• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3. Pengaruh Karakteristik Konsumen Terhadap Jumlah Konsumsi Minyak

5.3.1. Umur, Tingkat Pendidikan, Pendapatan, Harga Minyak Goreng Dan

Jumlah Tanggungan Secara Serempak Berpengaruh Nyata Terhadap

Jumlah Konsumsi Minyak Goreng Curah

Dengan menggunakan persamaan linear berganda, dibentuk fungsi persamaan jumlah konsumsi minyak goreng curah. Variabel-variabel yang dianggap

berpengaruh terhadap jumlah konsumsi minyak goreng curah adalah : umur, tingkat pendidikan, pendapatan, harga minyak goreng dan jumlah tanggungan.

Tabel 5.3. Pengaruh Umur, Tingkat Pendidikan, Pendapatan, Harga Minyak Goreng Dan Jumlah Tanggungan Terhadap Output Dalam Konsumsi Minyak Goreng Curah

Variabel Koefisien t Hitung Signifikan

Konstanta 3.691 .562 .579

Umur (X1) .011 1.175 .251

Tingkat Pendidikan (X2) -.121 -1.706 .101

Pendapatan (X3) 8.143E-7 4.116 .000

Jumlah Tanggungan (X4) .709 8.692 .000

Harga Minyak Goreng

Curah .000 -.446 .659

R2 = 0,857

F Hitung = 28.851

Signifikansi Uji F = 0,000

Sumber : Analisis Data Primer Lampiran 4

Seluruh variabel tersebut secara serentak dimasukkan dalam persamaan linier berganda sebagai berikut :

Y = 3.691 + 0,011 X1 - 0,121 X2 + 0,0000008143 X3 + 0,709 X4 + 0,000 X5

Nilai 3.691 adalah titik potong garis regresi tersebut dengan sumbu tegak Y. Nilai 0,011 merupakan koefisien regresi variabel X1, yang menunjukkan bahwa setiap adanya kenaikan umur sebesar 1 tahun maka akan ada kenaikan jumlah kosumsi minyak goreng curah sebesar Rp 0,011 /L.

Nilai – 0,121 merupakan koefisien regresi variabel X2, yang menunjukkan bahwa setiap adanya kenaikan tingkat pendidikan sebesar 1 tahun maka akan ada penurunan jumlah kosumsi minyak goreng curah sebesar Rp – 0,121 /L. Nilai 0,0000008134 merupakan koefisien regresi variabel X3, yang menunjukkan

bahwa setiap adanya kenaikan pendapatan sebesar Rp 1.000.000 akan ada kenaikan jumlah kosumsi minyak goreng curah sebesar Rp 0,8134 /L

Nilai 0,709 merupakan koefisien regresi variabel X4, yang menunjukkan bahwa setiap adanya kenaikan jumlah tanggungan sebesar 1 jiwa maka akan ada kenaikan jumlah kosumsi minyak goreng curah sebesar Rp 0,709 /L. Nilai 0,000 merupakan koefisien regresi variabel X5, yang menunjukkan bahwa setiap adanya kenaikan harga minyak goreng curah sebesar Rp 10.000 maka akan kenaikan jumlah kosumsi minyak goreng curah sebesar Rp 10 /L.

Koefisien Determinasi (R2)

Dari tabel 5.3 diperoleh nilai R2 sebesar 0,857 yang berarti bahwa 85,7% jumlah konsumsi minyak goreng curah dipengaruhi oleh faktor umur, tingkat pendidikan, pendapatan, jumlah tanggungan dan harga minyak goreng curah. Sedangkan 14,3% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar model.

Uji F (Uji Serempak)

Dari hasil analisis regresi linier berganda diperoleh bahwa nilai F hitung sebesar 28.851 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000. Nilai yang diperoleh lebih kecil daripada probabilitas kesalahan yang ditoleror, yaitu α 5% atau 0 ,05 atau nilai sig. F (0,000) ≤ 0,05, maka Ho ditolak dan H1 diterima yang artinya faktor umur, tingkat pendidikan, pendapatan, jumlah tanggungan dan harga minyak goreng

curah secara serempak berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi minyak goreng curah.

Uji t (Uji Parsial)

Dari Tabel 5.3 dapat diinterpretasikan pengaruh variabel umur, tingkat pendidikan, pendapatan, jumlah tanggungan dan harga minyak goreng curah terhadap jumlah konsumsi minyak goreng curah sebagai berikut:

1. Umur (X1)

Pada Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa variabel umur memiliki nilai signifikansi t sebesar (0,251). Nilai yang diperoleh lebih besar daripada probabilitas kesalahan yang ditoleror, yaitu α 5% atau 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Ho diterima dan H1 ditolak yang artinya bahwa variabel umur (X1) secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi minyak goreng curah.

Hal tersebut mendukung hasil penelitian Hafiz (2010), yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara umur dan tingkat pendidikan dengan perilaku konsumen membeli minyak goreng curah.

2. Tingkat Pendidikan (X2)

Pada Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa variabel tingkat pendidikan memiliki nilai signifikansi t sebesar (0,101). Nilai yang diperoleh lebih besar daripada probabilitas kesalahan yang ditoleror, yaitu α 5% atau 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Ho diterima dan H1 ditolak yang artinya bahwa variabel tingkat pendidikan

(X2) secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi minyak goreng curah.

Hal tersebut mendukung hasil penelitian Hafiz (2010), yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara umur dan tingkat pendidikan dengan perilaku konsumen membeli minyak goreng curah.

3. Pendapatan (X3)

Pada Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa variabel pendapatan memiliki nilai signifikansi t sebesar (0,000). Nilai yang diperoleh lebih kecil daripada probabilitas kesalahan yang ditoleror, yaitu α 5% atau 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak dan H1 diterima yang artinya bahwa variabel pendapatan (X4) secara parsial berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi minyak goreng curah. Jika pendapatan menurun maka jumlah konsumsi minyak goreng curah juga menurun dan, sebaliknya jika pendapatan naik maka jumlah konsumsi minyak goreng curah naik.

Hal ini sesuai dengan Teori menurut Setiadi (2003), tinggi atau rendahnya pendapatan masyarakat akan mempengaruhi kuantitas pembelian. Pendapatan yang lebih rendah berarti bahwa secara total hanya ada sedikit uang untuk dibelanjakan sehingga seseorang akan membelanjakan lebih sedikit.

4. Jumlah Tanggungan (X4)

Pada Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa variabel jumlah tanggungan memiliki nilai signifikansi t sebesar (0,000). Nilai yang diperoleh lebih kecil daripada

probabilitas kesalahan yang ditoleror, yaitu α 5% atau 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak dan H1 diterima yang artinya bahwa variabel jumlah tanggungan (X5) secara parsial berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi minyak goreng curah. Jika jumlah tanggungan menurun maka jumlah konsumsi minyak goreng curah juga menurun dan, sebaliknya jika jumlah tanggungan naik maka jumlah konsumsi minyak goreng curah naik.

Hal ini sesuai dengan Teori menurut Sukirno (2003), yang menyatakan bahwa jumlah tanggungan akan mempengaruhi jumlah pembelian terhadap suatu barang. Semakin banyak tanggungan, maka jumlah pembelian akan semakin meningkat. Hal ini berkaitan dengan usaha pemenuhan akan kecukupan kebutuhan setiap individu yang ada di suatu tempat.

5. Harga Minyak Goreng Curah (X5)

Pada Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa variabel harga minyak goreng curah memiliki nilai signifikansi t sebesar (0,659). Nilai yang diperoleh lebih besar daripada probabilitas kesalahan yang ditoleror, yaitu α 5% atau 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Ho diterima dan H1 ditolak yang artinya bahwa harga minyak goreng curah (X5) secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi minyak goreng curah.

Harga minyak goreng curah tidak berpengaruh karena minyak goreng merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok yang selalu dibutuhkan walau harganya naik sangat tinggi atau bahkan harganya turun, yang mendukung hasil penelitian dari

Hafiz (2010). Selain itu juga karena data yang digunakan merupakan data cross section sehingga fluktuasi harga tidak kelihatan, sedangkan fluktuasi harga minyak goreng dapat terlihat pada data time series.

Uji Normalitas

Gambar 5.2. Uji Normalitas Minyak Goreng Curah

Berdasarkan Gambar 5.2., data tersebut normal karena suatu data dikatakan berdistribusi normal apabila garis yang digambarkan data merapat ke garis diagonalnya.

Uji Multikolinearitas

Tabel 5.4 Hasil Uji Multikolinearitas Masing-Masing Karakteristik

Konsumen Minyak Goreng Curah

Variabel Tolerance VIF

Umur .806 1.241

Tingkat Pendidikan .371 2.697

Pendapatan .346 2.889

Harga Minyak Goreng .817 1.224

Dari Tabel 5.4, dapat dilihat nilai tolerance masing-masing karakteristik konsumen yaitu, umur, tingkat pendidikan, pendapatan, harga minyak goreng kemasan dan jumlah tanggungan sebesar 0,806; 0,371; 0,346; 0,817; 0,705. Semua karakteristik konsumen tersebut memiliki nilai tolerance adalah lebih besar dari 0,1. Begitu juga dengan nilai VIF masing-masing karakteristik konsumen tersebut sebesar 1,241; 2,697 2,889; 1,224; 1,419. Semua karakteristik konsumen tersebut memiliki nilai VIF adalah lebih kecil dari 10. Hal ini membuktikan bahwa tidak terdapat multikolinearitas pada model yang digunakan.

Gambar 5.3. Scatterplot Minyak Goreng Curah

Pada Gambar 5.3., dapat diketahui bahwa titik-titik menyebar sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.

Dapat disimpulkan karakteristik konsumen yang secara parsial berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi minyak goreng curah yaitu hanya pendapatan dan jumlah tanggungan. Hal ini berbeda dan tidak mendukung skripsi dari Utama A. (2013) karena karakteristik konsumen yang secara parsial berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi minyak goreng curah yaitu harga minyak goreng, pendapatan dan jumlah tanggungan.

5.3.2. Umur, Tingkat Pendidikan, Pendapatan, Harga Minyak Goreng Dan

Jumlah Tanggungan Secara Serempak Berpengaruh Nyata Terhadap

Jumlah Konsumsi Minyak Goreng Kemasan

Dengan menggunakan persamaan linear berganda, dibentuk fungsi persamaan jumlah konsumsi minyak goreng kemasan. Variabel-variabel yang dianggap berpengaruh terhadap jumlah konsumsi minyak goreng kemasan adalah : umur, tingkat pendidikan, lamanya berumah tangga, pendapatan, harga minyak goreng dan jumlah tanggungan.

Tabel 5.5. Pengaruh Umur, Tingkat Pendidikan, Pendapatan, Harga Minyak Goreng Dan Jumlah Tanggungan Terhadap Output Dalam Konsumsi Minyak Goreng Kemasan

Variabel Koefisien t Hitung Signifikan

Konstanta 6.920 1.974 .060

Umur (X1) .012 .864 .396

Tingkat Pendidikan (X2) .091 .900 .377

Pendapatan (X3) 6.175E-7 3.309 .003

Jumlah Tanggungan (X4) .431 3.179 .004

Harga Minyak Goreng

Kemasan (X5) .000 -1.906 .069

R2 = 0,662

F Hitung = 9.395

Signifikansi Uji F = 0,000

Sumber : Analisis Data Primer Lampiran 5

Seluruh variabel tersebut secara serentak dimasukkan dalam persamaan linier berganda sebagai berikut :

Y = 6.920 + 0,012 X1 + 0,091 X2 + 0,0000006175 X3 + 0,431 X4 + 0,000 X5

Nilai 6.920 adalah titik potong garis regresi tersebut dengan sumbu tegak Y. Nilai 0,012 merupakan koefisien regresi variabel X1, yang menunjukkan bahwa setiap

adanya kenaikan umur sebesar 1 tahun maka akan ada kenaikan jumlah kosumsi minyak goreng kemasan sebesar Rp 0,012/L.

Nilai 0,091 merupakan koefisien regresi variabel X2, yang menunjukkan bahwa setiap adanya kenaikan tingkat pendidikan sebesar 1 tahun maka akan ada kenaikan jumlah kosumsi minyak goreng kemasan sebesar Rp 0,091/L. Nilai 0,00000006175 merupakan koefisien regresi variabel X3, yang menunjukkan bahwa setiap adanya kenaikan pendapatan sebesar Rp 1.000.000 maka akan ada kenaikan jumlah kosumsi minyak goreng kemasan sebesar Rp 0,6175 /L.

Nilai 0,431 merupakan koefisien regresi variabel X4, yang menunjukkan bahwa setiap adanya kenaikan jumlah tanggungan sebesar 1 jiwa maka akan ada kenaikan jumlah kosumsi minyak goreng kemasan sebesar Rp 0,431 /L. Nilai 0,000 merupakan koefisien regresi variabel X5, yang menunjukkan bahwa setiap adanya kenaikan harga minyak goreng kemasan sebesar Rp 10.000 maka akan kenaikan jumlah kosumsi minyak goreng kemasan sebesar Rp 10/L.

Koefisien Determinasi (R2)

Dari Tabel 5.5 diperoleh nilai R2 sebesar 0,662 yang berarti bahwa 66,2% jumlah konsumsi minyak goreng kemasan dipengaruhi oleh faktor umur, tingkat pendidikan, pendapatan, jumlah tanggungan dan harga minyak goreng kemasan. Sedangkan 33,8% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar model.

Uji F (Uji Serempak)

Dari hasil analisis regresi linier berganda diperoleh bahwa nilai F hitung sebesar 9.395 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000. Nilai yang diperoleh lebih kecil daripada probabilitas kesalahan yang ditoleror, yaitu α 5% atau 0 ,05 atau nilai sig. F (0,000) ≤ 0,05, maka Ho ditolak dan H1 diterima yang artinya faktor umur, tingkat pendidikan, pendapatan, jumlah tanggungan dan harga minyak goreng kemasan secara serempak berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi minyak goreng kemasan.

Uji t (Uji Parsial)

Dari Tabel 5.5 dapat diinterpretasikan pengaruh variabel umur, tingkat pendidikan, pendapatan, jumlah tanggungan dan harga minyak goreng kemasan terhadap jumlah konsumsi minyak goreng curah sebagai berikut:

1. Umur (X1)

Pada Tabel 5.5 dapat dilihat bahwa variabel umur memiliki nilai signifikansi t sebesar (0,396). Nilai yang diperoleh lebih besar daripada probabilitas kesalahan yang ditoleror, yaitu α 5% atau 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Ho diterima dan H1 ditolak yang artinya bahwa variabel umur (X1) secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi minyak goreng kemasan.

Hal tersebut mendukung hasil penelitian Hafiz (2010), yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara umur dan tingkat pendidikan dengan perilaku konsumen membeli minyak goreng.

2. Tingkat Pendidikan (X2)

Pada Tabel 5.5 dapat dilihat bahwa variabel tingkat pendidikan memiliki nilai signifikansi t sebesar (0,377). Nilai yang diperoleh lebih besar daripada probabilitas kesalahan yang ditoleror, yaitu α 5% atau 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Ho diterima dan H1 ditolak yang artinya bahwa variabel tingkat pendidikan (X2) secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi minyak goreng kemasan.

Hal tersebut mendukung hasil penelitian Hafiz (2010), yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara umur dan tingkat pendidikan dengan perilaku konsumen membeli minyak goreng.

3. Pendapatan (X3)

Pada Tabel 5.5 dapat dilihat bahwa variabel pendapatan memiliki nilai signifikansi t sebesar (0,003). Nilai yang diperoleh lebih kecil daripada probabilitas kesalahan yang ditoleror, yaitu α 5% atau 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak dan H1 diterima yang artinya bahwa variabel pendapatan (X3) secara parsial berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi minyak goreng kemasan. Jika pendapatan menurun maka jumlah konsumsi minyak goreng kemasan juga menurun dan, sebaliknya jika pendapatan naik maka jumlah konsumsi minyak goreng kemasan naik.

Hal ini sesuai dengan Teori menurut Setiadi (2003), tinggi atau rendahnya pendapatan masyarakat akan mempengaruhi kuantitas pembelian. Pendapatan

yang lebih rendah berarti bahwa secara total hanya ada sedikit uang untuk dibelanjakan sehingga seseorang akan membelanjakan lebih sedikit

4. Jumlah Tanggungan (X4)

Pada tabel 5.5 dapat dilihat bahwa variabel jumlah tanggungan memiliki nilai signifikansi t sebesar (0,004). Nilai yang diperoleh lebih kecil daripada probabilitas kesalahan yang ditoleror, yaitu α 5% atau 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak dan H1 diterima diterima yang artinya bahwa variabel jumlah tanggungan (X4) secara parsial berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi minyak goreng kemasan. Jika jumlah tanggungan menurun maka jumlah konsumsi minyak goreng kemasan juga menurun dan, sebaliknya jika jumlah tanggungan naik maka jumlah konsumsi minyak goreng kemasan naik.

Hal ini sesuai dengan Teori menurut Sukirno (2003), yang menyatakan bahwa jumlah tanggungan akan mempengaruhi jumlah pembelian terhadap suatu barang. Semakin banyak tanggungan, maka jumlah pembelian akan semakin meningkat. Hal ini berkaitan dengan usaha pemenuhan akan kecukupan kebutuhan setiap individu yang ada di suatu tempat.

5. Harga Minyak Goreng Kemasan (X5)

Pada tabel 5.5 dapat dilihat bahwa variabel harga minyak goreng kemasan memiliki nilai signifikansi t sebesar (0,069). Nilai yang diperoleh lebih besar daripada probabilitas kesalahan yang ditoleror, yaitu α 5% atau 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Ho diterima dan H1 ditolak yang artinya bahwa variabel

harga minyak goreng kemasan (X5) secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi minyak goreng kemasan.

Harga minyak goreng kemasan tidak berpengaruh nyata terhadap minyak goreng kemasan karena harga minyak goreng kemasan bervariasi mulai dari harga Rp 11.900 – Rp 13.800. jika konsumen mengkonsumsi minyak goreng kemasan seharga 13.800 dan mengalami kenaikan maka konsumen tersebut akan berpindah merek yang masih merupakan minyak goreng kemasan sehingga tidak mempengaruhi jumlah konsumsi minyak goreng kemasan tersebut.

Uji Normalitas

Gambar 5.4. Uji Normalitas Minyak Goreng Kemasan

Berdasarkan Gambar 5.4., data tersebut normal karena suatu data dikatakan berdistribusi normal apabila garis yang digambarkan data merapat ke garis diagonalnya.

Uji Multikolinearitas

Tabel 5.6 Hasil Uji Multikolinearitas Masing-Masing Karakteristik Konsumen Minyak Goreng Kemasan

Variabel Tolerance VIF

Umur .713 1.403

Tingkat Pendidikan .335 2.989

Pendapatan .298 3.359

Harga Minyak Goreng .753 1.328

Jumlah Tanggungan .340 2.944

Dari Tabel 5.6, dapat dilihat nilai tolerance masing-masing karakteristik konsumen yaitu, umur, tingkat pendidikan, pendapatan, harga minyak goreng curah dan jumlah tanggungan sebesar 0,713; 0,335; 0,298; 0,753; 0,340. Semua karakteristik konsumen tersebut memiliki nilai tolerance adalah lebih besar dari 0,1. Begitu juga dengan nilai VIF masing-masing karakteristik konsumen tersebut sebesar 1,403; 2,989; 3,359; 1,328; 2,944. Semua karakteristik konsumen tersebut memiliki nilai VIF adalah lebih kecil dari 10. Hal ini membuktikan bahwa tidak terdapat multikolinearitas pada model yang digunakan.

Uji Heteroskedastisitas

Gambar 5.5. Scatterplot

Pada Gambar 5.5., dapat diketahui bahwa titik-titik menyebar sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.

Dokumen terkait