BAB I : PENDAHULUAN
2.2 Tinjauan Pustaka
2.2.1 Usaha Mikro Kecil Menengah
Di Indonesia sendiri belu terdapat batasan dan kriteria yang baku mengenai usaha kecil. Berbagai instansi menggunakan batasan dan kriteria menurut fokus permasalahan yang dituju:
Biro Pusat Statistik Indonesia – BPS (1988) mendefinisikan usaha kecil dengan ukuran tenaga kerja, yaitu lima sampai dengan sembilan belas orang yang terdiri atas termasuk pekerja kasar yang dibayar, pekerja pemilik, dan pekerja keluarga. Perusahaan industri yang memiliki tenaga kerja kurang dari lima orang diklasifikasikan sebagai industri rumah tangga.
Sedangkan klasifikasi yang dikemukakan oleh Stanley dan Morse di dalam buku Suryana ( 2006 :119) adalah industri yang menyerap tenaga kerja 1-9 orang termasuk industri kerajinan rumah tangga. Industri kecil menyerap 10-49 orang, industri sedang menyerap 50-99 orang, dan industri besar menyerap tenaga kerja 100 orang lebih.(Suryana,2006:119).
Menurut Suhardjono (2003 : 33) dalam buku Manajemen Perkreditan Usaha Kecil dan Menengah ada dua definisi usaha kecil yang di kenal di Indonesia adalah di Indonesia adalah sebagai berikut:
Pertama, definisi usaha kecil menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 dan Surat Edaran Bank Indonesia No. 3/9/Bkr tahun 2001 tentang Usaha Kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang memiliki hasil penjualan tahunan maksimal Rp.1 miliar dan memiliki kekayaan bersih, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, paling banyak Rp. 200 juta.
Kedua, menurut kategori Biro Pusat Statistik (BPS), usaha kecil identik dengan industry kecil dan industry rumah tangga. BPS mengklasifikasikan industri berdasarkan jumlah pekerjaannya, yaitu industri rumah tangga dengan pekerja 1-4 orang, industri kecil dengan pekerja 5-19 orang, industri menengah dengan pekerja 20-99 orang, industri besar dengan pekerja 100 orang atau lebih.
Usaha Mikro (Menurut Keputusan Menkeu No. 40/KMK.06/2003, tentang Pendanaan Kredit Usaha Mikro dan Kecil): Usaha produktif milik keluarga atau perorangan Warga Negara Indonesia,Memiliki hasil penjualan paling banyak Rp. 100 juta per tahun. Usaha Kecil (Menurut UU No. 9/1995, tentang Usaha Kecil):
Usaha produktif milik Warga Negara Indonesia, yang berbentuk badan usaha orang orang perorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha berbadan hukum termasuk koperasi, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau berafiliasi, baik langsung maupun tidak langsung, dengan Menengah atau Besar,Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200 juta, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau memiliki hasil penjualan paling banyak Rp. 100 juta per tahuna.
Usaha Produktif (Menurut Keputusan Menkeu No. 40/KMK.06/2003, tentang Pendanaan Kredit Usaha Mikro dan Kecil):Usaha pada semua sektor ekonomi yang dimaksudkan untuk dapat memberikan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan usaha.
Sesuai dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM):
Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.
Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha
besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.
Kriteria Usaha Kecil Dan Menengah Berdasar Perkembangan:
Selain berdasar Undang-undang tersebut,dari sudut pandang perkembangannya Usaha Kecil Dan Menengah dapat dikelompokkan dalam beberapa kriteria Usaha Kecil Dan Menengah yaitu:
1. Livelihood Activities ( aktivitas kehidupan ), merupakan Usaha Kecil Menengah yang digunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai sektor informal. Contohnya adalah pedagang kaki lima.
2. Micro Enterprise ( usaha mikro ), merupakan Usaha Kecil Menengah yang memiliki sifat pengrajin tetapi belum memiliki sifat kewirausahaan.
3. Small Dynamic Enterprise ( usaha kecil ), merupakan Usaha Kecil Menengah yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor
4. Fast Moving Enterprise ( usaha yang bergerak cepat ), merupakam Usaha Kecil Menengah yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi Usaha Besar (UB). Sumber : Depkop Website http://infoukm.wordpress.com/
Kendati beberapa definisi mengenai usaha kecil namun agaknya usaha kecil mempunyai karakteristik yang hampir seragam. Pertama, tidak adanya pembagian tugas yang jelas antara bidang administrasi dan operasi. Kedua, rendahnya akses industri kecil terhadap lembaga-lembaga kredit formal sehingga mereka cenderung menggantungkan pembiayaan usahanya dari modal sendiri atau sumber-sumber lain seperti keluarga, kerabat, pedagang perantara, bahkan rentenir. Ketiga, sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainya status badan hukum. Keempat, dilihat menurut golongan industri tampak bahwa hampir sepertiga bagian dari seluruh industri kecil bergerak pada kelompok usaha industri.
www.mudrajad.com/upload/journal_usaha-kecil-indonesia.pdf
komisi untuk perkembangan Ekonomi (Committee for Economic Development-CED), Mengemukakan Kriteria usaha kecil sebagai berikut:
1. Manajemen berdiri sendiri, manajer adalah pemilik.
2. Modal disediakan oleh pemilik atau sekelompok kecil.
3. Daerah operasi bersifat lokal.
(Suryana;2006:120)
Hingga saat ini belum terdapat keseragaman pendapat terhadap definisi yang tepat tentang usaha mikro kecil dan menengah di Indonesia. Dari UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH Dapat disimpulkan pengertian tentang usaha mikro kecil dan menengah. Dari definisi tersebut dapat dibedakan beberapa pengertian tentang usaha mikro, usaha kecil, menengah dan usaha besar antara lain sebagai berikut :
1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha
perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar
dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
4. Usaha Besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari usaha menengah, yang meliputi usaha nasional milik negara atau swasta, usaha patungan, dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia.
5. Dunia Usaha adalah Usaha Mikro, Usaha Kecil, Usaha Menengah dan Usaha Besar yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia dan berdomisili di Indonesia.
Kriteria Usaha mikro kecil menengah
Menurut undang-undang republik Indonesia nomor 20 tahun 2008 tentang usaha mikro kecil menengah dengan kriteria-kriteria sebagai berikut adalah: 1. Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut:
a. memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b. memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
2. Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut:
a. memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b. memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).
3. Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut:
a. memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau b. memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).
KRITERIA / KATEGORI DAN PERSYARATAN PEDAGANG KAKI LIMA
(1) Kritetria / Kategori pedagang kaki lima adalah : a. Jalan utama / sekunder / primer
b. Luas tempat usaha
c. Kawasan (perdagangan, pasar, pertokoan, pantai, terminal ) d. Jenis usaha (warung tenda, gerobak dorong )
(2) Persyaratan pedagang kaki lima adalah : a. KTP ;
b. Jangka waktu 3 bulan
c. Tidak di sudut jalan / perempatan ( menghalangi jarak pandang pengendara)
d. Menjaga kebersihan terhadap sampah, sisa makanan, membersihkan saluran
e. Tidak diatas trotoar, saluran drainase f. Waktu berdagang di batasi
g. Tidak mengganggu Lalu – lintas
h. Diarahkan berdasarkan kelompok pedagang
i. Tidak membangun dalam bentuk permanen, semi permanen atau darurat, harus knok down dengan tetap memperhatikan ketertiban, keindahan dan kebersihan
2.2.1.1 Keunggulan Dan Kelemahan Usaha Kecil Menengah
Menurut Subanar (2001:6) Pada kenyataannya, usaha kecil mampu tetap bertahan dan mengantisipasi kelesuan perekonomian yang diakibatkan inflasi maupun bebagai faktor penyebab lainnya. Tanpa subsidi dan proteksi, Industri kecil di Indonesia mampu menambah nilai devisa bagi negara. Sedangkan sektor informal mampu berperan sebagai buffer (penyangga) dalam perekonomian masyarakat lapisan bawah.
Secara umum perusahaan skala kecil baik perorangan maupun kerja sama memiliki keunggulan dan daya tarik seperti:
1. Pemilik merangkap Manajer Perusahaan yang bekerja sendiri (merangkap semua fungsi manajerial seperti marketing, finance dan administrasi).
2. Terbukanya peluang dengan adanya berbagai kemudahan dalam peraturan dan kebijakan pemerintah yang mendukung berkembangnya UMKM di Indonesia.
3. Relatif tidak membutuhkan investasi yang terlalu besar, tenaga kerja yang tidak berpendidikan tinggi, serta sarana produksi lainnya yg tidak terlalu mahal.
4. Dalam banyak pengerjaaan produk tertentu, perusahaan besar banyak bergantung kepada perusahaan – perusahaan kecil, karena jika dikerjakan sendiri oleh mereka (perusahaan besar) maka margin-nya menjadi tidak ekonomis.
5. Merupakan pemerataan kosentrasi dari kekuatan – kekuatan ekonomi dalam masyarakat.
Menurut Suryana (2006:120-121) Usaha kecil memiliki kekuatan dan kelemahan tersendiri. Beberapa kekuatan usaha kecil antara lain:
1. Memiliki kebebasan untuk bertindak.
Bila ada perubahan, misalnya perubahan produk baru, teknologi baru, dan perubahan mesin baru, usaha kecil bisa bertindak dengan cepat untuk menyesuaikan dengan keadaan yang berubah tersebut. Sedangkan pada perusahaan besar, tindakan tersebut susah dilakukan. 2. Fleksibel.
Perusahaan kecil dapat menyesuaikan dengan kebutuhan setempat. Bahan baku, tenaga kerja dan pemasaran produk usaha kecil pada umumnya menggunakan sumber-sumber setempat yang bersifat lokal. 3. Tidak mudah goncang.
Karena bahan baku kebanyakan lokal dan sumber daya lainnya bersifat lokal, maka perusahaan kecil tidak rentan terhadap fluktasi bahan impor.
Sedangkan kelemahan perusahaan kecil dapat dikategorikan ke dalam dua aspek, antara lain:
a. Kelemahan Struktural,yaitu kelemahan dalam strukturnya,misalnya kelemahan dalam bidang manajemen dan organisasi, kelemahan dalam pengendalian mutu, kelemahan dalam mengadopsi dan penguasaan
teknologi, kesulitan mencari pemodalan, tenaga kerja masih lokal, dan terbatasnya akses pasar.
b. Kelemahan Kultural. Kelemahan kultural berdampak terhadap terjadinya kelemahan struktural. Kelemahan struktural mengakibatkan kurangnya akses informasi dan lemahnya bebagai persyaratan lain guna memperoleh akses permodalan, pemasaran, dan bahan baku.
Menurut Subanar (2001:8) Berbagai kendala yang menyebabkan kelemahan serta hambatan bagi pengelola suatu UMKM di antaranya masih menyangkut faktor intern dari UMKM itu sendiri serta beberapa faktor ekstern, seperti:
1. Umumnya pengelola small-business merasa tidak memerlukan ataupun tidak pernah melakukan studi kelayakan, penelitian pasar, Analisis Perputaran Uang Tunai/Kas, serta berbagai penelitian lain yang di perlukan suatu aktivitas bisnis.
2. Tidak memiliki perencanaan sistem jangka panjang, sistem akuntansi yang memadai, anggaran kebutuhan modal, struktur Organisasi dan pendelegasian wewenang, serta alat-alat kegiatan manajerial lainnya (perencanaan, pelaksanaan serta pengendalian usaha) yang umumnya diperlukan oleh suatu perusahaan bisnis yg profit-oriented.
Kurangnya petunjuk pelaksanaan teknis operasional kegiatan dan pengawasan mutu hasil kerja dan produk, serta sering tidak konsisten dengan ketentuan – order/ pesanan, yang mengakibatkan klaim atau produk yang di tolak.
2. Kesulitan modal kerja atau tidak mengetahui secara tepat berapa kebutuhan modal kerja, sebagai akibat tidak adanya perencanaan kas 2.2.1.2 Tantangan, Masalah Dan Pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah
Menurut Suhardjono (2003 : 39) tantangan usaha kecil menengah adalah bagi UKM dengan omset kurang Rp. 50 juta hingga Rp. 1 miliar per bulan atau lebih dikenal dengan usaha mikro, umunya tantangan yang dihadapi adlah bagaimana menjaga kelangsungan hidup usahanya. Bagi mereka, umumnya asal dapat berjualan dengan “aman” sudah cukup. Mereka umumnya tidak membutuhkan modal yang besar untuk ekspansi produksi : biasanya yang diperlukan sekedar membantu kelancaran cash flow saja, dan mulai memikirkan untuk melakukan ekspansi usaha lebih jauh.
Menurut Suhardjono (2003 : 39) masalah usaha mikro kecil menengah adalah sebagai berikut:
a. Masalah belum dipunyainya sistem administrasi keuangan dan manajemen yang baik karena belum dipisahkannya kepemilikan dan pengelolaan perusahaan.
b. Masalah bagaimana menyusun proposal dan membuat studi kelayakan untuk memperoleh pinjaman dari bank maupun modal ventura karena kebanyakan UMKM mengeluh berbelitnya prosedur mendapatkan kredit, agunan tidak memenuhi syarat, dan tingkat bunga dinilai terlalu tinggi. c. Masalah menyusun perencanaan bisnis karena persaingan dalam
d. Masalah memperoleh bahan terutama karena adanya persaingan yang ketat dalam mendapatkan bahan baku,bahan baku berkualitas rendah dan tingginya harga bahan baku.
e. Masalah perbaikan kualitas barang dan efisien terutama bagi yang sudah menggarap pasar ekspor karena selera konsumen berubah cepat, pasar dikuasai perusahaan tertentu, dan banyak barang pengganti.
2.2.1.3 Hakikat, Bentuk Dan Jenis Usaha Mikro Kecil Menengah
Menurut Suabanar (2001 : 3-4) Hakikat UMKM yang ada secara umum di kelompokkan ke dalam 3 (tiga) golongan khusus yang meliputi:
a. Industri Kecil
Industri kerajinan rakyat, industri cor logam, konveksi dan berbagai industri lainnya.
b. Perusahaan Berskala Kecil
Penyalur, took kerajinan, Koperasi, Waserba, Restoran, Toko Bunga, Jasa Profesi,dan lainnya.
c. Sektor Informal
Agen barang bekas, kios kaki lima, pedagang kaki lima, dan lainnya.
Menurut Subanar (2001:4) berdasarkan bentuk usahanya, maka UKM terdapat di Indonesia dapat di golongkan ke dalam 2 sebagai berikut:
1. Usaha Perseorangan
Usaha perseorangan bertanggung jawab kepada pihak ketiga atau pihak lain (dalam hal ini konsumen) dengan dukungan harta kekayaan perusahaan yang merupakan milik perusahaan dari pengusaha yang bersangkutan. Jumlahnya di Indonesia cukup besar dan skala usahanya relatif kecil. Pada umumnya lebih mudah untuk didirikan, karena tidak memerlukan persyaratan yang rumit dan bertahap seperti bentuk-bentuk usaha lainnya.
2. Usaha Persekutuan/Partnership
Usaha persekutuan berusaha mencapai tujuan-tujuan perusahaan dalam memperoleh laba. Merupakan bentuk kerja sama dari beberapa orang yang bertanggung jawab secara pribadi terhadap kewajiban-kewajiban usaha persekutuannya. Bentuk pertanggung jawaban dan pola kepemimpinannya berbeda-beda menurut bentuk-bentuk persekutuan yang di bentuk.
2.2.1.4 Pengertian Pedagang Kaki Lima
Pedagang Kaki Lima atau disingkat PKL adalah istilah untuk menyebut penjaja dagangan yang menggunakan gerobak. Istilah itu sering ditafsirkan demikian karena jumlah kaki pedagangnya ada lima. Lima kaki tersebut adalah dua kaki pedagang ditambah tiga "kaki" gerobak (yang sebenarnya adalah tiga roda atau dua roda dan satu kaki). Saat ini istilah PKL juga digunakan untuk pedagang di jalanan pada umumnya.
Sebenarnya istilah kaki lima berasal dari masa penjajahan kolonial Belanda. Peraturan pemerintahan waktu itu menetapkan bahwa setiap jalan raya yang dibangun hendaknya menyediakan sarana untuk pejalanan kaki. Lebar ruas untuk pejalan adalah lima kaki atau sekitar satu setengah meter.
Sekian puluh tahun setelah itu, saat Indonesia sudah merdeka, ruas jalan untuk pejalan kaki banyak dimanfaatkan oleh para pedagang untuk berjualan. Dahulu nmanya adalah pedagang emperan jalan, sekarang menjadi pedagang kaki lima. Padahal jika merunut sejarahnya, seharusnya namanya adalah pedagang lima kaki.
Dibeberapa tempat, pedagang kaki lima dipermasalahkan karena menggangu para pengendara kendaraan bermotor. Selain itu ada PKL yang menggunakan sungai dan saluran air terdekat untuk membuang sampah dan air cuci. Sampah dan air sabun dapat lebih merusak sungai yang ada dengan mematikan ikan dan menyebabkan eutrofikasi. Tetapi PKL kerap menyediakan makanan atau barang lain dengan harga yang lebih, bahkan sangat, murah daripada membeli di toko. Modal dan biaya yang dibutuhkan kecil, sehingga kerap mengundang pedagang yang hendak memulai bisnis dengan modal yang kecil atau orang kalangan ekonomi lemah yang biasanya mendirikan bisnisnya disekitar rumah mereka.
[http://bps.jakarta.go.id/P3_Stat/P3S_Kakilima/P3S_def_Kakilima.htm Konsep dan definisi Kaki lima] BPS provinsi DKI Jakarta]
Menurut (Alma, 2004 : 119-120) pedagang kaki lima sangat popular di negara kita. Kepopuleran pedagang kaki lima ini mungkin dalam arti yang positif dan dalam arti yang negatif. Positifnya, perdagangan kaki lima, secara pasti dapat menyerap lapangan pekerjaan, dari sekian banyak penganggur. Para penganggur ini mencoba berkreasi, berwirausaha, dengan modal sendiri ataupun tanpa modal. Yang penting mereka adalah orang-orang berani menempuh kehidupan, berjuang memenuhi tuntutan hidup, jika tidak demikian mereka berarti mati. Menteri Tenaga Kerja, berserta ketua Kadin Pusat, telah mencanangkan agar kehidupan pedagang kaki lima, dibina, diatur, jangan dikejar-kejar, jangan dimatikan, karena mereka sudah turut menyumbangkan adil dalam membangun lapangan kerja. Negatifnya, pedagang kaki lima tidak menghiraukan tata tertib, keamanan, kebersihan, dan kebisingan,dimana ada pedagang kaki lima, di sana timbul kesemrawutan, bising dan banyak sampah. Dalam hal ini masalah pendidikan, disiplin, upaya perlakuan hukum harus ditegakkan secara terus menerus, dengan rencana matang,dan terarah dengan menangkapi mereka sewaktu-waktu, tindakan ini hanya akan merugikan sebagian warga negara, dan merusak kehidupan mereka karena modal mereka yang kecil, kena razia dan disita.
Menurut pengamatan dari Fakultas Hukum Unpar dalam penelitiannya yang berjudul “Masalah Pedagang Kaki Lima di Kotamadya Bandung dan penertibannya melalui operasi TIBUM 1980” di buku kewirausahaan Alma (2004 : 120) pedagang kaki lima ialah orang (pedagang-pedangang) golongan ekonomi lemah, yang berjualan barang kebutuhan sehari-hari, makanan atau jasa dengan modal yang relatif kecil, modal sendiri atau modal orang lain, baik berjualan di
tempat terlarang ataupun tidak. Istilah kaki lima diambil dari pengertian tempat di tepi jalan yang lebarnya lima kaki (5 feet). Tempat ini umumnya terletak di trotoir,depan toko dan tepi jalan.
Sesuai dengan perkembangan adanya era reformasi di Indonesia, maka Walikotamadya Bandung dalam kata pembukaan pada Lokakarya Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima (PKL) tanggal 6-7 1999, menyatakan PKL untuk dilarang, bukan untuk diusir, bahkan bukan untuk dijadikan sapi perahan. Namun, lebih dari itu PKL adalah merupakan asset yang potensial apabila dibina, ditata, dan dikembangkan status usahanya. Lebih khusus dalam peningkatan laju pertumbuhan ekonomi kota atau dapat meningkatkan pendapatan asli daerah. Maka dapat disimpulkan bahwa Pedagang Kaki Lima adalah setiap orang yang melakukan kegiatan usaha dengan maksud memperoleh penghasilan yang sah, dilakukan secara tidak tetap, dengan kemampuan terbatas, berlokasi di tempat atau pusat-pusat konsumen, tidak memiliki izin usaha.
Menurut Alma (2004 : 120) ada juga ciri-ciri pedagang kaki lima adalah sebagai berikut :
a. Kegiatan usaha, tidak terorganisir secara baik. b. Tidak memiliki surat izin usaha.
c. Tidak teratur dalam kegiatan usaha, baik ditinjau dari tempat usaha maupun jam kerja.
d. Bergerombol dtrotoir, atau di tepi-tepi jalan protokol, di pusat-pusat diman banyak orang ramai.
e. Menjajakan barang dagangannya sambil berteriak, kadang-kadang berlari mendekati konsumen.