(SAINS TAUHIDULLAH)*
Juhaya S. Praja.
A. Pendahuluan
Mengapa UIN? Kelahiran Universitas Islam Negeri (UIN) menjelang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 di Indonesia menandakan upaya para cendekiawan Muslim di negeri ini untuk menghilangkan dikhotomi ilmu: ilmu umum dan ilmu agama dan sekaligus mengintegrasikan dalam kesatu paduan. Dikhotomi ilmu ini sangat berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan sosial budaya masvarakat Indonesia. Pengaruh itupun nampak dalam perimbangan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagaimana juga berpengaruh pada alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk sekolah umum dan sekolah Agama.1 Hal ini mempunyai akibat lanjutan, antara lain, mutu lulusan sekolah agama dianggap kelas dua; terjadinya perbedaan sikap dan cara pandang masvarakat terhadap lulusan keclua instirusi pendidikan umum dan agama. Hal ini diikuti dengan kurangnya peluang-peluang untuk mendapatkan posisi dalam struktur birokrasi dan mengisi lapangan kerja bagi lulusan sekolah agama, tetapi kuat bagi lulusan sekolah umum.
Tulisan ini disarikan dari sejumlah tulisan penulis, yaitu: Filsafat dan Metodologi Ilmu dalam
UIN Malang, dalam Horizon Pendidian Islam, UIN-Press, Malang 2004; Rekonstruksi Paradigma Ilmu Dalam Islam, Orasi disampaikan dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Filsafat Hukum
Islam pada Fakultas Syariah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2000; Sains Tauhidullah, rnakalah disampaikan dalam rangka peringatan 70 Tahun Prof. Dr. Ir. Herman Soewardi, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Bandung, 2005
' JUHAYA S. PRAJA, Drs., MA., Dr., Prof., Dosen/Guru Besar Fakultas Syari'ah UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Beberapa tahun yang !alp, aloksi APBN untuk anggaran biaya untuk empat belas 1A1N di seluruh Indonesia hanya setara dengan anggaran biaya satu fakultas di universitas negeri
Kelahiran UIN juga diharapkan dapat menyelesaikan masalah Yang dihadapi sejumlah universitas Islam swasta yang telah terlebih dahulu berdiri. Universitas Islam swasta yang selama ini penulis amati belum menyentuh esensi scbuah universitas Islam, terutama dalam mengitegrasikan ilmu. Ada sejumlah universitas Islam tanpa fakultas ilmu agama, atau, fakultas ilmu agama baru dibuka beberapa tahun kemudian.2 Ada pula universitas Islam yang terlahir dan fakultasfakultas ilmu agama Islam, namun kemudian fakultas-fakultas ilmu Agama Islam nampaknya agak terpinggirkan.3 Ada pula universitas Islam dengan tidak menampakan identitas Islam, melainkan menggunakan simbul kedaerahan dengan mini mengembangkan budaya lokal dan memelihara nilai-nilai Islam.4 Berdasarkan kenvataan tersebut, maka UIN diharapkan menjadi universitas masa depan integrasi ilmu bagi kepentingan umat manusia. UIN akan menjadi model universitas Islam yang berdiri di atas landasan warisan sejarah peradaban Islam yang terbukti telah menjadi rahmat bagi seluruh alam. Oleh karena itu, tulisan ini membahas hal-hal utama sebagai berikut:
Pertama, kepeloporan kaum Muslimin dalam mengembangakan universitas sebagai pijakan sejarah; Kedua, mengembangkan ilmu secara universal tanpa dikhotomis ilmu agama ilmu umum sebagai integrator dan penghilang dikhotomi ilmu: agama dan umum; Ketiga, membangun ilmu berdasarkan paradigma-paradigma wahyu dan akal secara terpadu dan integral sehingga tidak tercabut dari akar kescjarahannya dari para pemikir Islam terdahulu; Keempat, membangun kesatupaduan antar disiplin ilmu; dan, membangun universitas berdasarkan atas teori-teori pendidikan Quranik dan kenyataan sejarah umat manusia.
B. Latar Sejarah
Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam mencapai masa keemasanya pada abad ke-13M. Peradaban yang tinggi itu telah memberikan api semangat yang menerangi Barat sehingga keluar dari
2 Contohnya Universitas Islam Nusantara (UNINUS) di Bandung
3 Contohnya Universitas Islam Bandung (UNISBA)
Contoh Universitas Pasundan (UNPAS) Bandung yang dalam satatutanya menyatakan berazaskan Islam dengan tujuan memelihara budaya Sunda dan Islam. Bagi masyarakat dan Paguyuban Pasundan, Sunda adalah identik dengan Islam.
Abad Kegelapannya menuju Abad Pencerahan. Akan tetapi, setelah Barat memasuki Abad Pencerahan, dunia Islam mengalami kemunduran dalam berbagai aspek kehidupan. Lembaga-lembaga pendidikan Islam baru mulai terbuka kembali ketika memasuki abad ke-19 yang hingga kini telah melewati lima pase perkembanganya. Pase pertama pendidikan Islam sama sekali tidak terpengaruhi oleh kebudayan Barat. Pase kedua, para pemimpin pembaharu dunia Islam, karena beberapa alasan yang berbeda-beda, membuka lembaga pendidikan yang berbau dan bergaya Barat. Pase ketiga, pendidikan Islam pada masa penjajahan berada di bawah subordinasi dan kepentingan penjajah. Pase keempat, Negara-negara yang barn memperoleh kemerdekaanya membuat unifikasi sistem pendidikan dan memperluas berbagai jenjang dan tingkat pendidikan. Pase kelima, tokohtokoh Islam menyerukan untuk "mengislamkan" pendidikan.5
Kelima pase perkembangan pendidikan ini bervariasi dan berbeda pelaksnaannya di dunia Islam, di antaranya ada yang telah terlebih dahulu maju dalam satu-dua pase. Kerajaan Usmani telah terlebih dahulu memasuki pase perkembangan pendidikan kedua pada tahun 1773 dengan membuka pendidikan angkatan lautnya; sementara Yaman Utara dan Saudi Arabia baru mulai pase yang sama pada tahun 1950-an. Pemerintah kolonial Belanda memulai pase ketiga sebelum tahun 1800, sementara itu pase yang sama di Siria dan Iraq baru terlaksana setelah Perang Dunia Pertama. Turki dan Irak meraih kemerdekaannya dalam pase keempat perkembangan pendidikan Islam, yakni tahun 1920-an. Sementara negara-negara Emirat dan Teluk belum memasuki pase keempat hingga Inggris meninggalkan negeri-negeri tersebut pada tahun 1971.6
Pase kelima perkembangan
pendidikan Islam merupakan tantangan bagi Islmisasi nilai-nilai Islam dalam dunia pendidikan. Pase ini terpicu oleh serangan Israel ke tanah Arab pada tahun 1967, membumbungnya harga minyak dunia yang diikuti perang 1973, dan berdirinya Republik Islam Iran tahun 1979. Semuanya mendorong revivalisme Islam secara internasional. Kita perlu mencatat, bahwa pendidikan Islam Indonesia yang paling awal berbasis pada pondok
5 Donald Malcolm Reid, Educational Institutions, h. 412
6 Ibid
pesantren. Setelah Indonesia merdeka, upaya memperbaharui sistem pendidikan terus dilakukan sehingga madrasah pun diperkenalkan ke dunia pondok pesantren, kemudian sekolah dan akhirnya perguruan tinggi. Mengingat sistem pendidikan sekolah dan perguruan tinggi itu mengacu pada sistem pendidikan Barat, tentu saja di sana sini diperlukan penyeseuaian-penyesuaian.
C. Kepeloporan Kaum Muslimin Dalam Mengembangkan Universitas
Kiranya tidaklah berlebihan jika Stanwood Cobb' menyatakan bahwa universitas pertama di dunia didirikan oleh kaum Muslimin pada abad kesembilan, pertama di Bagdad dan menyusul di Cairo, Fez, Cordoba dan di kota-kota Muslim lainya. Universitas Al-Azhar di Cairo adalah universitas tertua yang ada di dunia hinga dewasa ini. Universitas yang didirikan pada abad kesepuluh ini hingga kini mempertahankan tradisinya sebagai pusat kajian teologi Islam terkemuka di dunia. Universitas Cordova dan Toledo sangat masyhur di kalangan orang-orang Eropa, Para pangeran Krisdani seringkali merawat dirinva di rumah sakit-rumah sakit universitas Islam karena pada scat itu rumah sakit di Eropa tidak memenuhi keperluan mereka.
Sejak awal abad ketiga belas berbagai universitas tumbuh di scluruh Eropa: Bologna, Padua, Paris dan Oxford. Di universitasuniversitas tersebut, dan di universitas yang didirikan kemudian, orang-orang Kristen Eropa mempelajari untuk pertama kalinya mata pelajaran yang benar-benar sekuler, seperti astronomi, filsafat, dan ilmu kedokteran, dengan menggunakan buku-buku teks yang diciptakan oleh orang-orang Yunani kuno dan masa Helenis serta buku-buku teks yang diciptakan oleh orang-orang Muslim jenius.8 •
Stanwood Cobb lebih jauh
menyatakan bahwa kerajaan kaum Muslimin diciptakan dengan keinginan kerjasama dengan orang-orang Yunani, Persia, Coptis, Kristiani, Magisian, Sabean dan Yahudi. Akan tetapi, bantuan mereka bagi kaum Muslimin tidak dapat menjelaskan apa yang disebut mukjizat ilmu Arab (the miracle of Arabic science).
Stanwood Cobb, Islamic Contribution to Civilization, Avalon Press, Washington, DC., 1963, p. 57
8 Ibid., h. 58