BAB III METODOLOGI PENELITIN
H. Teknik Analisis Data
I. Jadwal Penelitian
2. Waktu Penelitian
Tabel 3.17 Waktu Penelitian No Rencana
Kegiatan
Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni
1 Observasi 2 Pengajuan
Judul 3 Penyusunan
Proposal 4 Bimbingan
Penelitian 5 Seminar
Proposal 6 Revisi
proposal 7 Penelitian 8
Penyusunan Hasil Penelitian 9 Penyempurna
an Laporan 10 Persiapan
sidang
58 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Pada bab ini akan memaparkan hasil penelitian dan pembahasan seputar penelitian yang telah dilaksanakan Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SD Negeri Karundang 2 yang berlokasi di Cipocok Jaya Serang pada tahun ajaran 2016/1017 semester genap. Penelitian ini dimulai dari tanggal 14 April sampai 6 Mei 2017. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik korelasi. Dimana tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui korelasi atau hubungan antara dua variabel yaitu Pemahaman Konsep (X) dan Kemampuan Berpikir Kritis (Y) melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling purposive yaitu teknik yang dilakukan dengan beberapa pertimbangan dan disesuaikan dengan tujuan penelitian. Maka dari itu yang menjadi sampel dalam penleitian ini adalah siswa kelas IV-B dengan jumlah siswa sebanyak 27 orang. Pembelajaran IPA ini dilaksanakan selama 2 pertemuan.
1. Deskripsi Kegiatan
Pada bagian deskrispi kegiatan ini peneliti akan menjelaskan bagaimana kegiatan pembelajaran berlangsung di kelas IV-B. Materi yang diajarkan adalah Ilmu pengetahuan Alam (IPA) pokok bahasan sumber daya alam dan lingkungan. Pada penelitian korelasi ini guru memberikan perlakuan dengan mengajar dan peneliti mengamati proses pembelajaran dan ikut serta dalam membimbing siswa dalam proses pembelajaran. Untuk banyaknya pertemuan yang dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan. Adapun kegiatan pembelajarannya yaitu sebagai berikut :
a. Pembelajaran pertama dilaksanakan 28 April 2017 berlangsung selama 3 x 35 menit, untuk materi khusus yang dibahas adalah sumber daya alam.
b. Pembelajaran kedua dilaksanakan 29 April 2017 berlangsung selama 3 x 35 menit, untuk materi khusus yang dibahas adalah sumber daya alam dan lingkungan.
2. Analisi Deskriptif Data Penelitian 2.1 Pemahaman Konsep
Berdasarkan pada penelitian yang dilakukan terhadap siswa kelas IV-B di SD Negeri Karundang 2 Cipocok Jaya Serang semester genap Tahun ajaran 2016/2017 diperoleh hasil sebagai berikut :
Peneliti mengungkap variabel pemahaman konsep (X) melalui tes. Tes yang digunakan yakni postes dalam bentuk uraian yang berjumlah 5 butir pertanyaan. Postes diberikan untuk mengukur pemahaman konsep yang dimiliki oleh siswa setelah proses belajar mengajar. Dalam tes tersebut terdapat 4 indikator pemahaman konsep yang digunakan antara lain :
1) Menyatakan ulang sebuah konsep.
2) Mengklasifikasi objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya.
3) Memberi contoh dan bukan contoh dari suatu konsep.
4) Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep.
Berdasarkan hasil tes pemahaman konsep siswa kelas IV-B SD Negeri Karundang 2 melalui model pembelajaran TSTS pada pokok bahasan Sumber daya alam dapat diperoleh hasil pencapaian pemahaman konsep siswa. Di bawah ini merupakan pencapaian pemahaman konsep siswa yang dihitung per indikator dalam persentase.
60
Gambar 4.1
Pencapaian Pemahaman Konsep Siswa Per Indikator
Berdasarkan data dalam gambar 4.1 di atas terlihat pencapaian pemahaman konsep siswa kelas IV-B SD Negeri Karundang 2. Dari gambar tersebut dapat diketahui pencapaian yang paling rendah yaitu pada indikator mengklasifikasikan objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya yaitu sebesar 59,30% berada pada kategori cukup. Sementara itu indikator pemahaman konsep lainnya tergolong kategori baik. Pencapaian pemahaman konsep per indikator selengkapnya dapat dilihat dilampiran D.1.
Berdasarkan hasil tes pemahaman konsep siswa kelas IV-B SD Negeri Karundang 2 melalui model pembelajaran TSTS pada pokok bahasan Sumber Daya Alam yang berupa postes didapatkan nilai tertinggi, nilai terendah yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.1
Pencapaian Nilai Tertinggi dan Terendah Pemahaman Konsep Nilai Tertinggi Nilai Terendah
postes 94,44 27,77
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui nilai postes pemahaman konsep tertinggi dan terendah siswa. Nilai tertinggi yang diperoleh oleh siswa kelas IV-B SD Negeri Karundang 2 adalah 94,44 berada pada kategori sangat baik dan nilai terendah yang diperoleh oleh siswa kelas IV-B SD Negeri Karundang 2 adalah 27,77 berada pada kategori kurang sekali. Nilai tertinggi tersebut diperoleh tiga siswa sedangkan nilai terendah diperoleh satu siswa. Nilai keseluruhan siswa dapat dilihat di lampiran D.2.
Dari keseluruhan nilai pemahaman konsep siswa yang diperoleh dapat diketahui tingkatan pemahaman konsep siswa. Melalui uji statistik yang telah dilakukan tingkat pemahaman konsep siswa dapat diketahui dari gambar dibawah ini :
Gambar 4.2
Tingkat Pemahaman Konsep Siswa
Berdasarkan gambar 4.1 dapat diketahui tingkat pemahaman konsep siswa kelas IV-B SD Negeri Karundang 2. Dari gambar tersebut dapat diketahui siswa yang memiliki tingkat pemahaman konsep kurang sekali berjumlah 7 siswa dengan persentase 25,92%, siswa yang memiliki tingkat pemahaman konsep kurang berjumlah 2 siswa dengan persentase 7,40%, siswa yang memiliki tingkat pemahaman konsep cukup berjumlah 6 siswa
62
dengan persentase 22,22%, siswa yang memiliki tingkat pemahaman konsep baik berjumlah 6 siswa dengan persentase 22,22%, siswa yang memilikitingkat pemahaman konsep sangat baik berjumlah 6 siswa dengan persentase 22,22%.
Dari keseluruhan nilai postes pemahaman konsep siswa yang diperoleh dapat diketahui nilai rata-rata siswa. Nilai rata-rata pemahaman konsep siswa dapat diketahui dari gambar dibawah ini :
Gambar 4.3
Nilai Rata-rata Pemahaman Konsep Siswa
Berdasarkan gambar 4.2 dapat diketahui nilai rata-rata pemahaman konsep siswa kelas IV-B SD Negeri Karundang 2. Dari gambar tersebut dapat diketahui nilai rata-rata tes pemahaman konsep siswa yaitu sebesar 61,3 berada pada kategori cukup.
2.2 Berpikir Kritis
Berdasarkan pada penelitian yang dilakukan terhadap siswa kelas IV-B di SD Negeri Karundang 2 Cipocok Jaya Serang semester genap Tahun ajaran 2016/2017 diperoleh hasil sebagai berikut : Peneliti mengungkap variabel berpikir kritis (Y) melalui tes. Tes yang digunakan yakni postes dalam bentuk uraian yang berjumlah 5 butir pertanyaan. Postes diberikan
0
Rata-rata Nilai Hasil Pemahaman Konsep Siswa
61,3
untuk mengukur pemahaman konsep yang dimiliki oleh siswa setelah proses belajar mengajar. Dalam tes tersebut terdapat 4 indikator pemahaman konsep yang digunakan antara lain :
5) Menggunakan fakta-fakta secara tepat dan jujur.
6) Mengorganisasi pikiran dan mengungkapkannya dengan jelas, logis atau masuk akal.
7) Membedakan antara kesimpulan yang didasarkan pada logika yang valid dengan logika yang tidak valid.
8) Menyangkal suatu argumen yang tidak relevan dan menyampaikan argumen yang relevan.
Berdasarkan hasil tes berpikir kritis siswa kelas IV-B SD Negeri Karundang 2 melalui model pembelajaran TSTS pada pokok bahasan Sumber daya alam dapat diperoleh hasil pencapaian kemampuan berpikir kritis siswa.
Di bawah ini merupakan pencapaian kemampuan berpikir kritis siswa yang dihitung per indikator dalam persentase.
Gambar 4.4
Pencapaian Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Per Indikator
67.12% 69.44% 76.54%
64
Berdasarkan data dalam gambar 4.4 di atas terlihat pencapaian kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV-B SD Negeri Karundang 2. Dari gambar tersebut dapat diketahui pencapaian yang paling rendah yaitu pada indikator menyangkal suatu argumen yang tidak relevan dan menyampaikan argumen yang relevan yaitu sebesar 58,33% berada pada kategori cukup.
Sementara itu indikator pemahaman konsep lainnya tergolong kategori baik.
Pencapaian pemahaman konsep per indikator selengkapnya dapat dilihat dilampiran D.4.
Berdasarkan hasil tes kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV-B SD Negeri Karundang 2 melalui model pembelajaran TSTS pada pokok bahasan Sumber Daya Alam yang berupa postes didapatkan nilai tertinggi, nilai terendah yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.2
Pencapaian Nilai Tertinggi dan Terendah Kemampuan Berpikir Kritis Nilai Tertinggi Nilai Terendah
postes 100 26,31
Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui nilai postes berpikir kritis tertinggi dan terendah siswa. Nilai tertinggi yang diperoleh oleh siswa kelas IV-B SD Negeri Karundang 2 adalah 100 berada pada kategori sangat baik dan nilai terendah yang diperoleh oleh siswa kelas IV-B SD Negeri Karundang 2 adalah 26,31 berada pada kategori kurang sekali. Nilai tertinggi tersebut diperoleh lima siswa sedangkan nilai terendah diperoleh satu siswa.
Nilai keseluruhan siswa dapat dilihat di lampiran D.5.
Dari keseluruhan nilai berpikir kritis yang diperoleh dapat diketahui tingkatan kemampuan berpikir kritis. Melalui uji statistik yang telah
dilakukan tingkat kemampuan berpikir kritis siswa dapat diketahui dari gambar dibawah ini :
Gambar 4.5
Tingkat Kemampuan Berpikir Kritis Siswa
Berdasarkan gambar 4.5 dapat diketahui tingkat kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV-B SD Negeri Karundang 2. Dari gambar tersebut dapat diketahui siswa yang memiliki tingkat kemampuan berpikir kritis kurang sekali berjumlah 5 siswa dengan persentase 18,51%, siswa yang memiliki tingkat pemahaman konsep kurang berjumlah 4 siswa dengan persentase 14,81%, siswa yang memiliki tingkat pemahaman konsep cukup berjumlah 3 siswa dengan persentase 11,11%, siswa yang memiliki tingkat pemahaman konsep baik berjumlah 10 siswa dengan persentase 37,03%, siswa yang memiliki tingkat pemahaman konsep sangat baik berjumlah 5 siswa dengan persentase 18,51%.
Dari keseluruhan nilai postes berpikir kritis siswa yang diperoleh dapat diketahui nilai rata-rata siswa. Nilai rata-rata berpikir kritis siswa dapat diketahui dari gambar dibawah ini :
18.51%
66
Gambar 4.6
Nilai Rata-rata Berpikir Kritis Siswa
Berdasarkan gambar 4.6 dapat diketahui nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV-B SD Negeri Karundang 2. Dari gambar tersebut dapat diketahui nilai rata-rata tes pemahaman konsep siswa yaitu sebesar 66,01 berada pada kategori baik.
3. Hasil Pengujian Prasyarat Analisis Data Pemahaman Konsep Dan Berpikir Kritis Siswa
Pengujian yang dilakukan dalam tujuan menganalisis serta mengetahui sejauh mana hubungan antar dua varibel yaitu pemahaman konsep (X) dan kemampuan berpikir kritis (Y) yaitu dengan menggunakan analisis korelasi dan koefisien determinasi. Untuk teknik yang dipakai adalah Korelasi Produk Moment. Tetapi sebelumnya data dapat digunakan jika memenuhi syarat berikut :
66.01
0 10 20 30 40 50 60 70
Rata-rata Nilai Hasil kemampuan berpikir kritis siswa
66,01
1) Sampel yang dipakai berasal dari data yang berdistribusi normal. Untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan uji normalitas antara data pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis.
2) Variabel pada kedua populasinya harus berpola linier. Untuk mengetahuinya dapat dilakukan melalui uji linieritas regresi.
Untuk mendapatan sebuah analisis data sebelumnya perlu dilakukan uji prasyarat terhadap data hasil penelitian yang sudah dikumpulkan. Tahapan uji prasyarat tersebut diantarnya yaitu :
3.1 Uji Normalitas.
Untuk uji normalitas yang digunkaan adalah chi kuadrat (x²) dengan taraf signifikan a = 0.05 dan dk = k-1 ( k adalah banyaknya kelas interval.
Kemudian setelah Chi Kuadrat (x²) telah didihitung dan diperoleh hasilnya bandingkan harga x² hitung dengan x²tabel. Jika x² hitungnya ≤ x² tabel maka Ho normal ( diterima ) sebaliknya jika x² hitung >x² tabel maka Ho tidak normal ( ditolak ) .
Tabel 4.3
Hasil Uji Normalitas Pemahaman Konsep Dan Kemampuan Berpikir Kritis Variabel Jumlah
68
Dapat dilihat pada tabel 4.3 diatas untuk variabel X yaitu pemahaman konsep diperoleh x² hitung sebesar 7,741 ≤ x² tabel yaitu 11,070, maka data untuk pemahaman konsep dikatakan normal perhitungan selengkapnya dapat dilihat dilampiran D.3, sama halnya dengan variabel Y yaitu kemampuan berpikir kritis didapat x² hitung sebesar 9,293 ≤ x² tabel yaitu 11, 070 sehingga data tersebut dapat dikatakan normal. Untuk perhitungan lebih jelas dapat dilihat pada lampiran D.6.
3.2 Uji linieritas regresi
Sebelumnya telah didapat kedua data dapat dikatakan normal selanjutnya dilakukan uji liniertitas regresi yang menggunakan uji F. uji ini digunakan sebagai langkah untuk mengetahui apakah data tersebut berpola linier atau tidak, dengan membandingkan Fhitung dengan Ftabel
Jika diperoleh F hitung < Ftabel maka hipotesi H0 diterima sebaliknya Jika dipeoleh F hitung >Ftabel maka hipotesi H0 ditolak
Taraf signifikan = 0,05, DK TC pembilang = k=2 DK E (penyebut) = n-k ( k adalah jumlah kelompok yang memperoleh nilai yang sama.
Hasilnya perhitungnya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.4
Uji Linieritas regresi antara variabel X dan Variabel Y Variabel Jumlah
sampel
F Kesimpulan
Hitung Tabel a=0.05
Pemahaman 29 2,42 2,56 Datanya
Konsep (x) berpola linier Berpikir Kritis
(Y)
29
Hasil perhitungan didapat bahwa antara variabel X dan Y diperoleh Fhitung lebih kecil dari Ftabel jadi kedua variabel tersebut berpola linier.
Untuk perhitungan yang lengkap dapat dilihat pada lampiran D.7.
4. Hubungan Antara Pemahaman Konsep Dan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TSTS
Untuk menghitung korelasi antara pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa dianalisis dengan menggunakan rumus korelasi product momen. Sebelum menghitung korelasi peneliti membuat Ha dan Ho yakni :
Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara pemahaman konsep dengan kemampuan berpikir kritis siswa.
Ho : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pemahaman konsep dengan kemampuan berpikir kritis siswa.
Besarnya koefisien korelasi antara variabel x dan variabel y ( ) yang diperoleh adalah sebesar 0,724. Nilai koefisien 0,724 termasuk kedalam kategori kuat. Artinya korelasi antara pemahaman konsep dengan kemampuan berpikir kritis siswa kuat atau hasil kemampuan berpikir kritis siswa yang dipengaruhi oleh pemahaman konsep dapat dikatakan kuat. Nilai koefisien korelasi 0,724. Karena 0,73 > 0,381 maka terdapat korelasi yang positif. Karena nilainya positif semakin baik pemahaman konsep siswa maka semakin baik kemampuan berpikir kritisnya.
70
Dari hasil korelasi tersebut dapat diketahui koefisien determinasi yang diperoleh sebesar = 0,524 mengartikan bahwa sebesar 52,4 % kemampuan berpikir kritis siswa dipengaruhi oleh pemahaman konsep siswa. Sedangkan sisanya sebesar 47,6% merupakan faktor lain diluar variabel bebasnya.
Data yang telah diketahui tersebut kemudian diuji signifikansi dengan rumus t hitung. Berdasarkan perhitungan α = 0,05 dan n = 27, uji satu pihak ; Dk = n – 2 = 25 sehingga diperoleh = 1,708. Dan ternyata t hitung lebih besar dari atau 5,269. Maka Hipotesis nol (Ho) ditolak dan Hipotesis alternatif (Ha) diterima, perhitungan lengkap dapat dilihat dilampiaran D.8.
Berarti terdapat korelasi yang signifikan antara pemahaman konsep dengan kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV di SD Negeri Karundang 2 Serang.
B. Pembahasan Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti mengukur pemahaman konsep dan kemampuan berpikir yang dimiliki oleh siswa melalui postes yang diberikan setelah proses pembelajaran berlangsung. Data pemahaman konsep yang diperoleh menunjukkan bahwa rata-rata pemahaman konsep siswa yaitu 61,3.
Selain itu data yang diperoleh dari rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa yaitu 66,01. Setelah data yang diperlukan diperoleh, maka dilakukan uji prasyarat data yaitu uji normalitas dan uji linieritas. Hal ini dilakukan untuk memenuhi syarat uji kepatutan dalam analisis korelasi. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa data pemahaman konsep (X) dan berpikir kritis (Y) siswa tersebut berdistribusi normal dan berpola linier. Oleh karena itu, analisis korelasi untuk mengetahui hubungan antara pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa dapat dilanjutkan.
Dari hasil perhitungan analisis korelasi diketahui hubungan antara pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa melalui model pembelajaran TSTS memperoleh koefisien korelasi sebesar 0,724 yang masuk pada kategori kuat. Hal tersebut berarti pemahaman konsep siswa mempunyai
hubungan yang kuat dengan kemampuan berpikir kritis siswa dan menunjukkan nilai positif yang berarti semakin tinggi pemahaman konsep siswa maka semakin tinggi pula kemampuan berpikir kritisnya.
Dalam perhitungan koefisien determinasi menunjukkan sebesar 52,4%
kemampuan berpikir kritis siswa dipengaruhi oleh pemahaman konsep siswa.
Sedangkan sisanya sebesar 47,6% merupakan faktor lain diluar variabel bebasnya yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Menurut Muhibbin Syah (2001: 132-139) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: (1) faktor internal( faktor dari dalam diri siswa), yakni keadaan jasmani dan rohani siswa.
Yaitu aspek fisiologis (jasmani, mata dan telinga) kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu.
Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal dan aspek psikologis (intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa dan motivasi siswa). (2) faktor eksternal ( faktor dari luar siswa). Hal ini dapat berupa sarana prasarana, situasi lingkungan baik itu lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat. Yaitu : lingkungan sosial (keluarga, guru, masyarakat, teman) dan lingkungan non-sosial (rumah, sekolah, peralatan, alam). (3) faktor pendekatan belajar, yakni jenis upaya siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.
Penggunaan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) bertujuan untuk mengarahkan siswa untuk aktif, baik dalam diskusi, Tanya jawab, mencari jawaban, menjelaskan dan juga menyimak materi yang dijelaskan oleh teman.
Model pembelajaran ini banyak menuntut kemampuan berpikir siswa terutama berpikir dalam tingkatan yang lebih tinggi yaitu berpikir kritis.
Melibatkan kemampuan berpikir kritis sebagai bagian yang menyatu dengan pembelajaran di kelas merupakan hal yang sangat penting sehingga siswa
72
dapat memaknai fakta dan memproses informasi, serta mengaitkan aplikasi konsep dengan kehidupan sehari-hari. Menurut Lie (2002 : 40) mengatakan bahwa pada dasarnya manusia senang berkumpul dengan sepadan dan membentuk jarak dengan yang berbeda, namun pengelompokan dengan orang lain yang sepadan dan serupa ini dapat menghilangkan kesempatan anggota kelompoknya untuk memperluas wawasan dan memperkaya diri, karena dalam kelompok yang heterogen tidak banyak perbedaan yang dapat mengakses proses berfikir, beragumentasi dan berkembang.
Dari pendapat tersebut dapat diketahui penggunaan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Ibrahim (2000 : 83) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif menjadi siswa aktif, demokratis serta berpikir kritis dalam menelaah soal yang diberikan oleh guru dapat memotivasi siswa serta dapat meningkat hasil belajar.
Pemahaman konsep merupakan salah satu faktor psikologis yang di perlukan dalam kegiatan belajar mengajar. Salah satu cara agar siswa aktif dalam pemahaman konsep IPA yang diberikan guru yaitu dengan pembelajaran kooperatif. Salah satu aspek penting pembelajaran kooperatif ialah bahwa disamping pembelajaran kooperatif membantu mengembangkan tingkah laku dan hubungan yang lebih baik diantara
Pemahaman konsep salah satu faktor kemampuan berpikir kritis siswa, berdasarkan beberapa penelitian yang terkait dengan penelitian ini yaitu Nur Lovy Herayanti dan Habibi (2014: 158) dan Fathiah Alatas (2012: 95) juga menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa.
Berdasarkan pemaparan diatas, terlihat bahwa terdapat hubungan yang signifikan positif antara pemahaman konsep dengan kemampuan berpikir kritis siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) pada pembelajaran IPA.
73 A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi positif yang kuat antara pemahaman konsep dengan kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV-B pada pokok bahasan sumber daya alam di SD Negeri Karundang 2 Serang. Hasil kemampuan berpikir kritis siswa yang dipengaruhi oleh pemahaman konsep siswa yaitu kuat dengan koefisien korelasi ( r ) sebesar 0,724. Koefisien determinasi yang diperoleh sebesar = 0,524 mengartikan bahwa sebesar 52,4% kemampuan berpikir kritis siswa dipengaruhi oleh pemahaman konsep siswa. Dan ternyata t hitung lebih besar dari ttabel atau 5,269 pada taraf 5%. Maka Hipotesis nol (Ho) ditolak dan Hipotesis alternatif (Ha) diterima. Berarti terdapat korelasi yang signifikan antara pemahaman konsep dengan kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV di SD Negeri Karundang 2 Serang.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas, maka dapat diajukan saran-saran sebagai berikut :
1. Untuk mengembangkan dan mengoptimalkan pemahaman konsep siswa yang berperan dalam kesuksesan kemampuan berpikir kritis siswa baik di sekolah maupun dilingkungan sekitar, maka disarankan kepada pihak sekolah terutama para pendidik agarmenggunakan model yang sesuai dalam proses kegiatan belajar mengajar
2. Bagi pendidik hendaknya dapat menciptakan suasana kelas yang kondusif dan aktif dalam proses belajar IPA, sehingga siswa tidak hanya memperoleh
74
pengetahuan saja tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa.
3. Untuk penelitian selanjutnya, pemahaman konsep bukan satu-satunya faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa, oleh karena itu hendaknya mencari alternatif lain dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran yang optimal.
75
Arikunto, Suharsimi, dkk. (2010). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsamsi. (2010). Manajemen Penelitian. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Tenaga Pendidikan.
Bundu, P. (2006). Penilaian Keterampilan Proses dan Sikap Ilmiah dalam Pembelajaran Sains di SD. Jakarta : Depdiknas.
Faiz, F. (2012). Thinking Skills Pengantar Menuju Berpikir Kritis.
Yogyakarta: Suka Press.
Fisher, A. (2009). Berpikir Kritis: Sebuah Pengantar. Penerjemah: Benyamin Hadinata. Jakarta: Erlangga.
Fisher, A. (2009). Berpikir Kritis Sebuah Pengantar. Jakarta.: Erlangga
Heriawan, Adang dkk. (2012). Metodologi Pembelajaran Kajian Teoritis Praktis.
Jakarta : LP3G (Lembaga Pembinaan)
Johnson. (2009). Contextual Teaching And Learning. (Edisi Terjemahan Ibnu Setiawan). Bandung: MLC.
Lie, A. (2010). Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas.
Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Lie, A. (2002). Cooperatif Learning. Penerbit Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Samatowa, U. (2006). Bagaimana Membelajarkan IPA di Sekolah Dasar. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Sugiyono, (2008). Metode Penelitian Kunatitatif Kualitatif dan R&D. Bandung Alfabeta.
76
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan RD. Bandung:
Alfabeta.
Sugiyono, (2010). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta
Sulistyorini, S. (2007). Model Pembelajaran IPA Sekolah Dasar dan Penerapannya dalam KTSP. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Sunaryo. 2011. Taksonomi Berpikir. Bandung: Rosdakarya.
Suyono dan Haryanto. (2012). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya: Jakarta.
Trianto. 2011. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivitis.
Jakarta: Prestasi Pustaka.
Trianto. (2010). Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta. Bumi Aksara.
Trianto. (2010). Model Pembelajaran Terpadu: Konsep, Strategi, Dan Implementasinya Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Jakarta: Bumi Aksara.
Trianto. (2011). Panduan Lengkap Penelitian Tindakan Kelas “Classroom Action Research Teori dan Praktik”. Surabaya: Prestasi Pustaka Raya.
Wena, W. (2009). Strategi pembelajaran inovatifkontemporer( suatu tujuan konseptual operasional). Jakarta: bumi aksara..
Alatas, fathiah. (2012). Hubungan Pemahaman Konsep Dengan Keterampilan Berpikir Kritis Melalui Model Pembelajaran Treffinger. (Skripsi). Universitas Pendidikan Fisika UIN Syarif Hidayatullah: Jakarta. (Diakses pada tanggal 26
Alatas, fathiah. (2012). Hubungan Pemahaman Konsep Dengan Keterampilan Berpikir Kritis Melalui Model Pembelajaran Treffinger. (Skripsi). Universitas Pendidikan Fisika UIN Syarif Hidayatullah: Jakarta. (Diakses pada tanggal 26