TIMP
ANGAN PEMBANGUNAN INDONESIA D
ARI BERBA
GAI ASPEK
BAGIAN 1: PENDAHULUAN
WAJAH PROGRAM PENANGGULANGAN
KEMISKINAN DI INDONESIA
“Kemiskinan terkait erat dengan rendahnya tingkat pendidikan, kesehatan, dan kualitas hidup. Sementara kemiskinan dapat menjadi pemicu dari tidak berjalannya proses demokrasi”
K
emiskinan memang merupakan fenomena yang kerap menjadiperbincangan yag menarik. Kemiskinan seringkali diidentikkan dengan ketidakmampuan seseorang memenuhi standar hidup yang paling rendah. Pada dasarnya, kemiskinan sebagai suatu fenomena sosial tidak hanya dialami oleh negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, tetapi juga terjadi pada negara yang tingkat ekonominya telah maju serta telah memiliki taraf kesejahteraan hidup yang baik. Fenomena ini pada dasarnya telah menjadi perhatian dan isu yang cukup besar, sehingga muncul gerakan-gerakan di tingkat global yang mulai memasuki ranah-ranah yang bersifat kemanusiaan. Sejak tahun 1995 dalam pertemuan World Summit in Sosial
Development di Copenhagen isu mengenai kemiskinan, pengangguran, dan
pengucilan sosial menjadi fokus utama dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut. Dan sebenarnya secara ideologis, Undang-Undang Dasar 1945 Indonesia telah menjadikan permasalahan tersebut sebagai satu prioritas yang harus dilakukan setelah tersusunnya UUD 452. Namun hingga kini, kemiskinan masih saja menjadi problem besar di Indonesia. Sungguhpun angka kemiskinan absolut telah mengalami penurunan sejak tahun 1990-an3, namun kondisi masyarakat yang dekat dengan kategori miskin masih
2 Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 28 H (1) menyebutkan setiap orang berhak
hidup sejahtera lahir dan bathin, bertempat tinggal, dan mendapat lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Dalam Pasal 34 ayat 2 yang menyatakan, “Negara mengembangkan sistem Jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan”.
3 Angka kemiskinan turun dari 47,97 juta atau sekitar 23,43% di akhir tahun
1990 menjadi 30,02 juta atau 12,49% pada tahun 2011 dan saat ini turun menjadi 28.07 juta penduduk atau 11,37% (TNP2K,2013). Sejak tahun 1994, Pemerintah Indonesia telah mengembangkan berbagai program penanggulangan kemiskinan untuk memberikan perlindungan sosial kepada warganya. Mulai dari program penanggulangan kemiskinan untuk memberikan perlindungan sosial kepada warganya. Program tersebut bervariasi, mulai dari konsep program Inpres Desa tertinggal (IDT) pada periode tahun 1993-1997 dan Program Pembangunan Keluarga Sejahtera yang dilaksanakan dari tahun 1996 hingga Januari 2003. Selain kedua agenda tersebut, agenda lain dengan skala yang lebih kecil, yaitu
67 Yustinus P rast o w o dk k
rentan untuk kembali menjadi miskin. Perkembangan jumlah dan persentase penduduk miskin periode 1996-2008 dapat dilihat berfluktuasi dari tahun ke tahun, meskipun ada kecenderungan menurun pada tahun 2000-2005. Pada periode 1996 hingga 1999 jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 13,96 juta orang sebagai akibat dari krisis ekonomi, yakni dari 34,01 juta orang pada tahun 1996 menjadi 47,97 juta orang pada tahun 1999. Sementara itu, persentase penduduk miskin meningkat dari 17,47 persen menjadi 23,43 persen pada periode tersebut. Pada periode 1999 hingga 2002 terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 9,57 juta orang, yaitu dari 47,97 juta orang pada tahun 1999 menjadi 38,40 juta orang pada tahun 2002. Secara relatif juga terjadi penurunan persentase penduduk miskin dari 23,43 persen pada tahun 1999 menjadi 18,20 persen pada tahun 2002. Penurunan jumlah penduduk miskin juga terjadi pada periode 2002 hingga 2005 sebesar 3,3 juta orang, yaitu dari 38,40 juta orang pada tahun 2002 menjadi 35,10 juta orang pada tahun 2005. Secara relatif juga terjadi penurunan persentase penduduk miskin dari 18,20 persen pada tahun 2002 menjadi 15,97 persen pada tahun 2005. Akan tetapi pada periode 2005-2006 terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin sebesar 4,20 juta orang, yaitu dari 35,10 juta orang pada tahun 2005 menjadi 39,30 juta orang pada tahun 2006. Akibatnya persentase penduduk miskin juga meningkat dari 15,97 persen menjadi 17,75 persen. Selanjutnya pada periode tahun 2006 hingga tahun 2008 jumlah penduduk miskin di Indonesia mengalami penurunan sebesar 4,34 juta orang, yaitu dari 39,30 juta orang pada tahun 2006 menjadi 34,96 juta orang pada tahun 2008. Secara relatif terjadi juga penurunan persentase penduduk miskin dari 17,75 persen menjadi 15,42 persen pada periode yang sama. Fluktuasi angka kemiskinan tersebut biasanya lebih sering dipicu oleh kondisi sosial politik yang terjadi pada waktu itu. Dan pada tahun 1980 hingga 1990 Pemerintah mulai menginisiasi program-program penanggulangan kemiskinan. Agenda-agenda program tersebut, awalnya diinisiasi untuk mengatasi krisis, risiko, dan guncangan sosial. Agenda-agenda tersebut pada tahun 1980-an dan 1990-an sering disebut dengan agenda Jaring Pengaman Sosial (Sosial Safety Net). Jaring Pengaman Sosial ini pun mengalami pergeseran sesuai dengan perkembangan isu global, dari yang hanya bersifat Jaring Pengaman Sosial (JPS) bergeser menjadi program-program yang lebih karitatif dan komprehensif melalui agenda perlindungan sosial (Barrientos&Hulme,2008; Holzman,2001).
Pembinaan dan Peningkatan pendapatan Petani/Nelayan Kecil (P4K) dilaksanakan pada tahun 1997-2005. Kemudian pada tahun 1998 mulai dikembangkan Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dan Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) sebagai upaya pemberdayaan Masyarakat di wilayah perkotaan.
68
KE
TIMP
ANGAN PEMBANGUNAN INDONESIA D
ARI BERBA
GAI ASPEK
Pada periode 1990-an inilah Pemerintah telah mengembangkan berbagai program penanggulangan kemiskinan untuk memberikan perlindungan sosial kepada warganya. Program tersebut bervariasi, mulai dari konsep program Inpres Desa Tertinggal (IDT) pada periode tahun 1993-1997 dan Program Pembangunan Keluarga Sejahtera yang dilaksanakan dari tahun 1996 hingga Januari 2003. Selain kedua agenda tersebut, agenda lain dengan skala yang lebih kecil, yaitu Pembinaan dan Peningkatan pendapatan Petani/Nelayan Kecil (P4K) dilaksanakan pada tahun 1997-2005. Kemudian pada tahun 1998 mulai dikembangkan Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dan Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) sebagai upaya pemberdayaan masyarakat di wilayah perkotaan. Agenda perlindungan sosial berusaha menemukan jawaban terhadap akar permasalahan kemiskinan, bukan hanya menyelesaikan permukaan dan gejalanya saja (World Bank, 2001). Berbagai perundang-undangan dan kebijakan lahir pasca krisis ekonomi tahun 1998. Sejak itu berbagai program penanggulangan kemiskinan mulai diperkenalkan. Untuk memperkokoh implementasi program penanggulangan kemiskinan tersebut, Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang (UU) tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)4. Program-program tersebut diharapkan mampu menekan jumlah angka kemiskinan. Kenyatannya, pada tahun 2013 jumlah kemiskinan meningkat dari 11,37% menjadi 11,47% (data per Maret 2013). Angka ini melampaui target APBN yang mematok penurunan kemiskinan hingga 9,5% sampai 10,5%.
4 Undang-Undang No.40 tahun 2004 ini mengatur tata cara penyelenggaraan
program jaminan sosial; jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pension, dan jaminan kematian secara universal kepada warga Negara yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
69 Yustinus P rast o w o dk k Grafik 1
Sumber : Data BPS tahun 2013
Kecenderungan yang fluktuatif tersebut adalah kemungkinan akibat dari krisis ekonomi dan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan sebagian karena pengaruh perubahan iklim. Dampak terbesar terjadi pada kenaikan harga bahan-bahan pokok seperti beras dan sayuran, yang bagi rakyat miskin menempati sekitar 74% dari total pengeluarannya. Angka tersebut berdasarkan pada penghitungan ekonomi yang dititikberatkan pada daya beli atau kemampuan beli seseorang. Artinya, pengelompokan kemiskinan masih harus dilihat dari kemampuan daya beli seseorang. Sementara faktor kemiskinan lainnya pun seharusnya dapat dilihat dengan jelas. Menjelang tahun 2010 melalui TNP2K Pemerintah menargetkan untuk menurunkan angka kemiskinan hingga 8% sampai 10% pada akhir tahun 2014 (TNP2K,2013)5. Dalam rangka menurunkan angka kemiskinan tersebut, Pemerintah telah meningkatkan jumlah bantuan sosial dari tahun ke tahun. Pemerintah menetapkan anggaran yang tidak kecil, yakni sebesar Rp 29,7 triliun (atau setara dengan US$3.3 miliar), angka yang cukup besar untuk sebuah program
5 Untuk mencapai target menurunkan kemiskinan tersebut, Pemerintah mulai
memperhitungkan dengan anggaran yang akan digunakan sebagai pembiayan untuk program-program penanggulangan kemiskinan.
70
KE
TIMP
ANGAN PEMBANGUNAN INDONESIA D
ARI BERBA
GAI ASPEK
yang baru diinisiasi. Angka tersebut merupakan 2.6% dari APBN tahun 2010 (World Bank,2012). Jumlah ini semakin meningkat menjadi sekitar Rp 52.4 triliun di tahun 20136.