2 BAB II INFLASI DAERAH
2.5 Upaya Pengendalian Inflasi Sumatera Barat
Grafik 2.8. Indeks Keyakinan dan Ekspektasi Konsumen (Survei Konsumen)
Grafik 2.9. Indeks Keyakinan dan Ekspektasi Konsumen (Survei Konsumen)
2.5 Upaya Pengendalian Inflasi Sumatera Barat
Selama periode 2014, Sumatera Barat mencatatkan laju inflasi sebesar 11,58% (yoy). Kondisi besaran inflasi yang menyentuh double digit tersebut seakan mengulangi capaian inflasi Sumatera Barat tahun 2013 yang mencapai 10,87% (yoy). Berkaca pada kondisi tersebut, TPID Provinsi Sumatera Barat berkomitmen untuk menurunkan laju inflasinya pada tahun 2015 menjadi single digit yang tercermin pada rencana tindak lanjut hasil rapat high level meeting di Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat pada 19 Januari 2015 yang lalu. Melalui rencana tindak lanjut tersebut, seluruh anggota TPID Provinsi Sumatera Barat diharapkan dapat fokus dalam melakukan aksi nyata dalam program pengendalian inflasi daerah.
Berpedoman pada hasil koordinasi TPID selama triwulan I tahun 2015 yang kemudian dituangkan dalam Surat Gubernur Sumatera Barat, terdapat beberapa poin penting yang perlu dilakukan oleh seluruh anggota TPID Provinsi Sumatera Barat, antara lain sebagai berikut:
1. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sumatera Barat diharapkan dapat berkoordinasi dengan
0.0 Indeks Kondisi Ekonomi Saat ini (IKK) Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK)
daerah yang mengalami surplus komoditas, terutama komoditas cabai merah dan beras di sekitar Sumatera Barat untuk memasok produknya ke wilayah Sumatera Barat demi menjaga ketersediaan pasokan.
2. Program Komoditas Rumah Pangan Lestari (KRPL) oleh Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Sumatera Barat dapat difokuskan pada komoditas cabai merah agar mampu menurunkan permintaan cabai merah di pasaran.
3. TPID Provinsi Sumatera Barat bersama dengan TPID Kota Padang dan Kota Bukittinggi perlu melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian dan pihak-pihak terkait lainnya untuk memprioritaskan angkutan yang membawa komoditas pangan memasuki kedua kota tersebut dalam waktu 24 jam demi memperlancar arus distribusi barang.
4. Perlu dilakukan audit data surplus defisit komoditas pangan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat terutama terkait dengan kebutuhan konsumsi cabai merah di restoran dan rumah makan.
5. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sumatera Barat bersama dengan Pemko Padang diharapkan dapat berkoordinasi dengan distributor cabai merah di Kota Padang demi menstabilkan harga cabai merah di pasar.
6. Disperindag Provinsi Sumatera Barat perlu membentuk asosiasi pedagang pemasok cabai merah agar mampu ikut serta dalam upaya mengondisikan kestabilan harga dan ketersediaan pasokan cabai merah di wilayah masing-masing.
7. PT Andalas Tuah Sakato (ATS) dapat mengoptimalkan perannya sebagai perusahaan daerah untuk berperan dalam menyukseskan program konsumsi cabai olahan melalui penggilingan cabai olahan.
8. Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Provinsi Sumatera Barat bersama seluruh Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten/Kota dan Organisasi Gabungan Angkutan Darat (Organda) di wilayah Sumatera Barat diharapkan berkoordinasi lebih intensif terkait dengan penyesuaian tarif angkutan umum. Hal ini ditempuh terkait dengan kebijakan pemerintah pusat untuk melakukan penyesuaian harga komoditas energi strategis.
Langkah-langkah yang telah dilakukan oleh seluruh anggota TPID Provinsi Sumatera Barat dalam mengendalikan laju inflasi Sumatera Barat sekaligus menanggapi Surat Gubernur Sumatera Barat yang telah ditujukan ke Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) masing-masing telah membuahkan hasil nyata pada triwulan I tahun 2015. Sumatera Barat mencatatkan laju inflasi sebesar 6,28%
(yoy), membaik dibandingkan triwulan yang sama pada tahun 2014 lalu. Hal ini tidak terlepas dari langkah nyata yang telah dilakukan, antara lain dengan:
1. BPS Provinsi Sumatera Barat telah melakukan audit terhadap data surplus defisit komoditas cabai merah di Sumatera Barat. Melalui Surat BPS no.
13510.011 perihal pengendalian tingkat inflasi, dengan mempertimbangkan perkiraan kebutuhan konsumsi cabai merah di luar rumah tangga, didapatkan hasil perhitungan bahwa komoditas cabai merah di Sumatera Barat mengalami defisit mencapai 46.688 kuintal per tahun. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan data surplus defisit selama ini yang menyatakan bahwa komditas cabai merah di Sumatera Barat mengalami surplus produksi. Data terbaru dari BPS Provinsi Sumatera Barat menjadi rujukan oleh TPID Provinsi Sumatera Barat dalam melakukan upaya pembenahan dari sisi produksi dan peningkatan ketersediaan pasokan.
2. Dishubkominfo Provinsi Sumatera Barat, Dishub Kota Padang dan Organda Kota Padang telah berkoordinasi lebih lanjut terkait penyesuaian tarif angkutan dalam kota. Berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat, ditetapkan bahwa tarif angkutan angkutan umum di Kota Padang turun Rp500,00 per tanggal 21 Januari 2015.
Inflasi merupakan salah satu indikator perekonomian yang penting bagi sebuah negara. Laju inflasi yang terkendali di level rendah serta stabil dapat mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi positif dan berkelanjutan yang akhirnya bermuara pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat suatu negara. Sementara itu, melihat sumber terjadinya inflasi di Indonesia, Kota Jakarta menyumbang 22,5% dari inflasi yang ada di Indonesia. Hal ini menunjukan bahwa inflasi di Indonesia bersumber dari inflasi daerah. Disamping itu, kecenderungan terjadinya inflasi di Indonesia lebih banyak disebabkan oleh faktor non-moneter seperti terganggunya pasokan, infrastruktur yang belum memadai, konektivitas antar daerah yang masih terbatas dan sebagainya.
Untuk itu, perlu adanya bauran kebijakan moneter, fiskal dan sektoral baik di tingkat pusat maupun daerah dalam menjaga kestabilan barang dan jasa.
Tabel 2.13. Perbandingan Inflasi Sumatera Barat dengan Wilayah Lainnya
Grafik 2.10. Sumbangan Inflasi di Daerah
Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir (2011-2014) Sumatera Barat mencatatkan laju inflasi yang cenderung fluktuatif. Bahkan, pada tahun 2013 dan 2014 inflasi Sumatera Barat menunjukan pola yang hampir sama, dimana inflasi tahunan menyentuh angka double digit setelah pada tahun sebelumnya sempat menyentuh angka 4,16% (yoy). Berfluktuasinya inflasi di Sumatera Barat disebabkan oleh kelompok komoditas bahan pangan bergejolak atau volatile food dan harga-harga yang diatur pemerintah atau administered pricess.
Berkaca pada kondisi inflasi di Indonesia yang lebih banyak disebabkan oleh faktor-faktor non-moneter dan andil daerah yang cukup besar dalam terjadinya inflasi, TPID berupaya memperkuat perannya dalam melakukan stabilisasi harga sesuai dengan Instruksi Kementerian Dalam Negeri. Upaya pengendalian inflasi membutuhkan integrasi seluruh pihak dan perlunya sinergisitas dari seluruh stakeholders.
2 Sumatera Utara 3,67 3,86 10,18 8,17 3 Sumatera Barat 5,37 4,16 10,87 11,58
4 Riau 5,26 2,78 8,79 8,64
5 Kepulauan Riau 3,68 2,38 8,24 7,59
6 Jambi 2,76 4,22 8,74 8,75
7 Sumatera Selatan 3,78 2,72 7,05 8,48
8 Bengkulu 3,96 4,61 9,94 10,85
9 Lampung 4,24 4,10 7,12 8,09
10 Bangka Belitung 5,00 6,57 8,71 9,04
4,04 3,45 8,92 8,62
Aksi Nyata Pengendalian Inflasi Sumatera Barat Melalui Peta
Jalan Pengendalian Inflasi Daerah
Banyaknya pihak yang berpartisipasi dalam menjaga stabilitas inflasi mendorong terjadinya misleading dalam implementasinya. Perlu sebuah peraturan yang dapat menyamakan langkah dari seluruh anggota TPID sehingga dapat tercipta solusi yang kongkrit, terfokus dan menyeluruh. TPID Sumatera Barat melihat hal tersebut sebagai langkah yang harus diselesaikan sesegera mungkin dengan menyusun peta jalan (roadmap) pengendalian inflasi daerah yang mengatur dan mengawal program-program pengendalian inflasi di daerah.
Grafik 2.11 Matriks Komoditas Inflasi Sumbar 2012-2014
Berdasarkan hasil pemaparan yang telah dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat pada Rapat TPID Kabupaten/Kota yang dilaksanakan pada 16 Maret 2015 di Aula Rumah Dinas Gubernur Sumatera Barat, ada beberapa langkah strategis yang dapat menjadi fokus utama seluruh anggota TPID Provinsi Sumatera Barat. Sejumlah program tersebut, antara lain peningkatan produksi; penyelesaian permasalahan tata niaga; pembangunan infrastruktur pertanian, pasar dan penghubung; penguatan kelembagaan petani, distributor dan pedagang;
penguatan database harga bahan pangan pokok; peningkatan kompetensi SDM; penerbitan peraturan daerah terkait; dan mengomunikasikan ekspektasi positif ke masyarakat.
Gambar 1. Gubernur Sumbar berbincang dengan Kepala KPw BI Provinsi Sumatera Barat
Gambar 2. Kepala KPw BI Provinsi Sumbar mengomunikasikan pentingnya pengendalian
inflasi
Cabai Merah
Beras Rokok Kretek
Filter Bawang Merah
Rokok Kretek Jengkol
Tarif Listrik Rokok Putih
Angkutan Udara Daging Ayam 7,00 Ras
8,00 9,00 10,00 11,00 12,00 13,00 14,00 15,00 16,00 17,00
0 1 2 3 4 5 6
Frekuensi
Bobot