• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wacana Realisme

Dalam dokumen Tradisi pemikiran dan hubungan internasional (Halaman 100-104)

BAB II. SEJARAH WACANA TRADISI PEMIKIRAN HUBUNGAN

TRADISI PEMIKIRAN HUBUNGAN INTERNASIONAL MODERN

II. 2 1 Wacana Idealisme/Liberalisme

II.2.2. Wacana Realisme

Jerman sudah tidak mau menaati dalih-dalih keharusan untuk mengacu kepada disiplin hukum internasional (the rule of the game) dengan melaksanakan

Diktat Versailles. Pergeseran formasi diskursif politik internasional terjadi ketika secara tiba-tiba Jerman menyerbu Polandia, lalu meluaskan ekspansinya ke Norwegia, Belanda, Belgia, Luksemburg, (Juni 1940) Perancis. Sedangkan Inggris sulit ditaklukan melalui serangan Jerman yang terkenal dengan nama

Battle of Britain. Ekspansi negara lainnya, Jerman menyerang Yunani dan Yugoslavia (1941), dan sebagian wilayah Rusia. Jepang menyerbu Masyuria (1931), lalu menyerang Cina Timur, Vietnam Selatan, Parl Harbour, Kepulauan Solomon, memutuskan kolonialisme antara Belanda dengan Indonesia, Amerika dengan Filipina, Inggris dengan Birma, Malaysia, dan Singapura. Kemudian praktik-praktik diskursif ini diangkat ke level pernyataan atau wacana berupa teoritisasi, konseptualisasi oleh tokoh fenomenal seperti pengarang E.H. Carr dan Morgenthau dengan memunculkan wacana yang disebut realisme.

Wacana formasi diskursif realisme mampunyai dalih-dalih: 1). Pada dasarnya orang itu selfish dan cacat etika serta tidak dapat lepas dari dosa realita. Mereka terlahir dimaksudkan mengawasi diri mereka sendiri (self-preservation). 2). Semua orang bertindak jahat, tidak ada yang bermoral, non-kompromi dan mengedepankan hasrat nafsu untuk kekuasaan serta keinginan untuk mendominasi yang lain. 3). Kemungkinan untuk membasmi hasrat-hasrat kekuasaan adalah

utopia. 4). Politik internasional adalah struggle for power, “a war of all against all”. 5). Kewajiban utama setiap negara –tujuan akhir dari semua target nasional

harus di bawah dari kepentingan nasional, dan dalam hal ini adalah mendapatkan kekuasaan. 6). Sistem internasional yang alamiah ditentukan oleh kemampuan militer untuk menghancurkan lawan-lawan potensial. 7). Aspek ekonomi cukup relevan disamping pemberlakuan militer; perekonomian sangat penting sebagai kekuatan nasional dan bergengsi, tetapi tidak dominan (8) Peningkatan aliensi diperbolehkan sebagai kemampuan negara bangsa untuk melindungi diri sendiri, tetapi loyalitas dan daya dukungnya tidak hanya sekedar asumsi saja, tetapi merupakan sebuah keyakinan yang total dan final. 9). Negara-bangsa tidak seharusnya mempercayai organisasi internasional untuk memproteksi diri atau mempercayai aturan internasional, seharusnya menentang perilaku internasional yang teratur. (10) Jika setiap negara-bangsa mencari kekuasaan maksimal, kestabilan bisa tercipta melalui sistem balance of power, dipermudah dengan sistem aliensi yang selalu berubah.47

Formasi diskursif di atas membaca dan mendefinisikan bahwa dalam percaturan politik, ekonomi dan keamanan internasional, sasaran utama yang seharusnya dikonsentrasikan adalah tindakan pembendungan musuh bersama atau istilahnya “aliansi.” Pasca PD II, politik internasional, bermula dari pengetahuan Barat, realisme dalam membaca dan mendefinisikan Uni Soviet sebagai suatu kekuatan yang berbahaya. Dalam pendekatan genealogi, pengetahuan realisme melihat bahwa Uni Soviet perlu dibendung fregmentasinya, demikian juga sebaliknya. Akibat dari pengetahuan realisme, maka pemahaman politik internasional dipahami sebagai hubungan yang konfliktual seperti hubungan antara Barat-Timur. Di daratan Eropa ini, muncul teori hubungan internasional realisme tentang perlunya “membendung” musuh –yang dilontarkan oleh pengarang Barat Amerika Serikat, George F. Kennan. Dia berdalih bahwa sekutu Barat perlu menahan perluasan pengaruh Timur, Soviet. Dengan kata lain, reproduksi dan akumulasi wacana Kennan dalam SHI memunculkan dalih tentang derajat “pembendungan” terhadap Uni Soviet. Dimulai dari pengetahuan ini, maka lahirlah konsep hubungan yang bernuansa konfliktual seperti “Barat-Timur”, “Keamanan Eropa”, “Negara Tirai Besi”, dan “Perang Dingin” serta “Tirai

Bambu”–sebagai blok komunisme Asia.48 Sebelum Kennan melontarkan pengetahuannya, politik internasional masih tak terdefinisikan dan belum terbaca sebagai apa yang didalihkan oleh wacana kaum realis sekarang ini. Namun setelah itu, pengetahuan Kennan memudahkan kubu Barat (Amerika Serikat, dll) mengontrol realitas politik internasional. Dengan pengetahuan realisme, Amerika berevolusi menjadi penguasa global pasca PD II. Tujuan dan praktik-praktik diskursif politiknya telah menentukan lingkungan politik internasional. Dalam hal ini, formasi diskursif ilmu pengetahuan para pengambil kebijakan Amerika Serikat tidak hanya berperan dalam politik internasional, tetapi juga dalam penciptaan objek ilmu pengetahuan yang baru dan wilayah kekuasaan yang baru seperti studi Asia Tenggara, studi Islam, studi Soviet, studi Cina, dll. Saat ini, politik internasional didefinisikan dan dibaca sebagai era dekolonialisasi dan Perang Dingin. Signifikan kekuasaan pax-Amerikana berbeda dengan kekuasaan pax-Britannika, dan situasi kepentingan korporasi pasca PD II terhadap dunia Timur (dunia Ketiga) berbeda dengan kondisi di mana korporasi kolonial berkembang dahulu.49 Oleh sebab itu, timbulnya wacana realisme dan surutnya wacana idealisme membuat politik internasional berubah: hadirnya nilai-nilai yang kejam, dipenuhi hasrat nafsu, adanya kecurigaan yang tinggi, menghilangnya sifat altruistic, aspek ekonomi hilang dari permukaan, bermainnya sistem sosial internasional yang diartikulasikan melalui kepuasaan emosi dan pemenuhan hasrat-hasrat jasmani, yang sering disebut dengan popularitas, gengsi dan harga diri negara-bangsa, bukan faktor ekonomi yang mengedepankan perdagangan internasional, penghasilan negara yang melimpah dan masyarakat yang bebas melakukan aktifitas ekonomi.

Momentum PD II benar-benar merubah, memutuskan dan menenggelamkan bangunan formasi diskursif dari pendahulunya: Locke, Bentham, dan Kant sebagai yang disebut dengan wacana idealisme/liberalisme menjadi wacana realisme. Genealogi wacana realisme bermula dari kuasanya

48 Juwono Sudarsono dkk, “State of Art Hubungan Internasional: Mengkaji Ulang Teori Hubungan Internasional,” dalam Perkembangan Studi HI dan Tantangan Masa Depan, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1996), hlm. 6.

dalam membaca dan mendefinisikan fenomena politik internasional, PD II yang diambil dari formasi praktik-praktik diskursif Perang jaman Yunani kuno yang digambarkan oleh Thucydides. Timbul kembalinya praktik-praktik Yunani Kuno, melalui wajahnya yang sudah berbeda sama sekali menciptakan keunikan tersendiri. Dalam konteks ini, Thucydides tidak mempunyai maksud membaca dan mendefinisikan Perang Peloponnesia Yunani dengan kerangka konseptual. Dalam membaca perang tersebut, Thucydides hanya mereproduksi dalih Aristoteles berupa: “a man is political animal.” Dasar ini merupakan dalih yang direproduksi terus-menerus, sehingga kaum realis bukanlah kaum yang merekonstruksi jaman, tetapi hanya memunculkan wacana masa lalu saja dalam bentuknya yang lebih unik. Di sini tidak ada sama sekali sebuah kemajuan apapun, selain dari sebuah perulangan atau timbulnya kembali wacana yang sebelumnya telah surut. Saat itu, semua negara-bangsa adalah binatang politik sebagai artikulasi dari ordo manusia masa lalu. Praktik-praktik diskursif dalam kancah politik internasional PD II tidak berhenti pada wacana Thucydides. Wacana Machiavelli (1469-1527) juga direproduksi kembali untuk membaca politik internasional. Teks wacana Machiavelli masa kerajaan Italia dulu diadopsi oleh ilmuwan HI seperti Morgenthau dalam melihat fenomena politik internasional PD II. Misalnya konsep power yang dimetaforkan oleh Machiavelli melalui istilah “Singa” dan “rubah,” ketika memaknai atau membaca aktor-aktor kuat politik internasional PD II. Otoritas pengetahuan Machiavelli memaknai elemen negara-bangsa dengan dalih bahwa negara-bangsa seharusnya memiliki sifat kejam, egois, tindakan menghalalkan segala cara untuk mengejar kepentingannya, dan tentang permasalahan moral, etika dikendalikan (ditentukan) di bawah (atas otoritas) kebijaksanaan “sang singa” atau “rubah.” Tidak jauh berbeda dengan Machiavelli, otoritas pengetahuan Thomas Hobbes (1588-1679) yang membaca praktik-praktik diskursif jaman skolastik juga dihadirkan kembali untuk memaknai atau membaca fenomena politik internasional PD II sebagai sebuah sejarah monumental tentang kekejaman, kebinatangan, kebrutalan, kebengisan, kekerasan, dan kejahatan diekspresikan dengan tindakan liar dan bebas oleh manusia. Mekanisme wacana yang beroperasi melalui elemen “state of

nature” sebagai landasan pengetahuan HI dalam mengistilahkan fenomena politik internasional PD II diilustrasikan dalam pernyataan: “state of war of every man against every man” atau istilahnya “a war of all against all.” Formasi diskursif andalan wacana realisme yang diadopsi dari Hobbes salah satunya konsep security dilemma dan teori: modern dicision theory-teori prisoner’s dilemma.” Wacana realisme terbentuk oleh jalinan footnote para ilmuwan dan filsuf realpolitik jaman pencerahan.

Bahasa ilmu sosial politik realisme berperan ganda: kolonialisme dan ilmu pengetahuan. Karena pengetahuan realisme adalah kuasa itu sendiri, maka ruang yang dinamakan politik internasional memiliki kualitas dan keabsolutan yang ditentukan oleh pembayangan abstraksi kaum realis. Dengan kata lain, ruang politik internasional dibentuk dan dipahami oleh rasionalisasi mekanik kaum realis. Abstraksi politik internasional adalah sebuah teks bahasa yang diambil dari ruang imajinasi kaum realis, sehingga politik internasional pasca PD II dikuasa oleh kepentingan politik luar negeri Amerika Serikat yang berpengetahuan realisme. Berkaitan dengan konteks ini, genealogi pemikiran seperti di atas diwacanakan menyebar melalui para penganut wacana realisme seperti Raymond Aron yang sangat terilhami oleh Hobbes dan Clausewitz, John Herz yang tentunya mirip sekali pemahamannya dengan Hobbes, sedangkan tokoh kontemporernya seperti Kissinger, Krasner, dan Susan Strange pun mereproduksi wacana-wacana

realpolitik jaman pencerahan Eropa melalui varian-variannya.

Dalam dokumen Tradisi pemikiran dan hubungan internasional (Halaman 100-104)