• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.5.2. Unsur Hara Makro Primer

Nitrogen diserap tanaman dalam bentuk ion nitrat (NO3-) dan amonium (NH4+). Sebagian besar nitrogen diserap dalam bentuk ion nitrat tersebut karena ion tersebut bermuatan negatif sehingga selalu berada dalam larutan tanah dan mudah terserap oleh akar. Karena selalu dalam larutan tanah, ion nitrat lebih mudah tercuci oleh aliran air tanah. Sebaliknya, ion amonium bermuatan positif sehingga terikat oleh koloid tanah. Ion tersebut dapat dimanfaatkan oleh tanaman setelah melalui proses pertukaran kation. (Novizan, 2002)

Nilai Nitrogen biasanya mengalami perubahan secara fluktuatif. Secara keseluruhan kadar nitrogen pada kompos matang masing-masing komposter mengalami peningkatan. Semakin banyak kandungan nitrogen, maka akan semakin cepat bahan organik terurai, karena mikroorganisme yang menguraikan bahan kompos memerlukan nitrogen untuk perkembangannya. (Sriharti, 2008)

Tahap reaksi tersebut sebagai berikut:

1. Penguraian protein yang terdapat pada bahan organikmenjadi asam amino tahap ini disebut aminisasi

2. Perubahan asam-asam amino menjadi senyawa-senyawa ammonia (NH3) dan ammonium (NH4+). Tahap ini disebut ammonifikasi.

3. Perubahan senyawa ammonia menjadi nitrat yang disebabkan oleh bakteri Nirosomonas dan Nitrosococcus. Tahap ini disebut reaksi nitrifikasi. (Novizan, 2002)

2.5.2.2 Fosfor (P)

Fosfor diserap tanaman dalam bentuk H2PO4-, HPO42-, dan PO4- akan tergantung dari nilai pH tanah. Fosfor sebagian besar berasal dari pelapukan batuan mineral alami, sisanya dari pelapukan bahan organik.

Walaupun sumber fosfor dalam tanah mineral cukup banyak tanaman bisa mengalami kekurangan fosfor. Pasalnya sebagian besar fosfor terikat secara kimia oleh unsur lain sehingga menjadi senyawa yang sukar larut dalam air. Mungkin hanya 1% fosfor yang dapat dimanfaatkan tanaman.(Agustina, 1990)

Jika terjadi kekurangan fosfor tanaman menunjukkan gejala pertumbuhan sebagai berikut:

1. Pertumbuhannya lambat dan kecil 2. Perkembangan akar terhambat

3. Gejala pada daun sangat beragam, beberapa tanaman menunjukkan warna hijau tua mengilap yang tidak normal

6. Biji berkembang tidak normal (Agustina, 1990)

2.5.2.3 Kalium (K)

Seperti unsur hara makro lainnya, kalium bukanlah komponen dari protein, karbohidrat atau beberapa subtabsi lainnya di dalam tumbuhan. Kalium dengan mudah diserap oleh akar tanaman. Dan sebagian besar ion kalium (K+) disimpan dalam sel tumbuh-tumbuhan. (Simspon, 1986)

Ion-ion didalam air tanah dan ion-ion K+ yang diadsorbsi, dapat langsung diserap. Disamping itu tanah mengandung juga persediaan mineral tertentu dalam bentuk berbagai macam silikat, dimana kalium membebaskan diri sebagai akibat dari pengaruh iklim. (Rinsema, 1993)

Persediaan kalium dalam tanah dapat berkurang karena tiga hal, yaitu pengambilan kalium oleh tanaman, pencucian kalium ole air dan erosi tanah. Biasanya tanaman menyerap kalium lebih banyak dari pada unsur lain kecuali nitrogen. (Agustina, 1990).

2.5.3 Kegunaan Unsur Hara Makro Primer 2.5.3.1 Kegunaan unsur hara nitrogen

1. Meningkatkan pertumbuhan tanaman

2. Meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman

3. Meningkatkan perkembangan mikroorganisme di dalam tanah yang penting bagi proses pelapukan bahan organik

4. Diperlukan untuk pertumbuhan dan pembentukan vegetatif seperti daun, batang dan akar.

(Foth, 1994)

2.5.3.2 Kegunaan unsur hara fosfor

1. Berperan penting didalam transfer energi di dala sel tanaman, misalnya ADP da ATP.

3. Berpengaruh pada struktur K+,Ca2+,Mg2+,dan Mn2+ terutama terhadap fungsi unsur-unsur tersebut yang mempuyai kontribusi terhadap stabilitas struktur dan konfirmasi makromolekul, misalnya : gula fosfat, nukleotida, dan koenzim.

(Agustina, 1990)

2.5.3.3 Kegunaan unsur hara kalium

1. Mengurangi kepekaan tanaman terhadap kekeringan dan membantu pengisapan air oleh akar tanaman, dan mencegah menguapnya air keluar dari tanaman.

2. Memperbaiki beberapa sifat kualitatif seperti rasa, warna, bau, dan daya tahan dari buah.

3. Membantu menguatkan rumpun pada tanaman gandum. (Rinsema, 1993)

2.6 Metode Kjeldahl

Metode kjeldahl dikembangkan pada tahun 1883 oleh pembuat bir bernama Johan Kjedahl. Cara kjeldhal umumnya dapat dibedakan atas 2 cara yaitu : cara makro dan cara semimikro. Cara makro dipergunakan untuk contoh yang sukar dihomogenasi dan berukuran besar. Sedangkan cara semimikro, dirancang untuk sampel yang berukuran kecil yaitu kurang dari 300 mg dari bahan yang homogen (Mardiana, 2012). Berikut gambar 3. yang menjelaskan susunan alat dari metode kjeldhal.

Gambar 3. Susunan alat kjeldahl (Sumber: http://www.escience.ca/GFX/PRODS/382N400.jpg)

Metode kjeldahl didasarkan pada destruksi sampel yakni dengan memanaskan sampel dengan asam sulfat pekat menggunakan katalis dimana penentuannya terbagi atas 3 tahapan yaitu :

1. Tahap destruksi

Pada tahap ini sampel dipanaskan dengan asam sulfat pekat sehingga terjadi destruksi menjadi unsur-unsurnya. Element karbon, hidrogen peroksida teroksidasi menjadi CO, CO2 dan H2O, sedangkan nitrogennya berubah menjadi ammonium sulfat. Proses destruksi selesai apabila larutan menjadi jernih atau tidak berwarna. Agar analisa lebih tepat dilakukan perlakuan blanko.

2. Tahap destilasi

Pada tahap ini ammonium sulfat dipecah menjadi ammonia dengan penambahan NaOH sampai alkalis lalu dipanaskan. Ammonia yang dibebaskan selanjutnya akan ditangkap oleh larutan standar asam. Asam standart yang digunakan adalah asam klorida atau asam borat dalam jumlah yang berlebih.

3. Tahap titrasi

Banyakya asam borat yang bereaksi dengan amonia dapat diketahui dengan titrasi menggunakan asam klorida 0,1 M dengan indikator fenolftalein. Akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna larutan dari biru menjadi merah muda. (Mardiana, 2012)

% N = (��−��)������ 14,008

�������� 1000 � 100%

Reaksi yang terjadi dalam proses analisis kadar protein adalah sebagai berikut :

Protein + H2SO4 destruksi (NH4)2SO4 + SO4 + CO2 (NH4)2SO4 + 2NaOH destilasi 2NH4OH + Na2SO4

NH4OH NH3 + H2O

NH3 + 2HCl NH4Cl + HCl(sisa)

2.7 Metode Spektrofotometer UV-Visible

Spektrofotometer adalah alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorbsi. (Khopkar, 2007)

Sejumlah metode telah ditemukan untuk pengukuran kadar protein berdasarkan spektroskopi UV-Visible.Spektrofotometer UV-Visible melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga sering digunakan untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif. (Mulja, 1990).

Komponen-komponen yang pokok dari spektrofotometer UV-Visible adalah sebagai berikut :

1. Sumber tenaga radiasi

Sumber tenaga radiasi terdiri dari benda yang tereksitasi hingga ke tingkat energi yang lebih tinggi oleh sumber listrik berenergi tinggi atau oleh pemanasan listrik. Benda atau materi yang kembali ke tingkat energi rendah atau ke tingkat dasarnya, melepaskan foton dengan energi-energi yang karakteristik yang sesuai dengan delta E, yaitu perbedaan energi antara tingkat tereksitasi dan dasar rendah.

2. Monokromator

Dalam spektrometer, radiasi yang polikromatik harus diubah menjadi radiasi monokromatik. Ada dua jenis alat yang digunakan untuk mengurai radiasi polikromatik menjadi monokromatik yaitu penyaring dan monokromator. Monokromator merupakan serangkaian alat optik menguraikan radiasi polikromatik menjadi jalur-jalur yang efektif atau panjang gelombang-gelombang tunggalnya dan memisahkan gelombang-gelombang tersebut menjadi jalur-jalur yang sempit.

3. Tempat cuplikan

Cuplikan yang akan dipelajari di daerah ultraviolet atau terlihat yang biasanya berupa gas atau larutan ditempatkan dalam sel atau kuvet.

Untuk daerah ultraviolet biasanya digunakan Quartz atau sel silica yang dilebur, sedangkan untuk daerah terlihat digunakan gelas biasa.

4. Detektor

Setiap detektor menyerap tenaga foton yang mengenainya dan mengubah tenaga tersebut untuk dapat diukur secara kuantitatif seperti sebagai arus listrik atau perubahan-perubahan panas. Kebanyakan detektor menghasilkan sinyal listrik yang dapat menghasilkan sinyal yang secara kuantitatif berkaitan dengan tenaga cahaya yang mengenainya.

(Sastrohamidjojo, 1985)

2.8 Spektrofotometer Serapan Atom

Metode SSA pertama kali dikembangkan oleh Walsh, Alkamede dan Melatz 1995 yang ditujukan untuk analisis logam renik dalam sampel yang dianalisis. Sampai saat ini metode SSA telah berkembang dengan pesat dan hampir mencapai sejumlah 70 unsur yang dapat ditentukan dengan metode ini. (Mulja, 1990)

Metode ini harus dalam keadaan gas (dalam keadaan dasar) berdasarkan serapan sinar yang mempunyai jarak gelombang tertentu. Jika suatu larutan mengandung suatu garam logam (suatu senyawa logam) dihembuskan kedalam suatu nyala (misalnya asetilena yang terbakar di udara) dapat terbentuk uap yang mengandung atom-atom logam itu. Beberapa atom logam dalam gas ini dapat dieksitasi ketingkat energi yang cukup tinggi untuk memungkinkan pemencaran yang karakteristik dari logam tersebut. Atom-atom dalam keadaan dasar ini mampu menyerap energi cahaya yang panjang gelombang resonansinya khas untuknya, yang pada umumnya adalah panjang gelombang radiasi yang akan dipancarkan atom-atom itu apabila tereksitasi dari keadaan dasar.

Jadi jika cahaya dengan panjang gelombang resonansi itu dilewatkan nyala yang mengandung atom yang bersangkutan maka sebagian cahaya itu akan diserap dan jauhnya penyerapan berbanding lurus dengan banyaknya atom keadaan dasar yang berbeda dalam nyala. (Vogel, 1994)

Komponen-komponen pokok dari alat SSA adalah :

1. Sumber cahaya

Sumber sinar yang lazim dipakai adalah lampu katoda berongga. Lampu ini terdiri dari atas tabung kaca tertutup yang mengandung suatu katoda dan anoda. (Rohman, 2007)

2. Recorder

Sistem pencatat yang digunakan pada instrument SSA berfungsi untuk mengubah sinyal yang diterima melalui bentuk digital. (Haswell, 1991) 3. Monokromator

Monokromator terletak diantara nayala dan detektor. Monokromator memisahkan, mengisolasi, dan mengontrol intensitas dari radiasi energi yang mencapai detektor. (Haswell, 1991)

4. Tempat sampel

Dalam analisis, sampel yang akan dianalisis harus diuraikan menjadi atom-atom yang masih dalam keadaan atas. Ada beberapa macam alat yang dapat digunakan untuk mengubah suatu sampel menjadi uap atom-atom yaitu:

a. Nyala (Flame)

Nyala digunakan untuk mengubah sampel yang berubah padatan atau cairan menjadi bentuk uap atomnya, dan juga berfungsi untuk atomisasi.

b. Tanpa Nyala (Flameless)

Pengatoman dapat dilakukan dalam tungku dari garfit, kemudian tabung tersebut dipanaskan dengan system elektris dengan cara melewatkan arus listrik grafit. (Rohman, 2007)

5. Detektor

Detektor pada SSA berfungsi mengubah intensitas radiasi yang akan datang menjadi arus listrik. pada SSA yang umum dipakai sebagai detektor adalah tabung penggandaan foton (PPMT=Photo Multiplier Tube). (Mulja, 1991)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pisang adalah nama umum yang diberikan pada tumbuhan yang berdaun besar memanjang dari suku Musaceae. Buah pisang ini juga sebagai bahan pangan yang merupakan sumber energi (karbohidrat yaitu sebanyak 22,84/100 g) dan mineral seperti Fospor sebanyak 63/100 g, dan kalium, vitamin, kalsium dan kandungan lemak yang cukup. (Sumber : USDA Nutrient data base, 2007)

Pisang kepok (Musa acuminate L.) adalah salah satu jenis pisang yang diolah menjadi pisang molen yang banyak dijumpai di kota Medan. Pisang molen yang dihasilkan dari pisang kepok (Musa acuminate L.) ini diolah melalui tahapan pengupasan kulit. Dari hasil pengamatan, menunjukkan setiap harinya menghabiskan sekitar 20 unit, dengan produksinya bervariasi mulai dari 500 kg sampai 2 ton bahan baku per proses. Kulit pisang kepok (Musa acuminate L.) ini masih dapat dimanfaatkan menghasilkan produk-produk yang berguna dan memberi nilai ekonomi yang cukup tinggi, seperti penghasil pectin, keripik, bahan baku kue, dan sebagai bahan baku pembuatan pupuk kompos.(Sriharti, 2008)

Kompos merupakan bahan organik, seperti daun-daunan serta kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi oleh mikrobakteri pengurai. Di lingkungan alam terbuka, proses pengomposan bisa terjadi dengan sendirinya. Lewat proses alami daun-daunan dan kotoran hewan serta sampah lainnya lama kelamaan membusuk karena ada kerja sama antara mikroorganisme dengan cuaca. Proses tersebut bisa dipercepat oleh perlakuan manusia, yaitu dengan menambahakan mikroorganisme pengurai seperti EM-4 sehingga dalam waktu singkat akan diperoleh kompos yang berkualitas baik. (Setyorini, 2006)

Tanaman sawi (Brassica juncea L.) merupakan salah satu komoditas hortikultural sayuran daun yang banyak digemari oleh masyarakat karena rasanya

enak, mudah didapat dan budidayanya tidak terlalu sulit. Tanaman sawi banyak mengandung vitamin dan gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Dalam setiap 100 gram bobot sawi segar mengandung 2,3 g protein; 0,3 g lemak; 4,0 g karbohidrat; 220 mg Ca; 38 mg P; 6,4 g vitamin A; 0,09 mg vitamin B; 102 mg vitamin C; serta 92 g air. (Direktorat Tanaman Sayuran dan Tanaman Hias, 2012)

Caisim atau sawi bakso merupakan jenis sawi yang paling banyak dijajakan di pasar-pasar. Tangkai daun yang panjang langsing berwarna putih kehijauan. Daunnya lebar memanjang tipis dan berwarna hijau. Mempunyai rasa yang renyah, segar dengan sedikit sekali rasa pahit. Selain ditumis atau dioseng banyak dibutuhkan oleh pedagang mie dan restoran makanan Cina sehingga permintaannya akan sawi cukup tinggi. Budidaya tanaman sawi (Brassica juncea L.) secara organik juga memliki nilai ekonomi yang cukup tinggi untuk dikomersilkan di pasaran oleh petani. Hal ini dapat dilihat dari harga tanaman organik sekitar Rp.5.000,/kg sampai dengan Rp.8.500,/kg. Sehingga hal tersebut dapat diketahui banyaknya manfaat dari budidaya tanaman sawi (Brassica juncea L.) secara organik. (Haryanto, 2003)

Dari uraian diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadapkulit pisang kepok (Musa acuminate L.)dengan tujuan pengolahan kulit pisang kepok (Musa acuminate L.) sebagai bahan baku pembuatan kompos yang bermanfaat bagi masyarakat petani dengan penambahan aktivator EM-4, khususnya petani tanaman sawi (Brassica juncea L.) yang sangat dibutuhkan masyarakat. Dengan budidaya tanaman sawi (Brassica juncea L.) yang menggunakan pupuk kompos pisang kepok (Musa acuminate L.) ini diharapkan akan memperbaiki kondisi fisik, biologi dan kimiawi tanah. (Sriharti, 2008)

Dengan demikian penelitian ini diharapkan dapat memperoleh informasi tentang pembuatan pupuk kompos dari kulit pisang kepok (Musa acuminate L.) yang dapat meningkatkan unsur hara bagi tanaman, khususnya tanaman sawi (Brassica juncea L.) yang dibutuhkan masyarakat luas.

1.2 Permasalahan

Sesuai uraian diatas, yang menjadi permasalahan adalah:

1. Apakah kulit pisang kepok (Musa acuminate L.) dapat digunakan dalam pembuatan pupuk kompos

2. Apakah pengaruh pupuk kompos terhadap tanaman sawi (Brassica juncea L.)

1.3 Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini permasalahan dibatasi sebagai berikut :

1. Perolehan sampel dibatasi hanya pada kulit pisang kepok (Musa acuminate L.)

2. Penelitian ini hanya menentukan kadar N, P, dan K dalam kulit pisang kepok (Musa acuminate L.) berdasarkan lamanya waktu fermentasi dengan penambahan aktivator EM-4.

3. Waktu fermentasi sampel dibatasi hanya pada 7 hari dengan pengambilan sampel dilakukan pada fermentasi hari ke-0, ke-1, ke-3, ke-5, dan ke-7. 4. Suhu penyimpanan fermentasi sampel dibatasi antara 40-550C.

5. Kadar Nitrogen ditentukan dengan menggunakan metode kjeldahl.

6. Kadar Fospor ditentukan dengan menggunakan metode spektrofotometer UV-Visible.

7. Kadar Kalium ditentukan dengan metode Spektroskopi Serapan Atom (SSA).

8. Pengujian terbatas pada tanaman sawi (Brassica junce L.)

1.4 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pembuatan pupuk kompos dari kulit pisang kepok (Musa acuminate L.).

2. Untuk mengetahui pengaruh kompos terhadap tanaman sawi (Brassica juncea L.)

1.5 Manfaat Penelitian

1. Memberikan informasi tentang kadar N, P, dan K didalam kulit pisang kepok (Musa acuminate L.) dengan penambahan EM-4 sehingga memungkinkan sebagai pupuk tanaman.

2. Memberikan informasi tentang respon tanaman sawi (Brassica juncea L.) ketika diberikan pupuk kompos kulit pisang kepok (Musa acuminate L.)

1.6 Metodologi Penelitian

Penelitian ini merupakan eksperimen yang dilakukan dilaboratorium.Sampelberupa kulit pisang kepok (Musa acuminate L. Proses fermentasinya dilakukan dengan preparasi sampel yaitu dengan mencampurkan sampel sebanyak 1,0 kg dengan aktivator EM-4.

Dalam penelitian ini digunakan 3 variabel yaitu :

1. Variable tetap Berat sampel EM-4

2. Variable bebas

Waktu fermentasi sampel 3. Variable terikat

Kadar nitrogen Kadar fosfor Kadar kalium

1.7 Lokasi penelitian

Pelitian dilakukan di laboratorium Biokimia FMIPA USU dan di Badan Riset Standarisasi Nasional (BARISTAND) Medan.

PENGARUH PUPUK KOMPOS DARI KULIT PISANG KEPOK

(Musa acuminate L.) TERHADAP PERTUMBUHAN

TANAMAN SAWI (Brassica juncea L.)

ABSTRAK

Telah dilakukan penentuan kadar nitrogen, fosfor, dan kalium yang terkandungdidalam kulit pisang kepok (Musa acuminate L.) dengan pengaruh waktu fermentasi kulit pisang kepok terhadap kadar N,P dan K. Kadar Nitrogen ditentukan dengan metode kjeldhal. Kadar Fosfor ditentukan dengan spektoskopi UV-Visible pada panjang gelombang 400 nm. Kadar Kalium ditentukan dengan metode spektrofotometer serapan atom.Dari hasil penelitian ini diperoleh kadar nitrogen adalah 0,336 mg/L, kadar fosfor adalah 0,29 mg/L, dan kadar kalium adalah 0,22 mg/L, masing-masing pada hari ke-7.

Dari hasil penelitian juga diperoleh pengaruh dari pupuk kompos kulit pisang kepok (Musa acuminate L.) pada pertumbuhan tanaman, baik dari tinggi tanaman yaitu sekitar 20-25 cm, lebar daun yaitu sekitar 5-10 cm dan jumlah helai daun yaitu sekitar 5-8 helai daun.

Kata kunci : Kulit pisang kepok, Sawi, Kjeldhal, SSA, Spektrofotometer UV-Vis dan Kadar NPK.

COMPOST GIVING EFFECT OF SKIN KEPOK BANANA (Musa

acuminate L.) ON PLANT GROW MUSTARD (Brassica juncea L.)

ABSTRACT

The contents of nitrogen, phosphor and pottasium contents in banana skin kepok (Musa acuminate L.) has been determined. The percentage of nitrogen was determined by kjeldhal method. Phosphor percentage was dtermined by UV-Visible spectrophotometer at 400 nm wavelength. Pottasium was determined by Atomic Absorption Spectrophotometer.The result analysis in banana skin kepok (Musa acuminate L.) of nitrogen percentage is 0,336 mg/L, phosphor percentage is 0,29 mg/L, and pottasium percentage is 0,22 mg/L, in 7th days.

From the research results were also obtained the effect of compost banana peels kepok (Musa acuminate L.) on the growth of plants, bouth plant height is about 20-25 cm, width of leaves are about 5-10 cm, and the number of leaves about 5-8 leaves.

Keywords : Kepok babnana peel, Mustard, Kjeldhal , AAS, UV-Vis spectrophotometer and The levels of NPK.

PENGARUH PUPUK KOMPOS DARI KULIT PISANG KEPOK

(Musa acuminate L.) TERHADAP PERTUMBUHAN

TANAMAN SAWI (Brassica juncea L.)

SKRIPSI

SOPIAH NUR TANJUNG

100802017

DEPARTEMEN KIMIAFAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

PENGARUH PUPUK KOMPOS DARI KULIT PISANG KEPOK

(Musa acuminate L.) TERHADAP PERTUMBUHAN

TANAMAN SAWI (Brassica juncea L.)

SKRIPSI

SOPIAH NUR TANJUNG

100802017

DEPARTEMEN KIMIAFAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU

PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN2016

PERSETUJUAN Disetujui di: Medan, 2016 : Disetujui di Medan, November 2016 Komisi pembimbing : Pembimbing 2 Pembimbing 1

Dra. Nurhaida Pasaribu M.Si Dr. Rumondang Bulan .

M.SNIP. 1957011987012001

NIP.195408301985032001

Diketahui/Disetujui olehDepartemen Kimia FMIPA USU Ketua

Dr. Rumondang Bulan . M.SNIP.195408301985032001

Judul:PengaruhPupuk Kompos dari Kulit PisangKepok (Musa acuminate L.) Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi

(Brassica junce L.) Kategori :Skripsi

Nama :Sopiah Nur Tanjung Nomor Induk Mahasiswa:100802017

Program Studi : Sarjana (S1) Kimia Departemen : Kimia

Fakultas :Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN

PENGARUH PUPUK KOMPOS DARI KULIT PISANG KEPOK (Musa

acuminate L.) TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMANSAWI

(Brassica junce L.)

SKRIPSI

Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.

Medan, November 2016

SOPIAH NUR TANJUNG

PENGHARGAAN

Tidak ada ungkapan kata yang paling baik, kecuali mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pedidikan sarjana sains di FMIPA USU dengan judul “PENGARUH PUPUK KOMPOS DARI KULIT PISANG KEPOK (Musa acuminate L.) TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI (Brassica junce L.)”.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ibunda tercinta Hapsah Lubis dan kepada abang penulis Darwin dan kakak penulis Yuningsih yang senantiasa memberikan dukungan moril dan materi, serta kepada Putri, Ira, Dani dan Wahyu

Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini kepada:

1. Ibu Dr.Rumondang Bulan M.S selaku Dosen Pembimbing I dan ketua departemen Kimia FMIPA USU. Ibu Dra.Nurhaida Pasaribu M.Si selaku Dosen Pembimbing II.

2. Bapak Drs. Albert Pasaribu M.Sc selaku sekretaris departemen Kimia FMIPA USU, serta Dr. Minto Supeno M.S selaku dosan PA penulis dan kepada semua staff dosen Departemen Kimia FMIPA USU.

3. Dr. Ir. Dahri Tanjung dan istrinya beserta keluarga besar.

4. Sahabat-sahabat penulis : kak Chyntia, kak Dewi, Nofemi, Mahmuda, Iis, Nirmala, Cayaha, Dina, Fitria, Zia.

5. Adik-adik stambuk 2011,2012,2013,2014 dan 2015.

Memang tidak ada yang memiliki sifat kesempurnaan selain Allah Azza wa Jalla. Sesungguhnya penulis menyadari setiap penulis menulis skripsi dan mengerjakannya penelitian merasa belum secara optimal dan maksimal. Akhirnya, segala puji bagi Allah, Rabb yang menguasai alam semesta.

PENGARUH PUPUK KOMPOS DARI KULIT PISANG KEPOK

(Musa acuminate L.) TERHADAP PERTUMBUHAN

TANAMAN SAWI (Brassica juncea L.)

ABSTRAK

Telah dilakukan penentuan kadar nitrogen, fosfor, dan kalium yang terkandungdidalam kulit pisang kepok (Musa acuminate L.) dengan pengaruh waktu fermentasi kulit pisang kepok terhadap kadar N,P dan K. Kadar Nitrogen ditentukan dengan metode kjeldhal. Kadar Fosfor ditentukan dengan spektoskopi UV-Visible pada panjang gelombang 400 nm. Kadar Kalium ditentukan dengan metode spektrofotometer serapan atom.Dari hasil penelitian ini diperoleh kadar nitrogen adalah 0,336 mg/L, kadar fosfor adalah 0,29 mg/L, dan kadar kalium adalah 0,22 mg/L, masing-masing pada hari ke-7.

Dari hasil penelitian juga diperoleh pengaruh dari pupuk kompos kulit pisang kepok (Musa acuminate L.) pada pertumbuhan tanaman, baik dari tinggi tanaman yaitu sekitar 20-25 cm, lebar daun yaitu sekitar 5-10 cm dan jumlah helai daun yaitu sekitar 5-8 helai daun.

Kata kunci : Kulit pisang kepok, Sawi, Kjeldhal, SSA, Spektrofotometer UV-Vis dan Kadar NPK.

COMPOST GIVING EFFECT OF SKIN KEPOK BANANA (Musa

acuminate L.) ON PLANT GROW MUSTARD (Brassica juncea L.)

ABSTRACT

The contents of nitrogen, phosphor and pottasium contents in banana skin kepok (Musa acuminate L.) has been determined. The percentage of nitrogen was determined by kjeldhal method. Phosphor percentage was dtermined by UV-Visible spectrophotometer at 400 nm wavelength. Pottasium was determined by Atomic Absorption Spectrophotometer.The result analysis in banana skin kepok (Musa acuminate L.) of nitrogen percentage is 0,336 mg/L, phosphor percentage is 0,29 mg/L, and pottasium percentage is 0,22 mg/L, in 7th days.

From the research results were also obtained the effect of compost banana peels kepok (Musa acuminate L.) on the growth of plants, bouth plant height is about 20-25 cm, width of leaves are about 5-10 cm, and the number of leaves about 5-8 leaves.

Keywords : Kepok babnana peel, Mustard, Kjeldhal , AAS, UV-Vis spectrophotometer and The levels of NPK.

DAFTAR ISIS Halaman Persetujuan ii Pernyataan iii Penghargaan iv Abstrak v Abstrack vi

Daftar Isi vii

Daftar Tabel ix Daftar Gambar x Daftar Lampiran xi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Permasalahan 3 1.3 Pembatasan Masalah 3

Dokumen terkait