• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : LANDASAN TEORI

D. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Indonesia

1. Pengertian UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah)

Keberadaan usaha mikro, kecil, dan menengah dalam perekonomian Indonesia memiliki sumbangan yang sangat positif, diantaranya dalam menciptakan lapangan kerja, menyediakan barang dan jasa, serta pemerataan usaha untuk mendistribusikan pendapatan nasional. Dengan peranan usaha mikro, kecil dan menengah tersebut, posisi UMKM dalam pembangunan ekonomi nasional menjadi sangat penting.

Pembahasan tentang UMKM meliputi pengelompokan jenis usaha, yaitu jenis industri skala kecil menengah (ISKM) dan perdangan skala kecil dan menengah (PSKM). Karena dalam pengelompokannya pada akhirnya terfokus pada permasalahan kesempatan lapangan kerja dan dietakkan pada kemampuan pengembangan ISKM dan PSKM.36

Adapun pengertian UMKM diberbagai negara tidak selalu sama dan bergantung pada konsep yang digunakan oleh negara tersebut. Oleh karena itu pengertian UMKM ternyata berbeda antara satu negara dengan negara lainnya. Dalam pengertiannya mencakup dua aspek yaitu aspek tenaga kerja dan aspek pengelompokan ditinjau dari jumlah tenaga kerja

36 Titik Sartika Pratomo dan Abd. Rachman Soejono, Ekonomi Skala Kecil dan Kecil

31

yang diserap dalam kelompok perusahaan tersebut ( range of the member of employes ).37

Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2008 tentang usaha mikro, kecil, dan menengah ( UMKM ).38

a. Usaha mikro adalah usaha produktif milik perorangan dan atau badan usaha perorangan yang memenuhi kreteria usaha mikro sebagai mana diatur dalam undang-undang ini, yaitu kekayaan bersih (tidak termasuk tanah dan bangunan) paling banyak Rp. 50.000.000, dan hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000

b. Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha berat yang memenuhi kreteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini, yaitu kekayaan bersih (tidak termasuk tanah dan bangunan) lebih dari Rp. 50.000.000 sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000 dan hasil penjualan tahunan lebih dari Rp.300.000.000 samapi dengan paling banyak Rp. 2.500.000.000

c. Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri yang dilakukan oleh usaha orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung maupu n tidak langsung baik usaha kecil atau

37 Titik Sartika Pratomo dan Abd. Rachman Soejono, Ekonomi Skala Kecil dan Kecil

Menengah dan Koperasi, ( Jakarta : Galia Indonesia, 2002 ),hal 14

38 Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Usaha Menengah Republik Indonesia,

Kriteria Usaha Mikro, Kecil, danMenengah Tahun 2008 tentang UMKM ), artikel diakses pada 12

februari 2016

usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini, yaitu kekayaan bersih ( tidak termasuk tanah dan bangunan ) lebih dari Rp. 500.000.000 sampai dengan paling banyak Rp. 10.000.000.000, dan hasil penjualan tahunan Rp. 2.500.000.000 sampai dengan paling banyak Rp. 50.000.000.000.

Dilihat dari kreteria yang terdapat dalam pasal 6, bab IV, undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2008, tentang usaha mikro, kecil, dan menengah :39

a. Usaha Mikro

a) Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000 (lima puluh juta) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

b) Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000 (tiga ratus juta)

b. Usaha Kecil

a) Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000 (lima puluh juta) sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000 (lima ratus juta) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau

b) Memili hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000 (tiga ratus juta) sampai dengan paling banyak Rp. 2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta)

c. Usaha menengah

a) Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp.500.000.000 (lima ratus juta) sampai dengan paling banyak

39 Tulus T.H Tambunan, UMKM di Indonesia, ( Jakarta : Ghalia Indonesia,2009 ) hal. 18

33

Rp.10.000.000.000 (sepuluh milyar) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau

b) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp.2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta) sampai dengan paling banyak 50.000.000.000 (lima puluh milyar Tabel 2.1 Kriteria UMKM Kekayaan bersih (Tidak termasuk tanah dan bangunan) Usaha Mikro Paling banyak Rp. 50 juta Usaha Kecil Lebih dari Rp. 50 juta sampai dengan paling banyak Rp.500 juta Usaha Menengah Lebih dari Rp.500 juta sampai dengan paling banyak Rp.10 Milyar Hasil Penjualan Tahunan (omzet/tahun) Paling banyak Rp.300 juta Lebih dari Rp.300 juta sampai dengan paling banyak Rp.2,5 milyar Lebih dari Rp. 2,5 milyar sampai dengan paling banyak Rp.50 milyar Sumber : Buku karya Tulus Tambunan, Usaha mikro kecil dan

menengah di Indonesia

Kepada UMKM, yaitu untuk usaha mikro pembiayaan yang diberikan sampai dengan maksimal Rp.50.000.000, untuk usaha kecil pembiayaan yang diberikan antara Rp.50.000.000 sampai dengan Rp.500.000.000 untuk usaha menengah pembiayaan yang diberikan antara Rp.500.000.000 sampai dengan Rp.5.000.000.000. Dalam penelitian ini jenis usaha yang termasukkedalam pembiayaan mikro yaitu hanya tercakup pada usaha mikro dan usaha kecil saja diman jumlah pembiyaan yang disalurkan Rp.2.000.000 sampai dengan maksimal Rp.100.000.000.

Tabel 2.2

Jenis Usaha Jumlah ( Plafon ) Pembiayaan

Usaha Mikro Rp.50.000.000

Usaha Kecil Rp.50.000.000-Rp.500.000.000 Usaha Menengah Rp.500.000.000-5.000.000.000

Sumber : Buku karya Tulus Tambunan, Usaha mikro kecil dan menengah

di Indonesia.

2. Karakteristik UMKM ( Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah ) a. Usaha Mikro

Berikut ciri-ciri usaha mikro :

1. Jenis barang atau komoditi usahanya tidak selalu tetap, sewaktu-waktu dapat terganti.

2. Tempat usahanya tidak selalumenetap, sewaktu-waktu dapat pindah tempat.

3. Belum melakukan administrasi keuangan yang sederhana sekalipun, dan tidak memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha.

4. Sumber daya manusianya (pengusahanya) belum memiliki jiwa usaha yang memadai.

5. Umumnya belum akses kepada –erbankan namun sebagian dari mereka sudah akses kelembaga non bank.

6. Tingkat pendidikan rata-rata relatif sangat rendah.

7. Umumnya tidak memiliki izin usaha atau persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP.

Dilihat dari kepentingan perbankan, usaha mikro adalah suatu segmen pasar yang cukup potensal untuk dilayani dalam upaya meningkatkan fungsi intermediasinya karena usaha

35

mikro mempunyai karakteristik positif dan unik yang tidak selalu dimiliki oleh usaha non mikro, antara lain :

1. Perputaran usaha (turn over) cukup tinggi, kemampuannya menyerap dana yang mahal dan dalam situasi krisis ekonomi kegiatan usaha masih tetap berjalan bahkan terus berkembang.

2. Tidak sensitif terhadap suku bunga.

3. Tetap berkembang walau dalam krisis ekonomi moneter 4. Pada umumnya berkarakter jujur, ulet, lugu, dan dan dapat menerima bimbingan asal dilakukan dengan pendekatan yang tepat

Namundemikian, didasari sepenuhnya bahwa masih banyak usaha mikro yang sulit memperoleh layanan kredit perbankan karena berbagai kendala baik pada sisi usaha mikro maupun sisi perbankan sendiri.

b. Usaha Kecil

Berikut ini ciri-ciri usaha kecil :

1. Jenis barang atau komoditi yang diusahakan umumnya sudah tetap tidak gampang berubah.

2. Lokasi atau tempat usahanya umumnya sudah menetap tidakberpindah-pindah.

3. Pada umumnya sudah melakukan administrasi keuangan walau masih sederhana, keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan keungan keluarga, sudah membuat neraca usaha.

4. Sudah memiliki izin usaha dan persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP.

5. Sumber daya manusianya (Pengusahanya) memiliki pengalaman dalam berwira usaha.

6. Sebagian sudah akses keperbankan dalam hal keperluan modal.

7. Sebagian besar belum mendapat menejemen usahanya dengan baik seperti bussines plaining

c. Usaha menengah

Berikut ini ciri-ciri usaha menengah :

1. Pda umumnya telah memiliki menejemen dan organisasi yang lebih baik, lebih teratur, bahkan lebih modern, dengan pembagian tugas yang jelas antara lain : bagian keuangan, bagian pemasaran, dan bagian produksi.

2. Telah melakukan menejemen keuangan dengan menerapkan system akuntansi dengan teratur, sehingga memudahkan untuk auditimg dan penelitian atau pemeriksaan termasuk perbankan. 3. Telah melakukan aturan atau pengelolaan dan organisasi

perburuhan, telah ada jamsostek, pemeriharaan kesehatan, dll. 4. Sudah memiliki segala persyartan legalitas antara lain : izin

tengga, izin usaha, izin tempat, NPWP, upaya pengelolaan lingkungandll.

5. Sudah akses kepada sumber-sumber perdanaan perbankan. 6. Pada umumnya sudah memiliki sumber daya manusia yang

terlatih dan terdidik.40

3. Keunggulan dan Kelemahan UMKM

Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh UMKM dibandingkan dengan usaha besar antar lain :41

40 Dessy, ” Pengertian dan kreteria UMKM”, Artikel ini diakses pada 14 februari 2016 dari http ://chichimoed.blogspot.com/2009/03/pengertian-dan-kriteria-ukm.html

41 Titik Sartika Pratomo dan Abd. Rachman soejono, Ekonomi Skala Kecil dan Kecil

37

a. Inovasi dalam teknologi yang dengan mudah terjadi dalam pengembangan produk.

b. Hubungan kemanusiaan yang akrab didalam usaha kecil. c. Fleksibilitas dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap

kondisi pasar yang berubah dnegan cepat dibandingkan dengan perusahaan berskala besar yang pada umumnya beresiko.

d. Terdapat dinamisme manajerial dan keparanan kewirausahaan.

Sedangkan kelemahan yang dimiliki UMKM dalah : a. Kesulitan pemasaran

Hasil dari study lintas usaha yang dilakukan oleh James dan Akarasanee (1988) disejumlah negara ASEAN menyimpulkan salah satu aspek yang terkait dengan masalah permasalahan umum dihadapi oleh pengusaha UMKM adalah tekanan-tekanan persaingan baik dipasar domestik dari produk-produk yang serupa buatan pengusaha-pengusaha besar dan impor, maupun di pasar ekspor.

b. Keterbatasan finansial

UMKM di Indonesia menghadapi dua masalah utama dalam aspek finansial antara lain : modal ( baik modal awal maupun modal kerja ) dan finansial jangka panjang untuk investasi yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan output jangka panjang.

c. Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM)

Keterbatasan sumber daya manusia juga merupakan salah satu kendala serius bagi UKM di Indonesia, terutama dalam aspek-aspek kewirausahaan, manejemen, teknik produksi, pengembangan produk, kontrol kualitas, akuntansi, mesin-mesim, organisasi,

pemprosesan data, teknik pemasaran, dan penelitian pasar. Semua keahlian tersebut sangat diperlukan untuk mempertahankan atau memperbaiki kualitas produk, meningkatkan efesiensi, dan produktifitas dalam produksi, memperluas pangsa pasar dan menembus pasar baru.

d. Masalah bahan baku

Keterbatasan bahan baku dan input-input lain juga sering menjadi salah satu masalah serius bagi pertumbuhan output dan kelangsungan produksi bagi UKM di Indonesia. Terutama selama masa krisis. e. Keterbatasan Teknologi

Berbeda dengan negara-negara maju, UKM di Indonesia umumnya masih menggunakan teknologi tradisional dalam bentukmesin-mesin tua atau alat-alat produksi yang sifatnya manual. Keterbelakangan teknologi ini tidak hanya membuat rendahnya jumlah produksi dan efesiensi didalam proses produksi, tetapi juga rendahnya kualitas produksi yang dibuat serta kesanggupan bagi UKM di Indonesia untuk dapat bersaing di pasar global. Keterbatasan produksi disebabkan oleh banyak faktor seperti keterbatasan modal investasi untuk membeli mesin-mesin baru, keterbatasan informasi mengenai perkembangan teknologi, dan keterbatasan sumber daya manusia yang dapat mengoprasikan mesin-mesin baru.

E. Peranan Pembiayaan Bank Syari’ah Terhadap Perkembangan

Dokumen terkait