• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

3. Unsur Intrinsik Novel

1. Tema

Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer memiliki tema tentang perjuangan cinta seorang pribumi Jawa dengan seorang gadis keturunan Belanda, hal itu memicu penolakan terhadap kisah cinta Minke dan Annelies mengingat gadis tersebut keturunan Belanda serta diakui oleh sang ayah atas dasar hukum. Hal inilah yang menyebabkan kesenjangan sosial yang diterima tokoh Minke dikarenakan seorang pribumi. Ketidakadilan itu lantas membuat tokoh Nyai Ontosoroh dan Minke berjuang melawan penindasan yang mereka terima.

2. Alur

Kisah yang dituliskan oleh Pramoedya Ananta Toer ini memiliki alur maju-mundur. Terlihat pada kutipan berikut:

“Tigabelas tahun kemudian catatan pendek ini kubacai dan ku pelajari kembali, kupadu dengan impian, khayal. Memang menjadi lain dari aslinya. Tak kepalang tanggung. Dan begini kemudian jadinya:” (Toer, 2017:10)

Berdasarkan kutipan di atas terlihat bahwa cerita hidup Minke merupakan penceritaan kembali yang ditambahkan bumbu-bumbu untuk membuat cerita itu terasa nyata untuk dibaca.

Terlihat juga pada kutipan berikut:

59

“Mama ceritai aku bagaimana kau bertemu dan kemudian hidup bersama papa…. Dan mulailah ia bercerita” (Toer, 2017:114)

Berdasarkan kutipan di atas terlihat Annelies meminta Nyai Ontosoroh untuk bercerita tentang pertemuannya dengan Tuan Mellema. Kemudian Nyai Ontosoroh pun mulai menceritakan pertemuannya dengan Tuan Mellema yang harus diketahui oleh Annelies.

Mulai saat itulah terjadi kilas balik pada cerita Bumi manusia, Nyai Ontosoroh menceritakan bagaimana dirinya ‘dijual’ oleh sang ayah hanya untuk mendapatkan sebuah jabatan yang lebih menjanjikan dibandingkan Juru Tulis, hingga akhirnya menjadi gundik Tuan Mellema.

Novel Bumi Manusia diawali dengan kisah penggambaran sosok Minke yang bersekolah di H.B.S lalu diikuti dengan penggambaran Minke mulai mendekati keluarga Annelies, dalam novel ini sosok Minke sebagai sosok yang berani melawan ketidakadilan yang didapatnya. Pada tahapan selanjutnya merupakan klimaks bahwa Annelies harus pindah ke Belanda karena menurut hukum Eropa seharusnya Annelies dirawat oleh walinya yaitu Nyonya Mellema istri sah dari Tuan Mellema. Merasa hak-hak mereka dirampas, Nyai Ontosoroh beserta Minke berusaha melawan hukum Eropa agar

60

Annelies tidak dibawa pergi ke tanah Belanda. Ibunda dan suami Annelies berusaha menghentikan hukum tersebut.

3. Latar

Latar yang terdapat dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer meliputi latar tempat, dan latar waktu. Berikut pemaparannya:

a. Latar Tempat

Latar tempat menunjukan pada lokasi terjadinya peristiwa yang menceritakan dalam sebuah karya fiksi. Novel karangan Pramoedya Ananta Toer mengambil latar tempat pulau Jawa. Tepatnya di kota Surabaya dan Wonokromo. Beberapa daerah lainnya seperti rumah Nyai Ontosoroh, Kota B, rumah Jean Marais, Pondokan Mevrouw Telinga, Rumah Plesiran Babah Ah Tjong dan gedung pengadilan.

Latar tempat paling awal berada pada rumah Tuan Mellema yang dihuni oleh Nyai Ontosoroh di Wonokromo, ketika itu Minke datang bersama teman sekolahnya Robert. Latar tempat Wonokromo diungkapkan dalam kutipan berikut:

“Barang seratus atau seratus limapuluh meter di sebelah rumah plesir itu Nampak kosong tanpa rumah. Kemudian menyusul rumah loteng dari kayu, juga berpelataran luas. Dekat di belakang pagar kayu terpasang papan nama besar dengan tulisan Boerderij buitenzorg. Dan setiap penduduk

61

Surabaya dan Wonokromo kiraku, tahu belaka itulah rumah hartawan besar Tuan Mellema- ke sekolahannya di E.L.S. simpang. Kemudian aku berjalan kaki sendirian ke sekolahku di jalan H.B.S.”

Lalu ada penggambaran tempat di rumah dan bengkel. Berikut kutipannya:

“Di rumah, Mevrouw Telinga tak jemu-jemu minta diceritai tentang kunjunganku ke Boerderij buitenzorg. Untuk kemudian memperdenganrkan ejekan yang kasar dan itu-itu juga”. (Pramoedya Ananta Toer: 74).

“Pulang dari sekolah aku langsung memasuki bengkel Jean Marais. Ku lihat tukang baru memulai kerja sore.”

Lalu ada penggambaran ketika Minke dijemput polisi untuk ke Kota B.

“Dokar yang menunggu ternyata bukan kereta polisi hanya dokar preman biasa. Kami naik dan berangkat ke jurusan Surabaya. Agen ini akan membawaku ke B. dan dalam gelap pagi itu kubayangkan setiap rumah yang pernah ku lihat di B yang mana di antara semua itu mengapa jadi tujuan? Kantor polisi? Penjara? Losmen? Rumah-rumah preman barang tentu tidak masuk hitungan.”. (Pramoedya Ananta Toer: 175).

62

Penggambaran rumah plesir Babah Ah tjong juga menjadi latar tempat hal itu terjadi ketika Robert Mellema singgah ke pelataran tetangganya yang merupakan Babah Ah Tjong itu sendiri. Berikut kutipannya:

“Baik, Bah, aku mampir sebentar,” dan Robert membelokkan kudanya masuk ke pelataran tetangganya. Robert dan Ah Tjong berjalan sejajar, pelan, melalui jalanan batu cadas menuju ke gedung yang biasa terbuka pintu jendela nya itu.” (Pramoedya Ananta Toer: 242).

Gedung pengadilan juga menjadi latar dikarenakan permasalah yang timbul diakibatkan Tuan Mellema mati, membuat Nyai Ontosoroh harus ke pengadilan untuk mempertahankan hak-hak yang telah direbut darinya.

Berikut kutipannya:

“Sidang pengadilan tak dapat ditunda lebih lama.

Robert Mellema dan Si gendut tetap tak dapat ditemukan. Maka pengadilan akan menghadapkan Babah Ah Tjong sebagai terdakwa. Pengadilan putih, pengadilan Eropa!” (Pramoedya Ananta Toer: 418).

b. Latar Waktu

Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Latar waktu dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer tidak ditulis secara rinci tanggal maupun tahun. Namun, latar waktu dalam peristiwa ditampilkan memiliki hubungan dengan waktu pemerintahan Belanda di awal abad ke-20.

63 4. Tokoh dan Penokohan

Tokoh dan penokohan yang ada dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer adalah:

a. Minke

Tokoh Minke hadir sebagai protagonist, Minke adalah sosok berdarah priyayi yang berusaha untuk meraih kebebasan dan merdeka.

“Apa gunanya belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan Eropa, kalau akhirnya toh harus merangkak, beringsut seperti keong dan menyembah seorang raja kecil yang barangkali buta huruf pula?

God! God! Memang menghadap bupati sama dengan bersiap menampung penghinaan tanpa boleh membela diri. Tak pernah aku memaksa orang lain berbuat semacam itu terhadapku, mengapa harus aku lakukan untuk orang lain? Samber gledek!. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini.

Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu.” (Pramoedya Ananta Toer: 179).

b. Nyai Ontosoroh atau Sanikem

Nyai Ontosoroh dihadirkan juga tokoh utama perempuan di mana kemunculannya sangat berkesan.

Digambarkan dengan sangat berkesan dengan dandanannya yang rapi, wajahnya yang jernih, senyumnya yang keibuan dan riasnya yang terlalu sederhana. Ia kelihatan manis dan muda, berkulit langsat (Pramoedya Ananta Toer:32).

Selain itu sosok dari Nyai Ontosoroh juga seorang perawi cerita dan tidak menentang.

64 c. Annelies Mellema

Annelies Mellema juga dihadirkan sebagai tokoh utama karena mempunyai peran yang penting dalam cerita. Hadirnya sosok Annelies di dalam cerita sebagai tokoh perempuan yang sejalan dengan tokoh utama dan tidak menyebabkan konflik.

Penggambaran sosok Annelies terlihat pada kutipan berikut:

“Di depan kami berdiri seorang gadis berkulit putih, halus, berwajah Eropa, berambut dan bermata Pribumi.

Dan mata berkilau itu seperti sepasang kejora, dan bibirnya tersenyum meruntuhkan iman.” (Toer, 2017:

26) d. Robert Mellema

Robert Mellema merupakan tokoh tambahan yang hanya muncul beberapa kali dalam cerita. Robert merupakan tokoh antagonis, gambarkan sebagai penentang tokoh utama dan menyebabkan konflik. Selain itu juga Robert Mellema digambarkan sebagai sosok pemuda Indo yang sangat mengagungkan Hindia Belanda dan memandang rendah Pribumi.

e. Tuan Mellema (Herman Mellema)

Herman Mellema juga merupakan tokoh tambahan yang hanya muncul beberapa kali dalam cerita. Sosok yang diceritakan menyebabkan masalah dalam cerita, dan menentang tokoh utama.

Herman Mellema dalam certia digambarkan sebagai laki-laki

65

dewasa yang merupakan suami dari Nyai Ontosoroh dan ayah bagi anak-anaknya.

f. Magda Peters

Magda Peters merupakan tokoh tambahan dan hanya muncul beberapa kali dari cerita. Sosoknya digambarkan sejalan dengan tokoh utama, tidak menentang serta tidak menimbulkan konflik.

g. Jean Marais

Jean Marais tokoh tambahan yang berada di samping tokoh utama, sosoknya digambarkan sebagai tokoh yang selalu ada untuk Minke, sejalan dan tidak menyebabkan konflik. Jean Marais pelukis asal Perancis, sahabat sekaligus orang berpengaruh bagi Minke.

h. Darsam

Darsam merupakan tokoh tambahan yang hanya muncul beberapa kali dalam sebagian cerita. Digambarkan sebagai sosok yang dapat diandalkan oleh Nyai Onsoroh, sosok yang tangguh.

i. Robert Suurhof

Robert merupakan sosok tokoh tambahan, yang merupakan teman sekolah Minke. Tokoh yang selalu menjadi penentang dari tokoh utama dan menyebabkan konflik. Penggambaran sosok Robert Suurhof sebagai pandai menghina, mengucilkan, melecehkan, dan menjahati orang, pemuja kaum Eropa. Sosok yang mengenalkan

66

Minke kepada Nyai Ontosoroh dan Annelies, kemudian membenci Minke karena telah berhasil menarik hati Annelies padahal dirinya telah mendambakan sosok Annelies.

j. Babah Ah Tjong

Babah Ah Tjong merupakan tokoh tambahan yang menimbulkan masalah, tetapi tidak menentang tokoh utama. Sosok Ah tjong merupakan tuan rumah dari rumah plesiran yang sering didatangi oleh Tuan Mellema dan Robert Mellema anaknya, serta menjadi lokasi tewasnya Tuan Mellema karena diracun.

k. Herbert de la Croix

Herbert de la Croix merupakan tokoh tambahan yang hanya muncul dalam kurun waktu yang pendek, merupakan tokoh yang selalu membantu Minke.

l. Jan Dapperste alias Panji Darman

Jan Dapperste merupakan tokoh tambahan yang dikenal sebagai teman Minke keturunan pribumi, hanya saja telah diangkat sebagai anak oleh keluarga Belanda.

m. Kommer

Kommer merupakan tokoh tambahan yang muncul dalam beberapa kesempatan. Sosoknya digambarkan sebagai seorang jurnalis peranakan Eropa.

67 n. Maarten Nijman

Maarten Nijman merupakan sosok tambahan yang muncul beberapa kali dalam cerita dan diceritakan sosoknya yang membantu Minke. Pengambaran Maarten Nijman merupakan kepala redaksi S.N.v/d D. Sebuah Koran berbahasa Belanda di Surabaya.

o. Martinet, Dr

Merupakan tokoh tambahan yang hanya muncul dalam kurun waktu yang tidak lama. Tokoh tambahan yang membantu tokoh utama. Menggambarkan sosoknya merupakan seorang dokter keluarga Nyai Ontosoroh, dia merupakan dokter yang terampil.

p. Maurist Mellema, Ir

Merupakan tokoh tambahan yang muncul pada akhir cerita, tokoh tambahan yang menyebabkan Nyai Ontosoroh dan Minke kehilangan Annelies yang harus pergi ke Belanda. Sosoknya digambarkan sebagai Putra sah dari pasangan Amelia Mellema Hammers dan Herman Mellema yang telah ditinggal sejak kecil.

q. Sastromo

Tokoh tambahan yang muncul dalam beberapa bagian dari cerita, tokoh tambahan yang mementingkan kepentingannya sendiri.

Digambarkan sebagai ayah dari Nyai Ontosoroh yang berprofesi

68

sebagai juru tulis yang rela menjual anaknya hanya untuk keuntungan pribadinya sendiri.

r. Sarah dan Miriam de la Croix

Merupakan tokoh tambahan yang hanya muncul beberapa saat saja. Tokoh tambahan yang sering membuat Minke mempertanyakan ilmu pengetahuannya. Kakak beradik ini anak perempuan Asisten Residen Kota B, sang kakak lulusan H.B.S.

sedangkan sang adik merupakan senior Minke. Keduanya sosok yang cerdas dan agresif.

s. Telinga, Mevrouw

Merupakan sosok tambahan yang hadir dalam cerita, merupakan tokoh tambahan yang membantu kehidupan Minke. Sosoknya digambarkan sebagai istri kopral Telinga, di rumah keluarga Telinga inilah Minke tinggal sewaktu belajar di H.B.S. Surabaya.

5. Sudut Pandang

Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama seperti kutipan di bawah ini:

“Orang memanggil aku: Minke. Namaku sendiri ….

Sementara ini tak perlu ku sebutkan. Bukan gila misteri. Telah aku timbang: belum perlu benar tampilkan diri di hadapan mata orang lain.”

(Pramoedya Ananta Toer: 9)