Sistem pengolahan air laut dirancang untuk memproses air laut menjadi air tawar dengan menggunakan teknologi Reverse Osmosis dari METITO sebagai lisensor. Air laut yang dipompakan dengan sea water pumps ke PFHE, sebagai (573 m3/jam) dialirkan ke water treatment plant untuk di proses menjadi air tawar yan selanjutnya di pergunakan untuk keperluan air pendingin air service dan umpan boiler.
Berikut adalah rangkaian proses pengolahan air laut di PT. Trans-Pacific Petrochemical Indotama:
Gambar 21. Blok Diagram Pengolahan Air laut (Sea Water Treatment) (PT. Trans-Pasific Petrochemical Indotama .2012)
1. Clarifier
Fungsi dari clarifier ini adalah untuk memisahkan air dengan suspended solid yang terdapat dalam material air tersebut. Air laut sebanyak (573 m3/jam ) di tambahkan dengan koagulan ferri chlorit (FeCl3) yang berfungsi untuk mengikat kotoran dalam air. Di dalam clarifier ditambah koagulan aid (polymer arioric base) yang berfungsi memberi fungsi mempercepat untuk mengikat kotoran dalam air menjadi gumpalan (flok-flok ) yang nantinya akan menjadi sludge dengan air produk yang berupa over flow dan sludge (lumpur) nya dibuang melalui sludge
2. Multi Media Filter
Fungsi dari alat adalah utuk menyaring atau meisahkan air yang masih terdapat suspended solid, sehingga menjadi jernih dengan menggunakan media filter dalam suatu bejana . Setelah dari multi media filter ini akan diperoleh 80-90% pengurangam impurti yg ada pada air akan dialirkan ke Bag Filter dan Cartidge Filter.
3. Bag Filter
Dari MMF masuk ke bag filter . bag filter merupakan yang didalamnya terdapat 6 kantong penyaring dengan ukuran pori-pori 25 micron yang ditengah-tengahnya terdapat aliran feed.
4.Catridge Filter
Fungsi dari catridge filter ini pada prinsipnya sama dengan bag filter yaitu untu menyaring dan juga memisahkan suspended solid akan tetapi dengan ukuran yang lebih kecil yaitu kurang lebih sekitar 5 mikron.
5. Sea Water Reverse Osmosis (SWRO)
Fungsi dari alat ini adalah untuk menurunkan kandungan kondutifitas dan mengurangi beban ion exchanger yang ada pada air laut tersebut. sebelum dialirkan ke SWRO, air dari catridge harus di inject beberapa chemical antara lain: H2SO4 98% untuk menurukan pH dengan tujuan menurukan LSI agar
menjadi negative sehingga tidak scalling di membran RO nya.
SMBS (sodium metabisulfit) yang berfungsi untuk menghilangkan chlorine, karena adanya chlorine dapat merusak membran terbuat dari bahan selulosa base. reaksi yang terjadi yaitu:
Na2S2O5 + H2O > 2NaHSO3
2NaHSO3 + 2HOCL > H2SO4 + 2HCL + Na2SO4
Anti scalant untuk mencegah pengendapan dari garam kalsium dan magnesium.
Pada SWRO kita harus mengetahui tentang teori osmosis adalah perpindahan larutan dari konsentasi tinggi tanpa memerlukan adanya tekanan, dalam hal ini yang berpindah adalah pelarut nya. Pada SWRO ini perpindahan larutan dari kosentrasi tinggi ke konsentrasi rendah dengan menggunakan tekanan. Perpindahan tersebut terjadi didalam membran
yang ada didalam alat SWRO ini. Reverse Osmosis menggunakan teknologi tekanan yang lebih tinggi dari tekanan osmosis untuk mendorong air murni melalui membran semiermeabel dari larutan air garam. Proses ini berlawanan dengan osmosis biasa, yaitu air mengallir melalui membran dari larutan yang lebih pekat Reserve Osmosis ini menjadi proses yang lebih ekonomis karena berhasilannya penngembangan membran khusus. Bahan ysng digunakan sebagai membran basanya berupa selulosa asetat (lebih cocok untuk daerah payau) dan poliamida (untuk daerah laut).
Jika air yang mengandung garam di masukkan ke satu sisi dan air murni disis yang lain, air akan terserap ke larutan garam melalui membran.Ketika air melalui membran,tekanan air murni berkurang dan pada saat yang sama tekanan air garam bertambah. Aliran air murni menuju air garam tersebut terus berlangsung hingga mencapai kesetimbangan . proses tersebut dikenal sebagai Osmosi.
Sea water reserve osmosis (SWRO) yang merupakan media filter dengan melewatkan feed kedalam membran kedalam membran semipermeabel 0.1 micron. permeate dari SWRO ini sebesar 35% dari feed yang masuk dan nantinya akan menuju ke service water and fire water tank dan BWRO, sedangkan sebagian sebesar 65% akan direject menuuju back wash tank yang diperunakan unntuk backwash dari Multi Media Filter.
Produk yang masuk ke Service water and Fire water tank sebelum masuk ke tank ditambahkan CaCl2 yang berfungsi untuk mengurangi kesadahan dari air sehingga air tidak bersifat korosif (karena air dari produk RO bersifat korosif) dan ditambahkan juga Zn3(PO4)2 yang berfungsi sebagai corrosion inhibitor si system perpindahan dari service water.
6. Decarbonator
Setelah dari BWRO masuk ke Decarbonator (Degassifier) meruapakan suatu reaktor yang berfungsi untuk menguapkan / menghilagkan CO2 dengan tujuan agar tidak terjadi kavitas pada pompa.
Produk Decarbonator sebagian masuk ke cooling water yang nantinya akan mendinginakan PFHE di utility dan sebagian lagi ke Mix
Bed Polisher. Pada cooling water tank ditambahkan pH sebagai pebaik pH biocide sebagai pembunuh bateri dan nitrit sebagai passive layer.
Parameter Syarat Baku Mutu Hasil Analisa
pH 5,5-7 6,59
Conducitity (µS) < 30 10,52
TDS < 15 7,364
Chloride (ppm) < 7 3,5
(Laboratory PT.TPPI ,2012)
7. Mixed Bed Polisher (Ion Exchanger)
Mixed Bed Polisher (MBP) merupakan alat yang berfungsi untuk menghilangkan kandungan mineral/TDS (Kalsium, Magnesium, Sodium, Fe, dll) dengan cara Ion Exchanger (Penukar ion-ion) menggunakan anion resin dan kation resin. Proses ion exchange ini bertujuan untuk mensterilkan produk dari ion-ion berbahaya sebelumnya masuk ke Polished Warter Tank.
Parameter Syarat Baku Mutu Hasil Analisa
pH 7-8,5 8 Total Fe (ppm) < 0,05 0 Total Copper (ppm) < 0,03 0,0038 Total Hardness (ppm CaCO3) < 0 0 (Laboratory PT.TPPI ,2012) 5.2 Penyediaan Steam
PT TPPI memiliki steam Generator yang terdiri dari 3 HRSG (Heat Recorvery Steam Generator ) dan 1 Auxiliary Boiler . Tiap-tiap HRSG di "coulple" dengan CTG Frame -V dan dilengkapi dengan Duct Burners untuk fuel gas extra firing mempunyai kapasitas produksi High Pressure steam 90 ton/jam. Fasilitas steam generator ini pada kondisi normal mempunyai kemampuan untuk memproduksi High Pressure Steam sebanyak 315 T/H.
Boiler dirancang untuk kebutuhan steam dan juga dirancang agar pengoperasian serta perawatannya lebih dilakukan. Boiler disamping untuk menyediakan kebutuhan steam, unit ini juga bertanggung jawab terhadap pengolahan air umpan boiler. Berdasarkan fluida yang mengalirnya, terhadap pengoahan air umpan boiler, antara lain:
1 Boiler pipa api (fire tube boiler) : apabila fluida yang mengalir dalam pipa adalah gas nyala (hasil pembakaran).
2. Boiler pipa air (water tube boiler) : apabila fluida yang mengalir dalam pipa adalah air.
Unit steam generator ini pada kondisi normal mempunyai kemampuan untuk memproduksi High Pressure Steam sebanyak 315 ton/ jam . High Pressure steam ini digunakan untuk menggerakkan pompa pengerak turbin di departemen utilitas sendiri dan memenuhi kebutuhan steam di platforming plant dan aromatic plant.
5.3 Energi Listrik
Kebutuhan tenaga listrik PT.TPPI dihasilkan oleh Electrical Power Generator yang terdiri dari 3 (tiga) CGT (Combustion Turbine Generators) dengan kapasitas produksi masing-masing dapat menghasilkan tenaga listrik 22 MW (Iso Rated Condition ) . Guna optimalisasi pemanfaatan energi panas gas buang yang dihasilkan dari CGT maka ketiga CGT tersebut di gabung dengan 3 (tiga) HRSG untuk mengenerate High Pressure Steam 75 ton/hr tiap HRSG.
Ketiga CGT ini dapat dioperasikan dengan menggunakan fuel gas atau fuel oil saja punkombinasi fuel gas dan fuel oil. Proses license / Tegnology untuk ketiga CGT tersebuit adalah GENP (General Electric Norove Pignone) (italy). Selain dari CGT, pabrik ini memiliki diesel generator yang digunakan untuk emergeny power ketika black -out (power failure mati seketika).
BAB VI LABORATORIUM
PT. Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) memakai kondensat sebagai bahan baku pembuatan senyawa Aromatik. Pada Unit 201 (Prefractination Unit) kondensat diolah menjadi light naphta, heavy naphta, kerosene, diesel dan
Petrochemical Thermal Cracker Feed (PTCF). Produk dari Unit 201 tersebut kemudian dikirim ke Unit 202 (Naphtha Hydrotreating Unit).
6.1 Analisa Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan PT. Trans-Pacific Petrochemical Indotama yang diperoleh dari Bontang, Qatar, Handil dan North West Shelf. Kondensat yang berasal dari berbagai tempat tersebut tentunya memiliki karakter yang berbeda. Bahan baku berupa kondensat sebelum masuk ke proses terlebih dahulu dilakukan analisa bahan baku. Parameter analisa bahan baku adalah nilai IBP (Initial Boiling Point) dan FBP (Final Boiling Point). IBP adalah titik (temperatur) dimana liquid mulai menjadi uap. Sedangkan FBP adalah titik (temperatur) dimana liquid menguap sepenuhnya. Analisa untuk mengetahui nilai IBP dan FBP dari bahan baku yang akan diproses di Unit Prefractination (201) dengan menggunakan alat Auto Distilation.
6.2 Analisa Produk
Produk dari Unit 201 sebelum dikirim ke Unit 202 harus di analisa terlebih dahulu. Analisa produk yang dilakukan pada Unit 201 ini adalah analisa Specific Gravity. Selain analisa Specific Gravity, analisa produk lainnya adalah analisa RVP (Reid Vapour Pressure) dengan menggunakan alat RVP Analysist .RVP adalah besarnya tekanan yang dihasilkan dari uap yang terbentuk pada saat proses berlangsung.
6.2.1 Analisa Specific Gravity
Specific Gravity adalah perbandingan massa per volume cairan tertent. terhadap air pada kondisi sama yaitu pada volume dan suhu yang tertentu. Specific Gravity minyak bumi dan produk-produknya dianggap tetap pada suhu 60oC dan dinyatakan dengan SG 60/60oF minyak mempunyai suatu volume yang sekecil-kecilnya dan berat seberatnya. Fungsi menganalisa spesific gravity adalah untuk Menentukan specific gravity dari crude oil dari produk-produk minyak bumi yang berbentuk cair.
6.2.2 Analisa RVP
Fungsi analisa RVP adalah untuk Mengukur tekanan dari uap yang dihasilkan dengan ruang lingkup hidrokarbon yang memiliki volatilitas, boiling
point diatas 0oC dan vapor pressure berkisar antara 7-130 KPa (1-18,6 Psi). Alat yang digunakan adalah RVP Apparatus.
6.2.3 Kandungan Belerang
Sulphur content adalah banyaknya senyawa sulfur yang terikat hidrokarbon yang terkandung pada minyak. Fungsi mengukur kandungan belerang adalah untuk mengetahui barapa besar kadar sulfur dari minyak.
6.2.4 Titik Nyala (Flash Point)
Titik nyala adalah suhu terendah dimana bahan bakar apabila dipanaskan telah memberikan campuran uapnya yang cukup perbandingan dengan udara, sehingga akan menyala sekejap bila diberi api kecil. Fungsi menganalisa titik nyala adalah untuk memeriksa nyala api minyak bumi dalam waktu yang relative singkat, flash sendiri memiliki arti yaitu suhu terendah dimana uap banyak tercampur dengan udara bila didekati dengan nyala api akan menyambar dengan sekejap.
6.2.5 Viskositas
Viskositas adalah ukuran sifat kemudahan atau kecepatan mengalirnya suatu bahan bakar cair pada suhu tetentu. Nilai viskositas dipengaruhi oleh suhu. Semakin rendah suhu minyak semakin kental atau viskositasnya besar. Fungsi menganalisa viskositas adalah untuk menjamin bahan bakar tetap dalam bentuk cairan sempurna dalam operasi pesawat dalam suhu yang sangat rendah.