• Tidak ada hasil yang ditemukan

Virus 1 Identifikasi

Dalam dokumen Profil Komoditas Bawang Putih (Halaman 36-40)

PROTEKSI TANAMAN

7. Virus 1 Identifikasi

h Gejala mosaik klorosis dan alur kuning pada helaian daun bawang putih disebabkan oleh virus, bukan jamur atau bakteri. Diduga virusnya adalah Beet Yellow Virus (BYV), untuk meyakinkan dugaan ini perlu penelitian lebih lanjut.

7.2 Pembebasan virus pada umbi bawang putih

h Metode kultur jaringan meristem dengan media BS (NAA 1 mg/liter + gibberelic acid 0,1 mg/liter) efektif dalam eliminasi virus yang terbawa umbi bibit bawang putih. Dengan demikian metode ini diharapkan dapat digunakan dalam menunjang pengadaan bibit bawnag putih bebas virus. h Perlakuan pemanasan kering umbi tidak dapat menekan insiden dan intensitas virus yang

terbawa umbi bibit bawang putih.

8. Gulma

8.1 Kehilangan hasil oleh persaingan gulma

h Periode kritis tanaman bawang putih terhadap gulma adalah pada umur 0-75 hari setelah tanam.

36

h Kepadatan gulma 50% dapat menurunkan bobot panen umbi 67,4%, sedangkan dengan kepadatan gulma 100% dapat menurunkan bobot panen umbi 83,14%, wlaaupun dipupuk N dengan dosis 300 kg/ha.

8.2 Penggunaan mulsa

h Mulsa jerami, ampas tebu, sekam padi dan daun pisang kering kurang efektif untuk menekan gulma, namun menunjukkan indikasi dapat meningkatkan hasil panen ± 20%.

8.3 Pengendalian kimiawi

h Herbisida Goal 2E (Oksifhorpen) pratanam, efektif menekan gulma, dan dapat menekan kehilangan hasil sebesar 15%.

Tabel 21 Topik, varietas dan ekosistem penelitian bawang putih proteksi tanaman, 1982-1996.

No Topik Σ Artikel/

Laporan

Komponen Pengendalian

Σ Artikel Varietas Lokasi

1. Thrips tabaci Lind. 2 P. kimiawi/Efikasi (1) P. biologi (1)

Lumbu hijau (2) DT (2)

2. Alternaria porrii (ELL) 2 P. kimiawi/Efikasi (2) Lumbu hijau

Lumbu putih

DT (1) DR (1)

3. Colletotrichum sp. 1 P. kimiawi/efikasi (1) Lumbu hijau

4. Stemphilium versicarium 1 P. kimiawi berdasarkan A.P. DT

5. Fusarium sp. 1 P. kimiawi/efikasi (1) Lumbu hijau DT

6. Erwinia sp. 1 P. kimiawi + fisik (1) Lumbu hijau DT

7. Virus 2 Identifikasi (1)

Pembebasan virus (kultur jaringan dan pemanasan kering umbi) (1)

Lumbu hijau (2) Lab. (2)

8. Gulma 6 Kehilangan hasil persaingan gulma (3)

Penggunaan mulsa (2) Kimiawi/efikasi (1)

Lumbu hijau (6) DT (6)

PASCAPANEN

1. Prapanen

1) Topik : Pengaruh Waktu Penyemprotan Larutan Ethrel dan Urea terhadap Proses Pengeringan dan Daya simpan Bawang Putih pada Suhu Kamar

Peneliti Utama : Sabari SD Publikasi : BPH XX, 4, 1991

37

Hasil :

- Penyemprotan tanaman bawang putih dengan campuran larutan Ethrel (1%) dan urea (10%) setelah panen, ternyata tidak mempercepat proses pengeringan batang dan daun bawang putih.

- Penyemprotan dengan bahan kimia tersebut justru menurunkan kandungan vitamin C. - Penyemprotan dengan bahan kimia di atas juga memperbesar kehilangan umbi dalam

penyimpanan kondisi kamar.

2. Pengeringan umbi

1) Topik : Pengeringan dan Daya Simpan Bawang Putih pada Kondisi Kamar Peneliti Utama : Syaifullah

Publikasi : BPH XVIII (3), 89

Hasil :

- Pengeringan bawang putih baik yang berdaun maupun tidak, dapat dilakukan dengan sinar matahari langsung, di tempat teduh, di dalam ruangan dengan alat pengering tenaga surya tipe IDAHO dan tipe IDAHO yang dimodifikasi.

- Penguapan air tertinggi terjadi pada pengeringan dengan sinar matahari langsung dan terendah dialami pada pengeringan pada kondisi kamar.

2) Topik : Pengaruh Penggunaan Alat Pengering Vortex terhadap Mutu Bawang Putih

Peneliti Utama : RM Sinaga Publikasi : BPH XIX (4), 90

Hasil :

- Penggunaan gudang sistem vortex jauh lebih baik dibanding gudang petani untuk penyimpanan bawang putih. Hal ini dibuktikan dengan susut bobot yang lebih kecil, penampakan lebih baik, jumlah umbi keropos sangat kecil. Penggunaan gudang sistem vortex juga sangat baik untuk bawang putih konsumsi karena tidak memerlukan pengasapan yang menurunkan nilai penampakan.

- Namun masih perlu diteliti dengan kapasitas penuh untuk membandingkan tenaga sirkulasi udara dengan uap air hasil respirasi dan juga pengaturan ventilasi bila penyimpanan di musim hujan.

3) Topik : Pengaruh Konstruksi Gudang dan Lama Pengeringan terhadap Mutu Bawang Putih

Peneliti Utama : RM Sinaga Publikasi : BPH XX (3), 91

Hasil :

- Penggunaan gudang pengering tanpa dinding dapat disamakan dengan penggunaan gudang berdinding yang dilengkapi dengan alat vortex wind machine untuk bawang putih. - Penggunaan gudang pengering vortex jauh lebih baik dibanding dengan gudang tradisional. - Pengeringan bawang putih langsung ke dalam gudang pengering tanpa dinding atau gudang sistem vortex selama 4 minggu maka bawang putih dapat disimpan ke dalam kantong plastik tertutup.

3. Penyimpanan

38

Umbi Bawang Putih pada Kondisi Kamar. Peneliti Utama : Sabari SD.

Publikasi : BPH XXI (2) , 91

Hasil :

- Pencelupan umbi bawang putih kering dalam larutan pestisida Dessin 5 EC 2,5 ml/l, Tamaron 200 LC 2ml/l dan Ambush s EC 2.5 ml/l, dapat menunda serangan ulat selama penyimpanan pada kondisi kamar dalam waktu masing-masing 5 bulan, 6 bulan, dan 6 bulan lebih lama daripada kontrol yang hanya 2 bulan sudah mulai ada serangan ulat. - Setelah 8 bulan disimpan pada kondisi kamar, ternyata pencelupan umbi dalam pestisida

Tamaron, Ambush dan kontrol, sisa umbi sehatnya masing-masing 53,17%, 48,3% dan 27,17% dengan total kerusakan 9,5%, 7% dan 39,57%.

- Pencelupan umbi pada minyak goreng dan yang dikombinasikan dengan pestisida, ternyata mempercepat kerusakan umbi dalam penyimpanan.

2) Topik : Pengaruh Suhu dan Kelembaban terhadap Mutu Bawang Putih Kultivar Lumbu Hijau di Penyimpanan.

Peneliti Utama : RM Sinaga Publikasi : BPH XXVI (3), 94

Hasil :

- Kombinasi suhu 30oC dan kelembaban (RH) 70% memberikan mutu bawang putih terbaik.

4. Pengolahan

1) Topik : Pengaruh Penambahan Bahan Pengisi dalam Pembuatan Bubuk Bawang Putih.

Peneliti Utama : R.M. Sinaga

Publikasi : BPH 18, edisi khusus (1), 90

Hasil :

- Semakin besar konsentrasi garam yang ditambahkan, semakin besar kadar air dan kadar abu bubuk bawang putih.

- Penambahan gum arab menyebabkan penurunan rendemen tertinggi adalah perlakuan tanpa penambahan gum arab dengan penambahan garam 1%.

- Nilai warna putih tertinggi terdapat pada interaksi tanpa penambahan gum arab dan garam, sedangkan nilai VRS tertinggi diperoleh dari kombinasi penambahan gum arab 0,5% dengan tanpa penambahan garam.

- Penambahan 0,5% gum arab dengan perlakuan tanpa penambahan garam merupakan kombinasi terbaik terhadap flavour dan nilai VRS.

2) Topik : Pengaruh Penambahan Bahan Pengisi dalam Pembuatan Bubuk Bawang Putih.

Peneliti Utama : R.M. Sinaga

Publikasi : BPH (18) Edisi Khusus No. 1, 90

Hasil :

• Semakin besar konsentrasi garam yang ditambahkan, jumlah besar kadar air bubuk bawang putih. Penampakan gum arab menyebabkan penurunan rendemen & derajat putih bubuk bawang putih. Interaksi yang menghasilkan rendemen tinggi adalah perlakuan tanpa gum arab dengan penambahan garam 1%.

39

Pikel Bawang Putih. Peneliti Utama : R.M. Sinaga Publikasi : BPH 27 (3) 95

Hasil :

- Interaksi perlakuan 4% kadar garam larutan perendaman pada suhu fermentasi 5° C dengan 4-6 minggu lama fermentasi menghaislkan mutu pikel bawang putih yang optimum. Bakteri

lactobacillus sp merupakan bakteri psikhodrik yaitu bakteri yang mesofer, tetapi masih dapat

tumbuh pada suhu 5°C.

- Kadar garam pikel bawang putih tertinggi dicapai pada saat 2 minggu lama fermentasi, kemudian menurun pada minggu ke-4, ke-6 dan ke-8. VRS adalah zat yang mudah menyerap, selama proses fermentasi berlangsung kadang VRS menurun, tetapi asam laktat mencapai optimum maksimal 6 minggu lama fermentasi, kemudian menurun lagi sampai minggu ke-8. Jumlah total bakteri terus meningkat, demikian pula dengan total bakteri

Lactobacillus sp.

- Secara keseluruhan dari nilai unsur kimia, mikroba dan uji organoleptik pikel bawang putih yang optimum diperoleh dari dan sekitar 4-6 mg lama fermentasi.

4) Topik : Orientasi Perlakuan Pengeringan dan Kadar Garam terhadap Mutu Irisan Kering Bawang Putih.

Peneliti Utama : Listeria Publikasi : BPH 27 (3) 95

Hasil :

h Pengeringan dengan oven 40°C dengan garam larutan perendam (2%) menunjukkan VRS yang paling tinggi yakni 340,66 mgrek/g serta sifat organoleptik yang terbaik pada irisan kering bawang putih.

h Perlakuan pengeringan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air, kadar abu, VRS, flavor, tekstur dan penampakan keseluruhan, kecuali terhadap warna dan kerenyahan menunjukkan bahwa perlakuan yang terbaik adalah pengeringan dengan oven 30°C dan 40°C.

h Perlakuan kadar garam larutan perendaman berpengaruh nyata terhadap kadar air, kadar abu, VRS, warna, flavour, kerenyahan dan penampakan keseluruhan. Kadar garam 3% dan 4% merupakan perlakuan yang terbaik di bandingkan dengan perlakuan lainnya.

Dalam dokumen Profil Komoditas Bawang Putih (Halaman 36-40)

Dokumen terkait