METODE PENELITIAN
3.2. Setting Penelitan
3.2.4. Waktu Penelitian
Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan pada semester ganjil tahun ajaran 2014/2015 selama 6 bulan yaitu pada bulan Juli sampai dengan bulan Desember. 3.3. Prosedur Pengembangan
Penelitian ini menggunakan prosedur pengembangan yang menghasilkan produk berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian berbasis permainan. Prosedur pengembangan produk yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Research and Development menurut Sugiyono (2014). Prosedur pengembangan
menurut Sugiyono dapat dilihat pada gambar 3.1: Gambar 3.1
Bagan Prosedur Research and Development menurut Sugiyono
Sumber : Sugiyono (2014) Potensi dan Masalah Pengumpul-an data Desain Produk Validasi Desain Revisi Desain Ujicoba Produk Revisi Produk Ujicoba Pemakaian
Gambar 3.1 menunjukkan bahwa penelitian dan pengembangan dilakukan mulai dari adanya potensi atau masalah yang terjadi di lapangan. Setelah potensi atau masalah ditemukan secara nyata, selanjutnya diperlukan pengumpulan data untuk mendapatkan berbagai informasi untuk melakukan penelitian pengembangan. Informasi digunakan sebagai bahan untuk perencanaan produk yang dikembangkan. Sebelum melakukan pengembangan, produk tersebut perlu didesain terlebih dahulu. Desain produk pengembangan dalam bidang pendidikan mempunyai tujuan untuk meningkatkan produktivitas pendidikan, yaitu lulusan yang jumlahnya banyak, berkualitas, serta relevan dengan kebutuhan (Sugiyono: 2014). Tahapan selanjutnya adalah melakukan validasi desain. Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai produk yang dihasilkan. Validasi desain dapat dilakukan dengan cara menghadirkan beberapa pakar atau tenaga ahli yang sudah berpengalaman untuk menilai rancangan produk. Hasil dari penilaian setiap pakar adalah untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan produk. Setelah desain produk divalidasi, perlu adanya perbaikan desain untuk memperbaiki kekurangan desain produk yang dikembangkan. Tahap selanjutnya adalah uji coba produk. Uji coba produk dapat langsung dilakukan apabila desain produk sudah divalidasi dan direvisi. Tujuan uji coba produk ini adalah untuk mengetahui apakah produk yang dihasilkan layak digunakan atau masih memerlukan perbaikan, apabila ditemukan kelemahan atau kekurangan, maka tahap berikutnya adalah revisi produk. Revisi produk brtujuan untuk memperbaiki kekurangan yang ada. Tahapan berikutnya produk tersebut diuji cobakan pada kelas yang lebih besar, apabila ditemukan
kekurangan dan kelemahan pada produk yang dihasilkan, perlu adanya perbaikan atau revisi produk kemudian produk tersebut dapat diproduksi secara masal.
Model yang kedua diambil dari Borg&Gall yang juga terdiri dari 10 langkah pengembangan (Sanjaya: 2013). Bagan prosedur pengembangan menurut Borg&Gall dapat dilihat pada gambar 3.2.
Gambar 3.2.
Bagan Prosedur Research and Development menurut Borg&Gall
Sumber : Sanjaya (2013)
Gambar 3.2 menunjukkan bahwa terdapat sepuluh tahapan pengembangan produk yang meliputi: (1) riset dan pengumpulan informasi. Pengumpulan informasi dapat dilakukan melalui studi literature dan observasi); (2) perencanaan (merumuskan tujuan dan mengujikan desain dalam skala terbatas); (3) pengembangan produk awal (preliminary form of product) termasuk
Penelitian dan
Pengumpulan data Perencanaan
Pengembangan draf produk
Uji coba lapangan awal Merevisi hasil uji
coba Uji coba lapangan
Penyempurnaan Produk Hasil Uji Coba Lapangan Uji Pelaksanaan Lapangan Penyempurnaan Produk Akhir Diseminasi dan Impelementasi
mempersiapkan bahan-bahan pelajaran, buku pegangan, dan perangkat penilaian; (4) uji lapangan produk awal (melibatkan 5 siswa); (5) revisi (memperbaiki produk); (6) uji lapangan produk yang telah diperbaiki dalam skala yang lebih luas (pengumpulan data menggunakan data kualitatif untuk menilai proses, serta data kuantitatif dari hasil pretest dan posttest; (7) revisi produk berdasarkan hasil uji coba produk; (8) uji lapangan menggunakan teknik wawancara, observasi dan angket, selanjutnya data tersebut dianalisis; (9) revisi akhir produk berdasarkan hasil analisis data pada uji lapangan terakhir; (10) desiminasi dan melaporkan produk akhir penelitian melalui seminar dan jurnal.
Kedua model penelitian dan pengembangan yang dikemukakan oleh Sugiyono (2013) dan Borg&Gall (dalam Sanjaya: 2013) merupakan dasar yang akan digunakan dalam prosedur pengembangan penelitian ini. Tahapan dari dua model tersebut akan dimodifikasi sampai dengan tahap uji coba terbatas. Peneliti membatasi penelitian pengembangan hanya sampai dengan uji coba terbatas. Alasan peneliti membatasi hanya sampai pada uji coba terbatas adalah keterbatasan waktu, biaya, serta subjek uji coba masal. Uji coba terbatas dilakukan untuk mengetahui apakah RPPH yang dihasilkan dapat membantu siswa memahami materi yang diajarkan serta mengetahui kualitas/kelayakan RPPH yang dihasilkan. Taha-tahap yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini ditunjukkan oleh gambar 3.3.
Gambar 3.3 Tahapan Prosedur Pengembangan
TAHAP 4 INSTRUMEN UJI COBA
Instrumen Siap Digunakan Istrumen Observasi Validas
Pengembangan Kuesioner Siswa
Wawancara Guru
Test
Revisi TAHAP 1
STUDI PENDAHULUAN
Analisis Potensi Masalah
Instrumen Pengumpulan Data Awal
Pengumpulan Data Awal
Deskripsi Temuan Data Awal Kajian Literatur Instrumen Siap Digunakan Penyusunan Instrumen Validasi Instrumen Revisi TAHAP 3 VALIDASI PRODUK Instrumen Revisi Produk Validasi Ahli Analisis Data Kuatitatif & Kualitatif
TAHAP 2 PEMBUATAN PRODUK
Penilaian
Identitas, Tema, Subtema, KD, Indikator, & Tujuan
Pembelajaran Penulisan, Indikator, Tujuan Analisis KD, Indikator, Tujuan Pembelajaran Analisis Konteks Siswa Mengembangkan Materi
Mengembangkan Proses Pembelajaran
TAHAP 5 UJI COBA TERBATAS
Pretest Uji Coba Lapangan Terbatas Posttest
Gambar 3.3 menjelaskan 5 tahapan penelitian dan pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis permainan anak yang meliputi :
Tahap pertama adalah tahap pendahuluan yang merupakan hasil
modifikasi dari Sugiyono (2014) dan Borg&Gall (dalam Sanjaya: 2013) pada pengumpulan data awal. Pada tahap ini, peneliti menemukan adanya potensi masalah terkait dengan implementasi kurikulum 2013 melalui studi literatur. Potensi masalah ditemukan dari guru sekolah dasar mengenai belum optimalnya implementasi Kurikulum 2013. Langkah selanjutnya yaitu peneliti menganalisis potensi dan masalah yang ditemukan pada studi literatur (koran) serta beberapa sumber. Setelah menganalisis potensi dan masalah, peneliti melakukan pengumpulan data awal yang sudah ditemukan dari Koran, data lapangan, dan analisis kebutuhan selanjutnya peneliti dapat menyusun deskripsi dari awal masalah yang ditemukan. Setelah penyusunan deskripsi awal, peneliti menyusun instrumen kemudian divalidasikan kepada ahli. Instrumen yang sudah divalidasi kemudian direvisi. Tahap revisi selesai dan instrumen siap digunakan.
Tahap kedua adalah pembuatan produk berdasarkan temuan awal yang telah
diperoleh. Tahap ini menggunakan langkah dari Borg&Gall (dalam Sanjaya: 2013) yaitu perencanaan dan pengembangan draf produk. Produk yang disusun berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian yang akan diakomodasikan dengan permainan anak. Selanjutnya peneliti menganalisis kompetensi dasar kemudian melakukan analisis kebutuhan siswa. Hasil analisis dijadikan sebagai dasar dalam mengembangkan indikator setra tujuan pembelajaran yang sesuai
dengan kebutuhan siswa. Materi, kegiatan pembelajaran serta penilaian disusun berdasarkan indikator yang telah dianalisis.
Tahap Ketiga adalah validasi produk yang diambil dari Sugiyono (2014).
Pada tahap ketiga ini, dilakukan validasi produk yang berupa RPPH berbasis permainan anak oleh 12 ahli yang berkomperen dimasing-masing bidangnya. Validasi dilakukan dengan tujuan peneliti dapat mengetahui nilai serta komentar (kelebihan dan kekurangan) dari ahli mengenai produk yang telah dibuat. Hasil validasi berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dan kualitatif dianalisis untuk mengetahui kualitas dan kelayakan produk untuk diuji cobakan. Hasil analisis data dijadikan dasar dalam melakukan revisi produk.
Tahap keempat adalah pengembangan instrumen untuk digunakan dalam uji
coba terbatas yang merupakan tambahan dari peneliti. Instrumen yang disusun meliputi kuesioner siswa, wawancara kepada guru, serta soal tes. Instrumen yang sudah disusun kemudian divalidasi oleh ahli. Validasi dari ahli yang berupa tanggapan dijadikan dasar perbaikan/revisi untuk mendapatkan instrumen yang terstandar sehingga dapat digunakan. Instrumen selanjutnya yaitu penilaian RPP dan observasi pembelajaran di kelas yang sudah terstandar dan tidak memerlukan validasi. Uji coba terbatas dalam penelitian ini menggunakan instrument yang sudah terstandar dan belum terstandar dari buku materi pelatihan guru implementasi kurikulum 2013 tahun 2014 (Kemendikbud: 2014).
Tahap kelima adalah uji coba terbatas yang menggunakan langkah dari Sugiyono (2014) dan Borg&Gall (dalam Sanjaya: 2013). Tahap ini dilakukan apabila produk RPPH telah selesai direvisi dan seluruh instrumen uji coba terbatas
siap digunakan berdasarkan hasil validasi dan revisi. Tahap uji coba terbatas ini diawali dengan pemberian soal pretest terlebih dahulu untuk mengukur keadaan awal siswa dan diakhiri dengan posttest sehingga dapat diketahui perbedaannya setelah penerapan permainan anak dalam pembelajaran. Peneliti juga memberikan kuesioner tanggapan siswa dan melakukan wawancara dengan guru terkait pelaksanaan ujicoba terbatas. Uji coba terbatas dilakukan pada 5 siswa kelas I SDN J.