• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

F. Validasi Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes prestasi belajar matematika dan angket motivasi belajar siswa yang disusun dalam soal bentuk pilihan ganda dengan 4 alternatif jawaban. Adapun langkah- langkah dalam menyusun tes prestasi belajar dan angket motivasi belajar terdiri dari : 1. Membuat kisi-kisi instrumen.

2. Menyusun soal instrumen.

3. Memvalidasi isi butir instrumen.

4. Merevisi butir instrumen.

5. Mengadakan uji coba instrumen.

6. Menguji konsistensi internal dan reliabilitas instrumen.

7. Menentukan butir instrumen yang dapat digunakan.

Instrumen penelitian disusun dalam bentuk soal obyektif berdasarkan kisi- kisi yang telah dibuat. Setelah instrumen penelitian selesai disusun, dilakukan uji validitas isi dan selanjutnya diuji cobakan terlebih dahulu sebelum dikenakan pada sampel penelitian. Tujuan uji coba ini untuk mengetahui apakah instrumen yang telah disusun memenuhi syarat- syarat instrumen yang baik, yaitu uji validitas isi, konsistensi internal dan uji reliabilitas.

commit to user 1. Teknik Penyusunan Instrumen

Teknik Penyusunan Instrumen a. Pengukuran Motivasi Belajar Siswa

Pengukuran motivasi belajar menggunakan angket dalam bentuk ceklist. Pemberian skor tiap item pernyataan menurut skala Likert dalam Suharsimi Arikunto (2009: 180) sebagai berikut:

SS : sangat setuju dengan skor 5 S : setuju dengan skor 4

TB : tidak berpendapat dengan skor 3 TS : tidak setuju dengan skor 2

STS : sangat tidak setuju dengan skor 1

Menurut Suharsimi Arikunto, uji kesahihan angket motivasi belajar diukur dengan uji validitas dan uji reliabilitas (2002).

b. Pengukuran hasil belajar Kognitif

Pengukuran ranah kognitif menggunakan teknik tes dengan langkah- langkah penyusunan sebagai berikut:

1) Pemilihan materi berdasarkan kurikulum sesuai dengan Kompetensi Dasar.

2) Penyusunan indikator dan tujuan pembelajaran ranah kognitif.

3) Pembuatan alat ukur sesuai indikator.

4) Pembuatan kisi-kisi soal sesuai dengan indikator yang diharapkan.

5) Soal-soal yang disusun menyangkut soal-soal yang mencakup 6 jenjang kemampuan yaitu C1 (mengingat), C2 (mengerti), C3 (memakai), C4 (menganalisis), C5 (menilai), C6 (mencipta).

6) Penyusunan item soal ranah kognitif.

7) Pengujian kesahihan item dilakukan dengan uji validitas dan reliabilitas menurut Suharsimi Arikunto ( 2002: 64-82).

8) Item diuji lagi dengan uji tingkat kesukaran item dan uji daya pembeda item soal.

9) Berdasarkan pengujian-pengujian yang dilakukan, soal digunakan untuk postes.

commit to user 2. Analisis Instrumen

Untuk mengetahui tingkat motivasi belajar siswa digunakan angket tertutup. Penilaian hasil belajar kognitif menggunakan bentuk tes obyektif.

Sebelum digunakan untuk mengambil data penelitian, instrumen yang berupa tes dan angket diujicobakan terlebih dahulu untuk mengetahui kualitas instrumen.

a. Tes Hasil Belajar 1) Validitas Isi

Budiyono (2003) mengatakan bahwa, “Validitas adalah penilaian evaluatif terintegrasi yang dilakukan oleh penilai mengenai seberapa jauh bukti- bukti empirik rasional teoritis mendukung ketepatan inferensi dan tindakan berdasar skor tes yang lain”(hlm.56). Suatu instrumen dikatakan valid menurut validitas isi apabila isi instrumen tersebut telah merupakan sampel representatif dari keseluruhan isi hal yang diukur. Validitas tidak dapat ditentukan dengan mengkorelasika instrumen dengan suatu kriteria sebab tes itu adalah kriteria dari suatu kinerja.

Agar memiliki validitas isi, instrumen tes prestasi belajar harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut.

a) Bahan uji (tes) harus merupakan sampel yang representatif untuk mengukur sampai seberapa jauh tujuan pembelajaran tercapai ditinjau dari materi yang diajarakan maupun dari sudut proses belajar.

b) Titik berat bahan yang harus diujikan harus seimbang dengan titik berat bahan yang diajarkan.

c) Tidak diperlukan pengetahuan lain yang tidak atau belum diajarakan untuk menjawab soal- soal ujian dengan benar.

(Budiyono, 2003:58) Budiyono (2003) menyatakan bahwa, Untuk menilai apakah suatu instrumen mempunyai validitas yang tinggi, yang biasanya dilakukan adalah melalui expert judgement (penilaian yang dilakukan oleh para pakar). Lebih lanjut lagi tentang langkah- langkah memvalidasi isi butir soal adalah penilai menilai apakah kisi-kisi yang dibuat oleh pengembang tes telah menunjukkan bahwa klasifikasi kisi-kisi telah

commit to user

mewakili isi (subtansi) yang diukur (hlm.59). Dalam penelitian ini validitas isi dilakukan oleh para pakar yaitu dua guru matematika SMP Negeri 1 Geneng.

2) Uji konsistensi Internal

Sebuah instrumen terdiri dari butir-butir instrumen yang mengukur suatu hal yang sama dan kecenderungan yang sama pula.

Budiyono (2003) menyatakan bahwa, “Konsistensi internal masing- masing butir dilihat dari korelasi antara skor butir- butir tersebut dengan skor totalnya”(hlm.65).

Untuk mengetahui konsistensi internal setiap butir ke-i digunakan rumus korelasi momen produk dari Karl Pearson sebagai berikut

rxy=

  

nX2nXY

 

X2

 

nXY2Y

 

Y 2

Keterangan:

rxy : Indeks konsistensi internal untuk butir ke-i n : Banyaknya subjek yang dikenai tes (instrumen) X : Skor untuk butir ke–i (dari subyek uji coba) Y : Total skor dari subjek (dari subyek uji coba)

Soal dikatakan konsisten jika rxy ≥ 0,3 dan jika rxy < 0,3 maka soal dikatakan tidak konsisten.

(Budiyono, 2003: 65) 3) Uji Tingkat Kesulitan Soal

Soal yang baik adalah soal yang mempunyai tingkat kesukaran yang memadai artinya tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Untuk menentukan tingkat kesukaran tiap-tiap butir soal digunakan rumus :

p B

Js

commit to user Keterangan :

p = Indeks kesukaran

B = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes

Klasifikasi indeks kesukaran adalah sebagai berikut : 0,10 – 0,30 : Sukar

0,30 – 0,70 : Sedang 0,70 – 1,00 : Mudah

(Suharsimi Arikunto, 2002:207-210) 4) Daya Beda

Sebuah instrumen terdiri dari butir-butir instrumen yang mengukur suatu hal yang sama dan kecenderungan yang sama pula. Ini berarti harus ada korelasi positif antara masing-masing butir tersebut.

Indeks daya beda butir soal dapat dilihat dari korelasi antara skor butir tersebut dengan skor totalnya. Indeks daya beda dapat dicari dengan menggunakan rumus korelasi momen produk dari Karl Pearson sebagai berikut :

rxy=

  

nX2nXY

 

X2

 

nXY2Y

 

Y 2

Keterangan:

rxy : Indeks daya beda butir soal untuk butir ke-i n : Banyaknya subjek yang dikenai tes

X : Skor untuk butir ke–i Y : Total skor dari subjek

Jika indeks daya beda pada butir ke-i kurang dari 0.3 maka butir tersebut harus dibuang.

(Budiyono, 2003: 65)

commit to user

Suatu instrumen dikatakan reliabel, menurut Budiyono (2003:65), jika seseorang melakukan pengukuran instrumen yang sama pada waktu yang berbeda maka hasil pengukurannya adalah sama, Atau, jika dilakukan oleh orang yang berbeda tetapi dengan kondisi yang sama, maka pengukuran dengan instrumen yang sama memberi hasil yang sama pula.

Tes prestasi belajar dalam penelitian ini menggunakan tes pilihan ganda dengan 4 alternatif jawaban, dengan setiap jawaban benar akan diberi skor 1 dan setiap jawaban yang salah akan diberi skor 0.

Sehingga untuk mengukur reliabilitas dari tes prestasi belajar menggunakan Teknik Kuder Richardson atau biasa disebut denagn KR-20, yaitu:

Keterangan:

r : Indeks reliabilitas instrumen 11

n : Banyaknya instrumen

pi : Proporsi banyaknya subjek yang menjawab benar pada butir ke-i q : 1– pi i , i =1,2,3...n b. Angket Motivasi Belajar Matematika Siswa

1) Validitas Isi

Pada penulisan ini uji validitas yang dilakukan adalah uji validitas isi, langkah-langkah yang dilakukan dalam uji validitas angket adalah : membuat kisi-kisi angket, menyusun soal-soal angket, kemudian

commit to user

menelaah angket. Budiyono (2003) menyatakan bahwa “Untuk menilai apakah suatu instrumen mempunyai validitas yang tinggi, yang biasanya dilakukan adalah melalui expert judgement (penilaian yang dilakukan oleh para pakar)”(hlm.59). Penelaahan dilakukan oleh pakar. Langkah berikutnya yaitu para penilai menilai apakah masing-masing butir tes yang telah disusun cocok atau relevan dengan kisi- kisi yang ditentukan.

Kriteria penelaahan untuk validasi isi adalah sebagai berikut.

a) Kesesuaian butir angket dengan kisi-kisi.

b) Bahasa yang digunakan tidak menimbulkan penafsiran ganda.

c) Bahasa yang digunakan mudah dipahami.

d) Kesesuiaan dengan tahap perkembangan siswa.

e) Kesesuaian penulisan dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

2) Konsistensi Internal

Sebuah instrumen terdiri dari butir-butir instrumen yang mengukur suatu hal yang sama dan kecenderungan yang sama pula.

Budiyono (2003) menyatakan bahwa, “Konsistensi internal masing- masing butir dilihat dari korelasi antara skor butir- butir tersebut dengan skor totalnya”(hlm.65).

Untuk mengetahui konsistensi internal setiap butir ke-i digunakan rumus korelasi momen produk dari Karl Pearson sebagai berikut

rxy=

  

nX2nXY

 

X2

 

nXY2Y

 

Y 2

Keterangan:

rxy : Indeks konsistensi internal untuk butir ke-i n : Banyaknya subjek yang dikenai tes (instrumen) X : Skor untuk butir ke–i (dari subyek uji coba) Y : Total skor dari subjek (dari subyek uji coba)

commit to user

Soal dikatakan konsisten jika rxy ≥ 0,3 dan jika rxy < 0,3 maka soal dikatakan tidak konsisten dan harus dibuang.

3) Uji Reliabilitas

Pada penulisan ini, untuk uji reliabilitas angket digunakan rumus Alpha, sebab skor butir angket bukan 1 dan 0. Hal ini sesuai dengan pendapat Suharsimi Arikunto (1998:192) yang menyatakan bahwa rumus Alpha digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya bukan 1 dan 0, misalnya angket atau soal bentuk uraian. Adapun rumus Alpha yang dimaksud adalah sebagai berikut :



r11 : indeks reliabilitas instrumen n : banyaknya butir instrumen

2

si : variansi butir ke-i, i = 1, 2, 3, 4,...,n

2

st : variansi skor skor yang diperoleh subyek uji coba

Dalam penulisan ini suatu instrumen dikatakan reliable jika r  11 0.70

Dokumen terkait