• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II – TINJAUAN TEORETIS

A. Tindak Pidana

2. Unsur-Unsur Tindak Pidana

Unsur-unsur tindak pidana dapat dibedakan setidak-tidaknya dari dua sudut pandang, yakni :

1. Dari sudut Teoretis artinya berdasarkan pendapat para ahli hukum, yang tercermin pada bunyi rumusannya.

2. Dari sudut Undang-Undang adalah bagaimana kenyataan tindak pidana itu dirumuskan menjadi tindak pidana tertentu dalam pasal-pasal peraturan perundang-undangan yang ada.15

14 Rahman Syamsuddin dan Ismail Aris, Merajut Hukum di Indonesia, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2014), h. 193.

15 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana, (Jakarta: PT rajaGrafindo Persada,2014), h.

79.

Menurut Lamintang unsur delik terdiri dari atas dua macam, yakni unsur subjektif dan unsur objektif. Selanjutnya Lamintang menyatakan sebagai berikut :

“yang dimaksud dengan unsur-unsur subjektif itu adalah unsur-unsur yang melekat pada diri si pelaku atau yang berhubungan dengan diri si pelaku, dan termasuk ke dalamnya yaitu segala yang terkandung di dalam hatinya. Sedang yang dimaksud dengan unsur-unsur objektif itu adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan, yaitu dalam keadaan-keadaan mana tindakan-tindakan dari si pelaku itu harus dilakukan.

Unsur-unsur subjekti dari suatu tindak pdana itu adalah : 1. Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau culpa).

2. Maksud atau voornemen pada suatu percobaan atau poging seperti yang dimaksud di dalama pasal 53 ayat 1 KUHP.

3. Macam-macam maksud atau oogmerk seperti yang terdapat misalnya di dalam kejahatan-kejahatan pencurian,penipuan, pemerasaan, pemalsuan dan lain-lain.

4. Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedachte raad seperti yang misalnya yang terdapat di dalam kejahatan pembunuhan menurut pasal 340 KUHP.

5. Perasaan takut atau vrees seperti yang antara lain terdapat di dalam rumusan tindak pidana menurut pasal 308 KUHP.

Unsur-unsur yang objektif dari suatu tindak pidana adalah sebagai berikut : 1. Sifat melawan hukum atau wederechtelijk.

2. Kualitas dari si pelaku, misalnya keadaan sebagai seorang pegawai negeri dalam kejahatan menurut pasal 415 KUHP atau keadaan sebagai pengurus atau perseroan terbatas, dalam kejahatan menurut pasal 398 KUHP.

3. Kualitas, yakni hubungan antara suatu tindakan sebagai penyebab dengan suatu kenyataan sebagai akibat.16

Dasar utama di dalam hukum pidana adalah adanya suatu tindakan pidana yang memberikan sesuatu pengertian kepada kita tentang sesuatu perbuatan yang dlarang atau diharuskan oleh undang-undang, dimana terhadap perbuatannya dapat dijatuhi pidana. Suatu perbuatan dapat dianggap sebagai suatu tindak pidana, apabila perbuatan itu telah memenuhi atau mencocoki semua unsur yang dirumuskan sebagai tindakan pidana. Apabila salah suatu unsur yang dirumuskan sebagai tindak pidana. Apabila salah satu unsur tindak pidana tidak terpenuhi, maka proses penuntutan yang dimajukan oleh penuntut umum kepada hakim agar diadili tidak dapat dilanjutkan atau batal demi hukum. Artinya, seseorang baru dapat dimintai pertanggung jawaban pidana atas perbuatannya, apabila perbuatan itu telah memenuhi semua unsur tindak pidana sebagaima yang dirumuskan didalam pasal-pasal undang-undang pidana.

Adanya tindak pidana juga merupakan suatu alas an bagi negara di dalam menggunakan haknya untuk memberlakukan hukum pidana melalui alat-alat perlengkapannya, seperti kepolisian, kejaksaan maupun penuntut, mengadili maupun menjatuhkan pidana terhadap seseorang yang dituduh melakukan suatu tindak pidana, baik suatu perbuatan yang bersifat aktif (melakukan sesuatu) maupun perbuatan yang bersifat pasif (mengabaikan atau melakukan sesuatu).

Dengan perkataan lain, bahwa syarat utama dapat dipidananya seseorang apabila salah satu unsur tidak terpenuhi bukanlah suatu tindak pidana karena arti dan maksudnya akan berbeda.

16 Rahman Syamsuddin dan Ismail Aris, Merajut Hukum di Indonesia, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2014), h. 196.

Bila mana suatu perbuatan dapat disebut sebagai suatu tindakan pidana, maka perbuatan tersebut harus memenuhi 5 (lima) unsur, sebagai berikut :

a. Harus ada sesuatu kelakuan (gedraging);

b. Kelakuan itu harus sesuai dengan uraian undang-undang (wetterlike omschrijiving);

c. Kelakuan itu adalah kelakuan tanpa hak (melawan hukum);

d. Kelakuan itu dapat diberatkan (dipertanggung jawabkan) kepada pelaku;

e. Kelakuan itu diancam dengan pidana.

Untuk mendapat gambaran mengenai kelima unsur tersebut diatas, sehingga suatu kelakuan atau perbuatan seseorang itu dapat disebut sebagai tindak pidana, berikut ini dikutipkan rumusan tindak pidana yang dapat dijabarkan pasal 362 KUHP, yang menyatakan sebagai berikut :

“barang siapa mengambil barabg sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan dimaksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun, atau pidana denda paling banyak Sembilan ratus rupiah.”17

Unsur-unsur tindak pidana yang dirumuskan didalam pasal 362 KUHP, sebagai berikut :

a. Mengambil;

b. Sesuatu barang;

c. Kepunyaaan orang lain;

d. Maksud untuk dimiliki secara melawan huku.18

Bilamana perbuatan seseorang telah memenuhi unsur tindak pidana yang dirumuskan didalam pasal 362 KUHP tersebut diatas, maka orang itu dapat dimintai pertanggungjawaban pidana karena pencurian. Tetapi apabila orang itu

17 R. Soenarto Soerodibroto, KUHP dan KUHAP, (Jakarta: Rajawali Pers 2014), h. 223.

18 R. Soenarto Soerodibroto, KUHP dan KUHAP, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h. 223.

hanya mengambil sesuatu barang milik orang tetapi bermaksud untuk dipindah tempatnya, maka iya tidak dapat dianggap telah melakukan tindak pidana pencurian. Artinya, apabila salah satu unsur tindak pidana tersebut tidak terpenuhi akan mempunyai arti dan maksdu yang berbeda.

apabaila barang itu dipercayakan kepadanya, tidak dapat digolongkan dalam pencurian, tetapi masuk “penggelapan” sebagaimana diatur dalam pasal 372 KUHP. Yang dimaksud dengan barang adalah semua benda yang berwujud seperti : baju, perhiasan, dan sebagaimana termasuk binatang, dan benda yang tidak terwujud, seperti : aliran listrik yang disalurkan melalui kawat serta gas yang disalurkan melalui pipa. Selain benda-benda yang tidak bernilai uang, asal bertentangan dengan pemiliknya melawan hukum, dapat pula dikenakan pasal 362 KUHP. Misalnya seseorang jejaka mencuri dua tiga helai rambut dari gadis cantik tanpa izin gadis itu, dengan maksud untuk dijadikan kenang-kenangan, dapat dikatakan “mencuri” walaupun yang dicuri itu tidak ternilai uang.