• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

yang paling bertakwa‛. Oleh karena itu, manusia harus senantiasa untuk meningkatkan ketakwaan agar menjadi yang termulia di sisi Allah.18

c. Rajin Beribadah dan Beramal Saleh

Tujuan pendidikan Islam juga adalah agar peserta didik lebih rajin dalam beribadah dan beramal saleh, karena itulah tujuan Allah swt. menciptakan manusia di muka bumi ini. Sebagaimana firman Allah swt. QS al-Zariyat/51:56:

ِفْوُدُبْعَػيِل َّلاِا َسْنِْلااَو َّنِْلْا ُتْقَلَخ اَمَو

Terjemahnya:

17Kementerian Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Terjemah, h. 517.

18M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an Vol. 13 (Tangerang: Lentera Hati, 2005), h. 263.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.19

Berdasarkan analisis penulis mengutip pendapat dari Quraish Shihab ayat di atas nasihat Luqman ini berkaitan dengan akhlak dan sopan santun berinteraksi dengan sesama manusia. Materi pelajaran akidah, beliau sehingga dengan mateti pelajaran akhlak, bukan saja, agar peserta didik tidak jenuh dengan satu materi, tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa ajaran akidah dan akhlak merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.20

d. Ulul al-bab

Tujuan pendidikan Islam berikutnya adalah mewujudkan ulul al-bab yaitu orang-orang yang dapat memikirkan dan meneliti keagungan Allah swt.

Sebagaimana firman Allah swt. QS Ali-Imran/3:190-191.

ْذَي َنيِذَّلا ِباَبْلَْلأا ِلِوُِّلأ ٍتاَي َلَ ِراَهَّػنلاَو ِلْيَّللا ِؼ َلاِتْخاَو ِضْرَْلأاَو ِتاَواَمَّسلا ِقْلَخ ِفي َّفِإ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.21

19Kementerian Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Terjemah, h. 523.

20M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an Vol. 08, h.

139.

21Kementerian Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Terjemah, h. 75.

Berdasarkan analisis penulis terhadap ayat di atas bahwa tujuan pendidikan Islam adalah mewujudkan terbentuknya pribadi yang memiliki jiwa ulul albab yakni pribadi orang yang memikir keagungan kekuasaan Allah swt.

e. Berakhlak Mulia

Pendidikan dalam Islam tidak hanya bertujuan untuk mencetak manusia yang memiliki kecerdasan saja, tapi juga berusaha mencetak manusia yang berahklak mulia. Allah swt., berfirman dalam QS Luqman/31:18

اًحَرَم ِضْرَْلأا ِفي ِشَْتَ َلاَو ِساَّنلِل َؾَّدَخ ْرِّعَصُت َلاَو ٍروُخَف ٍؿاَتُْمُ َّلُك بُِيُ َلا َوَّللا َّفِإ ۖ

Terjemahnya:

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".22

Berdasarkan analisis penulis terhadap ayat di atas bahwa pendidikan Islam bukan hanya bertujuan untuk menghasilkan generasi yang cerdas tetapi juga generasi yang berakhlak mulia, karena kecerdasan tanpa didukung dengan akhlak yang baik takkan menghasilkan apa-apa baik bagi agama, bangsa dan negara.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan agama Islam itu sendiri tidak lain dan bukan menjadikan manusia beriman, berilmu dan bertakwa kepada Allah swt, yang berkahlak mulia, dalam hal ini peserta didik. Agar mereka mampu menjadi manusia yang seutuhnya dengan mengembalikan manusia kepada fitrahnya yaitu sebagai hamba Allah swt.

22Kementerian Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Terjemah, h. 412.

C. Hasil Belajar

Hasil belajar terangkai dari dua kata yakni hasil dan belajar. Menurut Suharsimi Arikunto dalam Ruswandi menyatakan bahwa hasil belajar adalah hasil akhir setelah mengalami proses belajar, perubahan itu tampak dalam perbuatan yang dapat diamati dan dapat diukur. Sedangkan menurut Ernest R. Hilgard dalam Ruswandi menyatakan bahwa belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh perubahan lainnya dan perubahannya tersebut cenderung bersifat permanen.23

Berdasarkan analisis penulis terhadap penjelasan dia atas bahwa hasil belajar merupakan pencapaian seseorang yang diperoleh atau akibat dari aktivitasnya sendiri dan memungkinkan terjadinya suatu perubahan yang lazimnya dinyatakan dalam bentuk huruf ataupun angka. Benyamin S. Bloom dalam Ruswandi, menge-mukakan bahwa secara garis besar perubahan-perubahan tersebut meliputi tiga aspek, yaitu: kognitif, afektif dan psikomotor.

Hal yang mempengaruhi hasil belajar tidak luput dari dua faktor, yaitu:

faktor internal merupakan pengaruh dari dalam diri seseorang dan faktor eksternal yaitu faktor dari luar. Untuk lebih jelasnya berikut pemaparan ahli.

Walisman dalam Ahmad Susanto, berpendapat bahwa faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri peserta didik, yang meliputi:

kecerdasan, minat dan motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta kesehatan jasmani dan rohani. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang

23Ruswandi, Psikologi Pembelajaran (Cet. I; Bandung: Cipta Pesona Sejahtera, 2013), h. 51.

berasal dari luar diri peserta didik, meliputi: keluarga, sekolah, dan masyarakat.24 Lebih lanjut, Rus Effendi dalam Ahmad Susanto mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar ke dalam sepuluh macam, yaitu:

a. Kecerdasan Anak

Kemampuan intelegensi (kecerdasan) sangat memengaruhi cepat atau lambatnya seseorang menerima informasi. Kecerdasan peserta didik sangat membantu pendidik untuk menetukan apakah peserta didik itu mampu mengikuti pelajaran serta untuk meramalkan keberhasilan peserta didik setelah proses belajar mengajar meskipun tidak akan terlepas dari faktor lainnya.

b. Kesiapan atau Kematangan

Kesiapan atau kematangan adalah tingkat perkembangan individu atau organorgan sudah berfungsi sebagaimana mestinya. Kaitannya dalam proses belajar mengajar, kematangan atau kesiapan ini sangat menentukan berhasil tidaknya sebuah proses belajar mengajar.

c. Bakat Anak

Chaplin dalam Ahmad Susanto, mendefinisikan bakat merupakan kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Setiap orang memiliki bakat dalam artian ia memiliki potensi untuk mencapai prestasi sampai pada tingkatan tertentu. Oleh sebab itu, bakat cukup berperan dalam memengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar peserta didik.

d. Kemauan Belajar

24Ahmad Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar (Cet. I; Jakarta:

Kencana Prenada Media Group, 2013), h. 13.

Tugas pendidik yang terkadang sukar dilaksanakan adalah menghadirkan kemauan belajar peserta didik belajar. Kemauan belajar yang tinggi disertai dengan rasa tanggung jawab yang besar tentunya berpengaruh positif terhadap hasil belajar yang akan diraihnya. Karenanya, kemauan belajar merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam proses belajar mengajar.

e. Minat

Minat dapat berarti kecenderungan atau kegairahan yang cukup tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Seorang peserta didik yang memiliki minat besar terhadap mata pelajaran akan memberikan perhatian lebih banyak jika dibandingkan dengan peserta didik yang tidak memiliki minat dalam belajar.

f. Model Penyajian Materi Pelajaran

Keberhasilan peserta didik dalam proses belajar mengajar sangart bergantung pula pada model penyajian materi. Model penyajian materi yang menyenangkan, menantang dan mudah dimengerti oleh peserta didik tentu akan sangat berpengaruh positif keberhasilan sebuah proses belajar mengajar.

g. Pribadi dan Sikap Pendidik

Pribadi dan sikap pendidik yang baik tentunya tercermin dari sikapnya yang ramah, lemah lembut, membimbing dengan penuh perhatian dan kasih sayang, tanggap terhadap keluhan atau kesulitan siswa, memberikan penilaian yang objektif, rajin, disiplin, serta berdedikasi dan bertanggung jawab penuh dalam segala tindakan yang ia lakukan.

h. Suasana Pengajaran

Suasana pengajaran yang tenang, dialog yang kritis antara pendidik dengan peserta didik serta menumbuhkan suasana yang aktif di antara peserta didik tentunya

akan memberikan nilai lebih dalam proses belajar mengajar. Sehingga keberhasilan peserta didik dapat meningkat secara maksimal.

i. Kompotensi Pendidik

Pendidik profesional memiliki kemampuan tertentu. Kemampuan tersebut diperlukan dalam membantu peserta didik dalam belajar. Pendidik yang profesional adalah pendidik yang berkompeten dalam bidangnya dan menguasai dengan baik bahan ajar serta mampu memilih metode yang tepat sehingga pendekatan tersebut bisa berjalan sebagaimana mestinya.

j. Masyarakat

Dalam masyarakat terdapat berbagai macam tingkah laku manusia dan berbagai macam latar belakang pendidikan. Kehidupan modern dengan keterbukaan serta kondisi yang luas banyak dipengaruhi dan dibentuk oleh kondisi masyarakat ketimbang oleh keluarga dan sekolah.25

Berdasarkan analisis penulis terhadap faktor hasil belajar terhadap berbagai macam faktor di atas adalah hasil belajar yang diperoleh oleh peserta didik tak lepas dari faktor internal maupun eksternal, semakin besar faktor yang mempengaruhi maka akan mempengaruhi hasil belajar secara signifikan.

25Ahmad Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, h. 14-18.

30 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Lokasi Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen.

Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang variabel-variabel bebasnya dilakukan perlakuan, atau treatment dilakukan pada saat penelitian berlangsung, sehingga penelitian ini biasanya dipisahkan dengan penelitian ex post facto.1Adapun desain penelitiannya adalah quasi eksperimen dengan bentuk pre test post test one group desain.

Pada penelitian ini variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable) telah dinyatakan secara eksplisit, untuk kemudian dihubungkan sebagai penelitian relasi atau diprediksi jika variabel bebas mempunyai pengaruh tertentu pada variabel terikat.2

Berdasarkan analisis penulis terhadap penjelasan di atas adalah penelitian kuantitatif menggunakan variabel sebagai objek penelitiannya, berbeda dengan penelitian kualitatif menggunakan fokus penelitian, adapun variabel dalam pe-nelitian ini adalah penerapan metode resitasi dan hasil belajar.

Pada penelitian ini, keterkaitan antara variabel bebas dengan variabel terikat, sudah terjadi secara alami dan telah dinyatakan secara eksplisit, untuk kemudian

1Syamsuddin dan Vismaia S. Damaianti, Metode Penelitian Pendidikan Bahasa, (Bandung:

Remaja Rosdakarya, 2011), h. 164.

2Hamid Darmadi, Metode Penelitian Pendidikan, (Cet. II, Bandung: Alfabeta, 2011), h.35-36.

dikorelasikan sebagai penelitian relasi atau diprediksi jika variabel bebas mempunyai pengaruh tertentu pada variabel terikat.

2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SDN Taipale’leng yang berlokasi di Jalan poros Kampili Bontona Songkolo, Desa Kampili, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa. Lokasi tersebut dipilih atas dasar pertimbangan keterjangkauan lokasi, baik dari segi waktu, biaya, maupun tenaga yang diperlukan untuk mengumpulkan data.

B. Variabel dan Desain Penelitian 1. Variabel Penelitian

Variabel adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.3

Variabel independen atau yang biasa disebut variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel dependen atau yang biasa disebut variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.4

Berdasarkan analisis penulis terhadap penjelasan di atas adalah variabel yang ada dalam penelitian kuantitatif terdiri atas variabel independen dan variabel

3Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitaif, Kualitatif dan R&D),h.

60.

4Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitaif, Kualitatif dan R&D),h.

61.

dependen. Variabel independen dalam penelitian ini adalah metode resitasi, sedangkan variabel dependen nya adalah hasil belajar.

Sedangkan dalam variabel penelitian ini, penulis menggunakan dua variabel yang akan dianalisa, yaitu:

a. Variabel Independen

Variabel bebas (Independen Variabel) adalah penerapan metode resitasi.

Variabel ini dilambangkan dengan ‚X‛.

b. Variabel Dependen

Variabel terikat (Dependen Variabel) adalah hasil belajar peserta didik.

Variabel ini dilambangkan dengan ‚Y‛.

2. Desain Penelitian

Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah paradigma sederhana.

Paradigma sederhana adalah paradigma dimana penelitian terdiri atas satu variabel bebas dan satu variabel terikat. Desain penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:

Keterangan:

X= Metode Resitasi

Y= Hasil Belajar peserta didik

X Y

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi.5 Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain.

Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/ sifat yang dimiliki oleh subjek atau objek itu.6 Oleh karena itu, populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik di SDN Taipale’leng tahun ajaran 2019/2020 yang berjumlah 174 peserta didik.

Tabel 3.1 Populasi Penelitian

Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah PD

Kelas 1 12 7 19

Sumber data : Tata Usaha SDN Taipale’leng

5Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Cet. XIII; Jakarta : PT.

Rineka Cipta, 2006), h. 130.

6Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, h.

117.

2. Sampel

Sampel adalah sejumlah anggota yang diambil/dipilih dari suatu populasi.

Besarnya sampel ditentukan oleh banyaknya data atau observasi dalam sampel itu.

Sampel yang dipilih harus mewakil (representative) terhadap populasi, karena sampel merupakan alat atau media untuk mengkaji sifat- sifat populasi.

Sampel yang baik adalah yang dapat mewakili sebanyak mungkin karakteristik populasi, artinya sampel harus valid yaitu bisa mengukur sesuatu yang seharusnya diukur. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.

Selain itu Arikunto mendefinisikan pengertian sampel sebagai berikut:

Sampel adalah sebagian dari hasil populasi yang diteliti. Apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua dan apabila subjeknya lebih besar dari 100 dapat diambil antara 10%-15% atau 2025% dari jumlah populasinya.7

Berdasarkaan uraian tersebut maka penulis mengambil sebagian sampel untuk mewakili populasi yang ada, dan memudahkan memperoleh data yang kongkrit dan relevan dari sampel. Adapun teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik nonprobability sampling.

Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/ kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.8 Jenis teknik nonprobability sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.9

7Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, h. 135,

8Sugiyono, Statistik untuk Penelitian ( Cet. XIV; Bandung : Alfabeta, 2009), h. 66.

9Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, h.124.

Sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan purposive sampling, yaitu kelas 5 dengan jumlah 31 peserta didik dari populasi. Hal ini disebabkan sejumlah pertimbangan yakni 5 cenderung lebih antusias dalam menerima pelajaran dibanding dengan tingkatan kelas yang lainnya.

Tabel 3.2 Sampel Penelitian

Kelas Laki-Laki Perempuan Jumlah

Kelas 5 15 16 31

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti untuk me-ngumpulkan data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah pada pe-nelitian.10

Berdasarkan analisis penulis terhadap penjelasan di atas bahwa dalam proses penelitian teknik pengumpulan data yang dipilih harus sesuai dengan rumusan masalah yang telah di tetapkan.

Dalam mengumpulkan data, peneliti menggunakan kuesioner (angket).

Angket dapat didefinisikan sebagai teknik pengumpulan data yangdilakukan dengan cara memberi seperangkat pernyataan tertulis kepada responden mengenai masalah-masalah tertentu yang bertujuan untuk mendapatkan respon peserta didik. Skala pengukuran yang dapat digunakan dari angket adalah skala likert. Skala likert

10Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian (Cet. III; Jakarta: Rineka Cipta, 1995), h. 134.

adalah skala yang umum digunakan dalam angket dan merupakan skala yang paling banyak di gunakan dalam riset penerapan survei.11

Berdasarkan analisis penulis terhadap penjelasan di atas, dalam penyusunan instrumen harus memperhatikan validasi instrumen baik validasi content dan validasi konstruk.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan untuk me-ngumpulkan sebuah data. Untuk mendapatkan data yang akurat dan ilmiah, maka teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.12

1. Instrumen Tes

Tes digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik di kelas V pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Tes ini terdiri dari:

a. Tes awal (pre-test), yaitu tes awal yang diberikan pada peserta didik untuk mengetahui kemampuan awal sebelum diberi perlakuan (treatment).

b. Tes akhir (post-test), yaitu tes yang diberikan pada peserta didik setelah diberi perlakuan (treatment).

Tes hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada peserta didik ini disusun dan dikembangkan sendiri oleh penulis sebanyak 10 item soal dalam bentuk pilihan ganda. Setiap item soal yang benar diberi skor sesuai dengan kategori yang dibuat peneliti, sedangkan setiap item soal yang terjawab salah atau tidak terjawab sesuai dengan kunci jawaban diberi skor 0. Cara pemberian skornya adalah sebagai beikut:

11Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, h. 199.

12Anas Sudijono, PengantarStatistikPendidikan(Jakarta: RajagrafindoPersada, 2014), h. 193.

Skor = jumlah poin benar × 100/Total skor 2. Observasi

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan lembar observasi untuk mengamati aktifitas peserta didik dan keterlaksanaan pembelajaran dalam menerapkan model pembelajaran group investigation di kelas pada saat proses pembelajaran berlangsung.

3. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang beriskan keterangan tertentu. Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan hasil belajar peserta didik baik formatif maupun sumatif.

Data tentang hasil belajar peserta didik yang diperoleh dengan menggunakan teknik dokumentasi, dimana skor dan hasill belajar setelah melakukan pembelajaran didapatkan melalui daftar nilai anak dan rapor.

F. Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Dalam penelitian diperlukan instrumen-instrumen penelitian yang telah memenuhi persyaratan tertentu. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu instrumen penelitian minimal ada dua macam, yaitu validitas dan reliabilitas.13

1. Validitas Instrumen

Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu instrument pengukur dalam melakukan fungsi ukurnya.14 Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah alat ukur yang telah disusun dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur secara tepat.

13Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, h. 228.

14Saifuddin Azwar, Tes Prestasi Fungsi Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar, Edisi II (Cet. XIV; Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2013), h. 173.

Validitas suatu instrument akan menggambarkan tingkat kemampuan alat ukur yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang menjadi sasaran pokok pengukuran.15

Ada beberapa macam validitas, yaitu validitas isi, konstruk, dan kriteria.

Validitas isi (content validity), berkenaan dengan isi dan format dari instrumen.

Validitas isi berkaitan dengan kemampuan suatu instrumen mengukur konsep yang akan diukur, ini berarti suatu alat ukur mampu mengungkap isi suatu konsep atau variabel yang hendak diukur. Validitas konstruk (contruct validity), berkenaan dengan konstruk atau struktur dan karakteristik psikologi aspek yang akan diukur dengan instrumen.

Pada validitas konstuk berkaitan dengan kesanggupan suatu alat ukur (test) dalam mengukur suatu konsep yang diukur. Apakah konstruk tersebut dapat men-jelaskan perbedaan kegiatan atau perilaku individu berkenaan dengan aspek yang diukur. Validitas kriteria (criterion validity), berkenaan dengan tingkat ketepatan instrument mengukur segi yang akan diukur dibandingkan dengan hasil pengukuran dengan instrumen lain yang menjadi kriteria. Validitas kriteria yaitu validasi suatu instrumen dengan membandingkan instrumen lainnya yang sudah valid dan reliabel dengan cara mengkorelasikannya, bila korelasi signifikan maka instrumen tersebut mempunyai validitas kriteria. Instrumen yang menjadi kriteria adalah instrument yang sudah standar.16

15R. Gunawan Sudarmanto, Analisis Regresi Linear Ganda dengan SPSS (Cet. I; Graha Ilmu: Yogyakarta, 2005), h. 77-78.

16Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, h. 229.

Berdasarkan analisis penulis terhadap penjelasan di atas bahwa validitas konstruk sangat penting dilakukan karena validitas ini menjelaskan perbedaan pada aspek dari objek penelitian yang akan kita ukur.

Tingkat validitas suatu instrumen penelitian, maka sebelum instrumen tersebut digunakan, terlebih dahulu dilakukan uji coba dan hasilnya dianalisis.

Untuk menguji tingkat validitas instrumen penelitian atau alat pengukur data dapat digunakan teknik korelasi product moment dari Pearson dengan rumus sebagai berikut :

∑ ∑ ∑

√[ ∑ ][ ∑ ]

Keterangan:

= koefisien validitas item yang dicari.

X = skor responden untuk tiap item.

Y = total skor tiap responden dari seluruh item.

∑ = jumlah skor dalam distribusi X.

∑ = jumlah skor dalam distribusi Y.

2 = jumlah kuadrat masing-masing skor X.

∑ = jumlah kuadrat masing-masing skor Y.

N = jumlah subjek.17

Interpretasi terhadap nilai koefisien korelasi rXY digunakan kriteria Nurgana berikut ini:18

sangat tinggi

17R. Gunawan Sudarmanto, Analisis Regresi Linear Ganda dengan SPSS, h. 77-78.

18Asep Jihad, Evaluasi Pembelajaran (Yogyakarta: Multi Pressindo, 2012), h. 180.

tinggi cukup rendah

sangat rendah

Berdasarkan analisis penulis terhadap rumus di atas adalah semakin besar

maka semakin besar pula koefisien yang diperoleh pada saat penelitian, begitu pula sebaliknya semakin rendah maka semakin rendah pula koefisien yang diperoleh.

Setelah setiap butir instrument dihitung besarnya koefisien korelasi dengan skor totalnya, maka langkah selanjutnya adalah menghitung uji-t dengan rumus sebagai berikut :

t

hitung

=

Keterangan :

t = nilai t hitung

r = koefisien korelasi hasil r hitung n = jumlah responden.19

Langkah selanjutnya adalah menghitung df atau dk dengan rumus : Df = N-2. Setelah itu menentukan ttabel berdasarkan df-nya dengan alfa 0,05 (5%), kemudian membandingkan thitung dengan ttabel guna menentukan apakah butir tersebut valid atau tidak, dengan ketentuan sebagai berikut :

Jika thitung lebih kecil dari (<) ttabel maka butir tersebut invalid (tidak valid).

19Hartono, Analisis Item Instrumen (Cet. I; Pekanbaru Riau: Zanafa Publishing, 2015), h.

109.

Jika thitung lebih besar dari (>) ttabel maka butir tersebut valid.20

Interpretasi penulis terhadap penjelasan di atas adalah jika nilai t pada tabel lebih besar maka data yang diperoleh tidak valid, sedangkan jika nilai t pada hasil hitung maka data yang diperoleh adalah sah atau valid.

2. Reliabilitas Instrumen

Suatu instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang memadai bila instrument tersebut digunakan mengukur aspek yang diukur beberapa kali hasilnya sama atau relatif sama.21 Suatu alat ukur dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi atau dapat dipercaya, apabila alat ukur tersebut stabil sehingga dapat diandalkan (dependability) dan dapat digunakan utnuk meramalkan (predictability). Dengan demikian, alat ukur tersebut akan memberikan hasil pengukuran yang tidak

Suatu instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang memadai bila instrument tersebut digunakan mengukur aspek yang diukur beberapa kali hasilnya sama atau relatif sama.21 Suatu alat ukur dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi atau dapat dipercaya, apabila alat ukur tersebut stabil sehingga dapat diandalkan (dependability) dan dapat digunakan utnuk meramalkan (predictability). Dengan demikian, alat ukur tersebut akan memberikan hasil pengukuran yang tidak

Dokumen terkait