HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI
B. Volume dan rasio tulangan Zona 15
Perhitungan volume beton dan tulangan kolom dilakukan berdasarkan gambar bestek yaitu gambar detail penulangan kolom dengan menggunakan tabel analisis kebutuhan tulangan. Rekapitulasi volume dan rasio tulangan untuk Zona 10 dapat dilihat pada Tabel 5.15 dan 5.16.
Tabel 5.15. Volume dan Rasio Tulangan Kolom pada Zona 15 Lantai 1
No Nama Proyek 1 Pembangunan RKB Bertingkat SDN42 (Otsus) 19.02 4186.97 231.11
2 Pembangunan RKB SMPN8 30.28 6908.27 233.13
3
Pembangunan Ruang Tempat Belajar Santri
Pesantren Nida Ul Islam Ds. Siak Nibong 14.85 2333.03 157.15 4
Pembangunan Lanjutan Pesantren Darul Ihsan
Desa Pawoh 7.42 1312.35 176.96
5
Pembangunan Dinayah dan Gedung Taman
Kanak-kanak 12.67 2099.80 165.76
6
Pembangunan Asrama Mahasiswa Kecamatan
Tiro 21.07 3500.48 166.12
7
Pembangunan Asrama Pelajar Aceh Singkil
Blower Banda Aceh (MK) 17.68 3406.57 192.69
8
Pembangunan Dapur dan MCK Santri Putra
Dayah Ashabul Yamin 16.55 2749.58 224.19
9 Pembangunan Asrama UPTD BPKB Aceh 17.14 3557.13 247.57 10 Pembangunan Kantor Badan Narkotika Nasional 71.79 15695.35 348.62 11 Pembanguna Gedung Kantor WH dan Satpol PP 33.28 7047.13 331.74 12
Pembangunan Gedung Lost Children Operation
Office 19.81 3220.99 192.63
Tabel 5.16. Volume dan Rasio Tulangan Kolom pada Zona 15 Lantai 2
No Nama Proyek 1 Pembangunan RKB Bertingkat SDN42 (Otsus) 19.81 2840.18 217.38
2 Pembangunan RKB SMPN8 11.80 2495.63 211.46
3
Pembangunan Ruang Tempat Belajar Santri
Pesantren Nida Ul Islam Ds. Siak Nibong 10.31 1648.11 169.89 4
Pembangunan Lanjutan Pesantren Darul Ihsan
Desa Pawoh 6.02 1024.22 170.14
5
Pembangunan Dinayah dan Gedung Taman
Kanak-kanak 9.46 1686.36 178.35
6
Pembangunan Asrama Mahasiswa Kecamatan
Tiro 11.18 2375.85 212.44
No Nama Proyek
Volume Beton (m3)
Volume Tulangan
(kg)
Rasio Tulangan
(kg/m3) 7
Pembangunan Asrama Pelajar Aceh Singkil
Blower Banda Aceh (MK) 12.51 2372.65 189.66
8
Pembangunan Dapur dan MCK Santri Putra
Dayah Ashabul Yamin 1.27 274.88 162.71
9 Pembangunan Asrama UPTD BPKB Aceh 12.85 3072.37 279.48 10 Pembangunan Kantor Badan Narkotika Nasional 28.08 6084.15 231.64 11 Pembanguna Gedung Kantor WH dan Satpol PP 16.08 3507.43 218.10 12
Pembangunan Gedung Lost Children Operation
Office 14.35 2650.97 184.78
Rasio kebutuhan tulangan kolom di zona gempa 10 dan zona gempa 15 diklasifikasikan berdasarkan fungsi bangunan perlantai bangunan yang ditinjau seperti terlihat pada Lampiran B Tabel B.4.5 s/d Tabel B.4.10. Perbandingan rasio berdasarkan fungsi bangunan dengan standar AHSP dapat dilihat pada Gambar dan Gambar 5.3.
Gambar 5.3 Rasio perbandingan berdasarkan fungsi bangunan dengan standar AHSP (300 kg/m3 beton)
Gambar 5.4 Rasio perbandingan berdasarkan fungsi bangunan dengan standa AHSP (300 kg/m3 beton)
Berdasarkan Gambar 5.3 dan Gambar 5.4 dapat dilihat adanya perbedaan kebutuhan tulangan berdasarkan fungsi bangunan dan zona gempa. Seperti pada zona 10 untuk bangunan pendidikan, bangunan hunian, dan bangunan kantor memiliki nilai rasio kebutuhan tulangan kolom dengan nilai masing-masing 254,25 kg/m3 beton, 255,39 kg/m3 beton, dan 202,78 kg/m3 beton. Sedangkan pada zona 15 untuk bangunan yang sama memiliki nilai rasio kebutuhan tulangan kolom dengan nilai masing-masing 163,85 kg/m3 beton, 236,93 kg/m beton, dan 192,83 kg/m3 beton.
Tabel 5.17 Selisih Hasil Analisis dengan Standar AHSP Kolom Beton Bertulang yaitu (158 kg/m3 beton)
Berdasarkan Tabel 5.15 dapat dilihat bahwa, pada zona gempa 10 untuk bangunan pendidikan memiliki selisih dengan standar AHSP kolom beton bertulang sebesar 96,25 kg/m3 beton atau 60,93% lebih besar, bangunan hunianmemiliki selisih 97,39 kg/m3 beton atau 61,63% jauh lebih besar, dan bangunankantor memiliki selisih 55,04 kg/m3 beton atau 34,85% lebih besar. Pada zonagempa 15 untuk bangunan pendidikan memiliki selisih dengan standar AHSP kolom beton bertulang sebesar 5,86 kg/m3 atau 3,75% lebih besar, bangunan hunian memiliki selisih 78,93 kg/m3 beton atau 49,95% jauh lebih besar, dan bangunan kantor memiliki selisih 34,83 kg/m3 beton atau 22,05% lebih besar. Hasil ini menunjukkan bahwa kebutuhan tulangan di zona 10 dan di zona 15 jauh lebih besar dari standar AHSP. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pola standar AHSP (158 kg/m3 beton) tidak bisa digunakan pada bangunan pendidikan,bangunan hunian, dan bangunan kantor di zona 10 maupun di zona 15.
Tabel 5.18 Selisih Hasil Analisis dengan Standar AHSP Kolom Beton Bertulang yaitu (315 kg/m3 beton)
Berdasarkan Tabel 5.16 dapat dilihat bahwa, pada zona gempa 10 untuk bangunan pendidikan memiliki selisih dengan standar AHSP kolom beton bertulang sebesar 60,75 kg/m3 beton atau 19,27% lebih kecil, bangunan hunian memiliki selisih 59,61 kg/m3 beton atau 18,9% lebih kecil, dan bangunan kantor memiliki selisih 101,97 kg/m3 beton atau 32,35% jauh lebih kecil. Pada zona gempa 15 untuk bangunan pendidikan memiliki selisih dengan standar AHSP kolom beton bertulang sebesar 151,15 kg/m3 beton atau 48,0% jauh lebih kecil, bangunan hunian memiliki selisih 78,07 kg/m3 beton atau 24,75% lebih kecil, dan bangunan kantor memiliki
selisih 122,17 kg/m3 beton atau 38,8% lebih kecil. Hasil ini menunjukkan bahwa kebutuhan tulangan di zona 10 dan di zona 15 jauh lebih kecil dari standar AHSP.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pola standar AHSP (315 kg/m3) Persentase (%) beton) dapat digunakan pada bangunan pendidikan, bangunan hunian, dan bangunan kantor di zona 10 maupun di zona 15.
5.1.4 Balok Lantai Beton Bertulang
Balok juga merupakan salah satu pekerjaan beton bertulang. Balok merupakan bagian struktur yang digunakan sebagai dudukan lantai dan pengikat kolom lantai atas. Fungsinya adalah sebagai pendukung beban vertikal dan horizontal. Beban vertikal berupa beban mati dan beban hidup yang diterima plat lantai, berat sendiri balok dan berat dinding penyekat yang di atasnya. Sedangkan beban horizontal berupa beban angin dan gempa. Apabila suatu gelagar balok bentangan sederhana menahan beban yang mengakibatkan timbulnya momen lentur akan terjadi deformasi (regangan) pada balok tersebut. Regangan balok tersebut mengakibatkan timbulnya tegangan yang harus ditahan oleh balok, tegangan tekan di sebelah atas dan tegangan tarik dibagian bawah. Agar stabilitas terjamin, batang balok sebagai bagian dari sistem yang menahan lentur harus kuat untuk menahan tegangan tekan dan tarik tersebut karena tegangan baja dipasang di daerah tegangan tarik bekerja, di dekat serat terbawah, maka secara teoritis balok disebut sebagai bertulangan baja tarik saja (Dipohusodo,1996).
Balok yang ditinjau pada penelitian ini yaitu balok induk dan balok anak.
balok induk merupakan penyangga struktur utama pada bangunan yang secara fisik mengikat kolom-kolom utama bangunan secara kaku (rigid). Seluruh gaya-gaya yang bekerja pada balok ini akhirnya didistribusikan ke pondasi melalui kolom bangunan. Secara umum, balok anak berfungsi sebagai pembagi/pendistribusi beban.
Pada bangunan bertingkat biasanya terlihat bahwa ujung-ujung balok anak terhubung pada balok induk. Meskipun berukuran lebih kecil daripada balok induk, penggunaan komponen ini sangat vital, khususnya untuk mendukung bentang kerja optimal dari plat lantai. Balok ini sebenarnya merupakan struktur pengikat/pengaku keseluruhan struktur bangunan. Meskipun demikian, desain dimensi dan penulangan balok perlu
diperhitungkan apabila memiliki fungsi tambahan, misalnya apabila menjadi penyangga kuda-kuda atap atau menjadi struktur kuda-kuda beton.
Beton adalah material yang kuat di dalam menahan gaya tekan tetapi lemah di dalam menahan gaya tarik. Oleh karena itu beton akan mengalami retak bahkan runtuh apabila gaya tarik yang bekerja melebihi kekuatan tariknya. Untuk mengatasi kelemahan beton ini, maka pada daerah yang mengalami tarik pada saat beban bekerja dipasang tulangan baja. Untuk menjadi penyaluran gaya yang baik di dalam balok, maka di daerah momen lapangan dan momen tumpuan maksimum dianjurkan supaya antara batang tulangan utama tidak melebihi 150 mm. Bila momen di suatu tempat menurun, jarak batas ini dapat digandakan menjadi 300 mm. Oleh karena itu, dalam sebuah penampang balok persegi setidaknya harus terdapat empat batang tulangan dipasang pada tiap sudut penampang, batang-batang disudut ini dan yang membentang sepanjang balok dilingkari oleh sengkang-sengkang. Agar mendapatkan kekakuan secukupnya bagi sengkang tulangan dianjurkan agar menggunakan batang-batang yang diameternya tidak kurang dari 6 mm.