E. Parameter Pengamatan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
6. Umur Perkecambahan
Hasil sidik ragam umur perkecambahan benih kemiri yang terdapat pada Lampiran 2 menunjukkan bahwa perlakuan perendaman dengan KNO3 dan perendaman dengan air memperikan pengaruh yang nyata terhadap umur kecambah namun interaksinya tidak berpengaruh nyata. Rataan persentase kecambah benih kemiri dengan perlakuan perendaman KNO3 dan perendaman dalam air dapat dilihat pada Tabel 6
Tabel 6 Rataan Umur Perkecambahan
Perlakuan Perendaman dengan KNO3 Rataan Air K0 K1 K2 K3 K4 A1 11.82 3.56 8.53 16.24 9.65 9.95 b A2 3.54 28.66 19.67 15.64 17.63 17.03 a A3 12.08 11.57 7.68 27.75 23.80 16.58 ab A4 3.54 23.86 30.37 32.29 35.76 25.16 a Rataan 7.74 b 16.91 ab 16.56 ab 22.98 a 21.71 a
Angka-angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT taraf 5%
Pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa nilai umur perkecambahan tercepat pada perlakuan perendaman KNO3 terdapat pada perlakuan K0 (tanpa perendaman KNO3) yaitu 7.74 hari dan umur perkecambahan terlama terdapat pada perlakuan K3 (perendaman dengan 0.5% KNO3 ) yaitu 22.98 hari Berdasarkan uji lanjut Duncan, K3 tidak berbeda nyata dengan K4 tetapi berbeda nyata dengan K0. Umur perkecambahan tercepat pada perlakuan perendaman dengan air terdapat pada perlakuan A1 (perendaman dalam air selama 5 hari) yaitu 9.95 hari dan umur perkecambahan terlama terdapat pada perlakuan A4 (20 hari perendaman dalam air) yaitu 25.16 hari. Berdasarkan uji lanjut Duncan, A4 berbeda nyata dengan A1 tetapi tidak berbeda nyata dengan A2 dan A3.
B. Pembahasan
1. Interaksi perendaman air dan KNO3
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa hasil yang memiliki interaksi antara perendaman dengan air dan KNO3 terhadap benih Kemiri adalah pada pengamatan Nilai Kecambah. Perlakuan perendaman dalam KNO3 0.5% dan perendaman dalam air selama 20 hari (K2A4) merupakan perlakuan yang paling baik pada penelitian ini untuk mendapatkan nilai kecambah yang tinggi. Hal ini disebabkan karena larutan KNO3 0.5% merupakan konsentrasi optimal untuk melunakkan
kulit benih kemiri tanpa merusak embrio benih sehingga dapat membantu proses imbibisi pada benih dan perendaman yang semakin lama dengan air dapat meningkatkan persen perkecambahan yang berbanding lurus dengan nilai kecambah.
Deleuche tahun 1986 dalam Sihotang (1999) menjelaskan bahwa KNO3 dapat bertindak sebagai zat pendorong pertumbuhan dalam perkecambahan dan merupakan salah satu cara untuk memecahkan dormansi yang diakibatkan oleh impermeabilitas kulit biji. Kemudian dilanjutkan dengan perendaman yang semakin lama dengan air dapat mempercepat perkecambahan, sesuai dengan pendapat Kamil (1986) yang menyatakan bahwa penggembungan benih yang disebabkan penyerapan air dan pertumbuhan segera diikuti oleh pecahnya kulit benih. Dengan bebasnya dari kulit benih, suplai yang cukup, makanan yang sudah tercerna, dan suplai oksigen untuk pernapasan, maka embrio akan tumbuh dengan giat.
2. Faktor Perendaman dengan KNO3
Perlakuan perendaman dalam KNO3 0.5% merupakan perlakuan yang paling baik pada penelitian ini untuk mendapatkan persentase perkecambahan yang tinggi dengan nilai . Semakin tinggi persentase perkecambahan maka semakin tinggi pula nilai kecambah. Czabazor tahun 1962 dalam Sutopo (2004) persentase perkecambahan berbanding lurus dengan nilai kecambah.
Perendaman dalam KNO3 dapat mempercepat lunaknya kulit benih sehingga benih lebih cepat berkecambah dan berkembang namun konsentrasi yang terlalu tinggi dapat merusak metabolisme di dalam benih dan konsentrasi yang
rendah dapat tidak berpengaruh dalam proses pemecahan dormansi akibat kulit benih yang terlalu keras. Pada pengamatan persen perkecambahan diperoleh nilai rataan yang tertinggi pada perlakuan K4 (perendaman 0.9% larutan KNO3) yakni 3.57% dan nilai terendah terdapat pada kontrol (tanpa parendaman KNO3) yakni 1.28%, untuk pengamatan kecepatan berkecambah rataan yang tertinggi diperoleh pada perlakuan K4 (perendaman KNO3 0.9) adalah sebesar 0.72% dan nilai terendah pada perlakuan K1 dan K2 yakni 0.71%. Hal ini disebabkan karena pada konsentrasi 0.9% KNO3 kulit benih lebih cepat pecah karena konsentrasi yang KNO3 yang tinggi namun dapat merusak perkembangan embrio benih sehingga persentase perkecambahan dan nilai kecambah tidak maksimal.
Pada pengamatan kecambah abnormal nilai rataan tertinggi diperoleh pada pengamatan K0 dan K4 sebesar 1.09% dan nilai terendah pada perlakuan K1 dan K2 yakni 0.9% hal ini disebabkan karena pada kontrol (K1) plumula sulit untuk keluar akibat kulit benih yang keras. Pada K4 larutan KNO3 yang tinggi merusak sistem jaringan dalam benih walaupun tidak terlalu parah. Dari hasil yang diperoleh untuk pengamatan kecambah abnormal dapat disimpulkan bahwa pada konsentrasi 0.3 dan 0.5% adalah konsentrasi optimal yang tidak merusak jaringan dalam benih sehingga benih dapat tumbuh dengan baik.
Sihombing (1986), pernah melakukan penelitian memecahkan dormansi benih kopi Arabika dengan perendaman dalam KNO3 0%, 0.2%, 0.4%, 0.6% selama 24 jam memperoleh hasil terbaik pada konsentrasi 0.4% dengan persen daya kecambah 81.78%. Pada penelitian ini persen perkecambahan abnormal yang terendah sebesar terdapat pada perlakuan perendaman KNO3 0.5% selama 1 jam. Perbedaan hasil penelitian tersebut diakibatkan oleh perbedaan lapisan kulit
benih kopi Arabika dengan kulit benih kemiri yang lebih keras. Pada konsentrasi 0.5% merupakan konsentrasi optimum yang dapat menggiatkan pertumbuhan tanaman benih kemiri sedangkan konsentrasi yang semakin tinggi dapat menghambat pertumbuhan tanaman sedangkan konsentrasi yang lebih rendah belum berpengaruh untuk meningkatkan perkecambahan.
Pada pengamatan laju kecambah dan umur kecambah diperoleh hasil yang tidak memuaskan karena dari hasil diperoleh bahwa K0 (kontrol) memiliki nilai yang tinggi. Pada pengamatan laju kecambah K0 memiliki nilai 1.43 hari, dan untuk pengamatan umur kecambah K0 memiliki nilai 7.74 hari sebagai perlakuan yang tercepat untuk berkecambah. Diperkirakan ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor genetik dibandingkan dengan faktor perlakuan.
3. Faktor Perendaman dalam Air
Perendaman benih kemiri selama 20 hari dalam air (A4) menjadi perlakuan terbaik untuk meningkatkan rataan persen perkecambahan, kecepatan berkecambah dan nilai kecambah karena dapat memaksa kulit benih untuk pecah. Kartasapoetra (2003) menyatakan bahwa perendaman dengan air mendorong proses pemasakan embrio dan meningkatkan permeabilitas kulit benih sehingga memungkinkan penyerapan ataupun imbibisi air dan gas-gas yang diperlukan dalam proses perkecambahan. Rismunandar (1999) menambahkan bahwa air di dalam proses perkecambahan berfungsi untuk mencairkan zat-zat makanan yang berada dalam keping biji yang disalurkan di dalam lembaga. Dalam lembaga telah tersedia bahan baku auxin dalam bentuk asam amino, yang dalam perkembangan pertumbuhan kecambah berubah menjadi auxin. Penyebarluasan auxin ke dalam
tubuh kecambah akan berlangsung hingga ke pucuk akar. Untuk kelangsungan penyebaran ini secara mutlak dibutuhkan cukup air, tanpa air pertumbuhan kecambah akan gagal total.
Untuk pengamatan persen perkecambahan, kecepatan berkecambah, kecambah abnormal, laju perkecambahan dan umur berkecambah interaksi perendaman KNO3 dan perendaman dalam air tidak memberikan pengaruh yang nyata. Menurunnya atau meningkatnya kecepatan berkecambah berhubungan dengan persentase perkecambahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutopo (2004) bahwa ada hubungan antara kecepatan berkecambah dengan tinggi rendahnya produksi tanaman. Vigor benih juga dicirikan oleh cepat dan meratanya tumbuh suatu benih. Hal ini juga ditambahkan oleh Kartasapoetra (2003) yang mengatakan bahwa terdapat hubungan yang demikian erat untuk kecepatan berkecambahnya benih dengan vigor tanamannya
Untuk laju perkecambahan tercepat pada perlakuan perendaman dengan air diperoleh pada perlakuan A2 (10 hari perendaman dalam air) yaitu 0.71 hari dan terendah pada perlakuan A1 yaitu 1.29 hari. Sesuai dengan pendapat Sutopo (2004) yang mengatakan bahwa tahap pertama suatu perkecambahan benih dimulai dengan proses penyerapan air oleh benih (imbibisi). Perendaman benih selama 10 hari dalam air telah dapat menggembungkan benih dan memaksa kulit benih pecah dan mulai berkecambah. Gardner et al. (1991) air berfungsi sebagai medium yang memberikan turgor pada sel tanaman dan tekanan turgor dapat meningkatkan pembesaran sel sehingga benih dapat berkecambah, dapat pula dikatakan bahwa lama perendaman berbanding lurus dengan persentase perkecambahan. Semakin lama dilakukan perendaman benih maka persentase
perkecambahan akan meningkat, dan sebaliknya. Proses perkecambahan yang dimulai dengan imbibisi menyebabkan hidrasi jaringan, pengaktifan enzim, peningkatan respirasi dan asimilasi, pembesaran sel dan akhirnya munculnya embrio.
Laju perkecambahan sangat dipengaruhi oleh persen perkecambahan, persen kecambah abnormal dan kecepatan perkecambahan. Menurut Sutopo (2004) vigor benih relevan dengan tingkat produksi, apabila vigor tinggi akan dicapai tingkat produksi yang tinggi. Cepat tumbuhnya suatu benih, meratanya tumbuh suatu benih sejalan dengan mampunya suatu benih menghasilkan tanaman normal, kecepatan perkecambahan, laju perkecambahan dan sebaliknya. Hal ini berarti berhubungan dengan tingkat persen kecambah, kecepatan perkecambahan dan persen kecambah abnormal. Semakin rendah persen kecambah, kecepatan perkecambahan maka laju perkecambahan juga akan semakin kecil. Semakin rendah nilai kecambah abnormal maka laju perkecambahan akan semakin tinggi. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat dan membandingkan hasil dari setiap parameter.
Pada pengamatan kecambah abnormal diperoleh hasil bahwa A1,A2 dan A4 mimiliki nilai terendah untuk benih yang abnormal. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan air yang banyak maupun yang sedikit tidak mempengaruhi kecambah abnormal melainkan ada faktor-faktor lain yang mempangaruhi seperti faktor luar. Kamil (1992) mengatakan bahwa pada umumnya apabila kebutuhan untuk perkecambahan seperti air, suhu, oksigen dan cahaya dipenuhi, biji bermutu tinggi akan menghasilkan kecambah atau bibit yang normal (normal seedling) tetapi oleh karena faktor luar seperti infeksi jamur atau mikro organisme lainnya
selama pengujian perkecambahan atau sudah terbawa di dalam biji, atau biji bermutu rendah, kemungkinan kecambah (bibit) yang dihasilkan tidak normal (abnormal seedling).
Pada perlakuan kecambah abnormal nilainya juga tidak ada yang berbeda nyata. Sedangkan untuk pengamatan umur berkecambah dari hasil penelitian diduga yang lebih berpengaruh adalah faktor genetik.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan perendaman 5 hari dalam air benih kemiri ada yang berkecambah. Hal ini diduga karena faktor genetis dari benih kemiri. Sedangkan umur kecambah untuk perlakuan A3 (perendaman dalam air selama 15 hari) merupakan perlakuan yang memang dianggap telah dapat meningkatkan umur perkecambahan.