• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upward Communication

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 23-33)

Dalam berkomunikasi dengan atasan biasanya yang disampaikan adalah mengenai hasil pekerjaan, menyampaikan masalah atau persoalan yang dihadapi dalam melakukan suatu pekerjaan yang atasan berikan, serta memberikan saran kepada atasan. Adanya tugas-tugas yang diberikan oleh pimpinan, menuntut karyawan untuk memberikan laporan hasil kerja yang telah mereka jalankan.

Dalam hal ini Tiara mengungkapkan bahwa yang biasanya disampaikan kepada atasan yaitu mengenai:

“Mengenai pekerjaan, jadwal, dengan siapa kita berhubungan dengan pekerjaan itu serta tatacara melakukan pekerjaan itu.”

Menurut Ibu Carolina Susanti yang disampaikan kepada atasan mengenai :

“Kalau informasi yang disampaikan ke atasan itu sehubungan dengan pekerjaan. Yaa berhubung pekerjaan saya mengenai perjanjian perpanjangan sewa dan lain-lain. Nahh itu yang disampaikan jadi

dimana saja outlet yang harus diperpanjang sewa, relokasi atau outlet yang tutup.”

Berbagai jenis informasi ini bawahan sampaikan kepada atasan sebagai wujud laporan mengenai pekerjaan yang saat ini sedang mereka tangani. Tidak hanya itu, dengan eratnya hubungan kekeluargaan yang terjadi antara atasan dan karyawan, menjadikan karyawannya berani untuk melaporkan informasi yang negatif serta saran yang membangun kepada atasan. Hal ini karena atasan selalu melakukan pendekatan mitra kepada karyawan sehingga antara atasan dan karyawannya memiliki hubungan yang sangat erat.

Kebanyakan saran yang bawahan berikan adalah mengenai pekerjaan yang mereka kerjakan, mereka berani menyampaikan saran tersebut untuk kebaikan bersama. Atasan selalu terbuka dalam menerima saran dari bawahan. Bila sarannya bagus maka atasan gunakan, namun jika menurut atasan saran itu kurang bagus maka atasan memberikan arahan atau pengertian kepada bawahan mengapa saran tersebut tidak dilakukan tidak dipakai.

Dengan adanya pola komunikasi yang terjalin dengan baik dari bawahan keatasan dapat menunjang keberhasilan suatu Departemen. Seperti banyak penghargaan yang didapatkan oleh Divisi Development. Salah satunya adalah mendapatkan penghargaan ”Development Exelent” Seperti yang diungkapkan oleh Pak Budhi sewaktu diwawancarai beliau mengatakan:

”Kalau penghargaan banyak banget dari principle. Baru-baru ini kita dapat penghargaan dari Hongkong sebagai ”Development Exelent”.

kita bisa mengalahkan, Malaysia, Singapore, jepang, brunai, dan lain-lain. Kita bisa mencapai target dari yang ditargetkan principle.”

Dengan banyaknya penghargaan yang mereka raih, tidak membuat mereka cepat puas namun terus berupaya seoptimal mungkin agar prestai yang selama ini didapatkan bisa terus dikembangkan. Selain memberitahukan apa yang dilakukan bawahan kepada atasnnya, mengenai prestasi kerja, mengenai masalah yang mereka hadapi, bawahan juga sebaiknya memberikan saran mengenai suatu pekerjaan demi mendapatkan hasil atau cara pandang yang berbeda agar pekerjaan tersebut bisa diselesaikan dengan baik dan selaku atasan hendaknya dapat menerima saran tersebut jika dianggap dapat memberikan pemahaman yang lebih baik. Seperti hasil wawancara peneliti dengan staff dan manager di Development.

Dalam menanggapi hal ini Ibu Hesti memberikan komentarnya sebagai berikut :

” Kalau saya berani menyampaikan saran kepada atasan.”

Dan Pak Budhi selaku atasan juga sangat terbuka dalam menerima saran tersebut.

Seperti kutipan wawancara berikut ini.

”Mungkin dari suatu pekerjaan, staff saya memberikan masukan dalam menghadapi suatu persoalan yang berkaitan dengan pekerjaan, dia memberikan masukan bahwa langkahnya seperti ini agar kita

dapat melakukan lebih baik. Saya juga terbuka kalau mereka benar, kenapa tidak.”

Pola seperti inilah yang terjadi di Departemen ini sehingga komunikasi dari bawahan ke atasan bisa berlangsung dengan baik. Semua yang terjadi sesuai dengan yang diharapkan.

4.3 Pembahasan

Seperti yang diungkapkan oleh Onong Uchjana Effendi menjelaskan bahwa karyawan satu dengan lainnya terdapat kesamaan untuk memiliki perlakuan yang adil, ketenangan dalam bekerja serta penghargaan atas hasil kerja.

Dan hal-hal tersebut sudah terpola dengan baik di Departemen ini.

Tidak hanya kesempatan untuk berkomunikasi yang diberikan atasan tetapi juga perlakuan yang adil. Hal ini sangat dirasakan oleh para karyawannya.

Seperti yang kita ketahui, tidak mudah untuk berlaku adil karena setiap orang memiliki persepsi yang berbeda. Ini merupakan tugas berat seorang pimpinan.

Seperti yang kita ketahui adil adalah keseimbangan terhadap kewajiban. Sebuah kata yang singkat tetapi terkandung sebuah amanah yang cukup besar untuk para pimpinan.

Di Departemen Development, pimpinan sudah berusaha untuk selalu bersikap adil terhadap bawahannya walaupun untuk mencapai sebuah keadilan itu sangat sulit karena setiap orang memiliki definisi adil yang berbeda-beda.

Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Ibu Hesti pada saat diwawancarai, beliau mengatakan bahwa:

“Saya sich merasa tidak ada masalah sampai saat ini jadi sudah cukup adil.”

Pernyatan ini juga ditegaskan oleh staff nya yaitu Ibu Carolina pada saat diwawacarai beliau mengatakan bahwa:

“Sejauh ini adil-adil saja.”

Dalam hal ini Pak Budhi selaku atasan juga memberikan komentar :

“Itu sifatnya individu tergantung dari subyektif masing-masing.

Mungkin dari suatu pekerjaan staff saya memberikan masukan dalam menghadapi suatu persoalan yang berkaitan dengan pekerjaan, dia memberikan masukan bahwa langkah nya seperti ini agar kita dapat melakukan lebih baik. Saya juga terbuka kalau mereka benar, kenapa tidak. Kalau sifatnya secara subyektivitas atau memperlakukan salah satu diistimewakan sepertinya tidak karena ini kerja team bukan kerja satu orang. Satu orang tidak bisa melakukan pekerjaan sendiri tanpa bantuan dari temannya.”

Selain berusaha untuk bersikap adil, atasan juga selalu mengontrol, membina, memotivasi dan menjadi teladan bagi bawahannya. Atasan selalu berusaha untuk memberikan contoh yang baik kepada bawahannya seperti bersikap dengan sopan, bekerja dengan baik, serta memberikan arahan kepada bawahan bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan baik.

Keseluruhan ini tidak dapat berjalan dengan lancar apabila bawahannya tidak kooperatif dalam melaksanakan segala kebijakan dan bimbingan dari atasan.

Pipinan di Development menilai karyawan mempunyai kinerja tinggi adalah dengan pemberian tugas atau pekerjaan yang lebih berat. Jika karyawan tersebut dapat menyelesaikan dengan baik maka pimpinan akan memberikan apresiasi atau pujian kepada karyawan serta tidak hanya itu sebagai wujud apresiasi dari atasan atas hasil kerja yang baik juga ditunjukkan melalui appraisal tahunan sehingga karyawan yang sudah berhasil meyelesaikan pekerjaan dengan baik akan diberikan nilai yang bagus atau diberikan kenaikan group tentunya hal itu diiringi dengan kenaikkan gaji yang cukup tinggii dibandingkan karyawan lain yang kurang bisa bekerja dengan baik.

Karyawan yang berkinerja tinggi memang sangat diharapkan oleh perusahaan namun hal itu juga perlu diperhatikan, semua yang teah dilakukan oleh karyawan terhadap perusahaan membutuhkan perhatian lebih dari pimpinan itu sendiri terhadap hasil kerjanya.

Sehingga seringkali dilakukan pimpinan di Development, di sela kesibukannya atasan selalu menyempatkan diri untuk makan siang bersama

dengan bawahan untuk membangun keakraban. Hal ini untuk menciptakan hubungan kekeluargaan yang semakin harmonis antara atasan dan bawahannya.

Sehingga terlihatlah sebuah keakraban antara atasan dan bawahannya.

Walaupun beliau memiliki jabatan yang lebih tinggi, namun beliau tidak pernah merasa tinggi dengan menganggap kecil para karyawannya.

Namun demikian, bawahan tetap memiliki rasa segan terhadap atasan, bukan karena takut akan ancaman atau hal yg bersifat senioritas dan jabatan, tetapi lebih kepada rasa memiliki antara atasan dan bawahan. Hal ini secara tidak langsung menjadikan atasan itu sebagai trendsetter dalam hal sikap dan tanggung jawab kerja.

Selain diperlakukan secara adil tentunya semua staff menginginkan perasaan yang nyaman dalam bekerja. Hal ini penting karena tanpa adanya perasaan nyaman makan mustahil karyawan bisa bekerja dengan baik. Pada saat peneliti melakukan penelitian Di Departemen Depelopmen maka Ibu Carolina susanty memberikan komentarnya mengenai hal ini. Beliau mengatakan bahwa :

”Sangat nyaman...saya disini sangat nyaman.”

Dengan lantangnya ibu carolina mengatakan bahwa beliau sudah sangat nyaman bekerja di Departemen ini sehingga kata ”nyaman” beliau sebutkan secara berulang sebagai bentuk penegasan. Dan bukan hanya ibu carolina namun

Ibu Tiara juga memberikan pernyataa bahwa :

” Sejauh ini nyaman-nyaman saja

Dan Ibu Hesti juga memberikan pendapat yang sama

” Sampai saat ini merasa nyaman”

Ketiga komentar ini menegaskan bahawa karyawan udah mendapatkan perasaan nyaman seperti yang mereka inginkan.

Menurut Lewis, komunikasi kebawah adalah untuk menyiapkan tujuan, untuk merubah sikap, membentuk pendapat, mengurangi ketautan dan kecurigaan yang timbul karena salah informasi dan mempersiapkan anggota organisasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan.47

Dengan demikian, tentunya dalam sebuah komunikasi internal terkadang terjadi permasalahan. Masalah yang terjadi itu bisa berasal dari karyawan, atau atasan. Begitu juga di Departemen Development, untuk itu atasan selalu memberikan waktu serta kesempatan kepada bawahannya untuk mengkomunikasikan masalah tersebut kepada atasan baik melalui e-mail, telepon, maupun bertemu langsung dengan atasan. Bahkan tidak jarang atasan selalu mengajak karyawannya untuk berdiskusi membahas tentang masalah tersebut atau

47 Muhammad Arni, Komunikasi Organisasi. Bumi Aksara. Jakarta. 2001. Hal. 108

membahas tentang rencana-rencana kerja. Sehingga setiap masalah bisa diselesaikan dengan cepat dan pekerjaan berjalan dengan lancar.

Mengenai hambatan secara eksternal pasti ada karena untuk menyeesaikan setiap project pastinya ada tantangan atau rintangan kecil sehingga menjadikan suatu pembelajaran. Namun secara internal Pak Budhi mengatakan hampir tidak ada. Kendala yang dihadapi mereka hanya bersifat eksternal misalnya wilayah yang sudah dipilih untuk pembangunan outlet baru yang dianggap sudah memenuhi kriteria namun tidak bisa dibangun restaurant karena wilayah tersebut khusus untuk perumahan saja atau terkadang kendala mengenai sewa tempat.

Seperti sang pemilik tanah tidak mau menyewakan tempatnya dalam waktu yang lama sedangkan Pizza Hut biasanya menginginkan untuk menyewa tempat tersebut selama 20 tahun. Inilah kenadala-kendala yang mereka hadapi di lingkungan eksternal sehingga menuntut departemen ini harus berfikir keras untuk menentukan strategi apa yang harus mereka pakai sehingga semua bisa berjalan seperti yang mereka harapkan. Dalam hal ini Bapak Budhi Dharmawan mengatakan untuk hambatan yang terjadi secara eksternal beliau mengatakan:

”Ohh jelas karena kita tidak selalu mudah untuk mendapatkan lokasi. Hambatannya adalah kalau secara eksternal adalah pemilik ingin mendapatkan harga sewa yang cukup tinggi juga dia tidak mau disewa dalam jangka panjang karena kita biasanya jangka panjang sewanya 20 tahun. Untuk free standingnya rata-rata 20 tahun kemudian hambatan lainnya masalah perizinan. Perizinan

kadang bermasalah karena kita buka disuatu tempat dilokasi ramai, biasanya izin dari Dinas Perhubungan yang sesuai dengan akses masuknya biasanya mereka akan mempertimbangkan.

Kemudian juga kalau lokasi tersebut bukan dikhususnya untuk restaurant atau untuk perumahan biasanya kita tidak bisa buka dan masih ada hambatan lainnya.”

Untuk hambatan secara internal Pak Budhi memberikan komentar sebagai berikut:

”Kalau internal terus terang bukan hambatan yaa mungkin lebih kepada kita diminta kalau buka disuatu lokasi harus bisa sesuai dengan proyeksi yang kita harapkan. Artinya bahwa kita dituntut untuk mencari suatu lokasi atau daerah yang memang akan bisa memberikan return kepada company sesuai dengan hitungan yang sudah dibuat artinya bahwa company tidak mau rugi dia invest sekian milyar diharapkan bahwa uang itu bisa secepatnya kembali kepada mereka.”

Serta untuk hambatan yang terjadi antara atasan dan bawahan dalam berkomunikasi Pak Budhi mengatakan sebagai berikut :

”Karena kita di real estate ini tidak terlalu birokratis artinya antara saya dengan staff saya setiap waktu kita selalu ketemu,

selalu ngobrol biasanya tidak menjadi suatu hambatan mereka untuk menyampaikan hal-hal apa saja yang mereka temui pada saat mereka survey atau negosiasi kepada pihak pemilik. Jadi saat ini hambatannya birokrasi tidak ada karena mereka selalu terbuka kepada saya apa yang dia lakukan dan kadang-kadang langsung kasih pengarahan kepada mereka supaya mereka melakukan strategi atau pendekatan lain supaya mereka bisa mendapatkan lokasi tersebut.”

Dan pada saat ditanyakan kepada bawahannya mengenai hambatan yang dihadapi saat berkomunikasi dengan atasan, Ibu Hesty sebagai salah satu staffnya dengan lantang memberikan jawaban sebagai berikut :

”Sejauh ini tidak ada.”

Dengan demikian maka terlihat jelas bahwa pola komunikasi vertikal yang terjadi di Departemen Ini sudah berjalan sesuai dengan semestinya berdasarkan pencocokkan hasil penelitian dengan teori-teori mengenai pola komunikasi vertikal di bab 2 yang peneliti paparkan secara luas dan lengkap.

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 23-33)

Dokumen terkait