• Tidak ada hasil yang ditemukan

VIVERE MILITARE EST HIDUP ADALAH BERJUANG

Dalam dokumen JUBILEUM OKTOBER 2020 (Halaman 46-50)

Michael Andrew, S. Fil.

Guru PPKn SMAK Santo Hendrikus Surabaya. Alumni Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Sejak diumumkan pada Maret 2020 bahwa ada korban yang terkena Covid-19 di Indonesia, maka segala hal dan kebijakan telah dilakukan agar Indonesia dapat segera lepas dari pandemi itu. Memang tidak ada hal yang ideal dapat dilaksanakan untuk menghadapi pandemi ini. Di satu sisi memang kesehatan adalah hal utama yang penting untuk segera bisa dituntaskan agar jumlah pasien yang menderita

Covid-19 juga tidak bertambah terus. Misalnya dengan kampanye pola hidup bersih

dan sehat. Akan tetapi di sisi lain memang kebutuhan ekonomi adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang lainnya yang bukanlah menjadi

korban langsung dari penyakit ini. Oleh karenanya pemerintah kita mengambil kebijakan untuk tetap tidak menutup semua kegiatan perekonomian semuanya, melainkan mencanangkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (dikenal dengan istilah PSBB).

Kebijakan PSBB tersebut tentu juga tidaklah ideal seperti diharapkan oleh semua orang. Setidaknya masyarakat menengah ke bawah seperti penjual warung kopi dan makan, para musisi dan seniman, dan lain-lainnya termasuk masyarakat menengah ke atas seperti pemilik tempat penginapan, mall, cafe, depot, dan lain-lain juga merasakan dampak tidak langsung dari pandemi ini, yakni berkurangnya jumlah konsumen mereka. Belum lagi para penyedia jasa layanan seperti tour and travel, pesawat terbang, bus, guru les, musisi, dan lain-lain juga ikut terdampak dari pandemi ini. Hal ini sampai mengakibatkan munculnya kebijakan bantuan sosial tunai yakni pembagian uang tunai kepada beberapa orang yang dikategorikan perekonomiannya menengah ke bawah.

Kebijakan pemberian bantuan sosial langsung kepada beberapa masyarakat itu juga belum tentu ideal sebagaimana mestinya. Hingga suatu saat pemerintah pada akhirnya menghimbau masyarakat Indonesia untuk senantiasa hidup dalam pola hidup bersih dan sehat dengan senantiasa memakai masker, cuci tangan menggunakan sabun minimal 20 detik, dan pelindung wajah (face shield), membawa penyitasi tangan ke mana pun, dan lain-lainnya, karena Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa kita perlu untuk menerima kenyataan apabila penyakit ini adalah penyakit yang tidak bisa hilang sebelum vaksinnya ditemukan. Maksudnya adalah kita diajak untuk “berdamai” dengan penyakit ini sehingga pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan Kenormalan Baru (dikenal dengan istilah “New Normal”).

"Kita diajak untuk “berdamai” dengan penyakit ini sehingga pemerintah Indonesia mengeluarkan

kebijakan Kenormalan Baru (dikenal dengan istilah “New Normal”)"

Tentunya kebijakan Kenormalan Baru tersebut juga masih belum ideal sebagaimana yang diharapkan oleh kebanyakan orang. Situasi ini masih tentunya bukanlah “normal” sebagaimana mestinya sebab ini adalah masih sesuatu yang “abnormal” atau “tidak normal”. Termasuk banyaknya perdebatan apakah anak-anak sekolah perlu masuk ke sekolah dalam waktu dekat ini, jumlah pengunjung

mall normal atau perlu ada pembatasan tertentu, tempat-tempat ibadah boleh

melaksanakan kegiatan ibadah dengan jumlah umat yang banyak, tempat-tempat wisata sudah dibuka kembali seperti sedia kala, dan lain-lain. Oleh karenanya bagaimana idealnya kita memaknai dan menyikapi peristiwa ini?

Pertama, peristiwa pandemi Covid-19 ini penting dipahami sebagai peristiwa yang “tidak mengenakkan” sebab pasti tidak disukai dan tidak mau dialami oleh semua orang. Negara-negara lain yang lebih maju dari Indonesia tentunya juga tidak mau mengalami hal semacam ini. Sementara itu, pemerintah Indonesia sendiri memang sedang mengupayakan hal yang terbaik bagi rakyatnya kendati memang tidak semuanya memang dapat memuaskan seluruh rakyatnya.

Sebagai warga negara Indonesia tentunya juga penting memang untuk bersuara memberikan masukan yang terbaik bagi pemerintah. Namun lebih penting agar sebagai warga negara kita tetap melakukan pola hidup bersih dan sehat di tengah kebijakan Kenormalan Baru yang dianggap tidak seketat pada zaman PSBB kemarin. Hal ini juga bisa dipahami karena peristiwa ini juga mengerucut pada pertanyaan besar manakah yang lebih utama apakah kesehatan, ekonomi, bahkan pendidikan? Pendidikan juga menjadi pertimbangan karena memang mengingat di Indonesia sebagian besar praktik pendidikannya adalah dengan cara bertatap muka sekaligus mengandalkan banyak sekali sentuhan sebagai proses konstruksi belajar.

Oleh karenanya saya menjadi teringat ada pepatah bahasa Latin yakni Vivere

Militare Est yang berarti hidup adalah berjuang (perjuangan). Pepatah ini memang

lahir dari situasi yang tidak enak juga yakni pada zaman Perang Dunia II dan setiap negara yang berperang pada saat itu memiliki konteks yang kurang mengenakkan juga yakni “semua lawan semua”. Bahkan negara-negara tersebut juga meyakini ada kekuatan supranatural tertentu yang bisa membuat suasana tersebut menjadi tidak enak sehingga perlu “dilawan”.

Dalam konteks sekarang ini saya mengibaratkan bahwa memang kita juga sedang “berjuang” dengan pandemi ini. Tentu semua aspek seperti kesehatan, pendidikan, rohani, ekonomi, dan lain-lainnya itu penting dan tidak ada sesuatupun berada di subordinasi (berada di bawah salah satunya) sehingga semuanya perlu “diperjuangkan”. Hanya saja memang sekarang secara idealnya penting untuk senantiasa beradaptasi dengan situasi seperti ini. Di satu sisi memang sangat tidak enak, namun memang sisi lain pada akhirnya kita merasakan adanya “kebiasaan-kebiasaan baru” yang memang tidak pernah terpikirkan juga. Inilah bentuk “perjuangan” kita sekarang ini tentu tetap memperhatikan protokol dan pola hidup bersih dan sehat secara bersama-sama.

Dalam konteks “perjuangan” bersama gereja, gereja yang secara etimologis (asal bahasanya) berasal bahasa Yunani: “ekklesia” yang berarti “eks” (keluar) dan “kalos” (dipanggil) atau secara sederhana “dipanggil keluar”, penting untuk bersama-sama terpanggil dalam “perjuangan” tersebut. Gereja secara “bangunan” idealnya dapat menjadi tempat untuk berlindung, berkeluh-kesah, sekaligus tempat untuk dapat mendapatkan kekuatan fisik dan rohani bagi semua umat manusia secara universal. Sementara itu, gereja sebagai “umat” idealnya juga “berjuang” untuk turun bersama dan mendampingi mereka yang terdampak secara langsung maupun tidak di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. (*/ys) Ilustrasi berjuang untuk saling membantu. Sumber:whammedia.co.za

Dalam dokumen JUBILEUM OKTOBER 2020 (Halaman 46-50)

Dokumen terkait