• Tidak ada hasil yang ditemukan

Urusan Pemerintahan Wajib yang Tidak Berkaitan dengan Pelayanan Dasar

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH (Halaman 51-79)

Rata-rata lama sekolah

C. Aspek Pelayanan Umum

2. Urusan Pemerintahan Wajib yang Tidak Berkaitan dengan Pelayanan Dasar

a. Tenaga Kerja

Kondisi ketenagakerjaan di Kota Surakarta secara makro dapat dilihat dari tingkat pengangguran terbuka (TPT) dan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK). Data menunjukkan bahwa TPAK di Kota Surakarta sejak tahun 2010 hingga 2014 menunjukkan peningkatan, namun pada tahun terakhir mengalami penurunan. TPT dari tahun 2010 mengalami penurunan sampai dengan Tahun 2014 dengan nilai 6,16. Angka partisipasi kerja pada tahun 2014 mencapi angka 6,16. Adapun indikator-indikator lain dari urusan ketenaga kerjaan dapat dilihat dalam Tabel 2.37 berikut.

Tabel 2.37

Pencapaian Kinerja Bidang Tenaga Kerja Kota Surakarta Tahun 2010-2015

No Indikator Capaian

2010 2011 2012 2013 2014 2015

1. Pencari kerja yang ditempatkan (%) - 15,1 48,2 28,9 50,91 72,1 2. Angka sengketa pengusaha-pekerja

per tahun 50,6 51,58 63,09 70,62 3,50 3,58

3. Tingkat pengangguran

terbuka (%) 8,73 6,40* 6,10* 7,18* 6,08* 5,95*

4. Keselamatan dan perlindungan (%) 52 51,58 63,09 70,62 71,68 74,53 5. Persentase Kasus yang diselesaikan dengan Perjanjian Bersama (PB) (%) 100 100 100 100 100 78 6. Persentase pekerja/ buruh yang menjadi peserta program Jamsostek (%)

67,24 74,23 72,03 74,51 72,32 76,63

7. Persentase Pemeriksaan

Perusahaan (%) 76,71 70,03 68,26 70,50 63,08 50,39

8. Persentase Pengujian Peralatan di

Perusahaan (%) 14,77 17,64 14,03 11,98 11,15 18,48

Sumber : Dinas Sosial, Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Kota Surakarta, 2016 *) data Statistik Daerah Kota Surakarta, 2015

b. Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak

Terkait dengan pemberdayaan perempuan dan anak, pemerintah berupaya untuk memberikan hak yang sama dalam pembangunan melalui upaya kesetaraan gender. Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk diterbitkannya Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional, yang kemudian ditindaklanjuti dengan diterbitkannya Permendagri 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Pengarusutamaan Gender yang

kemudian diganti dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 mengamanatkan pengintegrasian isu gender dalam berbagai bidang pembangunan, pembentukan kelembagaan PUG serta dukungan pembiayaan pembangunan yang responsive gender. Selain itu juga telah diamanatkan Standar Pelayanan Minimal urusan pemberdayaan perempuan dan pelindungan anak. Pelaksanaan SPM tersebut merupakan konsekuensi pelaksanaan program pembangunan yang responsif gender dan responsif anak.

Untuk mengukur keberhasilan pembangunan responsive gender dengan menggunakan Indeks Pembangunan Gender (IPG) atau Gender Development Index (GDI) dengan nilai minimal 40 dan terbesar 80. IPG merupakan IPM yang terpilah antara laki-laki dan perempuan. IPG dapat digunakan untuk mengetahui kesenjangan pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan gender terjadi apabila nilai IPM sama dengan IPG.

Berdasarkan data dari Pembangunan manusia berbasis gender (Kementerian PP dan PA & BPS) tahun 2016, diketahui bahwa nilai IPG dan nilai IDG menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Apabila di tahun 2010 angka IPG dan IDG menunjukkan angka 95,28 dan 75,75 maka pada tahun 2015 mencapai 96,84 dan 74,12.

Jumlah anak usia 0-19 tahun di Kota Surakarta tahun 2015 sebanyak 157.177 jiwa, terdiri dari laki-laki sebanyak 78.708 jiwa dan perempuan sebanyak 78.469 jiwa. Upaya pemerintah untuk melindungi dan memberikan hak anak antara lain diwujudkan dengan pembentukan forum anak, deklarasi Kota Surakarta sebagai Kota Layak Anak, dan pemenuhan hak-hak anak di berbagai bidang sesuai dengan amanat Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Pencapaian kinerja urusan Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak dengan mendasarkan indikator yang diatur dalam beberapa peraturan dapat diidentifikasi pada Tabel 2.38 berikut:

Tabel 2.38

Pencapaian Kinerja Berbagai Indikator Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak di Kota Surakarta Tahun 2010-2015

No Indikator Capaian 2010 2011 2012 2013 2014 2015 1 Partisipasi perempuan di lembaga pemerintah (%) 3,49 3,50 3,50 3,50 3,51 3,51

2 Angka melek huruf perempuan usia 15 th ke atas

100 100 100 100 100 100

3 Partisipasi angkatan

kerja perempuan (%) 53,67 53,67 53,68 53,68 53,68 53,69 Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat, PP, PA dan KB Kota Surakarta, 2016

Pelaksanaan SPM Bidang Penanganan Korban Kekerasan Perempuan dan Anak di Kota Surakarta telah dilaksanakan dengan baik. Seluruh korban kekerasan perempuan dan anak telah

mendapat penanganan pengaduan. Namun penanganan bimbingan rohani belum dilaksanakan oleh tenaga rohaniwan yang dilatih. Berdasarkan data di bawah ini tidak semua korban kekerasan perlu dilakukan rehabilitasi sosial.

Tabel 2.39

Pencapaian Kinerja SPM Bidang Layanan Penanganan Korban Kekerasan Perempuan dan Anak di Kota Surakarta Tahun 2010-2015

No Indikator 2010 2011 2012 Capaian 2013 2014 2015

1. Rasio KDRT 0,14 0,14 0,07 0,04 0,03 0,03

2. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang

mendapatkan penanganan pengaduan (%)

100 100 100 100 100 100

3. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang

mendapatkan layanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih di

Puskesmas mampu tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di RS (%)

100 100 100 100 100 100

4. Cakupan layanan bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas bimbingan rohani terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu (%)

25 50 50 50 50 50

5. Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak (%)

50 50 50 75 100 100

6. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang

mendapatkan layanan bantuan hukum (%)

50 50 50 60 80 100

7. Cakupan layanan pemulangan bagi perempuan dan anak korban kekerasan (%)

50 60 70 80 100 100

8. Cakupan layanan reintegrasi social bagi perempuan dan

anak korban kekerasan (%) 70 80 90 100 100 100

9. Cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu (%)

40 40 50 50 60 60

Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat, PP, PA dan KB Kota Surakarta, 2016

c. Pangan

Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup

sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Ketahanan pangan di suatu daerah mencakup empat komponen, yaitu: (1) kecukupan ketersediaan pangan; (2) stabilitas ketersediaan pangan tanpa fluktuasi dari musim ke musim atau dari tahun ke tahun; (3) aksesibilitas/keterjangkauan terhadap pangan; dan (4) kualitas/keamanan pangan.

Ketersediaan pangan utama di Kota Surakarta pada tahun 2011 sebanyak 52.853.000 kg per kapita, dan mengalami peningkatan sampai dengan Tahun 2015 menjadi 90.059.570 kg perkapita. Berkaitan dengan ketersediaan pangan, Kota Surakarta menghadapi kendala produksi bahan pangan yang terbatas, sehingga memerlukan pasokan dari luar daerah. Diperlukan upaya peningkatan produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Aksesibilitas/keterjangkauan terhadap bahan pangan dipengaruhi oleh inflasi daerah. Dalam kurun waktu lima tahun inflasi di Kota Surakarta relatif stabil, kenaikan harga bahan pangan terutama terjadi pada hari-hari besar keagamaan. Beberapa upaya telah dilakukan pemerintah Kota Surakarta, baik dalam rangka pemantauan maupun pengendalian harga dan pasokan bahan pangan. Berkaitan dengan kualitas/keamanan pangan, pemerintah Kota Surakarta secara rutin melakukan pengecekan sampel bahan pangan agar dapat dikonsumsi secara aman oleh masyarakat.

Beberapa kelompok bahan pangan yang masih rendah konsumsinya adalah daging, sayur dan buah, dan umbi-umbian. Beberapa faktor yang mempengaruhi adalah kebiasan masyarakat dalam mengkonsumsi bahan pangan, dan daya beli masyarakat terhadap bahan pangan tertentu, dan potensi pangan lokal yang belum banyak dimanfaatkan penduduk.

Kinerja pembangunan urusan ketahanan pangan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.40 berikut:

Tabel 2.40

Capaian Kinerja Urusan Pangan Tahun 2010-2015

Sumber : Kantor Ketahanan Pangan Kota Surakarta, 2016

No Indikator Satuan Capaian

2010 2011 2012 2013 2014 2015

1 Regulasi ketahanan

pangan Perda/ Perwal tad tad ada ada ada ada

2 Ketersediaan

pangan utama Kg/kap tad 52.853.000 58.000.470 67.366.800 74.943.000 90.059.570 3 Ketersediaan

Energi Per Kapita Kkal/kap/ hari tad 1.136,78 1.448,95 1.078,69 1.554,85 1.665,65 4 Ketersediaan

Protein Per Kapita gram/kap/hari tad 1.352,14 1.385,89 1.401,12 1.411,13 1.425,26

5 Skor PPH - 84,9 86,11 89,6 90,1 90,3 80,8

6 Pengawasan dan Pembinaan

Keamanan Pangan % tad 100 100 100 100 100

7 Penanganan Daerah Rawan

d. Pertanahan

Sesuai pasal 2 ayat 2 Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional Bidang Pertanahan, pemerintah daerah memiliki kewenangan dalam bidang pertanahan sebagai berikut: 1) Pemberian izin lokasi, yang meliputi: (a). izin yang diberikan

kepada perusahaan untuk memperoleh tanah yang diperlukan dalam rangka penanaman modal yang berlaku sebagai izin pemindahan hak, dan untuk menggunakan tanah tersebut guna keperluan usaha penanaman modal; (b). perusahaan adalah perseorangan atau badan hukum yang telah memperoleh izin untuk melakukan penanaman modal sesuai ketentuan yang berlaku; dan (c). penanaman modal adalah yang menggunakan maupun tidak menggunakan fasilitas penanaman asing maupun penanaman modal dalam negeri.

2) Penyelenggaraan pengadaan tanah untuk pembangunan. Pengadaan tanah adalah kegiatan untuk memperoleh tanah baik dengan cara memberikan ganti kerugian maupun tanpa memberikan ganti kerugian (secara sukarela).

3) Penyelesaian sengketa tanah garapan. Sengketa tanah garapan adalah pertikaian ataupun perbedaan kepentingan dari dua pihak atau lebih atas tanah garapan.

4) Penyelesaian ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan. Ganti kerugian adalah penggantian atas nilai tanah berikut bangunan, tanaman dan/atau benda-benda lain yang terkait dengan tanah akibat pelepasan atau penyerahan hak atas tanah, dalam bentuk uang, tanah pengganti, pemukiman kembali, gabungan dari dua atau lebih bentuk ganti kerugian tersebut atau bentuk lain.

5) Penetapan subjek dan objek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee yang menjadi tanah objek landreform.

6) Pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong. Tanah kosong adalah tanah yang dikuasai hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, dan hak pakai tanah, hak pengelolaan, atau tanah yang sudah diperoleh dasar penguasaannya tetapi belum diperoleh hak atas tanahnya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau sebagainya, yang belum dipergunakan sesuai dengan sifat dan tujuan pemberian haknya atau Rencana Tata Ruang Wilayah yang berlaku.

7) Pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong. Tanah kosong adalah tanah yang di kuasai hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, dan hak pakai tanah, hak pengelolaan, atau tanah yang sudah diperoleh dasar penguasaannya tetapi belum diperoleh hak atas tanahnya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau sebagainya, yang belum dipergunakan sesuai dengan sifat dan tujuan pemberian haknya atau Rencana Tata Ruang Wilayah yang berlaku.

8) Pemberian izin membuka tanah. Diartikan sebagai izin yang diberikan kepada seseorang untuk mengambil manfaat dan mempergunakan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara. 9) Perencanaan penggunaan tanah wilayah Kabupaten/Kota. Hal ini

diartikan merupakan pelaksanaan dan penetapan letak tepat rencana kegiatan yang telah jelas anggarannya baik dari

pemerintah, swasta maupun perorangan yang akan

membutuhkan tanah di wilayah Kabupaten/Kota tersebut berdasarkan data informasi pola penatagunaan tanah yang sesuai dengan kawasan rencana tata ruang wilayah. Adapun pola penatagunaan tanah adalah informasi mengenai keadaan penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah sesuai dengan kawasan yang disiapkan oleh kantor Pertanahan Kabupaten/Kota.

Pembangunan dan penataan pertanahan menjadi sesuatu hal yang penting untuk dikembangkan menjadi lebih baik karena mempunyai peranan sosial dan ekonomi yang penting. Oleh karena itu, untuk dapat menguatkan dan membuktikan kepemilikan akan tanah perlu dibuatkan alat bukti berupa sertifikat tanah. Sertifikat tanah terdiri atas Hak Milik (HM), Hak Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan (HGB), Hak Pakai (HP), Hak Pengelolaan, dan Wakaf.

Pada tahun 2015 aset Pemerintah Kota Surakarta berupa tanah seluruhnya seluas 4.676.310 m2 (1.162 titik). Tanah yang sudah bersertifikat seluas 3.983.364 m2 (952 titik) atau sebesar 85,18% dari luas total tanah aset, sedangkan yang belum memiliki sertifikat seluas 692.946 m2 (210 titik) atau 14,82% dari luas total tanah aset.

Kewenangan lain yang dimiliki pemerintah daerah adalah pemberian izin lokasi. Data tahun 2013 izin lokasi yang sudah diberikan telah mencapai 100% dari total pengajuan atau dapat dikatakan bahwa seluruh pengajuan izin lokasi telah diselesaikan dengan baik.

Permasalahan pertanahan merupakan permasalahan yang cukup sensitif dan tidak jarang menimbulkan konflik. Hal tersebut tidak terkecuali juga terjadi pada tanah-tanah yang dimiliki oleh negara. Penyelesaian kasus tanah negara selama dua tahun terakhir menunjukkan persentase yang meningkat. Pada tahun 2013 jumlah kasus tanah yang terselesaikan mencapai 76,05%, mengalami penurunan sehingga menjadi 57,44% pada tahun 2014, untuk tahun 2015 mengalami kenaikan 100%.

e. Lingkungan Hidup

Kinerja urusan lingkungan hidup Kota Surakarta dapat dilihat dari kinerja pengelolaan persampahan, pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup, perlindungan dan konservasi sumber daya alam dan pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Dalam pengelolaan sampah kegiatan yang dilakukan terdiri atas pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan dan daur ulang. Indikator kinerja yang ditunjukkan dalam penanganan sampah di Kota

Surakarta ditunjukkan melalui pengelolaan persampahan. Sampai pada tahun 2015, kinerja penanganan sampah di Kota Surakarta sudah mencapai 95,72%. Sementara itu ketersediaan tempat pembuangan sampah (TPS) berdasarkan satuan jumlah penduduk menunjukan kondisi yang meningkat dari 1,78 m3 pada tahun 2010 menjadi 2,5 m3 pada tahun 2015.

Tabel 2.41

Kinerja Pengelolaan Persampahan di Kota Surakarta Tahun 2010-2015

No Indikator 2010 2011 2012 Tahun 2013 2014 2015 1 Persentase penanganan sampah (%) 95,72 95,72 95,14 96,33 95,82 95,90 2 Rasio Ketersediaan Tempat pembuangan sampah per satuan penduduk 1,78 1,77 1,81 1,04 2 2,5 3 Jumlah kelompok pengelola sampah (kelompok) 5 6 7 9 11 18

Sumber : Dinas Kebersihan dan Pertamanan dan Badan Lingkungan Hidup Kota Surakarta, 2016 Berdasarkan Statistik Daerah Kota Surakarta Tahun 2015, tercatat produksi sampah di Kota Surakarta pada Tahun 2014 mencapai 96,21 juta ton dengan rata-rata produksi sampah setiap harinya mencapai 264 ton. Komposisi jenis sampah di Kota Surakarta terdiri atas sampah kertas, kayu, kain, karet, kulit, plastik, metal/logam, gelas/kaca dan organik. Dari sekian banyak jenis sampah yang ada di Kota Surakarta, tertinggi di antaranya adalah jenis sampah organik (62,30%), sampah plastik (13,67%) dan sampah kertas (12,53%). Jumlah sampah yang terangkut setiap harinya di Kota Surakarta mencapai 263,59 ton. Jumlah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kota Surakarta saat ini tersedia 1 tempat, dengan jumlah sampah yang masuk di TPA mencapai 96.210 ton per tahun pada tahun 2015.

Ketersediaan sumber daya dalam pengelolaan sampah di Kota Surakarta meliputi jumlah pekerja kebersihan mencapai 407 orang dan 18 kelompok pengelola sampah. Sarana pengangkutan dan pengelolaan sampah di Kota Surakarta terdiri dari truk sampah sebanyak 25 unit, pick up sebanyak 7 unit, arm roll sebanyak 4 unit, container sebanyak 25 unit, toilet container sebanyak 8 unit, TPS sebanyak 8 unit, buldozer sebanyak 2 unit, excavator sebanyak 4 unit, whell loader sebanyak 1 unit dan gerobak motor sampah sebanyak 6 unit pada tahun 2015.

Usaha pengendalian dan pengelolaan lingkungan di Kota Surakarta dilakukan melalui pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan. Indikator yang dilaksanakan adalah dengan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) di Kota Surakarta. Amdal merupakan kajian mengenai dampak penting suatu Usaha dan/atau Kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi

proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau Kegiatan. Pasal 48 ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 menyebutkan bahwa dalam hal usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pemrakarsa wajib memiliki izin perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan izin lingkungan.

Secara administratif, usaha yang dikelola diwajibkan memiliki izin perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Salah satu persyaratan administratif adalah perusahaan harus memiliki persyaratan administrasi dan teknis pencegahan pencemaran air. Sampai tahun 2015, jumlah usaha dan/atau kegiatan yang menaati persyaratan administrasi dan teknis pencegahan pencemaran air di Kota Surakarta mencapai 100%. Secara umum capaian dalam lima tahun terakhir meningkat karena kondisi pada tahun 2010 baru mencapai 42,85%.

Sementara itu mengenai kasus gangguan perusahaan terhadap kondisi lingkungan di masyarakat menunjukkan sudah ditangani dengan baik. Jumlah pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang ditindaklanjuti oleh pemerintah Kota Surakarta sudah berjalan sesuai dengan yang diadukan masyarakat. Cakupan pengaduan yang ditindaklanjuti mencapai 100% setiap tahunnya dari mulai tahun 2010 sampai dengan tahun 2015. Kondisi yang sama juga terjadi pada sistem penegakan hukum lingkungan. Dari kasus yang masuk ke pemerintah Kota Surakarta dapat diselesaikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kinerja dalam pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan di Kota Surakarta dapat dilihat pada Tabel 2.42.

Tabel 2.42

Kinerja Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan di Kota Surakarta Tahun 2010-2015

No Indikator Satuan 2010 2011 2012 Tahun 2013 2014 2015

1 Pemantauan status mutu air % 100% 100% 100% 100% 100% 100% 2 Rasio Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan AMDAL % 0 16,67 16,67 16,67 16,67 23,53

3 Jumlah usaha dan /atau kegiatan yang mentaati persyaratan administrasi dan teknis pencegahan pencemaran air % 42,85 57,14 71,43 71,43 60 70

No Indikator Satuan 2010 2011 2012 Tahun 2013 2014 2015 4 Jumlah pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang ditindak lanjuti

% 100 100 100 100 100 100 5 Ketersediaan Laboratorium Penelitian Lingkungan Lab 1 4 4 4 4 4 6 Penegakan hukum lingkungan % 100 100 100 100 100 100 7 Jumlah Perda

Lingkungan Hidup Perda 0 0 0 1 1 1

Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surakarta, 2016

Dalam upaya memberikan ruang gerak kepada masyarakat dalam beraktivitas, berkomunikasi dan saling berinteraksi pemerintah Kota Surakarta menyediakan ruang terbuka hijau dalam bentuk taman ataupun arena. Secara teoritis, yang dimaksud ruang terbuka hijau adalah kawasan atau areal permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina untuk fungsi perlindungan habitat tertentu, dan atau sarana lingkungan/kota, dan atau pengamanan jaringan prasarana, dan atau budidayapertanian. Sarana ruang terbuka hijau berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang adalah sebesar 30% dari seluruh luas wilayah Kota Surakarta. Dari 30% tersebut, 20% di antaranya peruntukan ruang terbuka hijau bersifat publik dan 10% di antaranya untuk privat.

Sampai dengan tahun 2015, persentase ruang terbuka hijau di Kota Surakarta mencapai 9,72; menurun jika dibandingkan tahun 2010 sebesar 18,23. Kondisi tersebut menunjukkan ruang terbuka hijau di Kota Surakarta masih rendah karena masih berada jauh dari target yang ditetapkan dalam SPM. Untuk mendorong ketercapaian SPM dalam pemenuhan RTH, Pemerintah Kota Surakarta telah berupaya dengan membangun taman-taman baru. Sampai tahun 2015, jumlah taman yang dibangun sudah mencapai 11 taman. Pemetaan RTH sendiri akan dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup di tahun 2015. Kinerja indikator pengelolaan RTH selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 2.43 berikut.

Tabel 2.43

Kinerja Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Surakarta Tahun 2010-2015

No Indikator Satuan 2010 2011 2012 Tahun 2013 2014 2015

1 Persentase RTH publik di wilayah

perkotaan % 18,54 11,9 18,54 12,63 12,03 9,72

2 Jumlah taman yang

dibangun BLH Unit 2 6 9 11 11 11

Upaya perlindungan konservasi sumberdaya alam di Kota Surakarta selain dengan peningkatan kawasan hijau juga dilakukan dengan peningkatan area serapan. Area serapan yang dibangun pada wilayah-wilayah yang cenderung padat. Dalam meningkatkan area serapan air, Pemerintah Kota Surakarta telah membangun sumur resapan secara berkelanjutan setiap tahunnya. Tahun 2010, sumur resapan dibangun sebanyak 55 buah, jumlah sumur resapan dibangun menurun pada tahun 2011 menjadi 33 buah dan kembali meningkat pada tahun 2012 menjadi 42 dan tahun 2015 dibangun sebanyak 75 buah. Sebagai upaya mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan, telah digalakkan juga pelaksanaan kampung iklim yang mana pada tahun 2013 sampai dengan tahun 2015 sudah terbentuk 1 kampung tiap tahunnya, sehingga total yang ada sampai dengan tahun 2015 adalah 3 kampung iklim. Ketiga Kampung Iklim tersebut adalah RW IX di Kelurahan Kadipiro (2013), Kelurahan Sondakan (2014), dan RW XXIII kelurahan Kadipiro (2015).

Tabel 2.44

Kinerja Perlindungan Konservasi Sumber Daya Alam di Kota Surakarta Tahun 2010-2015

No Indikator Satuan 2010 2011 2012 Tahun 2013 2014 2015

1 Jumlah sumur

resapan Unit 55 33 42 80 50 75

2 Jumlah percontohan

kampung iklim Kawasan 0 0 0 1 1 1

Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surakarta, 2016

Untuk melihat kualitas dan akses informasi sumber daya alam dan lingkungan hidup, Pemerintah Kota Surakarta dari setiap tahunnya melakukan kajian lingkungan. Hasil kajian tersebut berupa kondisi status lingkungan hidup daerah Kota Surakarta, yang menggambarkan kondisi lingkungan secara umum di Kota Surakarta.

Upaya pengendalian polusi atau pencemaran udara di Kota Surakarta salah satunya adalah dengan mengendalikan jenis-jenis usaha yang diduga berpotensi memberikan sumbangan dalam pencemaran udara. Pengendalian dengan melakukan pengawasan terhadap setiap jenis usaha dan/atau kegiatan sumber tidak bergerak agar selalu dapat memenuhi persyaratan administrasi dan teknis pencegahan pencemaran udara. Sampai dengan tahun 2015, upaya pengedalian polusi secara administratif terhadap perusahaan-perusahaan yang dalam pengawasan sudah mencapai 100%, terpenuhi sesuai target SPM. Sedangkan dalam pemenuhan sarana monitoring pengendalian polusi, capaiannya masih rendah baru mencapai 28,57% pada tahun 2010. Pada Tahun 2011 sampai dengan tahun 2015 mencapai 57,14%. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.45 di bawah ini.

Tabel 2.45

Kinerja Pengendalian Polusi di Kota Surakarta Tahun 2010-2015

No Indikator Satuan Tahun

2010 2011 2012 2013 2014 2015

1 Persentase usaha dan/atau kegiatan sumber tidak bergerak yang memenuhi persyaratan

administrasi dan teknis pencegahan

pencemaran udara

% 75 75 100 100 80 80

2 Pemenuhan Sarana

Monitoring Polusi % 28,57 57,14 57,14 57,14 57,14 57,14 Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surakarta, 2016

f. Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil

Pelayanan administrasi kependudukan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 69 Tahun 2012 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang pemerintahan dalam negeri meliputi (1) Cakupan Penerbitan Kartu Keluarga; (2) Cakupan Penerbitan Kartu Tanda Penduduk; (3) Cakupan Penerbitan Kutipan Akta Kelahiran; dan (4) Cakupan Penerbitan Kutipan Akta Kematian. Berikut capaian masing-masing indikator SPM bidang pemerintahan dalam negeri jenis pelayanan dokumen kependudukan:

Tabel 2.46

Capaian Kinerja Urusan Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil di Kota Surakarta

No Indikator Capaian tahun

2014

Target Batas Waktu Pencapaian (Tahun)

1 Cakupan Penerbitan Kartu Keluarga 100% 100% 2015

2 Cakupan Penerbitan Kartu Tanda Penduduk 100% 100% 2015 3 Cakupan Penerbitan Kutipan Akta Kelahiran 100% 90% 2020 4 Cakupan Penerbitan Kutipan Akta Kematian 50% 70% 2020 Sumber: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta, 2016

Penyelenggaraan administrasi kependudukan di Kota Surakarta dalam jangka waktu 2010-2014 berjalan dengan baik, hal ini dapat dilihat dari rasio penduduk ber-KTP, rasio bayi berakte kelahiran, kepemilikan akta kelahiran dan rasio pasangan berakte nikah. Seluruh penduduk berusia 17 tahun ke atas di Kota Surakarta sejak tahun 2011 sudah memiliki KTP. Hal ini menunjukkan kesadaran dari masyarakat dalam memenuhi kewajiban administrasi kependudukan sudah baik.

Akta kelahiran merupakan hak setiap anak yang dilahirkan, pemenuhannya harus dilakukan oleh orangtua. Dalam kurun waktu 2010-2015 rasio bayi yang memiliki akte kelahiran sebesar 100, hal ini berarti anak usia 0-5 tahun di Kota Surakarta pasti memiliki akte kelahiran. Tetapi akte kelahiran belum dimiliki oleh seluruh penduduk Kota Surakarta. Tahun 2010 baru sebesar 69% penduduk memiliki akte kelahiran, angka ini meningkat menjadi 85% pada tahun 2015. Walaupun terjadi peningkatan kepemilikan akte

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH (Halaman 51-79)