BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
3. Upah Minimum
A. Pengertian Upah Minimum
Di Indonesia sendiri, pengupahan diatur standarnya oleh pemerintah dengan mempertimbangkan berbagai aspek, dengan ini diharapkan pemerintah mampu melindungi pekerja/buruh dari pengupahan yang tidak layak dan meningkatkan taraf hidup pekerja, dengan adanya upah minimum diharapkan pula dapat tercipta keadilan baik untuk pemilik perusahaan maupun pekerja/buruh, pemerintah sendiri mengatur pengupahan dengan menetapkan upah minimum.
Menurut peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
(Permenakertrans) No 7 Tahun 2013 tentang upah minimum adalah, upah bulanan terendah yang terdiri atas upah pokok termasuk tunjangan tetap yang ditetapkan oleh gubernur sebagai jaring pengaman. Menurut Soedarjadi (2008), upah minimum adalah ketetapan yang dikeluarkan oleh pemerintah mengenai keharusan perusahaan untuk membayar upah sekurang-kurangnya sama dengan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) pekerja kepada pekerja yang paling rengdah tingkatannya.
B. Penetapan dan Jenis Upah Minimum
Pemerintah Indonesia selalu mengubah-ubah kebijakan ketenagakerjaan terutama menyangkut penanganan pengupahan. Kebijakan penetapan upah minimum didasarkan pada kebutuhan fisik minimum (KFM), kemudian berubah menjadi kebutuhan hidup minimum (KHM), dan sekarang berubah menjadi kebutuhan hidup layak (KHL). Kebijakan pengupahan di Indonesia lebih kepada perpaduan konsep-konsep pengupahan tersebut. Ini disebabkan kompleksitas permasalahan pengupahan, seperti adanya tingkat upah yang masih berada dibawah standar kebutuhan fisik minimum dan lainnya, lalu penetapan nilai upah minimum ini dilakukan setiap setahun sekali oleh pemerintah daerah.
22 Dalam penetapan upah minimum terdapat dasar-dasar yang harus dipenuhi. Menurut peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 7 Tahun 2003 tentang Dasar dan Wewenang Penetapan Upah Minimum yaitu:
1) Penetapan upah minimum didasarkan pada kebutuhan hidup layak (KHL) dengan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan Ekonomi.
2) Upah minimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan pada pencapaian KHL.
3) Pencapaian KHL sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan perbandingan besarnya upah minimum terhadap nilai KHL pada periode yang sama.
4) Untuk pencapaian KHL sebagaimana dimaksud pada ayat (2), gubernur menetapkan tahapan pencapaian KHL dalam bentuk peta jalan pencapaian KHL bagi perusahaan lainnya dengan mempertimbangkan kondisi kemampuan dunia usaha.
Variabel tambahan lainnya yang menjadi pertimbangan dalam penetapan upah minimum selain kebutuhan hidup layak dalam International Labour Organization adalah indeks harga konsumen, kemampuan dan kelangsungan perusahaan, upah yang berlaku pada umumnya didaerah lain, kondisi pasar kerja, tingkat perkembangan ekonomi, pendapatan perkapita, produktivitas tenaga kerja, dan usaha marginal. Pemerintah juga menetapkan upah minimum berdasarkan kebutuhan hidup layak dengan memperhatikan produktifitas dan pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, upah minimum juga terdapat banyak jenisnya. Berikut adalah jenis-jenis dari upah minimum:
1) Upah minimum sub sektoral regional; upah minimum yang berlaku untuk semua perusahaan pada sub sektor tertentu dalam daerah tertentu;
2) Upah minimum sektoral regional, upah minimum yang berlaku untuk semua perusahaan pada sektor tertentu dalam daerah tertentu;
23 3) Upah minimum regional/upah minimum provinsi, upah minimum yang berlaku untuk semua perusahaan dalam daerah tertentu. Upah minimum regional (UMR)/UMP ditiap-tiap daerah besarnya berbeda-beda. Besarnya UMR/UMP didasarkan pada indeks harga konsumen, kebutuhan fisik minimum, perluasan kesempatan kerja, upah pada umum nya yang berlaku. Upah minimum provinsi ditetapkan oleh besarannya berdasarkan usulan dariDewan Pengupahan Provinsi dengan mempertimbangkan hal-hal berikut yaitu; kebutuhan hidup pekerja, indeks harga konsumen, pertumbuhan ekonomi, kondisi pasar kerja dan sebagainya.
C. Hubungan Upah dengan tenaga kerja.
Upah dapat dikaitkan dengan penyerapan tenaga kerja. Menurut Sumarsono (2009) permintaan tenaga kerja berkaitan dengan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan oleh suatu unit usaha. Permintaan tenaga kerja dipengaruhi perubahan tingkat upah dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi permintaan hasil produksi, yaitu permintaan pasar akan hasil produksi dari suatu unit usaha, yang tercermin dari besarnya volume produksi dan harga barang-barang modal seperti mesin atau alat proses produksi. Dengan kata lain hasil produksi yang dihasilkan oleh tenaga kerja dapat menentukan tingkat upah dan juga menentukan permintaan tenaga kerja. Ketika perusahaan mampu menghasilkan produksi yang tinggi dan permintaan pasar akan hasil produksi tersebut juga, maka perusahaan akan memproduksi lebih banyak produk/jasa tersebut, apabila perusahaan ingin memproduksi lebih banyak produk/jasa perusahaan membutuhkan lebih banyak tenaga kerja. Lalu produktivitas yang dihasilkan oleh tenaga kerja tinggi, maka memungkinkan untuk perusahaan meningkatkan upah untuk para pekerja.
Selain dari sisi produksi yang dihasilkan oleh tenaga kerja, tingkat upah yang ditawarkan perusahaan juga mempunyai pengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja, seperti yang dikemukakan oleh Hidayati (2009), bahwa semakin
24 tinggi atau rendah tingkat upah yang ditawarkan, maka akan semakin tinggi atau rendah pula tenaga kerja yang terserap. Dengan kata lain semakin tinggi upah yang diberikan oleh perusahaan, maka akan semakin banyak pula tenaga kerja yang menawarkan tenaganya kepada perusahaan. Apabila dilihat dari sisi lain, penentuan upah oleh pemerintah di Indonesia juga dapat mempengaruhi penyerapan tenaga kerja, jika pemerintah menetapkan upah minimum yang terlalu tinggi, perusahaan akan mengeluarkan modal yang juga tinggi jika menggaji karyawannya dengan upah yang tinggi, untuk menghindari hal tersebut perusahaan pun tidak akan membuka lapangan pekerjaan yang banyak. Dengan demikian tingkat upah yang diberikan sangat menentukan tenaga kerja yang mampu terserap. Gambar 2. 1 menjelaskan bahwa Kurva DD adalah kurva permintaan tenaga kerja. Kurva SS adalah kurva penawaran tenaga kerja. Titik EE merupakan titik keseimbangan (equilibrium point). Dalam keadaan ekuilibrium atau ekuilibrium, tingkat upah adalah A, dan jumlah tenaga kerja yang diminta sama dengan jumlah yang ditawarkan, yaitu B. Ketika tingkat upah adalah A, pekerja masih merasa bahwa itu tidak cukup. Mereka menuntut gaji yang lebih tinggi, yaitu A1. Perusahaan bersedia membayar A1 dan mencatat bahwa perusahaan hanya dapat mempekerjakan pekerja B1. Karena upah A1 adalah penawaran tenaga kerja B2, maka akan terjadi pengangguran B1-B2. Semakin tinggi upah yang dibutuhkan, semakin besar jumlah pekerja yang menganggur. Oleh karena itu, serikat pekerja seharusnya tidak menuntut upah yang jauh melebihi upah ekuilibrium. Pada akhirnya, para tenaga kerja yang menganggur keluar dari serikat pekerja dan memilih bersedia bekerja dengan upah di bawah upah yang dituntut serikat pekerja.
25 Gambar 2. 4 Kurva Hubungan Upah dan Tenaga Kerja