BAB III METODE PENELITIAN
C. Unit Analisis dan Penentuan Informan
Penelitian kualitatif, teknik sampling yang sering digunakan adalah purposive sampling, dan snowball sampling. Dalam penelitian ini, menggunakan teknik purposive sampling karena teknik pengambilan sampelnya didasarkan pada sumber data dengan pertimbangan tertentu.
Pertimbangan yang dimaksud adalah terkait dengan kemampuan guru berinteraksi dalam belajar mengajar dengan karakter yang dimiliki oleh
79
siswa sebagai bentuk penilaian. Dalam penelitian ini, masalah telah difokuskan pada satu situasi yaitu mengenai implikatur percakapan antara guru dan siswa dalan interaksi belajar-mengajar SD Islam Athirah II Makassar.
Terkait informan dalam penelitian ini adalah dua orang guru bidang studi, selaku guru yang sudah lama mengajar di sekolah tersebut (guru senior). Wali kelas, selain sebagai guru yang paling mengenal siswa dalam kelas tersebut juga sebagai guru pengampuh salah satu mata pelajaran. Peserta didik yang bertindak sebagai mitra tutur guru dalam proses belajar mengajar, yaitu berjumlah 3 orang dengan pengkategorian siswa yang aktif, tidak terlalu aktif dan siswa yang acuh merespon tuturan berimplikatur percakapan guru maupun peserta didik lain.
D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Data dalam penelitian kualitatif dikaji berdasarkan teknik catat lapangan dan teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan :
1. Observasi
Observasi digunakan untuk mengetahui secara langsung peristiwa percakapan dalam pembelajaran kelas V SD Islam Athirah II Makassar.
80
2. Simak dan Catat
Teknik ini digunakan untuk mencatat hal-hal yang tidak bisa direkam dengan alat perekam seperti konteks yang terjadi saat dialog berlangsung, serta menyajikan hasil rekaman dalam bentuk transkrip rekaman dialog.
3. Wawancara mendalam
Teknik ini digunakan untuk mewawancarai guru-guru bidang studi, wali kelas, dan siswa kelas V SD Islam Athirah II Makassar.
E. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara bersamaan dengan proses pengumpulan data, artinya proses analisis data menggunakan model analisis interaktif (interaktif model of analysis), adalah komponen analisis yang aktivitasnya dilakukan dengan interaksi antar komponennya maupun dengan proses pengumpulan data dalam bentuk proses (Sutopo, 2002:94). Adapun tahap tersebut:
1. Tahap pereduksian data, yaitu tahap untuk menyeleksi, memfokuskan, dan menyederhanakan data,
2. Tahap analisis dan deskripsi, yaitu data dianalisis dan dideskripsikan sesuai dengan masalah implikatur guru dan siswa dalam interaksi belajar mengajar.
3. Tahap penyajian data, yaitu tahap untuk menyusun data dengan baik dan benar sehingga memungkinkan kesimpulan dan tindak lanjut 4. Tahap penyimpulan yaitu melakukan interpretasi dan menyimpulkan
hasil penelitian.
81
F. Pengecekan Keabsahan Temuan
Cara yang paling umum digunakan untuk pengecekan keabsahan data atau verifikasi data adalah menggunakan teknik trianggulasi. Menurut Lexi J. Moleong (2000: 178) menyatakan bahwa trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data.
Dalam penelitian ini digunakan trianggulasi metode,trianggulasi teori dan trianggulasi sumber serta review informan.
1. Trianggulasi metode yaitu menekankan pada teknik pengumpulan data yang berbeda untuk mendapatkan data yang sejenis.
2. Trianggulasi teori yaitu menggunakan beberapa perspektif teori yang berbeda untuk membahasa permasalahan yang dikaji agar dapat menyimpulkan lebih tepat dan diterima kebenarannya.
3. Trianggulasi sumber yaitu data dari sumber secara tidak langsung dianggap mewakili populasi namun harus dibandingkan dengan sumber lain terlebih dahulu untuk pemeriksaan keabsahan data yang diambil.
4. Review informan yaitu untuk meneliti ulang data yang diperoleh dari informan sehingga meminimalisasi kesalahan atau ketertinggalan informasi dari wawancara sebelumnya.
82
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Karakteristik Objek Penelitian 1. Deskripsi Geografis
Berdasarkan hasil observasi, penulis dapat mengemukakan gambaran umum kondisi SD Islam Athirah II Makassar yang merupakan lokasi penelitian, sebagai berikut :
SD Islam Athirah II Makassar berada di satu-satunya kawasan perbukitan di kota Makassar menjadikan SD Islam Athirah II Makassar satu-satunya sekolah yang asri dan nyaman. Sekolah yang sudah mendapatkan 4 kali penghargaan Adiwiyata Nasional, yang diberikan langsung oleh Presiden RI. Gelar tersebut bukanlah hal yang mudah dengan berbagai seleksi dan persaingan yang ketat oleh sekolah-sekolah yang ada di seluruh Indonesia. Namun, sejak awal memang sekolah ini di desain dengan konsep Green School yang lebih dekat dengan alam.
Memfasilitasi peserta didik dengan menghadirkan hutan sekolah, kebun yang indah dengan berbagai jenis tanaman, Green House, Apotek Hidup, kolam ikan, taman bermain, fasilitas olah raga seperti lapangan futsal, lapangan basket, lapangan bulu tangkis,lapangan golf dan kolam renang.
Tempat pengomposan sampah organik dan sampah anorganik yang tentunya menjadi pembelajaran berharga bagi peserta didik.
83
2. Deskripsi Kelembagaan
Sejak tahun 1984, bangunan Sekolah Islam Athirah berdiri kokoh.
Mulai dari tingkat TK sampai SMA. Bangunan sekolah ini diresmikan tepat pada 24 April 1984 silam dan mulai beroperasi pada tahun pembelajaran 1985-1986. Sebidang tanah di jalan Kajaolaliddo nomor 22 Makassar yang tadinya diorientasikan untuk pendirian hotel, beralih untuk pendirian sekolah ini.Hingga sekarang menjadi sekolah Islam Athirah I.
Menilik sejarahnya, sekolah ini bermula dari keinginan kuat dari sosok Bapak Hadji Kalla dan istrinya, Ibu Hadjah Athirah untuk berperan aktif dalam memajukan pendidikan. Beliau peduli dan punya komitmen tinggi.
Implementasinya pun dihadirkan melalui group bisnisnya merintis sebuah yayasan. Namanya, Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan Islam Hadji Kalla sebagai program CSR pada 9 September 1981. Di bawah Yayasan itulah dibangun sekolah formal dengan nama Sekolah Islam Athirah, sekolah yang banyak dikenal hingga sekarang ini. Nama Athirah ini diambil dari nama sang istri dari Bapak Hadji Kalla. Athirah bermakna harum atau wangi. Penetapan nama ini tak hanya sekadar wujud kasih sayang beliau kepada istrinya, tetapi makna nama ini juga diharapkan mampu menjadi spirit bagi civitas akademika Sekolah Islam Athirah.
Harum dan wangi dalam prestasi dan attitude.
Kehadiran sekolah ini disambut baik oleh masyarakat. Terbukti, dengan presentasi siswa yang mendaftar sebagai civitas akademika Athirah yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Makanya, pengurus
84
yayasan pun melakukan beberapa ekspansi. Didirikanlah Sekolah Islam Athirah yang kedua pada tahun 1999 di daerah Bukit Baruga Makassar juga sebagai tempat penelitian penulis, di Bukit Baruga ini berdiri sekolah mulai dari unit TK sampai SMP dan pada tahun 2008 unit SMA pun telah beroperasi hingga sekarang. Lalu berikutnya menyusul unit TK di daerah Racing Centre.Ekspansi ke empat, sekolah islam Athirah pun memilih Kabupaten Bone sebagai area sekolah. Didirikanlah Sekolah Islam Athirah Boarding School, Bone di tahun 2011. Di Bone, sekolah Athirah punya ciri khas dan keunikan sistem. Tidak sama dengan sistem sekolah yang ada di Makassar, sekolah athirah di Bone ini pun pakai sistem Boarding School alias diasramakan.
Siswa/siswi yang direkrut dengan komposisi 30% dari latar belakang ekonomi keluarga mampu dan biaya mandiri sedangkan 70% dari latar belakang ekonomi keluarga kurang mampu, dengan beasiswa penuh dari yayasan. Konsep dasar Sekolah Islam Athirah adalah berciri Islam, berjiwa nasional, dan berwawasan global. Pada proses pembelajaran, sekolah ini berupaya membentuk keseimbangan kecerdasan emosional, intelektual, dan spiritual. Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum nasional, namun tetap pada ciri khas Athirah. Program-program yang dibuat memproses Sekolah Islam Athirah menjadi sekolah efektif dan sentral pembelajaran. Program unggulan antara lain, membaca Al-Qur’an dengan metode UMMI, menghafal Al-Qur’an dengan metode gerak, bilingual class, English and Arabic Camp, Parents Day, Market Day,
85
Carrier Day, Pekan Budaya Nasional/Internasional, Pentas Drama, Field Trip, Kelas Khusus Olimpiade. Prestasi-prestasi yang dibangun tidak hanya pada wilayah intrakurikuler, tetapi juga pada wilayah ekstrakurikuler. Baik pada tingkat regional, nasional, maupun internasional. Metode pembelajaran yang dikembangkan adaptif terhadap teknologi dan metode pembelajaran kekinian yang memerdekakan siswa dengan pendekatan active learning.
Penekanan khusus di SD Islam Athirah II Makassar adalah terbentuknya pembiasaan belajar untuk pembekalan melanjutkan ke jenjang SMP. Dalam hal ini, prosesnya membekali kemahiran siswa dalam menghitung dan keterampilan berbahasa (membaca, menulis, mendengar, berbicara). Di samping itu siswa jenjang SD sangat membutuhkan konsep dan pola kerja yang konkret untuk memaksimalkan tumbuhnya karakter siswa berbasis Al-Qur’an dan Al-Hadist. Out put minimal dapat menghafal dan mentadabburi Al-Qur’an sebanyak 3 juz (28, 29 dan 30).
Saat ini sekolah Islam Athirah dipimpin oleh ketua yayasan yaitu ibu Hj. Fatimah Kalla dan Direktur Drs. Edi Sutarto, M.Pd. Juga terdiri 3 Kepala Divisi dan dipimpin oleh Kepala Sekolah di masing-masing unit. Di SD Islam Athirah II Makassar, memiliki jumlah karyawan sebanyak 77 orang, terdiri dari Kepala Sekolah yaitu Drs. H.M. Zuhri Wail dan 3 Wakil Kepala Sekolah yaitu Wakasek Bidang ICT dan Sarana Prasarana Muh.Jafar, S.Kom , Wakasek Bidang Kesiswaan dan Keagamaan Muh.
86
Jusri, S.Sos.I, Wakasek Bidang Kurikulum dan SDM Taswil Mardi, S.Pd.
Tenaga pengajar sebanyak 56 orang, tata usaha sebanyak 3 orang, bujang sekolah 5 orang, Office Boy sebanyak 7 orang dan satpam sebanyak 2 orang. Jumlah keseluruhan siswa dari kelas I hingga kelas VI berjumlah 561 siswa.
B. Paparan Dimensi Penelitian
Implikatur percakapan merupakan implikasi pragmatik yang diperoleh secara tidak langsung dari makna kata. Makna yang terkandung dalam tuturan penutur lebih banyak daripada yang diungkapkan. Wujud impliktur percakapan dalam penelitian ini adalah prinsip kerjasama dan prinsip sopan-santun. Prinsip kerjasama yang dimaksud yaitu lebih menekankan penggunaan ujaran sesuai dengan tujuan percakapan yang telah disepakati atau sesuai arah percakapan yang diikuti sering dilanggar untuk mematuhi prinsip sopan-santun. Prinsip sopan-santun dalam hal ini yaitu berkomunikasi yang dipandang sebagai usaha untuk menghindari konflik antara penutur dan mitra tutur karena lebih bersifat sosial, estetis, dan moral dalam melakukan suatu percakapan.
Peneltian ini hanya menganalisis wujud implikatur percakapan pada prinsip kerjasama dan prinsip sopan-santun dalam interkasi belajar-mengajar. Hal ini sesuai dengan penanaman 9 nilai karakter dalam berperilaku di lingkungan SD Islam Athirah II Makassar.
87
Pilar Karakter tersebut adalah :
1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya
2. Tanggung jawab, Kedisiplinan, dan Kemandirian 3. Kejujuran/Amanah dan Diplomasi
4. Hormat dan Santun
5. Dermawan, Suka menolong dan Gotong-royong/Kerjasama 6. Percaya Diri, Kreatif, dan Pekerja keras
7. Kepemimpinan dan Keadilan 8. Baik dan Rendah Hati
9. Toleransi, Kedamaian, dan Persatuan
a. Implikatur Percakapan dalam Penerapan Prinsip Kerjasama 1) Maksim Kuantias
Maksim kuantitas dapat ditentukan melalui informasi yang diberikan tidak boleh kurang atau melebihi yang diinginkan mitra tutur (MT).
Wujud tuturan dapat dilihat pada data berikut : Konteks : Guru melakukan apersepsi
(a) Guru : Nanti ulangannya jam 9. Nah, sekarang naikkan dulu bukunya kita belajar tentang simbiosis.
Siswa : (mengeluarkan buku pelajaran)
(b) Guru : Oke, coba buka bukunya halaman 54. Ini sebentar saya bagi dalam 5 kelompok. (Sambil menunjuk
siswa) ini kelompok 1, kelompok 2, kelompok 3, kelompok 4, kelompok 5.
88
Siswa 1 : Kelompok 4 ini bu.
(c) Guru : Iya.
Siswa 2 : Hancur na kelompokna.
Konteks data di atas terjadi saat guru melakukan kegiatan apersepsi atau membuka kegiatan belajar sebelum masuk pada penjelasan materi ajar. Wujud tuturan yang terlihat pada saat guru memberi penjelasan tentang ulangan yang akan dilakukan jam 9, artinya ada batasan waktu yang mengikat sehingga guru bisa menyelesaikan materi sebelum jam ulangan tersebut. Siswa dalam hal ini sudah dapat memahami, meskipun guru tidak memberikan informasi yang berlebihan. Pada tuturan (b) terlihat guru memberi arahan tentang pembagian kelompok diskusi secara cepat tanpa adanya penjelasan atau informasi yang berlebihan kepada siswa. Wujud tuturan yang dibangun oleh guru dalam konteks di atas memberikan gambaran pemberian materi ajar kepada siswa dalam batasan waktu yang telah ditentukan sehingga tidak perlu adanya penjelsan informasi yang berlebihan kepada siswa selaku mitra tutur (mt).
Bentuk implikatur percakapan dalam penerapan maksim kuantitas juga dijumpai pada tuturan berikut :
(a) Guru : Rapikan tempat sepatunya. Kembalimi yang lain. Dua orang saja!
Siswa 1 : Hey dua orangji, bukan kau yang disuruh!
(b) Guru : Dua orang saja, yang lainnya kembali ke tempatnya. Naikkan
89
buku tulisnya ! Siapa suruh patah itu rak?
Siswa 2 : (Masih sibuk bolak balik merapikan sepatu di raknya).
Bukan saya! Tadi barusan saya taro!
Bentuk tuturan di atas terjadi sebelum guru memberikan materi pelajaran. Penerapan maksim kuantitas terdapat pada tuturan siswa (1), informasi yang di sampaikan guru sebagai penutur dan disesuaikan oleh siswa sebagai mitra tutur.
2) Maksim Kualitas
Maksim kualitas menuntut kesesuaian antara tuturan dan fakta sebenarnya yang didukung bukti-bukti saat tuturan tersebut diujarkan, wujud tuturannya dapat dilihat pada konteks data di atas (c).
Pembagian kelompok belajar secara cepat oleh guru, seperti pada tuturan : “Ini sebentar saya bagi dalam 5 kelompok” yang langsung dibuktikan dengan menunjuk siswa dalam beberapa kelompok.
Dampak dari apa yang disampaikan oleh guru, memberikan respon cepat kepada siswa seperti pada tuturan (c). Ujaran siswa mengambarkan adanya ketidakpuasaan terhadap hasil pilihan guru sehingga menimbulkan bentuk ujaran yang secara spontan, yaitu
“Hancur na kelompokna”.
Penerapan maksim kualitas juga terdapat pada tuturan (b) pada bagian ke dua maksim kuantitas di atas. Jawaban yang diberikan siswa menegaskan adanya usaha penyesuaian antara tuturan dan fakta saat tuturan diujarkan.
90
3) Maksim Hubungan
Maksim hubungan digunakan dalam menjalin kerjasama yang baik antara penutur dan mitra tutur dengan memberikan konstribusi tuturan yang relevan. Wujud tuturan dalam maksim tersebut dapat dilihat pada data berikut :
Konteks : Guru menjelaskan materi
(a) Guru : I need two more pieces of papers oww two... tidak ada yang mau kasi mam ? pelit sekali yah...(sambil tertawa) Siswa 1 : (berdiri sambil membawa selembar kertas kepada guru) (b) Guru : Ok now, I will throw this ball. Look at mam please. I throw
this ball and than you must take it. Membuat bola kertas. For example you.take this ball yeah. I will throw this ball.
(melempar bola ke arah siswa, lalu memberikan pertanyaan). And than I choose What must you do when you in hospital. Apa yang harus kamu lakukan di rumah sakit ketika kamu menjenguk seseorang?
Siswa 1 : ( tertawa )kasi buah
(c) Guru : (guru menghitung) five, four, three, two, one... ok. Bisa disebutkan?
Siswa 2 : Be quite.
(d) Guru : Yeah.. you must be quite. Good.
Siswa : (menjawab bersama-sama)
91
Konteks situasi data di atas terjadi pada saat guru memberikan materi pelajaran Bahasa Inggris. Guru menggunakan media pembelajaran yang unik yaitu bentuk bola kertas yang dilempar kepada siswa dan selanjutnya diberikan pertanyaan. Siswa yang terkena bola kertas wajib menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Wujud tuturan (a) memperlihatkan guru yang meminta kertas kepada siswa tanpa menunjuk kepada siswa yang dimaksud, sehingga siswa yang memaknai apa yang disampaikan gurunya, tiba-tiba berdiri dan memberikan kertas. Hal ini menggambarkan adanya hubungan kerjasama yang mulai dibangun oleh guru diawal pembelajaran.
Selanjutnya, pada tuturan (b) menggambarkan bentuk pertanyaan yang diberikan guru dengan mudah dipahami siswa, sehingga siswa merespon dengan tertawa. Hal ini menunjukkan adanya hubungan pertanyaan yang disampaikan oleh guru dengan kegiatan yang pernah dilakukan siswa, wujud tuturannya dapat dilihat pada jawaban yang diberikan secara bersamaan oleh siswa, seperti pada tuturan (c).
4) Maksim Cara
Maksim cara atau pelaksanaan yaitu mengharuskan penutur menggunakan tuturan secara jelas dan tidak mengaburkan.
Wujud tuturan pada maksim ini dapat dilihat pada data berikut : Konteks situasi : Guru membacakan soal cerita
a) Guru : Kegiatan ekonomi apa yang pernah kamu lakukan ? Siswa 1 dan 2 : konsumsi
92
b) Guru : Selain konsumsi? (sambil sesekali memberi gambaran kegiatan tersebut, agar lebih jelas)
Siswa 2 : Eh…produksi Siswa 3 : Distribusi
c) Guru : Ya, distribusi. Kemarin kan itu pembagian sembakokan salah satu paket distribusi toh?
Siswa : (tersenyum)
Konteks situasi di atas, mengambarkan bentuk pembelajaran dengan membacakan soal cerita dianggap efektif untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran sebelumnya.
Pada tuturan (a) sebelum memberikan pertanyaan, guru terlebih dahulu memberikan batasan tentang bentuk kegiatan ekonomi, sehingga pertanyaan yang disampaikan dapat dijawab dengan jelas berdasarkan batasan sebelumnya yang disampaikan oleh guru.
Demikian halnya dengan tuturan (b) bentuk pertanyaan yang diberikan guru ditambahkan memberikan gambaran kegiatan yang pernah dilakukan siswa, sehingga siswa dapat menjawab pertanyaan tersebut. Hasil jawaban yang berikan siswa kemudian diperjelas kembali oleh guru dengan memberi tambahan penjelasan seperti pada tuturan (c).
Selain kontes implikatur percakapan di atas, bentuk implikatur percakapan dalam penerapan maksim cara yang menekankan aspek
93
kajian berbicara singkat dan teratur, dapat dijumpai pada bentuk tuturan berikut :
Konteks : Guru melakukan apersepsi
(a) Guru : Sebelum pelajaran dimulai, mari kita membersihkan bangku! Semua posisi tangan di dalam laci cari sampah.
Siswa : (Semua siswa mencari sampah di laci dan membuang sampah pada tempatnya).
(b) Guru : Oke, yang sudah kosong, bangkunya dirapikan!
Siswa : Banyakna! (sambil keluar masuk membuang sampah yang banyak ditemukan di dalam laci bangku).
(c) Guru : Ya, kembali ke tempat lagi!
Siswa : (Masing-masing kembali ke bangku masing-masing).
(d) Guru : Oke, pagi ini bapak mau menyapa dulu. Apa kabarnya?
Siswa : Alhamdulillah luar biasa, tetap semangat, Allahuakbar!
(e) Guru : Athirah?
Siswa : Anggun, unggul, cerdas!
Konteks situasi percakapan di atas, menggambarkan kegiatan awal guru sebelum pelajaran dimulai. Bentuk tuturan guru (b) dapat direspon dengan cepat siswa walaupun guru tidak menjelaskan kembali seperti pada tuturan (a). Demikian halnya dengan tuturan (c) dan bentuk pertanyaan guru (e) yang sekaligus semboyan atau slogan SD Islam Atirah II Makassar. Jadi, guru cukup bebicara dengan
94
singkat, siswa sudah dapat merespon makna dari tututan yang di sampaikan.
b. Implikatur Percakapan dalam Penerapan Prinsip Sopan Santun Implikatur percakapan dalam penerapan prinsip sopan-santun pada penelitian ini dijabarkan sebagai berikut :
1) Implikatur Percakapan dalam Penerapan Maksim Kearifan
Konsep dasar kearifan atau kebijaksanaan yaitu berprinsip mengurangi kerugian dan memaksimalkan keuntungan orang lain.
Pemaksimalan keuntungan mitra tutur biasanya dilakukan dengan tuturan yang “diada-adakan” agar mitra tutur tidak sungkan dan penutur terhindar dari anggapan sikap marah, iri dan kurang sopan saat menginginkan mitra tutur melakukan sesuatu. Berikut wujud percakapan dalam penerapan maksim kearifan.
Konteks situasi : Guru Menjelaskan Materi
(a) Guru : Yang sudah sampai 10 orang, tentukan jumlah siswa yang berat badanya kurus, yang berat badanya ideal, kemudian yang berat badanya gemuk di kolom warna orange.
Siswa 2 : (datang menghampiri guru yang sedang memberi penjelsan pada siswa 1) ini hasilnya dilihat dari berat badannya atau tinggi badannya.
Guru : Makanya diperhatikan cakaranya nak.. (sambil terus memberikan penjelasan kepada siswa)
Siswa 2 : Ahhh...dipa’boteki ka’...( sambil berjalan )
95
(b) Siswa 3 : Kenapa ko.. kaya apa mi saja’ ! Siswa 2 : cocokmi tadi...
Konteks situasi di atas terjadi saat guru melanjutkan kembali materi pelajaran yang lalu, sementara masih ada beberapa orang siswa yang belum memahami materi tersebut sehingga guru memberikan penjelasan kapada siswa yang belum mengerti. Wujud peneran maksim kearifan dalam tuturan di atas terlihat pada adanya bentuk penjelasan kembali materi lalu meskipun hanya sebagian kecil siswa yang belum mengerti.
Hal ini sesuai dengan konsep dasar kearifan yang memaksimalkan keuntungan mitra tutur atau siswa, dapat dilihat pada tuturan (a).
Demikian halnya dengan tuturan (b), apa yang diutarakan oleh siswa selaku mitra tutur merupakan respon dari wujud penerapan maksim keraifan, walupun ujran siswa tersebut terkesan kurang santun.
2) Implikatur Percakapan dalam Penerapan Maksim Kedermawanan Maksim ini mengharapkan penutur dapat menghormati orang lain dan memaksimalkan kerugian diri sendiri. Penerapan maksim ini digunakan untuk mengarahkan mitra tutur yang melakukan hal yang tidak disukai penutur dengan menambahkan beban pada penutur.
Dalam penelitian ini, maksim kedermawanan dapat dijumpai dalam implikatur percakapan sebelumnya (c) pada maksim kearifan. Tuturan tersebut, merupakan hasil dari tuturan (b) dan sekaligus merupakan bentuk pelanggran maksim kedermawan yang menyebabkan munculnya ujaran dari siswa 3.
96
3) Implikatur Percakapan dalam Penerapan Maksim Pujian
Maksim ini bertujuan agar para partisipan tidak saling mengejek atau merendahkan orang lain sehingga sangat cocok untuk mitra tutur yang berkarekteristik pendiam tetapi sangat peka perasaanya. Dalam penerapannya, maksim ini berusaha memberikan penghargaan bagi mitra tutur. Penelitian ini juga menemukan tuturan mengandung implikatur percakapan dalam penerapan maksim pujian.
a) Guru : Bagaimana caranya, dengan apa ?
Siswa 1 : Dengan menghitung jumlah kubus satuannya...
b) Guru : Yang mana, kubus satuannya... yang mana ? Siswa 1: Yang dalam isi..
c) Guru : Sedikit lagi jawabannya mau mendekati..
Siswa : (berbisik-bisik)
d) Guru : Tadi sudah ada temannya yang menjawab...
Siswa : Menghitung jumlah satuannya bu.
Konteks situasi di atas menggambarkan guru yang memberikan pertanyaan tentang materi ajar, siswa terkesan takut dan ragu memberikan jawaban dari pertanyaan guru tersebut. Guru berusaha memberi gambaran atas pertanyaan yang diberikan agar siswa tidak ragu dalam mengeluarkan pendapatnya. Tuturan (a) menggambarkan wujud implikatur percakapan guru dan siswa dalam interkasi belajar-mengajar, sedangkan penerapan maksim pujian ada pada tuturan (d). Guru menggunakan tuturan (d) yang menjadikan contoh atau landasan bagi
97
siswa lain untuk mau mengeluarkan pendapatnya seperti yang dilakukan
siswa lain untuk mau mengeluarkan pendapatnya seperti yang dilakukan