BAB V PEMBAHASAN
5.2 Variabel yang Tidak Mempengaruhi Kepuasan
Hasil uji dari regresi logistik variabel ketanggapan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan namun dari hasil tabulasi silang menunjukan bahwa variabel ketanggapan memiliki hubungan dengan kepuasan peserta JKN di rawat inap, Berdasarkan tabulasi silang pada variabel ketanggapan didapat nilai p= 0,039.
Berdasarkan hasil wawancara dengan responden pada variabel ketanggapan di dalam memberikan pelayanan, seorang tenaga kesehatan harus tanggap dan cepat merespon keluhan pasien, tenaga kesehatan harus bersikap sabar, ramah dan selalu memberikan perhatian yang lebih kepada pasien dan menjalin hubungan yang baik dengan pasien atau keluarga pasien agar timbul rasa kepercayaan pada diri pasien. Karena sering kali terjadi dokter atau tenaga kesehatan terburu-buru meninggalkan
pasien setelah memeriksa keadaan pasientanpa adanya memberikan kesempatan untuk pasien bertanya.
Menurut Azwar (1996), bahwa pelayanan yang diberikan petugas kesehatan merupakan salah satu penunjang keberhasilan pelayanan kepada pasien yang sedang menjalani pengobatan serta perawatan khususnya pasien rawat inap. Perilaku pelayanan diantaranya ditunjukan sikap dokter dalam melayani pasien. Sikap yang ditunjukan dengan tingkah laku hendanya memenuhi norma yang dikehendaki oleh masyarakat terutama oleh penderita atau keluarga pasien. Dalam menghadapi pasien tdokter dan perawat harus bersifat sopan, sabar, ramah, tidak ragu-ragu penuh perhatian terhadap pasien.
Menurut Purwanto (2007), kepuasan pasien ditentukan oleh beberapa faktor antara lain service ability yaitu meliputi kecepatan, kompetensi, serta penanganan keluhan yang memuaskan untuk pasien. Pelayanan yang diberikan oleh perawat dengan daya tanggap yang baik akan memberikan penanganan yang cepat pula terhadap keluhan pasien sewakt-waktu.
Hasil ini tidak sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Anjaryani (2009) menyatakan bahwa ketanggapan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pasien rawat inap.
5.2.2 Variabel Pengetahuan
Hasil tabulasi silang menunjukan bahwa variabel pengetahuan memiliki hubungan dengan kepuasan peserta JKN di rawat inap, berdasarkan tabulasi silang pada variabel status pengetahuan, Pada variabel status pengetahuan, dari 47 responden dengan kategori pengetahuan baik sebanyak 25 responden (53,2%) yang
kurang puas dengan pelayanan kesehatan dan 22 responden (46,8%) yang puas dengan pelayanan kesehatan sedangkan dari 38 responden dengan kategori pengetahuan tidak baik sebanyak 11 responden (28,9%) yang kurang puas dengan pelayanan kesehatan dan 27 responden (71,1%) yang puas dengan pelayanan kesehatan dengan nilai p= 0,029.
Banyak responden yang belum tahu tentang JKN yang dikelola BPJS, merupakan jaminan kesehatan yang bersifat wajib baik itu pekerja maupun penerima kerja, mendapatkan identitas peserta, iuran yang harus dibayar tiap bulannya, kapan batas waktu harus dibayar, iuran tambahan untuk angota yang lebih dari 5 orang, manfaat keseluruhan menjadi peserta JKN, dan jenis pelayanan apa yang tidak dijamin oleh BPJS.
Meskipun ada beberapa responden yang pengetahuannya kurang baik namun ada terdapat responden yang pengetahuannya baik hal ini disebabkan responden telah mendapatkan informasi tersebut sebelumnya baik itu melalui media elektronik (TV, koran ataupun dari internet) maupun secara langsung.
Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan adalah hasil tahu yang terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu melalui indra pengelihatan, pendengaran, penciuman, perasaan dan perabaan. Menurut Laji (2012) seseorang yang mempunyai pengetahuan tinggi cendrung mempunyai permintan yang tinggi, masyarakat yang berpengetahuan tinggi menganggap penting nilai kesehatan, sehingga akan mengkonsumsi jasa kesehatan lebih banyak dibandingkan masyarakat yang pengetahuannya lebih rendah.
5.2.3 Variabel Umur
Hasil tabulasi silang menunjukan bahwa variabel umur tidak memiliki hubungan dengan kepuasan peserta JKN di rawat inap dengan nilai p=0,499, pada umur 11-25 tahun sebanyak 27 responden (31,8%), sedangkan yang berumur >26 tahun sebanyak 58 responden (68,2%).
Umur akan berpengaruh didalam keputusan seseorang untuk memilih tempat pelayanan kesehatan dan akan mempengaruhi tinggi rendahnya harapan didalam pelayanan yang akan diterimanya. Tidak adanya hubungan antara umur dengan tingkat kepuasan karena pada dasarnya setiap pasien dari yang muda maupun yang tua menginginkan kasih sayang dan perhatian, setiap keluhan yang dirasakan ingin didengar dan diperhatikan oleh dokter atau tenaga kesehatan. Oleh karena itu pasien yang datang kerumah sakit ingin mendapatkan pelayanan dan mengharapkan kesembuhan baik itu usia muda ataupun usia tua karena bagi mereka yang penting mereka mendapatkan pelayanan dan mereka akan sembuh.
Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Hall dan Dorman yang menyatakan bahwa pasien yang lebih berusia tua cenderung lebih menerima dibandingkan dengan pasien muda, sementara dokter dan perawat cenderung lebih responsive terhadap pasien yang lebih tua.
Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan Anjaryani (2009) yang menyatakan bahwa usia produktif (dewasa) sering melakukan gaya hidup yang kurang sehat sehingga kemungkinan sakit lebih besar dibandingkan usia dewasa.
5.2.4 Variabel Jenis Kelamin
Hasil tabulasi silang menunjukan bahwa variabel jenis kelamin tidak memiliki hubungan dengan kepuasan peserta JKN di rawat inap dimana nilai p=0,514, dengan jumlah pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 46 responden (54,1%) dan berjenis kelamin perempuan sebanyak 39 responden (45,9%).
Responden paling banyak jumlahnya adalah laki-laki dibandingkan perempuan dimana dari hasil wawancara didapat bahwa laki-laki sering tidak terlalu memikirkan masalah kesehatan, karena mereka lebih beranggapan bahwa mencari uang lebih penting dibandingkan dengan kesehatan sama dengan pelayanan yang dirasakan mereka tidak terlalu mementingkankan tentang pelayanan yang diberikan penting bagi mereka sembuh dan cepat pulang kerumah lagi. Dari hasil tabulasi silang juga didapat bahwa antara laki-laki dan perempuan relatif sama dalam merasakan kepuasan.
Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Budiman (2010) yang menyatakan bahwa jenis kelamin berhubungan dengan kepuasan pasien terhadapa pelayanan Jamkesmas di Pukesmas Ratahan.
5.2.5 Variabel Pekerjaan
Hasil tabulasi silang menunjukan bahwa variabel pekerjaan tidak memiliki hubungan dengan kepuasan peserta JKN di rawat inap dengan nilai p=0,898, dari kategori pekerjaan petani sebanyak 8 responden (9,4),10 responden (11,8%) dengan kategori pekerjaan wirawasta, 15 responden (17,6%) dengan kategori pekerjaan PNS, 19 responden (22,4%) dengan kategori pekerjaan IRT dan 33 responden (38,8%)
dengan kategori tidak bekerja. Responden paling banyak jumlahnya adalah pada kategori bekerja, dimana disini responden yang masih sekolah, pensiunan.
Pada penelitian ini dilakukan pada peserta JKN sehingga latar belakang pekerjaan relatif sepadan. Dari kalangan PNS biasanya ditemukan angka ketidakpuasan cukup besar karena mereka lebih berpendidikan dan lebih kritis dengan realita pelayanan kesehatan yang diterimanya. Tuntutan atau harapan mereka juga cenderung meningkat sebagai ungkapan karena merasa telah membayar iuran asuransi kesehatan yang dipotong dari gajinya setiap bulannya (Tukimin, 2005).
Dari hasil wawancara didapatkan bahwa setiap orang tidak akan pernah merasa puas dengan pelayanan yang diberikan ataupun fasilitas yang ada, karena kepuasan bagi mereka susuatu hal yang tidak dapat diukuryang penting bagi mereka diperhatikan dan dilayani apa masalah yang terjadi. Dari variabel pekerjaan baik petani, wiraswasta, PNS, IRT dan tidak bekerja tidak didapatkan hasil yang menyatakan bahwa ada hubungannya dengan kepuasan.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lestari (2011) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan kepuasan pasien rawat inap di RSUD Kabupaten Indramayu.
5.2.6 Variabel Pendidikan
Hasil tabulasi silang menunjukan bahwa variabel pendidikan tidak memiliki hubungan dengan kepuasan peserta JKN di rawat inap dengan nilai p=0,767. pada variabel pendidikan, pendidikan SD sebanyak 12 responden (14,1%), 40 responden (47,1%) dengan pendidikannya SMP/SMA dan 33 responden (38,8%) dengan
pendidikannya perguruan, dengan begitu didapat bahwa pasien yang berkunjung lebih banyak pada pasien yang berpendidikan SMP/SMA.
Pendidikan adalah upaya persuasi atau pembelanjaan kepada masyarakat agar mau melakukan tindakan-tindakan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya (Notoadmodjo, 2010).
Pendidikan dapat mempengaruhi harapan seseorang tentang pelayanan yang akan diterimanya, dimana seseorang dengan latar belakang pendidikan yang lebih tinggi cenderung mempunyai harapan yang lebih besar dibandingkang dengan seseorang dengan latar belakang pendidikan yang lebih rendah .Dari hasil penelitian didapat bahwa pendidikan tidak berhubungan dengan kepuasan dilihat dari hasil tabulasi silang bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok antara pendidikan dengan kepuasan.
Dari hasil penelitian Baequny (2009) juga menyebutkan bahwa pasien dengan pendidikan non perguruan tinggi lebih merasa puas dibandingkan dengan pasien yang berpendidikan perguruan tinggi, hal ini berkaitan dengan harapan yang yang tinggi dari pasien yang berpendidikan perguruan tinggi.