Tidak Pas-pasan
D
icari, Direktur Jenderal Pemasyarakatan (DirjenPas) yang tidak pas-pasan, yaitu DirjenPas yang tidak hanya di atas rata-rata, tetapi manusia setengah malaikat. Tidak perlu berpanjang kalam untuk menegaskan bahwa tantangan di bi-dang pemasyarakatan sekarang sebi-dang sangat tinggi. Ancaman keamanan dan ketertiban sedang menjadi persoalan keseharian bagi para petugas lapas. Hari Minggu yang lalu, kembali ter-jadi insiden dibakarnya lapas Labuhan Ruku, Kabupaten Ba-tubara, Sumatera Utara.Maka, mencari orang nomor satu di dalam suasana seperti sekarang tentu harus menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Ya, DirjenPas adalah orang nomor satu di jajar-an pemasyarakatjajar-an, bukjajar-an menteri, apalagi wamen. Menteri, tentu saja, adalah orang nomor satu di Kementerian Hukum & HAM, tetapi bukan di pemasyarakatan. Menkumham
mem-Panitia Seleksi Dirjen Pemasyarakatan Wamenkumham berdialog dengan
napi di Lapas Teluk Dalam Banjarmasin
Wamenkumham di Lapas Anak Kupang, NTT
Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR
176
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR177
176 177
bawahi keseluruhan sebelas unit utama di Kemenkumham, termasuk salah satunya pemasyarakatan. Namun, yang nomor satu di bidang pemasyarakatan tetaplah DirjenPas. Maka, po-sisi DirjenPas adalah jabatan yang sangat amat strategis. Jabat-an yJabat-ang sJabat-angat penting dalam rJabat-angka melakukJabat-an upaya pem-benahan di lingkungan pemasyarakatan. Ibaratnya, memilih DirjenPas yang pas, bukan DirjenPas yang pas-pasan sudah bisa menyelesaikan sebagian dari masalah, dan sebaliknya.
Maka, ketika Pak Amir Syamsudin memutuskan untuk membuka proses seleksi DirjenPas, saya langsung menyetu-juinya. Maksudnya jelas: untuk memastikan proses seleksi DirjenPas adalah yang terbaik dan, oleh karena itu, dapat dipi-lih pula DirjenPas yang the best. Sering kali, proses yang ter-buka demikian dikritik sebagai ketidakpahaman kami bahwa DirjenPas seharusnya diisi oleh kader pemasyarakatan sendiri, karena karakter persoalan di pemasyarakatan yang unik dan khas. Inilah pendapat yang mendikotomikan calon DirjenPas dari “dalam” dan dari “luar” secara tajam.
Pendapat yang demikian tidak sepenuhnya keliru, tetapi jauh dari maksud dan tujuan kami ketika memutuskan pro-ses seleksi DirjenPas yang terbuka. Bagi kami tidak ada sama sekali dikotomi orang dalam–luar. Bagi kami yang penting bu-kan orang dalam, apalagi luar. Yang lebih prinsipil bagi kami, sekali lagi, adalah proses seleksi yang terbaik, yang insya A llah menghasilkan Dirjenpas yang terbaik pula.
Untuk memastikan proses seleksi the best tersebut, kami memutuskan bahwa panitia seleksi didukung oleh tokoh-tokoh masyarakat yang tidak diragukan lagi kredibilitas dan integri-tasnya. Maka, di samping kami sendiri yang mewakili Kemen-kumham (Wamen, Sekjen, Irjen, Dirjen HAM, dan
Dirjen-Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR
176
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR177
176 177
Pas), diputuskan pula Prof. Komaruddin Hidayat, Abdullah Hehamahua, Dr. Imam Prasodjo, dan Prof. Saldi Isra sebagai anggota dari Panitia Seleksi.
Kesembilan anggota pansel akan memastikan lima tahapan seleksi berjalan dengan baik dan fair, yaitu seleksi: administrasi, tes tertulis, profile assesment, wawancara dengan pansel dan Menkumham, dan, last but not least, tes kesehatan. Ujian profile assesment akan dilakukan oleh konsultan inde-penden yang ditugaskan khusus untuk mendapatkan kandidat terbaik yang memenuhi syarat-syarat antara lain:
Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR
178
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR179
178 179
Pertama, integritas, integritas, integritas. Syarat perta-ma ini tidak ada batas toleransi sedikit pun. Integritas moral adalah prasyarat yang tidak bisa ditawar sedikit pun. Itulah fondasi dasar untuk menyelesaikan persoalan di lembaga pe-masyarakatan. Sama-sama dipahami bahwa ada keterbatasan SDM, sarana-prasarana, dan anggaran dalam bertugas di pe-masyarakat. Maka, di tengah keterbatasan demikian, salah satu pilar utama yang menyangga segala kekurangan itu ada-lah integritas moral yang tidak terbeli oleh apa pun.
Kedua, kemampuan bekerja di bawah tekanan yang luar biasa. Pressure adalah salah satu keseharian yang mengiringi tugas-tugas pemasyarakatan, mulai dari petugas di lapangan sampai pucuk pimpinan tertinggi. Salah satu yang paling ha-rus mempunyai daya tahan banting pastinya adalah the num-ber one: DirjenPas.
Ketiga, lebih merupakan eksekutor (decision maker) ketimbang intelektual, pemikir. Dalam situasi di mana ba nyak persoalan lapangan, tentu saja, DirjenPas harus fasih dalam mengambil keputusan, tentu berdasarkan pertimbangan yang tetap matang.
Keempat, lebih merupakan risk taker bukan safety player. Dalam mengambil keputusan, keberanian dalam mengambil resiko juga merupakan nilai lebih. Bagaimanapun, tipikal men-cari aman dalam ikhtiar pembenahan lapas saat ini bukanlah pilihan. Persoalan di lapas harus diselesaikan dengan sikap-sikap lugas. Artinya, ada risiko, misalnya ancaman gangguan keamanan dan ketertiban. Maka, seorang DirjenPas, tetap de-ngan perhitude-ngan yang matang, harus berani mengambil risiko yang terukur, tidak lantas diam tanpa pembenahan, karena ta-kut akan risiko dan ancaman.
Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR
178
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR179
178 179
Kelima, sekalipun risk taker, sang DirjenPas tetap harus merupakan seorang problem solver, bukan trouble maker. Hal ini penting karena adalah mudah untuk menjadi seorang yang berani mengambil risiko dan pada saat yang sama pembuat masalah. Namun, akan jauh lebih sulit untuk menjadi pem-berani yang mengambil risiko sekaligus pemberi solusi. Da-lam hal pemasyarakatan, risiko yang diambil harus merupakan penyelesaian masalah, bukan menghadirkan masalah-masalah baru.
Keenam, sang DirjenPas adalah orang yang kreatif, ino-vatif, dan, pastinya, tidak konservatif; seseorang yang terbiasa hadir dengan ide-ide perubahan, yang tidak biasa-biasa saja, bukan business as usual. Sekali lagi, di tengah keterbatasan SDM, sarana-prasarana, dan anggaran dibutuhkan pimpinan yang punya ide-ide brilian untuk menjawab berbagai dan tan-tangan di dunia pemasyarakatan.
Ketujuh, sang DirjenPas harus mempunyai kemampuan beradaptasi dan bekerja sama dalam teamwork. Tidak mung-kin membenahi pemasyarakatan sendirian karena persoalannya terlalu kompleks. Maka, sang DirjenPas haruslah seseorang yang mudah diterima oleh jajaran pemasyarakatan sendiri. Artinya, jika seandainya ia berasal dari luar pemasyarakatan, maka kemampuan individualnya untuk mudah diterima dan mempengaruhi perubahan secara masif adalah nilai tambah yang sangat berharga.
Kedelapan, yang tidak kalah pentingnya, sang DirjenPas harus sehat secara fisik dan psikis, sehat jasmani dan rohani. Tanpa kondisi fisik dan mental yang prima akan sangat sulit untuk menjalankan tugas-tugas dan menjawab tantangan keki-nian di jajaran pemasyarakatan.
Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR
180 181
Itulah beberapa kriteria dan persyaratan yang mesti dimi-liki oleh DirjenPas. Itu pula kriteria yang akan diuji oleh pan-sel dengan bantuan konsultan dan tim dokter independen.
Di luar konsultan dan dokter, panitia seleksi akan mem-butuhkan bantuan dan dukungan dari masyarakat luas untuk memperoleh dan memverifikasi rekam jejak dari setiap kan-didat DirjenPas. Itulah sebabnya, mengapa pada 21 Agustus 2013, menurut rencana, pengumuman seleksi akan disampai-kan secara terbuka melalui media cetak dan elektronik. Selu-ruh kandidat yang memenuhi syarat dipersilakan mendaftar dan mengikuti proses seleksi.
Kepada masyarakat luas, nama-nama kandidat akan di-umumkan secara terbuka untuk diberi masukan. Input dari masyarakat luas, keluarga, rekan kerja, tetangga dari setiap kandidat akan dikumpulkan dan diverifikasi sebagai bahan pe-nilaian rekam jejak dari para kandidat.
Seluruh proses diperkirakan selesai dalam satu bulan, sehingga pada akhir September 2013 calon DirjenPas dapat diusulkan secara resmi kepada Presiden oleh Menkumham. Inilah salah satu program aksi yang didorong untuk menjadi bagian dari solusi atas persoalan di pemasyarakatan; memasti-kan bahwa DirjenPas yang terpilih bumemasti-kanlah orang yang pas-pasan. Demi Pemasyarakatan yang lebih bermartabat, bagi Kemenkumham yang lebih baik. Keep on fighting for the bet-ter Indonesia. (*)
* Dimuat di Sindo dan Banjarmasin Post, 20 Agustus 2013.
Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR