W.C. Smith, seorang pakar ilmu agama asal Kanada, berkata bahwa bahkan dalam satu agama saja tidak mungkin agama itu tetap sama sepanjang masa. Seiring dengan perjalanan waktu, kebudayaan dan peradaban umat manusia berkembang sehingga agama pun ikut berkembang. Jadi, kalau dalam satu agama sudah terjadi perbedaan antara “dulu” dan “sekarang,” mana mungkin setiap agama dapat dianggap sebagai sama-sama benar. Kalau begitu posisi ketiga agama ini memang mustahil. Posisi keempat beranggapan bahwa hanya satu agama yang benar dan semua agama mempunyai andil dalam kebenaran agama yang satu ini.

Pendirian semacam ini, terutama kita temukan pada agama yang berasal dari India. Semua agama adalah empiris. Artinya, pengalaman sehari-hari hanya menampilkan satu segi tertentu dari sebuah kebenaran universal. Agama tersebut bukannya tidak benar, tetapi hanya bersifat sementara. Semuanya mempunyai bagian dalam kebenaran universal. Pandangan yang lazim disebut inklusivisme ini juga ditemukan dalam kekristenan. Karl Rahner, seorang teolog Katolik dari Jerman, memperkenalkan anonymous Christian (‘Orang Kristen Anonim’). Menurutnya, semua orang Yahudi, Hindu, Muslim dan Buddha akan diselamatkan. Sebab, pada akhirnya mereka juga Kristen atau lebih tepat Orang Kristen Anonim.

Keempat posisi yang dikemukakan Kung mungkin tidak memuaskan dalam upaya memahami kemajemukan agama-agama itu. Penjelasan itu telah makin meyakinkan kita bahwa persoalan ini tetap akan diketengahkan sebab ia menyangkut eksistensi manusia itu sendiri. Kemajemukan agama bukanlah masalah teoretis atau akademis belaka, melainkan ia berkaitan dengan kebutuhan manusia yang sering tidak berjalan mulus. Ada orang yang tidak mau bersusah payah mempertanyakan secara teologis persoalan ini dan hanya mendorongnya ke arah praktis belaka. Tidak dapat dihindarkan bahwa orang akan mempertanyakan hakikat pluralisme itu sendiri. “Bila hanya ada satu Tuhan, tidakkah seharusnya hanya ada satu agama saja?” demikian pernah orang bertanya kepada Gandhi. Apa jawaban Gandhi? Ia berkata:

“Sebatang pohon punya sejuta daun. Ada banyak agama sebagaimana ada banyak pria dan wanita, tetapi semuanya berakar pada satu Tuhan saja.”

Jawaban Gandhi ini barangkali tidak tepat betul. Ia hendak memperingatkan

144

bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengklaim kebenaran sebagai miliknya sendiri. Demikian juga Allah tidak mungkin diklaim sebagai milik dari satu agama tertentu. Sayangnya, kata Wesley Ariarajah, seorang Pendeta Metodis di Sri Lanka, Tuhan telah didorong begitu rupa supaya menjadi Tuhan dari “suku” tertentu, padahal Ia adalah Tuhan dari segala suku, bangsa dan umat (Ariarajah 1989, 14-15).

Menyadari bahwa kebenaran tidak mungkin dapat diklaim, akhir-akhir ini, khususnya di kalangan teolog Protestan, ada usul yang kuat sekali untuk membuat sebuah “Revolusi Copernicus” dalam teologi. Secara khusus hal itu diketengahkan oleh John Hick, seorang teolog dari Inggris. Kalau dulu Copernicus melawan teori Ptolemeus yang menempatkan “bumi” sebagai pusat alam semesta dan menggantikannya dengan “matahari” yang dikelilingi planet- planet lain, perubahan berpikir yang radikal juga harus terjadi dalam teologi. Sudah tiba masanya, kata Hick, meninggalkan pandangan bahwa agama Kristen adalah pusat sedangkan agama-agama lain hanya berputar-putar mengelilingi pusat. Sekarang “kebenaran” harus ditempatkan pada pusat, sedangkan agama Kristen bersama agama-agama lain beredar di sekitar “Kebenaran” itu.

Setiap agama percaya bahwa Allah adalah mahakuasa, mahamurah dan maharahim. Pendeknya, Ia adalah Allah yang tidak menghendaki kebinasaan manusia. Allah senantiasa memberi kesempatan kepada manusia supaya bertobat. Bagaimana kita mengetahui bahwa Allah sungguh-sungguh menghendaki manusia selamat? Hampir setiap agama mengajarkan bahwa hal ini hanya dapat diketahui kalau Allah sendiri memberitahukannya kepada manusia. Pemberitahuan ini dalam agama Kristen disebut “Penyataan,”

sedangkan dalam agama Islam disebut “Wahyu.” Tentu saja, setiap agama akan mengklaim bahwa pemberitahuan Allah kepadanyalah yang paling autentik dan lengkap. Sekali lagi klaim ini tetap sulit dibantah karena ia merupakan perkara keyakinan.

Namun demikian, kita harus tetap mempunyai pemikiran bahwa Allah pun dapat memakai kemungkinan lain untuk menyatakan kehendak-Nya kepada manusia. Artinya, karena Allah adalah mahakuasa, kemahakuasaan-Nya tidak mungkin dapat dibatasi hanya ke satu “saluran” saja. Allah lebih besar dibanding agama-agama dan segala perumusan agama tentang Allah

145

Ada tiga model hubungan antarumat berbeda agama, yakni konfrontasi, koeksistensi damai dan pluralisme. Pada pola yang pertama, yang dahulu lazim dianut agama-agama besar dunia, pendekatannya adalah konfrontatif:

berupaya dengan segala cara mengenyahkan yang lain. Tidak ada tempat bagi agama- agama lain, agama-agama lain adalah kafir. Pola yang kedua adalah koeksistensi (kebersamaan statis). Di dalam pola ini mereka hidup bersama tanpa kebersamaan, mereka sering bekerja bersama-sama namun tidak terjadi interaksi, mereka bercakap-cakap tetapi tidak ada dialog sejati. Apa yang terjadi adalah “Kuhidupi hidupku dan kau hidupilah hidupmu,” atau

“Jangan ganggu aku dan tak akan kuganggu kau.” Orang hidup bersama secara sosial dan praktis, tetapi tidak secara teologis. Pola yang ketiga adalah prinsip dan sikap pluralisme, yakni kebersamaan kreatif. Dengan prinsip ini perbedaan agama tidak dilihat semata-mata sebagai sesuatu yang secara praktis tidak terhindarkan, melainkan sesuatu yang bermakna dan teologis. Dalam wawasan pluralisme ini, yakni yang menerima serta menghayati kepelbagaian secara positif, misi masing-masing agama tidak dihapuskan, melainkan dikembangkan dari monolog (dengarlah aku) ke dialog (marilah kita saling mendengarkan). Demikian juga perbedaan asasi antara agama-agama tidak dinisbikan, melainkan ditonjolkan untuk saling memperkaya wawasan. Dalam dialog dan interaksi dengan penganut agama-agama lain penghayatan iman saya diperdalam dan komitmen sosial saya diperkokoh. Wawasan pluralis akan menciptakan hubungan antarumat berbeda agama yang lebih rukun dan berinteraksi secara positif dalam kemanusiaan bersama yang kreatif dan keberagamaan yang dinamis. Wawasan primordial digantikan wawasan kemanusiaan, yang antara lain terungkap dalam perjuangan bersama untuk melaksanakan hak dan kewajiban sebagai warga Negara, menegakkan demokrasi, hak-hak asasi, keadilan sosial dan kedaulatan hukum, bertolak dari sumber keagamaan masing-masing yang dikembangkan secara sehat dan dinamis.

Konfrontasi, Koeksistensi, Pluralisme

146

Ada tiga posisi dasar beragama dewasa ini (Suseno 2004, 137-139). Pertama, eksklusivisme agama. Sikap ini bertolak dari keyakinannya akan wahyu yang diterima dari Allah dan karena itu yakin bahwa agamanya sendiri adalah agama yang benar. Agama-agama lain tidak benar dan bahwa keselamatan kekal hanya terbuka bagi mereka yang menyembah Allah menurut wahyu Allah itu.

Menurut eksklusivisme, di luar agamanya sendiri tidak ada keselamatan.

Pendek kata, menurut eksklusivisme hanya ada satu agama yang benar, ialah agamaku sendiri dan hanya penganut agamaku itu dapat masuk surga. Kedua, inklusivisme agama. Inklusivisme agama tidak melepaskan keyakinan bahwa yang benar adalah agamanya sendiri. Jadi, bagi orang Kristen, bahwa hanyalah karena Yesus dari Nazaret semua orang dapat selamat. Inklusivisme tidak mengakui semua agama lain sebagai sama-sama benar. Akan tetapi, disebut inklusivisme karena mereka menerima bahwa orang dari agama-agama lain juga dapat selamat. Ketiga, pluralisme agama-agama. Pluralisme agama-agama diperjuangkan di kalangan Kristen oleh teolog-teolog seperti John H. Hick, Paul F. Knitter dari Protestan dan Raimundo Pannikar dari Katolik. Mereka menolak eksklusivisme kebenaran. Bagi mereka, anggapan bahwa hanya agamanya sendiri yang benar merupakan kesombongan. Agama-agama hendaknya pertama-tama memperlihatkan kerendahan hati, tidak menganggap diri lebih benar daripada yang lain-lain. Teologi yang mendasari anggapan itu adalah, kurang lebih, dan dengan rincian berbeda, anggapan bahwa agama-agama merupakan ekspresi religiositas umat manusia. Para pendiri agama, seperti Buddha, Yesus dan Muhammad merupakan genius-genius religius. Mereka menghayati dimensi religius secara mendalam. Salah satu implikasi pluralisme adalah penolakan terhadap misi.

Apabila agama-agama sekadar ungkapan dimensi religius semesta, mau

“mempertobatkan” umat beragama lain tidak masuk akal. Yang dapat mereka benarkan paling-paling saling memperkenalkan penghayatan rohani masing-masing untuk saling memperkaya, saling membantu dalam mengatasi unsur-unsur sempit yang tidak memadai dan mengembangkan semacam sinergi kepositifan antara agama-agama.

Menurut Anda, haruskah agama yang mempunyai nilai-nilai luhur ditundukkan begitu saja ke bawah nafsu rendah manusia untuk mencapai tujuan yang sering kali bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri? Haruskah agama dipurukkan sebagai topeng bagi kemunafikan serta menjadi alat manipulasi

Dalam dokumen PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (Halaman 138-154)