HASIL PENELITIAN Uji Deskriptif Statistika
2. Variabel Kenakalan Remaja
Tabel 3.
Kategorisasi Pengukuran Skala Kenakalan Remaja No Interval Kategori Mean f Persentase
1 105,4 ≤ x ≤ 124 Sangat Tinggi 32 31,37% 2 86,8 ≤ x < 105,4 Tinggi 99,54 56 54,90% 3 68,2 ≤ x < 86,8 Sedang 13 12,75% 4 49,6 ≤ x < 68,2 Rendah 1 0,98% 5 31 ≤ x < 49,6 Sangat Rendah 0 0% Jumlah 102 100% SD = 12,711 Min = 67 Max = 124 Keterangan: x = kenakalan remaja
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa 32 siswa yang memiliki skor kenakalan remaja yang berada pada kategori sangat tinggi dengan persentase 31,37%, 56 siswa memiliki skor kenakalan remaja yang berada pada kategori tinggi dengan persentase 54,90%, 13 siswa memiliki skor kenakalan remaja yang berada pada kategori sedang dengan persentase 12,75%, 1 siswa memiliki skor kenakalan remaja yang berada pada kategori rendah dengan persentase 0,98% dan tidak ada siswa yang memiliki skor kenakalan remaja yang berada pada kategori sangat rendah dengan persentase 0%. Berdasarkan rata-rata sebesar 99,54, dapat dikatakan bahwa rata-rata kenakalan remaja berada pada kategori tinggi. Skor yang diperoleh subjek bergerak dari skor minimum sebesar 67 sampai dengan skor maksimum sebesar 124 dengan standard deviasi 12,711.
17
Kenakalan tersebut yang paling banyak dilakukan oleh siswa SMK Negeri “X”
Sentani adalah jenis pelanggaran terhadap status yaitu minum-minuman beralkohol, mengisap ganja, meraba-raba tubuh orang lain, merokok, membaca buku atau majalah seksual yang vulgar atau pornografi, menyaksikan film porno, video atau program tv, melakukan hubungan seks di luar nikah, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, bolos sekolah tanpa alasan, menyontek saat tes dan kabur dari rumah.
Tabel 4.
Jumlah siswa dalam pelanggaran terhadap status
Kategori Kenakalan Jumlah Siswa Persentase
Minum-minuman beralkohol 96 siswa 94,11 %
Mengisap ganja 92 siswa 90,19 %
Meraba-raba tubuh orang lain 99 siswa 97,05 %
Merokok 99 siswa 97,05 %
Membaca buku atau majalah seksual yang vulgar atau pornografi
98 siswa 96,07 %
Menyaksikan film porno, video atau program tv 102 siswa 100 % Melakukan hubungan seks di luar nikah 101 siswa 99,01 % Mengkonsumsi obat-obatan terlarang 98 siswa 96,07 %
Bolos sekolah tanpa alasan 101 siswa 99,01 %
Menyontek saat tes 100 siswa 98,03 %
Kabur dari rumah 101 siswa 99,01 %
Uji Asumsi
Uji asumsi yang dilakukan terdiri dari uji normalitas dan uji linearitas. Uji normalitas dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
18
Uji Normalitas
Tabel 5.
Uji Normalitas Self-Control Dengan Kenakalan Remaja One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Self-control
Kenakalan Remaja
N 102 102
Normal Parametersa Mean 50.19 99.54
Std. Deviation 11.789 12.711 Most Extreme Differences Absolute .090 .098 Positive .067 .098 Negative -.090 -.061 Kolmogorov-Smirnov Z .904 .995
Asymp. Sig. (2-tailed) .387 .276
Pada skala self-control diperoleh hasil skor K-S-Z sebesar 0,904 dengan probabilitas (p) atau signifikansi sebesar 0,387 (p>0,05). Sedangkan pada skor kenakalan remaja memiliki nilai K-S-Z sebesar 0,995 dengan probabilitas (p) atau signifikansi sebesar 0,276. Dengan demikian kedua variabel memiliki distribusi yang normal.
19
Uji Linearitas
Tabel 6.
Uji Linearitas Self-Control Dengan Kenakalan Remaja ANOVA Table Sum of Squares df Mean Square F Sig. Kenakalan rem aj a * s e l f- c o n t r o l Between Groups (Combined) 3748.215 33 113.582 .614 .937 Li nearit y 17.898 1 17.898 .097 .757 Deviation from Li nearit y 3730.316 32 116.572 .631 .924 Within Groups 12569.12 9 68 184.840 Tot al 16317.34 3 101
Hasil uji linearitas diperoleh nilai Fbeda sebesar 0,631 dengan signifikansi = 0,924 (p>0,05) yang menunjukkan hubungan antara self-control dengan kenakalan remaja adalah linear.
Uji Korelasi
Dari perhitungan uji korelasi antara variabel bebas dan terikat, dapat dilihat pada tabel berikut:
20
Tabel 7.
Uji Korelasi Antara Self-Control Dengan Kenakalan Remaja Correlations Self-control Kenakalan Remaja Self-control Pearson Correlation 1 -.033 Sig. (1-tailed) .371 N 102 102 Kenakalan Remaja Pearson Correlation -.033 1 Sig. (1-tailed) .371 N 102 102
Hasil koefisien korelasi antara self-control dengan kenakalan remaja, sebesar -0,033 dengan signifikansi = 0,371 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang negatif dan signifikan antara self-control dengan kenakalan remaja pada
siswa SMK Negeri “X” Sentani. PEMBAHASAN
Berdasarkan penelitian mengenai hubungan antara self-control dengan
kenakalan remaja pada siswa SMK Negeri “X” Sentani, didapatkan hasil bahwa tidak
terdapat hubungan yang negatif signifikan antara self-control dengan kenakalan remaja
pada siswa SMK Negeri “X” Sentani. Berdasarkan hasil uji perhitungan korelasi,
keduanya memiliki nilai r sebesar -0,033 dengan signifikansi sebesar 0,371 (p<0.05) yang berarti kedua variabel yaitu self-control dengan kenakalan remaja tidak memiliki hubungan yang negatif signifikan.
Dengan demikian, hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian sebelumnya yang diteliti oleh Aroma dan Suminar (2012) yang menyatakan terdapat hubungan negatif antara self-control dengan kecenderungan perilaku kenakalan pada
21
remaja. Tidak adanya hubungan negatif antara self-control terhadap kenakalan remaja di
SMK Negeri “X” Sentani, mungkin dikarenakan self-contol bukan menjadi faktor utama dalam kenakalan remaja. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara lanjutan yang dilakukan oleh penulis dengan tiga orang siswa pada tanggal 22 April 2015, yang dimana mereka mengatakan bahwa mereka (siswa) melakukan kenakalan remaja agar mendapatkan pengakuan dari teman-temannya (teman sebaya), pengaruh lingkungan sekitar dan ingin menunjukkan identitas diri sebagai orang yang berani. Hal ini dilihat dari bagaimana siswa berperilaku dalam lingkungan sekolah, seperti: tidak mampu mengendalikan emosi dengan baik kepada teman maupun terhadap gurunya, kemampuan siswa untuk memperoleh nilai rendah (buruk) yang begitu mudah, dan mudah tersinggung dan tidak bisa menerima pendapat dari orang lain. Selain itu juga, jika ada siswa yang tidak mau ikut terlibat dalam perkumpulan kelompok (dalam hal ini berkaitan dengan kenakalan remaja) maka siswa tersebut biasanya akan mendapatkan perlakuan kurang baik seperti dicaci maki bahkan sampai dipukul. Sedangkan, jika siswa dalam anggota kelompok mau menuruti apa yang dilakukan oleh kelompoknya, maka biasanya mereka akan memberikan pujian secara verbal dan terkadang diwujudkan melalui pesta minum-minuman keras.
Pernyataan di atas, juga didukung oleh hasil wawancara penulis dengan pihak
sekolah bahwa siswa yang berada di SMK Negeri “X” Sentani melakukan kenakalan
remaja bukan karena memiliki self-control yang rendah maupun tinggi melainkan adanya faktor dari luar diri siswa seperti pengaruh dari teman-temannya. Ini dilihat dari setiap kali siswa bermasalah atau melakukan kenakalan remaja, siswa mengatakan mereka meniru tindakan tersebut dari lingkungan terdekat (keluarga) dan dari teman sebayanya. Menurut Baron dan Byrne (1994), konformitas remaja adalah penyesuaian
22
perilaku remaja untuk menganut norma kelompok acuan, menerima ide atau aturan-aturan kelompok yang mengatur cara remaja berperilaku.
Selain itu, Gunarsa (2009) yang mengatakan bahwa tugas seorang remaja dalam tahapan perkembangannya ialah mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman baik pria maupun wanita dalam mencapai peran sosial mereka, dan diharapkan mereka dapat mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Seiring dengan perkembangannya, remaja pada umumnya berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa peranannya dalam masyarakat, sehingga mereka berupaya untuk menentukan sikap dalam mencapai kedewasaan. Namun hal ini belum
nampak terlihat pada siswa SMK Negeri “X” Sentani, karena jika dilihat para siswa tersebut masih menunjukkan tingkat kenalannya yang tinggi.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif dalam penelitian ini, diperoleh data bahwa rata-rata (mean) 50,19 atau 45,1% siswa-siswi SMK Negeri “X” Sentani mengalami self-control yang berada pada kategori rendah, sedangkan pada kenakalan remaja, siswa
SMK Negeri “X” Sentani rata-rata (mean) 99,54 atau 54,90% yang berada pada kategori
tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa SMK Negeri “X” Sentani
memiliki tingkat self-control yang rendah dan tingkat kenakalan remaja yang tinggi. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai hubungan antara self-control dengan
kenakalan remaja pada siswa SMK Negeri “X” Sentani, diperoleh kesimpulan bahwa
tidak ada hubungan negatif yang signifikan antara self-control dengan kenakalan remaja
pada siswa SMK Negeri “X” Sentani. Hal ini dapat dilihat dari koefisien korelasi antara self-control dengan kenakalan remaja pada siswa SMK Negeri “X” Sentani adalah
23
sebesar -0,033 dengan signifikansi 0,371 (p < 0,05). Dengan demikian, terlihat jelas para siswa merasa self-control tidak berkorelasi dengan tingginya kenakalan remaja pada mereka.
Saran
1. Guru dan sekolah diharapkan dapat membina para siswanya dan membuat iklim sekolah yang lebih kondusif dari sebelumnya agar mereka tidak melakukan hal-hal yang buruk atau hal-hal yang tidak diinginkan seperti tindakan kenakalannya.
2. Untuk peneliti selanjutnya, diharapkan dapat meneliti lebih lanjut penelitian ini dengan mengembangkan variabel-variabel lain yang dapat digunakan, sehingga terungkap faktor-faktor yang memengaruhi kenakalan remaja terutama di SMK
Negeri “X” Sentani seperti membangun pendampingan dari pihak guru kepada
siswa, relasi siswa dengan siswa, inteligensi, bakat, kematangan, latar belakang kebudayaan, kurikulum, keadaan sekolah, dan teman bergaul. Hal ini karena, penulis menyadari keelemahan dalam penelitian ini, karena siswa yang diambil sebagai subjek penelitian hanya siswa kelas X, sehingga keterlibatan siswa kelas XI dan XII tidak ada.
24