• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ungkapan tersebut bermakna larangan Allah swt

Dalam dokumen Buku Pelajaran Balaghah (Halaman 126-146)















: ءاَوٍْلاا (

65

)

Janganlah kamu sekalian mendekati zina! Sesungguhnya zina itu perbuatankeji dan jalan yang sejelek-jeleknya.(al-Isra:32)

Pada ayat di atas terdapat ungkapan nahyu, yaitu pada kata







Ungkapan tersebut bermakna larangan Allah swt melarang orang-orang beriman berbuat zina.

127

An-Nahyu terkadang keluar dari maknanya yang asli

kepada makna-makna lain. Hal ini dapat diketahui dengan mengkaji konteks dan redaksi suatu kalimat. Di antara makna-makna yang dimaksud adalah:

1) Al-Irsyād (memberi petunjuk). Contohnya pada lafaz

ا َُُْٞأََْر َلا

sebagaimana disebutkan dalam al-Qur‟an:           

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu….”

(QS. Al-Mā‟idah [5]: 101)

2) Ad-Du„ā‟ (doa). Contohnya pada lafaz

بٗنفاإر لا

sebagaimana disebutkan dalam al-Qur‟an:

       

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah….” (QS.

Al-Baqarah [2]: 286)

3) Al-Iltimās (memohon dengan penuh). Contohnya terdapat pada lafaz

٢ٗهير لا

pada kalimat ini:

128

“Wahai saudaraku, janganlah engkau

mengunjungiku pada malam hari”

4) At-Tamannī (mengharap sesuatu yang mustahil terjadi). Contohnya pada lafaz

٢ؼِطر لا

pada bait syair:

ٍََّى ُّ َْٞٗ بَ٣ َََّغ َُْ٤َُ بَ٣

#

ْ٢ِؼُِْطَر َلاَٝ ْقِه ُؼْجُص بَ٣

Duhai malam yang panjang, munculkanlah # sinar subuhmu, karena tidak ada yang menyerupai sinar subuhmu ini.

5) At-Tai‟īs (mengungkapkan rasa penyesalan). Contohnya pada lafaz

اٝهنزؼر لا

sebagaimana disebutkan dalam al-Qur‟an:

      

“Tidak usah kamu minta maaf, Karena kamu kafir sesudah beriman….” (QS. At-Taubah [9]: 66)

6) At-Taubīkh (menjelekkan). Contoh-nya pada lafaz

ٚ٘ر لا

pada kalimat berikut:

َُِْٚضِٓ ِدْأَرَٝ ٍنُُِف َْٖػ ََْٚ٘ر َلا

Jangan engkau melarang seseorang berbuat jelek sementara engkau melakukannya.

7) Al-Tahdid (mengancam). Contoh-nya pada lafaz

غطر لا

pada kalimat berikut:

ْ١ِوَْٓأ ْغِطُر َلا

129

8) Al-Karāhah (membenci). Contoh-nya pada lafaz

ذلزِر لا

pada kalimat:

َذَْٗأَٝ ْذِلَزَِْر َلا

ِح َلاَّصُا ٢ِك

Jangan engkau menengok dalam keadaan sholat

9) Al-I‟tinās (menghibur). Contohnya pada lafaz

ٕيؾر لا

sebagaimana disebutkan dalam al-Qur‟an:      

“…Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita….” (QS. At-Taubah [9]: 40)

10) At-Tahqīr (menghina). Contohnya pada lafaz

تِطر لا

pada bait syair berikut:

ٍَُُُِٚٔ َل ْغَُْٔا َِّٕئ َل ْغَُْٔا ِتُِْطَر َلا

ٍِبَجُا َِْػبَٗ بًؾْ٣ِوَزَُْٓ ْشِػَٝ ٌتْؼَص

Janganlah kalian mencari keutamaan,

sesungguhnya keutamaan itu tangganya # sulit. Hiduplah dengan tenang dan hati yang damai.

Contoh lain pada lafaz

َؽور لا

pada bait syair: َذَْٗأ َيَِّٗاَك ْلُؼْهاَٝ # بَِٜزَ٤ْـُجُِ ََْؽْوَر َلا َِّهبٌََُْٔا ِعَك ٢ ٍِبٌَُْا ُِْػبَّطُا

Biarkanlah kemuliaan itu datang sendiri, janganlah engkau berangkat untuk mencarinya # Duduklah karena sesungguhnya engkau adalah pemberi pangan dan sandang.

11) Ad-Dawām (perbuatan yang terus menerus). Contohnya terdapat pada lafaz

ٖجَؾر لا

sebagaimana disebutkan dalam al-Qur‟an:

130        

“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim….” (QS. Ibrāhīm [14]:

42)

12) Bayān al-Āqibah (menjelaskan akibat). Seperti dalam contoh lafaz

ٖجَؾر لا

sebagaimana disebutkan dalam al-Qur‟an:

             

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”

(QS. Āli „Imrān [3]: 169)

At-Tamannī, yaitu meminta (menuntut) sesuatu

yang mustahil (tidak mungkin) terjadi atau mungkin tetapi tidak bisa diharapkan.

Lafaz yang dipergunakan untuk at-tamannī yaitu ذْ٤َُ Contohnya sebagaimana dalam syair:

بًٓ َْٞ٣ ُك ُْٞؼَ٣ َةبَجَّشُا َذْ٤َُ َلاَأ

#

ُتْ٤ِشَُٔا َََؼَك بَِٔث َُٙوِج ْفُأَك

Semoga masa muda itu bisa kembali lagi # Supaya saya bisa memberitahu apa yang dilakukan seseorang di masa tua.

131

Contoh lain sebagaimana disebutkan dalam al-Qur‟an:          

”...Semoga kita diberikan harta benda sebagaimana yang diberikan kepada Karun.” (QS. Al-Qashash [28]:

79)

Sedangkan untuk meminta (menuntut) sesuatu yang mungkin/bisa terjadi dinamakan at-tarajjī. Lafaz-lafaz yang dipergunakan untuk at-tarajjī adalah ٠ dan َََّؼَُ. َََػ

Contohnya sebagaimana disebutkan dalan al-Qur‟an:  

 



”... Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya)....” (Q.S. Al-Mā‟idah

[5]: 52)

Contoh lain sebagaimana firman Allah:

       

... Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.” (QS.

Ath-Thalāq [65]: 1)

Namun karena faktor-faktor keindahan bahasa, terkadang dipergunakan juga lafaz ذ٤ُ dengan makna

132

Jadi, lafaz yang dipergunakan untuk at-tamannī ada 4: satu yang asli yaitu ذ٤ُ sementara yang 3, yaitu ََْٛ dan َُْٞ serta َََّؼَُ menjadi pengganti, dan ini dipergunakan karena memenuhi faktor-faktor keindahan bahasa.

Contoh penggunaan َٛ sebagaimana disebutkan dalam al-Qur‟an:      

“… Maka adakah bagi kami pemberi syafaat yang akan memberi syafaat bagi kami….” (QS. Al-A„rāf [7]: 53)

Contoh penggunaan

ُٞ

sebagaimana disebutkan dalam al-Qur‟an:       

“Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu„arā‟ [26]: 102)

Contoh penggunaan َؼُ sebagaimana disebutkan dalam syair:

ُذْ٣َِٞٛ ْلَه َْٖٓ ٠َُِئ ْ٢َِِّؼَُ # َُٚؽبََ٘ع ُوْ٤ِؼُ٣ َْٖٓ ََْٛ بَطَوُا َةْوٍَِأ

ُوْ٤ِغَأ

Wahai kawanan burung qatha (mirip merpati), siapakah yang mau meminjamkan sayapnya # Agar aku bisa terbang kepada kekasihku

133 3. Istifhâm

Kata (

َّْبَْٜلِزٍِْئ

) merupakan bentuk

mashdar dari kata (

ََْْٜلَزٍْا

) Secara leksikal kata tersebut bermakna meminta pemahaman/meminta pengertian Secara istilah istifhâm bermakna

ُتََِغ

ِِِْْؼُْا

ِئْ٤َّشُبِث

menuntut pengetahuan tentang sesuatu

Kata-kata yang digunakan untuk istifhâm ini ialah :

أ

ََْٛ

َْٖٓ

٠َزَٓ

َٕبَّ٣َأ

َقْ٤ًَ

َْٖ٣َأ

٠ََّٗأ

ًَْْ

١َأ

Suatu kalimat yang menggunakan kata tanya dinamakan jumlah istifhâmiyyah , yaitu kalimat yang berfungsi untuk meminta informasi tentang sesuatu yangbelum di ketahui sebelumnya dengan menggunakan salah satu huruf istifhâm

Contoh kalimat tanya seperti





















: هلوُا (

4

-5

)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada

134

malamkemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?)

a) Hamzah (

أ )

Hamzah sebagai salah satu adat istifhâm mempunyai dua makna,

(1) Tashawwuri

Tashawwuri artinya jawaban yang

bermakna mufrad. Ungkapan

istifhâm yang meminta pengetahuan

tentang sesuatu yang bersifat mufrad dinamakan istifhâm tashawwuri. Contoh, 1

ُْا َّ َْٞ٣َأ

بَُّٔؼُْا ُؼْ٣ِوَزََْ٣ ِخَؼُْٔغ

ََّْٞ٣ َّْأ ٍُ

؟ ِلَؽلاا

2

؟ ٌغِئبَث َّْأ َذَْٗأ ٍوَزْشُٓ َأ

Pada kedua kalimat di atas adat yang digunakan untuk bertanya adalah

hamzah. Aspek yang dipertanyakan

pada kedua kalimat di atas adalah hal yang bersifat tashawwur Pada kalimat pertama hal yang ditanyakan adalah dua pilihan antara (

ِخَؼُْٔغ ُْا ََّْٞ٣ ََ

) dan (

ٍَ ِلَؽلاا ََّْٞ٣

)

Kedua ungkapan tersebut bersifat

tashawwur (makna mufrad), tidak

berupa nisbah (penetapan sesuatu atas yang lain). Demikian juga pada pertanyaan nomor 2, penanya menanyakan apakah engkau (

ٌغِئبَث

) atau (

ٍوَزْشُٓ

) Kedua kata tersebut bersifat

135 .

(2) Tashdîq

Hamzah juga digunakan untuk pertanyaan yang bersifat tashdîq, yaitu penisbatan sesuatu atas yang lain. Contoh,

ُأ َل ْصَ٣ َأ

؟ ُتََٛنُا

؟ ٍُبَجِغُْا ُوْ٤ََِ٣ َأ

Kedua kalimat di atas merupakan

jumlah istifhâmiyah. Adat yang

digunakan untuk bertanya adalah

hamzah. Hal yang ditanyakan oleh

kalimat di atas adalah kaitan antara (

ُأ َل ْصَ٣

) dan (

ُتََٛنُا

) Penisbatan sifat berkarat kepada emas merupakan hal ditanyakan oleh

mutakallim. Karena hal yang dipertanyakan bersifat nisbah maka dinamakan tashdîq

b) Man (

َْٖٓ

)

Kata (

َْٖٓ

) termasuk ke dalam adat

istifhâm yaitu untuk menanyakan tentang

orang. Contoh,

اَنَٛ ٠ََ٘ث ُلَْٔؽَأ ؟ َلِغََُْْٔا اَنَٛ ٠ََ٘ث َْٖٓ

َلِغََُْْٔا

Adat istifhậm pada jumlah istifhamiyah di atas adalah (

َْٖٓ

) yang bertujuan untuk menanyakan siapa yang membangun mesjid ini.

136

Selain kedua adat istifhậm di atas masih terdapat beberapa adat lainnya yang mempunyai fungsi masing-masing. Adat-adat tersebut adalah sbb:

)c)

بَٓ

yang digunakan untuk menanyakan sesuatu yang tidak berakal. Kata ini juga digunakan untuk meminta penjelasan tentang sesuatu atau hakikat sesuatu.Contoh,

؟ ُٕبَْٔ٣ لاا َُٞٛ بَٓ

(d) (

٠َزَٓ

) yang digunakan untuk meminta penjelasan tentang waktu, baik waktu lampau maupun sekarang. Contoh,

؟ ِالله ُو ْصَٗ ٠َزَٓ

(e) (

َٕبَّ٣َأ

) digunakan untuk meminta penjelasan mengenai waktu yang akan datang. Kata ini kebiasaannya digunakan untuk menantang. Contoh,











(f) (

َقْ٤ًَ

) digunakan untuk menanyakan

keadaan sesuatu. Contoh,

؟ َيُُبَؽ َقْ٤ًَ

)g) (

َْٖ٣َأ

) digunakan untuk menanyakan tempat. Contoh,

137

)h) (

ََْٛ

) merupakan adat istifhâm yang digunakan untuk menanyakan penisbatan sesuatu pada yang lain (tashdîq) atau kebalikannya. Padaadat istifhâm (

ََْٛ

) tidak menggunakan

َّْأ

dan mu‟adil-nya.

Adat istifhâm (

ََْٛ

) digunakan apabila penanya (mutakallim) tidak mengetahui

nisbah antar musnad dan musnad ilaih-nya. Adat (

ََْٛ

) tidakbisa masuk ke dalam nafyu, mudhâri (makna sekarang)

syarath, dan tidak bisa pula pada huruf

„ athaf . Hal ini berbeda dengan hamzah yang bisa memasuki tempat-tempat tersebut;

(i) (

ٟ ََ ََّٕأ

) merupakanadat istifhâm yang maknanya ada tiga, yaitu:

1) maknanya sama dengan “

َقْ٤ًَ

”Contoh:













2) bermakna

َْٖ٣ َأ

” Contoh:

اَنَٛ ِيَُ ٠ََّٗأ ٍَُْ ْوَٓ بَ٣

138

3) maknanya sama dengan “

٠َزَٓ

” Contoh:

َذْئِش ٠ََّٗأ ٢ِٗ ْهُى

(j) (

ًَْْ

) merupakan adat istifhâm yang maknanya menanyakan jumlah yang masih samar. Contoh

ُْْزْضِجَُ ًَْْ

(k) (

١َأ

)untuk menanyakan dengan mengkhususkan salah satu dari dua hal yang berserikat. Contoh

بًٓبَوَٓ ٌوْ٤َف ِْٖ٤َوْ٣ِوَلُْا ١َأ

Kata ini digunakan untuk menanyakan hal yang berkaitan denganwaktu, tempat, keadaan, jumlah, baik untuk yang berakal maupun yang tidak.

Dalam konteks berbahasa adat-adat

istifhâm seperti yang telah dijelaskan dimuka

terkadang mempunyai

makna yang berbeda dengan makna asalnya Penggunaan adat-adat istifhâm kadang digunakan bukan untuk tujuan bertanya, akan tetapi untuk maksud yang lainnya. Maksud-maksud penggunaan adat istifhâm yang menyimpang dari tujuan awalnya adalah sbb

1) Perintah

Penggunaan adat istifhâm dalam berbahasa kadang-kadang juga digunakan untuk maksud amr. Contoh:

139

ا َُْٜٞزْٗ ا ْ١َأ َٕ َُْٜٞزُْ٘ٓ ُْْزْٗ َأ َََْٜك

: حَلِئبَُْٔا (

11 )

Apakah kalian tidak mau berhenti?

(al-Mâidah:91

Kalimat tanya pada ayat di atas mestilah dimaknai perintah. Maksudnya adalah „Berhentilah!‟.

2) Nahyu (larangan)

Penggunaan adat istifhâm dalam praktek berbahasa kadang juga digunakan untuk tujuan

nahyu. Contoh,











: خثٞزُا( 46 )

Apakah kalian takut terhadap mereka? Padahal Allah lebih berhak

untuk ditakuti (at-Taubah:13)

Ungkapan istifhâm pada ayat di atas maknanya adalah larangan untuk menakuti mereka (orang-orang kafir)

3) Taswiyah (menyamakan antara dua hal)

Penggunakan adat istifhâm juga kadang untuk makna taswiyah Contoh:







140











: حووجُا ( 6 )

Sama saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan atau tidak. Mereka tidak akan beriman.(Q.S

al-Baqarah: 6)

Pada ayat di atas kalimat istifhâm bermakna taswiyah (menyamakan antara diberi peringatan atau tidak) mereka tetap tidak beriman.

4). Nafyu (kalimat negatif)

Kalimat negatif merupakan lawan dari kalimat positif, yaitu kalimat yang meniadakan hubungan antara subjek dan predikat, seperti berikut:















“Kami akan membacakan (Alquran) kepadamu (Muhammad), maka kamu tidak

akan lupa, kecuali kalau Allah menghendaki ”

Selain dengan menggunakan huruf nafiyah, makna manfy bisa juga terdapat pada

ungkapan istifhamiyah. Contoh firman Allah pada surah ar-Rahman 60

141











Tidaklah balasan untuk kebaikan itu melainkan dengan kebaikan

5) Inkâr (penolakan)

Ungkapan istifhâmiyah juga kadang mempunyai makna inkar atau penolakan. Contoh,

؟ َٕ ُْٞـْجَر ِالله َوْ٤َؿَأ

Bukankah Allah yang kamu cari?

6) Tasywîq (mendorong)

Ungkapan istifhamiyyah juga kadang mempunyai makna untuk mendorong

mukhâthab agar

melakukan pesan yang disampaikan

mutakallim. Contoh firman Allah dalam

Alquran,

















: ّقصُا ( 41 )

Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu perniagaan yang

142

dapat menyelamatkan kamu dari adab yang pedih. (Ash-Shaff :10)

Ungkapan istifhâmiyah pada ayat di atas berfungsi sebagai dorongan kepada mukhâthab agar menyimak pesan berikut yang akan disampaikannya.

7) Penguatan

Ungkapan istifhâmiyah kadang juga digunakan untuk penguatan suatu pertanyaan. Contoh,















Hari kiamat. Apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu, apakah hari

kiamat itu?

Pertanyaan yang berulang-ulang pada ayat di atas berfungsi untuk menguatkan.

1) Ta‟zhîm (mengagungkan)

Contoh ungkapan istifhâmiyah yang bermakna ta‟zhîm adalah firman Allah,















143

Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya?

9). Tahqîr (merendahkan)

Ungkapan istifhâmiyah bisa bermakna

tahqîr (merendahkan). Contoh,

؟ اًوْ٤ِضًَ َُٚز ْؽَلَٓ ِٟنُّا اَنَٛ َأ

Inikah orang yang kamu puja-puja itu?

10) Ta‟ajjub (mengagumi)

Ungkapan istifhâmiyah yang bermakna ta‟ajjub dapat kita lihat pada contoh berikut ini,

٢ِش َْْ٣َٝ َّبَؼَّطُا ًَُُ أَ٣ ٍٍَُِْٞوُا اَنَُِٜ بَٓ

ِماٍَْٞ لاا ٠ِك

؟

Tidaklah bagi rasul ini memakan makanan dan berjalan

di pasar-pasar?

11). Al-Wa‟îd (ancaman)

Ungkapan istifhâmiyah kadang juga bermakna ancaman seperti terlihat padafirman Allah berikut ini,















Tidakkah kamu melihat bagaimana perbuatan Tuhanmu

144

terhadap pasukan bergajah?

12). Tamannî (harapan yang tak mungkin terkabul)

Makna tamannî juga terdapat pada ungkapan istifhâmiyah Contohnya adalah firman Allah berikut ini,













: فاوػلاا (

52

)

Apakah kami mempunyai orang yang dapat memberi syafaat

agar mereka memberi syafaat kepada kami?

ILMU BAYÂN

TUJUAN

Setelah mengikuti proses pembelajaran peserta didik diharapkan dapat memahami 1)pengertian bayân; 2) peletak dasar ilmu bayân; 3) manfaat ilmu bayân; dan 4)bidang kajian ilmu bayân.

BAHASAN A. Pengertian Bayân

1) Al-Bayān Menurut Etimologi

Kata al-bayān (ٕب٤جُا) dalam semua bentuk isytiqāq (perubahan katanya) menunjukkan arti azh-zhuhūr

145

(هٜٞظُا), al-kasyf (قشٌُا) dan al-īdhāh (ػبع٣لإا) (menjelaskan atau menerangkan). Sebagaimana disebutkan pada beberapa surat dalam al-Qur‟an. Di antaranya adalah firman Allah swt.:















“… Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya

kepada manusia supaya mereka bertakwa. “ (QS.

al-Baqarah [2]: 187)















“… Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya

kepada kalian supaya kalian memikirkannya. “ (QS.

al-Baqarah [2]: 266)

 





“Allah hendak menerangkan (hukum syariat-Nya) kepada kalian….” (QS. an-Nisā‟ [4]: 26)

















146





“… Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad)

al-Qur‟an agar kamu menjelaskan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. “ (QS. an-Nahl [16]: 44)























Dalam dokumen Buku Pelajaran Balaghah (Halaman 126-146)