BAB II HISTORISITAS MENSYARAH HADIS DAN FORMASI
B. Diskursus Syarah Hadis di Nusantara
1. Vernakularisasi Islam dan Format Epistemologi Syarah
Para sejarawan sepakat bahwa tradisi penulisan hadis di Nusantara telah dimulai di abad 17 M.65 al-Raniri dan al-Sinkili adalah dua tokoh yang dianggap pionir dalam kerja penulisan hadis, utamanya dalam kerja mensyarah hadis di Nusantara.66 Keberadaan naskah kitab hadis yang muncul dari abad 17 ini sedikit banyak memberikan informasi bahwa jauh sebelum itu, para ulama Nusantara sebenarnya sudah memberikan perhatian besar kepada studi hadis meskipun memang belum berwujud karya.
Ada beberapa catatan yang harus diberikan mengenai mengapa kitab-kitab hadis baru muncul di Nusantara abad 17 M.
Pertama, karateristik kedatangan Islam di Nusantara yang sufistik67 dan praksis, menjadikan kegiatan menulis hadis-hadis secara parsial tidak terlalu krusial dan dibutuhkan. Dalam situasi keberagamaan yang membutuhkan contoh langsung dan produk-produk reaktual kaitannya dengan realitas budaya masyarakat setempat, Islam secara tidak langsung mewujudkan diri secara kultural. Kalaupun studi hadis memiliki tempat, begitu juga studi keislaman lainnya, ia hanya bergerak dalam ruang-ruang kognitif dan menjadi basis metodologis yang diacu para ulama pembawa Islam ketika hendak mengejawantahkannya di tengah-tengah masyarakat.
Oleh karena itu, secara spesifik saya, menggunakan istilah
“tradisi penulisan”, bukan “perkembangan” sebagaimana juga yang digunakan oleh Oman. Ini dikarenakan, istilah
65 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII; Akar Pembaruan Islam di Indonesia (Jakarta: Kencana, 2013), h.
210. Oman Fathurrahman, “The Roots of The Writing Tradition of Hadith Works in Nusantara: Hidayat al-Habib by Nur al-Din al-Raniri” dalam Studia Islamika, vol. 19, no. 1, 2012.
66 Oman Fathurrahman, “The Roots of The Writing Tradition of Hadith Works in Nusantara, h.
67 Mengenai temuan bahwa yang membawa Islam ke Nusantara adalah para sufi didasarkan pada data berupa surat permintaan Raja Nusantara kepada Khalifah untuk mendatangkan pengajar profesional untuk mengenalkan Islam. S.Q. Fatimi,
“Two Letters From The Mahajara to The Khalifah: A Study In The Early History of Islam In The East” dalam Islamic Studies Islamabad 2:1 (1963), h. 121-140. Selain itu, Ahmad Baso juga melakukan pelacakan dan menemukan bahwa aktor penyebar Islam di Nusantara adalah keturunan Rasulullah dari jalur Sayyidina Ali. Ahmad Baso, Islamisasi Nusantara: Dari Era Khalifah Usman bin Affan hingga Wali Songo [Studi tentang Asal-Usul Intelektual Islam Nusantara] (Tangerang Selatan: Pustaka Afid, 2018). Asumsi mengenai sufi-sufi pendakwah ini juga dipertegas oleh Azyumardi Azra dalam kelas sejarah dan peradaban yang beliau ampu.
34
“perkembangan” memiliki karakteristik yang lebih beragam dan kompleks, tidak hanya merujuk kepada muncul dan lahirnya karya.
Perkembangan kajian hadis di Nusantara, sebagai sebuah bagian dari Islam itu sendiri, tentu saja lahir bersamaan dengan datangnya Islam di Nusantara. Namun dalam konteks “penulisan [studi]
hadis”, abad 17 M adalah awalnya.
Kedua, munculnya kitab syarah hadis yang ditulis oleh al-Raniri beriringan dengan mulai munculnya satu komunitas yang mengabdikan dirinya untuk belajar ilmu keislaman. Muncullah lembaga bernama pesantren dan kaum santri yang mengaji kepada seorang kiai.68 Secara tidak langsung, bidang-bidang keilmuan Islam yang awalnya terlebur sebagai pola pikir dan agenda-agenda kultural, menetas sebagai sebuah disiplin keilmuan independen dan teoritis yang dipelajari satu per satu. Kemunculan komunitas santri juga meniscayakan ruang-ruang pengajian yang secara spesifik mengkaji sebuah karya, entah itu fikih, tasawwuf, tafsir, termasuk hadis.69 Komunitas-komunitas pengajian sebagai lembaga pendidikan, dengan demikian menjadi wadah penting dalam agenda keilmuan dalam konteks Islam di Nusantara.70
Melalui dua faktor tersebut, tradisi penulisan hadis, berikut tradisi penulisan syarah hadis muncul dari situasi diskursif yang sangat spesifik dan berbeda dengan kelahirannya dalam konteks Arab-Islam. Format perkembangan syarah hadis di Nusantara pun cukup diakronik kalau dibandingkan dengan fase-fase perkembangan syarah hadis dalam Islam. Karena itu, prosesi
68 Menurut Karel A. Steenberink, ada dua arus utama soal pendapat mengenai asal-usul pesantren. Ada kelompok yang mengatakan ia berasal dari tradisi Hindu, sebagian lagi mengatakan kalau ia asli lahir dari tradisi dunia Islam atau Arab. Karel A. Steenberink, Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Moderen (Jakarta: Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, 1986), h. 26. Pendapat pertama misalnya muncul dari I. J. Brugman dan K. Meys yang berargumen kalau tata nilai sebagaimana yang ditunjukkan dalam pesantren tidak nampak dalam kasus negara-negara Islam. Baca: Rohadi Abdul Fattah dkk., Rekonstruksi Pesantren Masa Depan: Dari Tradisional, Modern, Hingga Post Modern (Jakarta, Listafariska Putra, 2005), h. 13. Namun Mahmud Yunus punya pendapat sebaliknya. Mahmud Yunus , Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Mutiara, 1979). Namun terlepas dari itu semua, pesantren adalah sistem sekaligus format pendidikan tertua yang menjadi identitas Kenusantaraan. Ahmad Baso, Pesantren Studies 2a: Pesantren, Jaringan Pengetahuan dan Karakter Kosmopolitanisme Kebangsaannya (Tangerang Selatan: Pustaka Afid, 2012), h. 45.
69 Aboe Bakar, Sedjarah al-Qur’an (Jakarta: Sinar Pudjangga, 1952), h. 286.
70 Taufik Abdullah dan Endjat Djaenuderadjat, Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia II: Tradisi, Intelektual dan Sosial (Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, 2015), h. 6.
35
tumbuhnya tradisi penulisan syarah hadis di Nusantara tidak bisa diukur sebagaimana perkembangan penulisan syarah hadis diukur dalam konteks Arab-Islam.
Dengan kata lain, menakar perkembangan tradisi penulisan syarah hadis di Nusantara tidak bisa hanya diacu kepada kuantitas karya yang muncul ataupun format metodologis yang tersaji di dalamnya. Proses vernakularisasi yang terjadi antara seorang pensyarah hadis dan teks hadis yang disyarah, sejatinya adalah esensi dari perkembangan hadis Nusantara itu sendiri. Karena itu, amatan yang harus dilakukan harus melampaui amatan-amatan terhadap aspek sistematika, teknik pensyarahan dan klasifikasi metodologi pensyarahan. Yang lebih relevan untuk dilakukan justru adalah model amatan yang menelusur hingga ke ruang konfigurasi wacana yang bertindihan di balik teks, yang menjadi ruang pertarungan antara realitas teks dengan subyektifitas seorang pensyarah hadis.
Ini alasan yang kemudian melatarbelakangi sebuah fakta bahwa perkembangan studi hadis atau tradisi penulisan hadis di Nusantara diawali dengan kegiatan mensyarah hadis. Studi hadis Nusantara tidak berkembang sebagaimana kronologi perkembangan studi hadis dalam sejarah Islam. Hadis Nusantara tidak sedang menghadapi problem pemalsuan hadis atau memiliki masalah otentitas periwayatan. Ia mengalami keterputusan epistemologis71 dengan konteksnya yang Arab-Islam. Oleh karena itu, penulisan kitab-kitab ilmu hadis di Nusantara hanya segelintir, dan kalaupun ada, bisa dipastikan terformat sebagaimana layaknya kitab syarah.
Berdasarkan fakta tersebut, yang tengah dihadapi oleh ulama hadis Nusantara adalah problematika vernakularisasi Islam, yang pada saat bersamaan menuntut hadis-hadis Nabi yang lahir dari konteks Arab-Islam dilebur dan ditemukan dengan bentuk ejawantahannya yang baru. Maka epistemologi hadis Nusantara pun pada akhirnya dibentuk oleh upaya-upaya konseptual,
71 Menurut al-Jabiri, yang dimaksud dengan “keterputusan epistemologis” (al-qati’ah al-ibistimulujiyah) adalah fusi keterputusan yang mengandaikan satu proses transisi kesadaran subyek, dari yang awalnya sangat “hadisionalis” (ka’inah hadithiyyah; kondisi ketika subyek tertindih oleh beban konteks hadis-hadis Nabi yang arabsentris ) menuju kondisi “hadisionis” (ka’inah laha hadith; kondisi ketika subyek merdeka dan secara produktif serta aktif mendialogkan hadis-hadis Nabi dengan subyektifitasnya). Muhammad ‘Ābīd al-Jābirī, Nahnu wa al-Turāth; Qira’āt Mu’āṣirah fī Turāthina al-Falsafī, (Bayrūt: Markaz al-Thaqāfī al-‘Arabī, 1993), h. 21.
Fase ini yang kemudian menentukan suksesnya proses reaktualisasi dan kontekstualisasi hadis-hadis Nabi dalam ruang kenusantaran.
36
metodologis dan praksis soal bagaimana mereaktualisasi dan merekontekstualisasi hadis-hadis Nabi dalam ruang kenusantaraan.
2. Ciri Khas dan Karakteristik Umum Syarah Hadis Nusantara