METODE PENELITIAN
3.4 Variabel dan Defenisi Operasional .1 Variabel Penelitian .1 Variabel Penelitian
a. Variabel Bebas : Pasta ZOE-Karbonat apatit, kalsium hidroksida, pasta ZOE (kontrol negatif).
b. Variabel Terikat : Respon inflamasi, reaksi sel odontoblast, pembentukan dentinal bridge.
c. Variabel Terkendali : Jenis tikus, elemen gigi tikus putih yang dipreparasi
3.4.2 Defenisi Operasional Tabel 1. Defenisi Operasional
No Variabel Defenisi
Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur
No Variabel Defenisi
No Variabel Defenisi
No Variabel Defenisi
Penimbangan Timbangan mg Kate-
gorik
3.5 Prosedur Penelitian 1. Persiapan Hewan Coba
a) Hewan coba diberi anastesi umum dengan injeksi intramuskular menggunakan Ketamin HCl (0,2ml/injeksi) menggunakan spuilt ukuran 1 ml pada paha tikus dan tunggu 3-4 menit sampai tikus Wistar lemas (Gambar 13). Lama kerja bahan anastesi Ketamine HCl dalam tubuh tikus Wistar selama ±20 menit.
Gambar 13. Anastesi tikus Wistar secara IM
b) Buka mulut tikus Wistar dengan bantuan benang yang diikatkan pada gigi depan tikus Wistar atas dan bawah (Gambar 14). Gunakan pinset untuk meretraksi pipi dan spatula lidah untuk mengontrol posisi lidah. Pembukaan maksimal mulut tikus Wistar adalah ±20-30mm.
Gambar 14. Pembukaan mulut tikus Wistar
2. Prosedur preparasi
a) Preparasi gigi molar satu maksila dimulai dengan melakukan disenfeksi dengan menggunakan cotton pellet yang sudah dibasahi dengan alkohol 70% dengan bantuan pinset (Gambar 15).
Gambar 15. Disenfeksi molar dengan cotton pellet yang dibasahi alkohol 70%
b) Dilakukan preparasi gigi molar dengan menggunakan round diamond bur dibagian oklusal (klas I) sedalam kepala bur (Gambar 16) ± 0,5mm sampai terlihat adanya setitik pendarahan (Gambar 17). Pengamatan pembukaan atap pulpa dibantu dengan menggunakan loop. Prosedur preparasi dihentikan sebanyak ± 3-4 kali untuk mencegah terjadinya stress pada tikus selama ± 30 detik-1 menit. Sebelum dan sesudah prosedur preparasi diberhentikan, kavitas dibersihkan dengan menggunakan cotton pellet yang sudah dibasahi dengan larutan salin dengan bantuan pinset.
Gambar 16. Preparasi gigi dengan round bur
Gambar 17. Kavitas pada gigi molar tikus
c) Bersihkan debris dan darah yang ada dengan menggunakan cotton pellet yang sudah dibasahi dengan larutan salin dengan menggunakan pinset (Gambar 18).
Gambar 18. Pembersihan kavitas gigi tikus
d) Karbonat apatit (®Gama-Cha) dalam kemasan (Gambar 19) lalu dihaluskan dengan menggunakan lumpang (Gambar 20). Kemudian ditimbang dengan timbangan mikro (Gambar 21). Banyaknya karbonat apatit yang digunakan ±10mg (Gambar 22) kemudian ZOE ditimbang (Gambar 23) dengan perbandingan pencampuran dengan bubuk Zinc Oxide adalah 1:5 (Gambar 24) yang dicampur dengan setetes eugenol sampai konsistensinya padat dan dapat dilipat dengan menggunakan semen spatel diatas glass plate (Gambar 25).
Gambar 19. Kemasan karbonat apatit (®Gama-Cha)
Gambar 20. Karbonat apatit dihaluskan dengan lumping menjadi bubuk
Gambar 21. Butiran karbonat apatit yang sudah dihaluskan ditimbang
Gambar 22. Butiran karbonat apatit dibagi 4 masing-masing 10 mg
Gambar 23. Penimbangan ZOE dengan timbangan
Gambar 24. Perbandingan bubuk karbonat apatit dengan zinc oxide 1:5 setetes eugenol
Gambar 25. Pencampuran bubuk menjadi pasta karbonat apatit-ZOE dan eugenol
e) Pada grup perlakuan : kavitas diisi dengan campuran Pasta ZOE-Karbonat apatit (®Gama-Cha) (Gambar 26) ± 1/3 dari dalamnya kavitas (0,15-0,2mm) dan sisanya
±2/3 dari dalamnya kavitas ditumpat dengan GIC. Pasta ZOE-Karbonat apatit diambil dan dimasukkan ke dalam kavitas dengan menggunakan plastic filling instrument dan ditekan dengan menggunakan ball aplicator (Gambar 27).
Gambar 26. Pengisian kavitas gigi molar dengan pasta ZOE-Karbonat apatit
Gambar 27. Kavitas gigi molar tikus Wistar yang diisi dengan pasta ZOE-Karbonat apatit
e) GIC diaduk dengan menggunakan spatel agate diatas paper pad dengan perbandingan antara powder dan liqiud adalah 1:1 (Gambar 28) sampai homogen dengan menggunakan teknik melipat. Bahan tumpatan diambil dengan menggunakan plastic filling instrument (Gambar 29), tumpatan diratakan dengan tangan yang sudah diolesi dengan vaseline/cocoa butter.
Gambar 28. Perbandingan bahan GIC 1:1
Gambar 29. Pengambilan GIC dengan plastic instrument
f) Pada grup kontrol positif, kavitas diisi dengan Ca(OH). Perbandingan basis dan katalis adalah 1:1. Basis dan katalis diaduk dengan menggunakan semen spatel
diatas paper pad sampai tercampur merata, lalu diambil dan dimasukkan ke dalam kavitas dengan menggunakan ball applicator.
g) Plastic filling instrument dan ditekan menggunakan ball aplicator. Kavitas ditumpat dengan menggunakan GIC (sama seperti cara sebelumnya).
h) Lakukan preparasi dengan cara yang sama pada gigi molar satu pada rahang sebelahnya.
i) Tikus Wistar diobservasi selama 20 menit sampai tikus mulai sadar.
Kemudian, tikus dimasukkan kedalam cage.
j) Dibuat cadangan tikus Wistar untuk mengantisipasi kematian tikus selama perawatan sebanyak 3 ekor tikus yang mana masing-masing tikus dibagi menjadi cadangan untuk kelompok percobaan perlakuan, kontrol positif, dan kontrol negatif.
k) Tikus diamati selama 4 minggu dan dipelihara di animal house oleh pihak laboratorium Farmakologi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Peneliti melakukan observasi keadaan tikus 2-3 kali dalam seminggu untuk memastikan tikus dalam keadaan sehat dan tidak mati.
l) Apabila selama perawatan tikus mati, maka prosedur penelitian akan diulangi dari awal.
3. Surgical Method
a) Hewan coba dimasukkan kedalam sebuah wadah tertutup yang sudah dimasukkan tumpukan kapas yang sebelumnya sudah dibasahi dengan kloroform (Gambar 30). Hewan coba akan mati ±3-5 menit.
Gambar 30. Cara mematikan tikus Wistar
b) Lalu hewan coba diletakkan telentang diatas parrafin (Gambar 31).
Gambar 31. Hewan coba pada paraffin
c) Kepala dan badan tikus Wistar dipisahkan dengan menggunakan pisau bedah.
Lalu kepala tikus dikuliti dengan menggunakan dengan gunting yang dibantu dengan pinset sampai bersih. Lalu maksila dipisahkan dari kepala dengan pisau bedah dan gunting. Segmen maksila dicuci dengan menggunakan larutan saline untuk membersihkan sampel dari darah dan kontaminasi bakteri (Gambar 32). Masukkan segmen maksila kedalam wadah yang berisi larutan formalin 10% untuk menjaga keutuhan sampel (Gambar 33).
Gambar 32. Pencucian sampel
Gambar 33. Sampel dalam larutan formalin 10%
4. Proses Pembuatan Slide
a) Maksila dibagi menjadi dua bagian kanan dan kiri dengan pisau bedah.
b) Jaringan gigi didekalsifikasi dengan larutan HCl selama 1-4 hari. Kemudian larutan diganti setiap hari. Cuci dengan air mengalir selama 24 jam. Kemudian dinetralkan dengan formalin 10%.
c) Sampel yang sudah lunak dimasukkan kedalam parafin blok (Gambar 34), kemudian dimasukkan kedalam cetakan kemudian diinfiltrasi dengan cairan parafin (lilin) dilakukan selama 15 menit dengan suhu 62oC (Gambar 35).
Gambar 34. Parafin Blok
Gambar 35. Pengisian cairan parafin
d) Proses pemotongan blok jaringan (Gambar 36) dengan menggunakan pisau mikrotom setebal 5-6 μm dan diletakkan pada kaca objek (object glass).
Gambar 36. Pemotongan blok jaringan
e) Jaringan yang sudah didapat melalui proses suctioning dimasukkan ke dalam waterbath (45oC) (Gambar 37).
Gambar 37. Perendaman dalam waterbath
f) Pemisahan jaringan dengan parafin dilakukan dengan pemanasan pada diatas mesin pemanas, sehingga jaringan seluruhnya tertinggal pada kaca objek .
g) Kaca objek yang sudah hilang parafin direndam di dalam larutan xylol masing-masing 2 kali, alkohol masing-masing 2 kali selama 1 menit, alkohol 95%
masing-masing selama 1 menit, larutan iodin selama 10 menit, kemudian dicelupkan 4 kali dalam air mengalir (Gambar 38).
Gambar 38. Perendaman kaca objek
h) Kaca objek diberikan pewarnaan dengan hematoksilin selama 3-5 menit, lalu dicuci dengan air mengalir kemudian diberi pewarnaan eosin selama 2-3 menit dan dicuci kembali dengan air mengalir (Gambar 39).
Gambar 39. Pewarnaan kaca objek
i) Lalu kaca objek ditutup dengan deck glaser dan diberi perekat Canada Balsam. Lalu, kaca objek dapat diamati dibawah mikroskop.
j) Pengamatan histologis ini dilakukan dengan menggunakan mikroskop Olympus dengan perbesaran 400 kali dengan pengamatan yang dilakukan oleh dr.
Jamaluddin, Sp.PA selaku Ketua Departemen Patologi Anatomi Rumah Sakit Hj. Adam Malik Medan.