• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA PEMBELAJARAN PJOK DI ERA NEW NORMAL PANDEMI

COVID-19

Sri Santoso Sabarini7

7Universitas Sebelas Maret

Pendahuluan

Dimasa pandemi global Covid-19, membuat dunia lumpuh, permasalahan dari beberapa aspek kehidupan seperti bola salju yang menggelinding, semakin lama semakin besar dan kompleks, tak ketinggalan juga dibidang pengajaran pendidikan jasmani. Jika pada mata pelajaran lain yang berbasis teoritis menggunakan e-learning, atau pembelajaran online sudah mampu mengatasi problematika kegiatan belajar mengajar di sekolah, namun beda ceritanya pada pembelajaran yang memiliki karakteristik mayoritas menggunakan unsur kinestetik, skill atau keterampilan gerak, yang mana siswa diharuskan dapat bersosialisasi dengan orang lain dalam melaksanakan pembelajaran yang dikemas melalui permainan dan latihan gerak. Guru PJOK diuji dengan kebijakan physical distancing , dimana kegiatan berkumpul dilarang, bersentuhan dilarang, berdekatan dilarang, karena dewa maut selalu mengintai melalui ganas dan cepatnya penularan virus covid-19 ini. Ya, genderang perang sudah ditabuh, seluruh dunia taat dengan protokol kesehatan dari WHO. Dalam kegelapan dimana insan pendidik jasmani

St

ra

46

dikerumuni kegalauan, disitulah kreativitas muncul, bukankah pikiran brilian itu muncul bilamana kita sudah terpojok, terkurung dengan kesulitan dan rasa takut?. Dalam gelap pasti ada setitik cahaya untuk menuntun kearah yang lebih terang. Ya, kreativitas guru PJOK seluruh dunia diuji. Satu persatu para ilmuwan, akademisi, dan praktisi olahraga mulai menawarkan ide briliannya. Salah satu ide untuk menghadapi kondisi new normal ini adalah melaksanakan pembelajaran PJOK dengan tidak mengurangi filosofi mendasarnya, yaitu pembelajaran berbasis manusia dalam gerakan. Ide itu adalah Blended learning.

Pembahasan

Secara etimologi istilah Blended Learning terdiri dari dua kata yaitu Blended yang berarti campuran dan Learning yang berarti pembelajaran. Dengan demikian, sepintas lalu blended learning mengandung makna pola pembelajaran yang mengandung unsur pencampuran atau penggabungan antara satu pola dengan pola yang lainnya dalam pembelajaran. Thorne (2003) mendefinisikan blended learning sebagai campuran dari teknologi e-learning dan multimedia, seperti video streaming, virtual class, animasi teks online yang dikombinasikan dengan bentuk-bentuk tradisional pelatihan di kelas. Sementara Graham (2006) menyebutkan blended learning secara lebih sederhana sebagai pembelajaran yang mengombinasikan antara pembelajaran online dengan face-to-face (pembelajaran tatap muka). Penerapan model pembelajaran blended learning dalam kegiatan pembelajaran disekolah menunjukkan peningkatan positif terhadap hasil pembelajaran.

Gambar 1 : Ilustrasi pembelajaran blended learning.

St

ra

47

Blended learning adalah cabang strategi baru dalam dunia pendidikan (Bliuc et al., 2007) dan dalam konteks pandemi Covid-19 tiba-tiba strategi itu dirasa penting untuk pendidikan, khususnya pada pembelajaran yang memerlukan unsur skill atau keterampilan. Banyak para ahli pendidikan menerapkannya. Menurut Semler (2005) Blended learning menggabungkan aspek-aspek terbaik dari pembelajaran online, kegiatan tatap muka terstruktur, dan praktik dunia nyata (lapangan). Pendekatan blended learning menggunakan kekuatan masing-masing untuk mengatasi kelemahan yang lain. Blended learning adalah sebuah terobosan untuk memudahkan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, memperkenalkan berbagai pilihan media dialog antara fasilitator (guru) dengan siswa. Blended learning dikemas dalam kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online. Strategi pembelajaran Blended learning PJOK di sekolah dapat dilaksanakan dengan: 1). Siswa diberikan pengetahuan berupa postingan silabus, RPP, materi ajar, tujuan pembelajaran, instruksi atau panduan belajar, lembar kerja siswa hingga assesment pengetahuan melalui online. Guru PJOK bisa memilih fitur-fitur yang sudah disediakan google, misalnya Google Classroom, Watshapp Grup, email, atau bagi guru yang kreatif bisa membuat website pribadi/ blog untuk mengajar online. Tak ketinggalan media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Youtube bisa menjadi media pembelajaran untuk PJOK. Guru juga bisa menggunakan aplikasi google form untuk assesment. Setelah siswa paham dengan materi yang diajarkan mereka bisa diberi tugas praktik mandiri di rumah dengan pengawasan orangtua dan contoh-contoh gerakan keterampilan yang sudah dikemas oleh guru dalam bentuk video melalui fitur-fitur yang dipilih guru seperti menggunakan Youtube atau Whatsapp. Kelebihan dari cara ini, siswa bisa melakukan latihan kapan saja dan di mana saja di dalam rumah dengan mengamati tayangan video, jika siswa mengalami kesulitan bisa memutar kembali video yang dikirimkan guru, jika butuh feedback siswa tinggal menggunakan fasilitas Whatsapp grup untuk berdiskusi dengan guru atau teman sekelasnya. Pertemuan face to face bisa dilakukan ditengah pembelajaran, jangan lupa protokol kesehatan harus tetap dilaksanakan yaitu dengan pakai masker, jaga kebersihan tangan, dan jaga jarak. Pembelajaran dengan metode Face to face dalam PJOK dilaksanakan dengan cara guru berkunjung ke rumah siswa, jadwalkan waktu berkunjung, jangan lupa membawa alat pembelajaran sesuai materi yang diajar seperti bola atau alat pembelajaran lain. Selain itu, siswa dapat dijadwalkan pergi ke sekolah dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan, membagi 2 s.d 3 kelompok dalam sehari untuk membatasi siswa menggunakan fasilitas sarana dan prasarana olahraga

St

ra

48

Penutup

Kebijakan pemerintah bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah. membuat dunia pendidikan kita menjadi berubah total. Namun, berkah dibalik itu kreativitas guru menjadi teruji dalam penguasaan teknologi informasi khususnya guru-guru PJOK yang selama ini jauh dari pembelajaran online, kini dituntut untuk menggunakan pembelajaran online. Tetap tegak walau pandemi belum usai, guru PJOK terap bisa berkarya, siswa tetap terampil, sehat, cerdas dan berkarakter untuk menjadi manusia Indonesia yang tangguh dan berkualitas. sekolah dan menjaga jarak, olahraga air untuk sementara tidak dipraktikkan terlebih dahulu, memang sedikit merepotkan tetapi harus dilakukan. Pada tahap itu, guru bisa berdiskusi langsung dengan siswa khususnya guru bisa melihat hasil belajar keterampilan siswa secara langsung.

Gambar 2: Sintak Blended Learning

St

ra

49

Daftar Pustaka

A.-M. Bliuc, P. Goodyear, R.A. Ellis Research focus and methodological choices in studies into students’ experiences of blended learning in higher education, Internet High Educ., 10 (4) (2007), pp. 231-244, 10.1016/j.iheduc.2007.08.001 Graham, C. (2006). Blended learning systems: Definitions, current trends and future

directions. In C. Bonk & C. Graham (Eds.). The handbook of blended learning: Global perspectives, local designs. San Francisco: John Wiley and Sons.

H. Staker, M.B. Horn Classifying K-12 Blended Learning Innosight Institute (2012) Retrieved from ERIC on http://www.ed.gov/fulltext/ED535180. pdf

S. Meyer, S. Wohlers, B. Marshall Blended learning: student experiences B. Hegarty, J. McDonald, S.-K. Loke (Eds.), Rhetoric and Reality: Critical Perspectives on Educational Technology, Proceedings Ascilite Dunedin (2014), pp. 89-98 2014.

Thorne, K. (2003). Blended learning: How to integrate online and traditional learning. London: Kogan Page.

Yane Hendarita. (2018) Model Pembelajaran Blended Learning dengan Media Bloghttps://docplayer.info/148422067-Berbagai-teknologi-berbasis- web-untuk-mencapai-tujuan-pendidikan-thorne-2013-mendefinisikan-blended-learning-sebagai-campuran-dari-teknologi-e.html https://www. swiftelearningservices.com/blended/

St

ra

tegi

50

St

ra

51

PERAN STRATEGIS ORANG TUA DAN