BAB X.3 SPESIFIKASI TEKNIS KHUSUS
A.8. UNIT FLOKULATOR (PENGADUK LAMBAT) (1) Fungsi
Untuk membentuk flok-flok yang merupakan penggabungan partikel tidak stabil setelah proses pembubuhan dan pengadukan bahan koagulan pada proses koagulasi, sehingga terbentuk flok yang mudah mengendap
(2) Tipe
Tipe Unit Flokulator (pengaduk lambat) dapat berupa :
a. Tipe Hidrolis, berupa saluran bersekat (baffle channel) baik yang menggunakan aliran vertikal maupun horisontal, memanfaatkan energi yang terjadi akibat kehilangan tekanan pada saluran dan belokan.
b. Tipe Mekanis, dapat berupa impeller, turbin, paddle atau propeller, memanfaatkan energi yang berasal dari motor penggerak.
(3) Ukuran
a. Ukuran panjang, lebar atau diameter serta tinggi unit flokulator harus dihitung berdasarkan kriteria disain waktu detensi.
b. Bila menggunakan sistem sludge blanket dimana unit flokulasi dan unit sedimentasi menjadi satu kesatuan dalam satu bak, maka arah aliran dari down flow kemudian menjadi up flow.
(4) Kinerja
Untuk mendapatkan hasil flok yang baik, faktor yang sangat berpengaruh adalah : a. nilai gradien kecepatan sesuai dengan kriteria disain untuk mendapatkan
proses pencampuran yang optimal
b. waktu detensi untuk memberikan kesempatan yang cukup agar flok dapat bertemu.
c. proses pencampuran harus dilengkapi dengan efek gaya sentripetal melalui proses stiring (pemutaran).
(5) Bentuk
Bentuk unit flokulasi disesuaikan dengan teknologi IPA paket yang ditawarkan namun mampu menghasilkan kinerja sebagaimana ditetapkan.
(6) Pelengkap
a. Bak flokulator harus dilengkapi dengan saluran penguras yang memiliki katup pembuka dan penutup aliran.
b. Bak flokulator yang menggunakan sistem hidrolis harus dilengkapi dengan pintu atau valve yang dapat mengatur besarnya kehilangan tekanan yang diperlukan antar kompartemen (saluran) untuk mendapatkan nilai G yang sesuai dengan kebutuhan.
(7) Kriteria Disain
Kriteria disain unit flokulator meliputi :
a. Jumlah kompartemen pada unit flokulator dapat terdiri dari satu unit atau beberapa kompartemen.
b. Bila digunakan beberapa kompartemen, maka dapat menggunakan nilai gradien kecepatan (G), antara 20/detik – 100/detik, yang dibuat menurun dari nilai G yang besar menuju G yang lebih kecil.
c. Bila menggunakan satu kompartemen, maka nilai G yang diterapkan adalah minimum 60/detik,
d. Waktu detensi (td), antara 20 – 40 menit.
e. Perkalian antara nilai G dan td (Gtd), berkisar antara 104 - 105. A.9. UNIT SEDIMENTASI (PENGENDAP)
(1) Fungsi
Untuk mengendapkan flok yang sudah terbentuk pada unit flokulator sehingga mudah dibuang.
(2) Tipe
Aliran pada unit sedimentasi dapat berupa aliran vertikal atau horisontal.
Tipe pengendapan ada dua jenis, yaitu tipe konvensional dan kontak lumpur (sludge blanket).
a. Tipe konvensional, yaitu bak pengendap yang melakukan proses pengendapan terhadap flok yang terbentuk dari unit flokulator secara langsung.
b. Tipe selimut lumpur (Sludge Blanket/Solid Contact), adalah bak pengendap yang melakukan proses pengendapan terhadap flok yang terbentuk dari unit flokulator melalui lapisan selimut lumpur. Flok-flok yang kecil, yang tidak dapat diendapkan pada tipe konvensional, dapat digabungkan menjadi flok-flok yang lebih besar oleh selimut lumpur sehingga dapat diendapkan.
(3) Ukuran
a. Ukuran panjang, lebar atau diameter serta tinggi unit sedimentasi harus dihitung sesuai dengan kriteria disain.
b. Untuk bak pengendap dengan jenis aliran vertikal, perhitungan dimensi hanya berdasarkan kriteria disain beban permukaan (surface loading). Sedangkan untuk bak pengendap dengan jenis aliran horisontal, maka perhitungan dimensi berdasarkan kriteria disain beban permukaan (surface loading) dan waktu detensi (td).
(4) Kinerja
Untuk mendapatkan hasil sedimentasi yang optimum maka harus memperhatikan pada zona inlet yang dapat meratakan aliran masuk, zona out let yang dapat meratakan aliran keluar, zona pengendap yang dapat menghidari terjadinya aliran singkat (short circuit ) dan mampu melakukan proses pengendapan partikel dengan sempurna, dan zona lumpur yang dapat menampung jumlah lumpur yang terendapkan sesuai kebutuhan.
(5) Bentuk
a. Bak sedimentasi dapat dibuat dengan berbagai bentuk, seperti bulat, persegi, persegi panjang, dsb.
b. Bentuk dinding dapat berupa dinding dengan permukaan rata atau permukaan bergelombang (corrugated).
(6) Kelengkapan
a. Bangunan/bak sedimentasi harus terdiri dari 4 (empat) ruang (zona), yaitu : ruang inlet, ruang pengendapan, ruang outlet serta ruang lumpur.
b. Zona inlet disiapkan agar air yang masuk ke bak sedimentasi dapat dialirkan pada ruang pengendapan dengan kecepatan aliran air yang merata.
c. Zona pengendapan merupakan tempat proses pengendapan terjadi. Kapasitas/ukuran/dimensi ruang pengendapan ditentukan berdasarkan beban permukaan atau dengan perhitungan secara teknis yang dapat dipertanggung jawabkan mengacu pada kriteria teknis. Aliran pada ruang pengendapan diupayakan laminer sesuai kriteria disain
d. Zona oulet merupakan ruangan yang disiapkan untuk mengatur agar aliran air yang keluar dari bak sedimentasi tidak mengakibatkan gangguan pada aliran air pada ruang pengendapan, serta tidak mengakibatkan lumpur yang sudah terendapkan terangkat kembali.
e. Untuk menambah luas permukaan bak pengendap, maka dapat dilakukan dengan menambahkan plate setller atau tube settler, sehingga dapat memperkecil beban permukaan (surface loading).
f. Zona lumpur merupakan ruangan untuk menampung lumpur dari proses pengendapan flok pada zona pengendap. Zona lumpur dapat dihitung dengan ketentuan konsesntrasi lumpur 1% – 2 % dari volume air yang diolah dan volume yang tersedia mampu untuk menampung lumpur hasil pengoperasian selama 4 – 7 hari. Ruang lumpur dilengkapi dengan pipa penguras lumpur
g. Dasar bak dibuat miring, dengan kemiringan 2% - 3%.
h. Pipa penguras lumpur, dengan ukuran diameter minimal 6 inchi, atau dihitung dengan mempertimbangkan kapasitas instalasi dan ketinggian muka air di bak pengendap.
(7) Kriteria Disain
Kriteria disain unit sedimentasi meliputi :
a. Beban permukaan (Q/A) untuk bak pengendap konvensional dan bak pengendap kontak lumpur (sludge blanket) adalah seperti yang ditunjukan pada Tabel Kriteria Disain.
b. Untuk bak pengendap dengan jenis aliran horisontal harus memperhatikan waktu detensi (td) seperti yang ditunjukan pada Tabel.
c. Aliran air pada ruang pengendapan diupayakan tidak turbulen dengan bilangan Reynold (NRE) < 2000 dan laminer dengan bilangan Froude (NFD) > 10-5.
d. Jarak antar pelat atau diameter lubang tabung minimal adalah 2,5 cm, agar mudah dilakukan pembersihan.
e. Kemiringan plat atau tabung pengendap berkisar antara 450 - 600.
Tabel Kriteria Disain Unit Sedimentasi
No Uraian
A.10. UNIT FILTRASI (SARINGAN PASIR CEPAT)