METODOLOGI PENELITIAN
3.4. Variabel Penelitian
3.4.1. Definisi Konsep
Definisi konseptual memberikan penjelasan tentang konsep dari variabel yang akan diteliti menurut pendapat peneliti berdasarkan kerangka teori yag digunakan. Adapun definisi konsep dalam penelitian Analisis Kebijakan Transformasi PT. Jamsostek Menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan di Kantor Wilayah Banten adalah:
1. Analisis Kebijakan
Menurut Dunn, dalam (Nugroho, 2007:7), Analisis Kebijakan adalah aktivitas intelektual dan praktis yang ditujukan untuk menciptakan, secara kritis
menilai, dan mengomunikasikan pengetahuan tentang dan dalam proses kebijakan. Analisis kebijakan adalah disiplin ilmu sosial terapan yng menggunakan berbagai metode pengkajian multipel dalam konteks argumentasi dan debat politik untuk menciptakan, secara kritis menilai, dan mengomunikasikan pengetahuan yang relevan dengan kebijakan. Dunn dalam (Nugroho, 2007: 16-27) mengemukakan proses analisis kebijakan sebagai berikut: (1) Merumuskan Masalah, (2) Peramalan masa depan kebijakan, (3) Rekomendasi kebijakan, (4) Pemantauan hasil kebijakan, dan (5) Evaluasi kinerja kebijakan.
2. PT. Jamsostek (Persero)
Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah program publik yang memberikan perlindungan bagi tenaga kerja untuk mengatasi resiko sosial ekonomi tertentu yang penyelenggaraannya menggunakan mekanisme asuransi sosial. Program ini memberikan perlindungan bersifat dasar, untuk menjaga harkat dan martabat manusia jika mengalami resiko-resiko sosial ekonomi dengan pembiayaan yang terjangkau oleh pengusaha dan tenaga kerja. Resiko sosial ekonomi yang ditanggulangi oleh program tersebut terbatas saat terjadi peristiwa kecelakaan, sakit, hamil, bersalin, cacat, hari tua, dan meninggal dunia. Yang mengakibatkan berkurangnya atau terputusnya penghasilan tenaga kerja atau membutuhkan perawatan medis.
Jaminan Sosial Tenaga Kerja sebagaimana didasarkan pada UU No.3 Tahun 1992, pada prinsipnya merupakan sistem asuransi sosial bagi pekerja (yang mempunyai hubungan industrial) beserta keluarganya. Skema PT. Jamsostek (Persero) meliputi program-program yang terkait dengan resiko, seperti Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, Jaminan Pemeliharaan Kesehatan, dan Jaminan Hari Tua, dan pada dasarnya program PT. Jamsostek (Persero) merupakan sistem asuransi sosial, karena penyelenggaraan didasarkan pada sistem pendanaan penuh (full funded system), yang dalam hal ini menjadi beban pemberi kerja dan pekerja. Sistem tersebut secara teori merupakan mekanisme asuransi.
3. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS Ketenagakerjaan) adalah badan hukum publik yang bertanggungjawab kepada presiden dan berfungsi menyelenggarakan program jaminan hari tua, jaminan pension, jaminan kematian, dan jaminan kecelakaan kerja bagi seluruh pekerja Indonesia termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia. (Sumber: UU No. 24 Tahun 2011 Tentang BPJS)
Sebagai Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam bidang asuransi sosial BPJS Ketenagakerjaan yang dahulu bernama PT.Jamsostek (Persero) merupakan pelaksana undang-udang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. BPJS Ketenagakerjaan sebelumnya bernama Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga
Kerja), yang dikelola oleh PT. Jamsostek (Persero), namun sesuai UU No.24 Tahun 2011 tentang BPJS, PT. Jamsostek berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan sejak tanggal 1 Januari 2014.
3.4.2. Definisi Operasional
Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa fenomena yang akan diamati dalam penelitian ini adalah mengenai Analisis Kebijakan Transformasi PT. Jamsostek (Persero) Menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan di Kantor Wilayah Banten. Beberapa hal penting mengenai fenomena yang akan diamati tersebut akan peneliti nilai dengan menggunakan teori model analisis kebijakan menurut Dunn. Dunn dalam (Nugroho, 2007:16-27) mengemukakan proses analisis kebijakan sebagai berikut:
1. Merumuskan Masalah
Masalah kebijakan adalah nilai, kebutuhan, atau kesempatan yang belum terpenuhi, yang dapat diidentifikasi, untuk kemudian diperbaiki atau dicapai melalui tindakan publik. Masalah kebijakan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Terdapat saling kebergantungan antar masalah kebijakan. b. Mempunyai subjektivitas.
c. Buatan manusia, karena merupakan produk penilaian subjektif dari manusia.
d. Bersifat dinamis.
Fase-fase perumusan masalah kebijakan dapat disusun sebagai berikut: a. Pencarian masalah
b. Pendefinisian masalah c. Spesifikasi masalah d. Pengenalan masalah
2. Peramalan Masa Depan Kebijakan
Peramalan atau forecasting adalah prosedur untuk membuat informasi aktual tentang situasi sosial di masa depan atas dasar informasi yang telah ada tentang masalah kebijakan. Peramalan mengambil tiga bentuk, yaitu:
a. Peramalan ekstrapolasi, yaitu ramalan yang didasarkan atas ekstrapolasi hari ini ke masa depan, dan produknya disebut proyeksi. Teknik yang digunakan antara lain analisis antar-waktu, estimasi tren linear, pembibitan eksponensial, transformasi data, dan katastrofi metodologi. Peramalan ni menggunakan tiga asumsi dasar: persistensi (pola yang diamati di masa lampau akan tetap ditemui di masa depan), keteraturan (visi di msa lalu sebagaimana ditunjukkan oleh kecenderungan akan terulang secara ajek di masa depan), dan reabilitas-validitas data.
b. Peramalan teoretis, yaitu ramalan yang didasarkan pada suatu teori, dan produknya disebut prediksi. Teknik yang digunakan antara lain pemetaan teori, model kausal, analisis regresi, estimasi titik dan interval, dan analisis korelasi. Apabila peramalan ekstrapolatif menggunakan logika induktif, peramalan teoretis menggunakan logika deduktif.
c. Peramalan penilaian pendapat, yaitu ramalan yang didasarkan pada penilaian para ahli atau pakar, dan produknya disebut perkiraan (conjecture). Teknik yang digunakan antara lain Delphi kebijakan, analisis dampak silang, dan penlilaian fisibilitas (kelayakan). Teknik peramalan penilaian pendapat (judgemental forecasting) berusaha memperoleh pendapat para ahli. Logika yang digunakan bersifat retroduktif karena analisis dimulai dengan dugaan tentang suatu keadaan, dan kemudian berbalik kedata asumsi yang digunakan untuk mendukung dugaan tersebut. Meskipun pada praktiknya, ketiga logika tersebut (induktif, deduktif, retroduktif) tidak dipisahkan satu sama lain. 3. Rekomendasi Kebijakan
Tugas membuat rekomendasi kebijakan mengharuskan analisis kebijakan menentukan alternatif yang terbaik dan mengapa. Karenanya, prosedur analisis kebijakan berkaitan dengan masalah etika dan moral.
Rekomendasi pada dasarnya adalah pernyataan advokasi, dan advokasi mempunyai empat pertanyaan yang harus dijawab, yaitu:
a. Apakah pernyataan advokasi dapat ditindaklanjuti (actionable)? b. Apakah pernyataan advokasi bersifat prospektif?
c. Apakah pernyataan advokasi bermuatan “nilai” selain fakta? d. Apakah pernyataan advokasi bersifat etik?
Isu yang muncul adalah advokasi-multipel dari analisis kebijakan, yaitu banyaknya kepentingan yang harus dipertimbangkan dalam memilih alternatif kebijakan. Dalam memutuskan alternatif kebijakan, salah satu pendekatan yang paling banyak digunakan adalah rasionalitas. Namun, rasionalitas juga berarti multirasionalitas, yang berarti terdapat dasar-dasar rasional ganda yang mendasari sebagian besar pilihan-pilihan kebijakan, yaitu:
a. Rasionalitas teknis, berkenaan dengan pilihan efektif. b. Rasionalitas ekonomis, berkenaan dengan efisiensi. c. Rasionalitas legal, berkenaan dengan legalitas. d. Rasionalitas sosial, berkenaan dengan akseptabilitas.
e. Rasionalitas susbstantif, yang merupakan kombinasi dari keempat rasionalitas di atas.
4. Pemantauan Hasil Kebijakan
Pemantauan atau monitoring merupakan prosedur analisis kebijakan yang digunakan untuk memberikan informasi tentang sebab dan akibat kebijakan publik. Pemantauan, setidaknya memainkan empat fungsi dalam analisis kebijakan, yaitu eksplanasi, akuntansi, pemeriksaan, dan kepatuhan (compliance).
5. Evaluasi Kinerja Kebijakan
Jika pemantauan menekankan pada pembentukkan premis-premis faktual mengenai kebijakan publik, evaluasi menekankan pada penciptaan premis-premis nilai dengan kebutuhan untuk menjawab pertanyaan: “Apa
perbedaan yang dibuat?” Kriteria untuk evaluasi diterapkan secara
restrospektif (ex post), sementara kriteria untuk rekomendasi diterapkan secara prospektif (ex ante).