• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wanuwa dalam Transisi Hingga Munculnya Tomanurung

WANUWA HINGGA TERBENTUKNYA KERAJAAN SOPPENG

3. Wanuwa dalam Transisi Hingga Munculnya Tomanurung

Dalam fase sejarah kehidupan masyarakat Bugis, ada masa dimana rakyat tidak mempunyai raja, sehingga terjadi kekacauan (chaos) yang disebut dengan masa sianrebale. Masyarakat hidup dalam kelompok-kelompok dengan kepala kelompok-kelompok masing-masing yang disebut matowa. Antara satu kelompok dengan kelompok yang lain saling bermusuhan dan saling membunuh. Zaman ini, oleh Pelras (2006) disebut dengan zaman anarkis yang penuh kekacauan. Suasana kehidupan di masa sianre bale digambarkan dalam naskah Lontara Soppeng:

transliterasi

... Dena gare’ riaseng arung/ aga tettassisenna taue siewa ada/ Pada

marana’-ana’mami tauwe/ Nasianre balena/ nasiabbelli bellayyanna tauwe/ Detoni ade’e/ apagisa de’ arung/ siaganiro ittana/ sianre bale tauwe/ Tekkeade tekkebicara . . ./”

(sumber: Lontara Soppeng, hlm. 152-153)

terjemahan/

... konon tiada lagi penguasa yang dipertuan sehingga orang-orang sama sekali tiada lagi saling memberi kabar berita/ Kecuali kepada sanak keluarga/anak istri saja/ Hidup bagaikan ikan, saling makan antara satu sama lain dan orang-orang saling menghianati, tidak ada saling mengharap/ Tidak ada aturan hukum, apalagi yang namanya peradilan. ..../

Masa kacau-balau terjadi karena tidak ada lagi koordinasi antara satu

matowa dengan matowa yang lain. Sistem pemerintahan tidak lagi teratur

dan peraturan tidak dipedomani. Hanya hukum rimba menjadi panglima di tengah masyarakat, sehingga yang kuat menindas yang lemah. Akibat dari semua itu, timbul malapetaka berupa kemarau berkepanjangan sehingga pertanian mengalami kegagalan. Masyarakat pun mengalami kekurangan pangan, sementara itu wabah penyakit yang tidak tertanggulangi. Di dalam Kronik Soppeng dikatakan bahwa Soppeng berada dalam keadaan sulit. Pada akhirnya muncullah tokoh yang menjadi simpul penyelamat yang digambarkan sebagai penjelmaan dewa yang turun dari langit (botillangi). Tokoh itu kemudian disebut Tomanurung.

Kegamangan kehidupan sosial kemasyarakatan yang disebabkan periode sianrebale telah berakhir setelah ditemukannya Tomanurunge ri

Sekkanyili bernama La Temamamala; pada waktu bersamaan muncul pula Tomanurunge ri Goarie bernama We Temmapuppu. Kedua Tomanurung

tersebut dipersatukan ke dalam ikatan pernikahan. Para matowa bersepakat untuk mengangkat to manurunge ri Sekkanyili La Temamamala menjadi Raja (Datu) Soppeng Riaja sedangkan istrinya to manurunge ri Goarie We Temmapuppu menjadi Datu Soppeng Rilau. Itulah sebabnya sehingga dalam pemerintahannya terhadap masyarakat Soppeng dikenal istilah duwa arung sedi ata artinya ‘dua raja satu rakyat’.

Konsensus antara Tomanurung di Soppeng dengan Matowa Enan Puluh mewakili para wanuwa Soppeng tampaknya sama halnya dengan daerah Bugis lain. Substansi isi perjanjian antara seorang raja dengan rakyat dimana rakyat mempunyai permintaan khusus kepada calon raja. Kandungan perjanjian (contract) antara Matowa Enam Puluh yang diwakili oleh Matowa Ujung, Matowa Botto, dan Matowa Bila dengan Tomanurung Petta Sekanynyili disajikan teksnya sebagai berikut.

Transliterasi

… /Makkedai Matowa Ujung, Matowa Bila, Matowa Botto/ Iana kiengkang maie Lamarupe maelokkeng riamaseang/ Aja’na muallajang/ Naiokona kipopuwang/

Mudongiri temmatippa’keng/\musalipuri temmadingikkeng/ Naikona Puwakkeng ri mawe’ ri mabelae/

Namuna pattarommeng muteaiwi kiteai mutonisa…/ (sumber: Lontara Soppeng, h. 152-153)

terjemahan

…/Berkata Matowa Ujung, Matowa Bila, dan Matowa Botto/ Tuan, Kami datang kemari meminta kebaikanmu/

Janganlah engkau menghilang, engkaulah kami pertuan/ Engkau jaga kami dari gangguan burung pipit/

Engkau selimuti kami agar kami tidak kedinginan/ Engkau satukan kami seperti ikatan padi/

agar kami tidak bercerai berai/

Engkaulah Tuan kami, yang jauh atau dekat/

Jika anak istri kami pun kau benci, akan kami ceraikan pula/”

Kandungan perjanjian antara Matowa dan Tomanurung menunjukkan adanya tatanan sosial-politik yang baru dikekalkan ke dalam institusi kerajaan Soppeng. Konsepnya ialah Tomanurung telah memperoleh kepercayaan menduduki takhta kedatuan Soppeng sebagai puwang atau raja yang memiliki kuasa. Sementara itu, rakyat Soppeng memposisikan dirinya sebagai wawa atau rakyat yang diayomi dan diperintah oleh raja. Konfigurasi hubungan rakyat dan Tomanurung telah memposisikan tiga kedudukan raja yang utama: 1) sebagai pengayom, yaitu menjaga dan mengawasi negeri agar rakyat Soppeng dapat mencapai kehidupan

sejahtera dan terjaga keamanan dirinya; 2) sebagai pelindung, yaitu menyelimuti rakyat agar terhindar dari ganggguan dan perlakuan semena-mena dari pihak luar; dan 3) sebagai pemersatu, yaitu raja memiliki tanggung jawab sebagai simpul pemersatu bagi penduduk Soppeng secara keseluruhan dalam rangka mencapai kehidupan yang bahagia.

Setelah kontrak perjanjian tersebut dilakukan, maka raja kemudian berhak pula memperolah hak-haknya dari rakyat yaitu mendapatkan istana sebagai tempat tinggalnya dan sawah kerajaan sebagai sumber makanannya. Istana Kedatuan Soppeng kemudian didirikan di Tinco, serta pembukaan sawah dilakukan oleh rakyat untuk memberikan pelayanan kepada sang Raja. Sebaliknya, seorang raja harus menjamin kelangsungan hidup yang damai. Nampaknya format tersebut sudah menjadi format baku yang terjadi dimasa awal pembentukan kerajaan-kerajaan di wilayah Bugis dan Makassar (Pelras, 2006).

Jika ditelusuri toponim Tinco sebagai lokasi istana Tomanurung La Temamamala, tampaknya topografi wilayahnya cukup datar dan landai, tingginya hanya 120 meter di atas permukaan laut. Di daerah tersebut juga terdapat sumber air dari Sungai Lawo yang mengalir di sebelah selatan dan karena hanya menggali tanah pada kedalaman 3 sampai dengan 5 meter saja, maka sudah mendapatkan air. Topografi semacam ini sangat sesuai pula kegiatan pertanian dan peladangan, karena memungkinan padi sawah tumbuh subur oleh karena kelembapan tanahnya yang sangat baik. Pada penelitian serbuk sari (pollen) di Tinco juga ditemukan jenis Poaceae yang merupakan spesies dari padi atau jagung (Hasanuddin, 2015). Toponim Goarie sebagai lokasi ditemukannya Tomanurunge We Temmapuppu yang lokasinya jauh ke arah selatan juga merupakan topgrafi yang subur sehingga cukup potensial menjadi wilayah pemukiman yang baik. Hal itu ditandai dengan topografinya yang berada di puncak bukit dengan kegiatan perladangan yang masih dilakukan hingga sekarang, bahkan masyarakat masih melakukan kegiatan pertanian sebagai sumber makanan pokok.

Di samping pertimbangan sosial-politik, aspek topografi alamnya yang baik dan potensial misalnya ketersediaan sumber makanan yang cukup, menjadi satu alasan dipilihnya Tinco. Pola seperti ini telah menjadi model pemilihan dan wujudnya pemukiman-pemukiman penduduk di

Sulawesi Selatan pada masa lampau. Tidak berbeda dengan pemukiman lain seperti di Kerajaan Suppa’ yang berlokasi di sebelah barat Soppeng; munculnya pemukian baru, termasuk lokasi istana pemerintahan raja juga mempertimbangkan faktor ketersediaan sumber makanan seperti binatang buruan kijang atau rusa, kerbau dan ikan. Geografi Suppa’ tergambarkan, di ujung tanjungnya terdapat sebuah perkampungan yang dinamakan Ujung Lero, sedangkan daratannya dibelah oleh Sungai Marauleng, dengan muaranya di bagian barat itu menghadap ke lautan luas Selat Makassar yang menjadi pintu gerbang masuknya perahu dan kapal. Kedudukan geografi dan potensi alam sekitar di Suppa’ itu sudah menjadi daya tarik bagi penduduk sekitar dan pendatang untuk menjadikannya sebagai pemukiman baru.

Perkembangan wanuwa-wanuwa yang ada di Soppeng, terus-menerus mengalami kemajuan yang pesat seiring dengan intensifikasi pertanian sawah mulai digalakkan, yang didorong oleh kebutuhan pangan karena pertambahan penduduk yang pesat. Hal itu sejalan dengan konsep demografik Binford dan Flannery (1968) yang menjelaskan bahwa peningkatan populasi penduduk akan berkaitan dengan eksploitasi lingkungan alam makin meningkat pula, untuk kebutuhkan makanan lebih banyak dari yang dapat dikumpulkan. Berbagai faktor sosial dan ekonomi juga mendorong keinginan untuk mendapatkan ketersediaan makanan yang lebih.

Setelah matowa-matowa pemegang otoritas wanuwa berhasil mendudukkan La Temamamala di istana memangku kekuasaan sebagai Datu Soppeng, maka serta-merta sistem sosial-politik kerajaan mengalami perubahan secara drastis. Perubahan yang dimaksudkan adalah terjadinya peralihan desentralisasi kekuasaan dari para matowa wanuwa kemudian beralih pada sistem sentralistik di mana kekuasan dan otoritas politik Soppeng telah berada di tangan seorang raja (datu). Fenomena itu menjadi cikal-bakal terjadinya konsentrasi perekonomian yang pada awalnya berada pada daerah wanuwa-wanuwa, kemudian beralih kepada pusat kerajaan di mana istana ditempatkan. Perkembangan wanuwa pada masa lampau telah terindikasi pada persebaran keramik-keramik asing yang terkosentrasi pada pusat-pusat kekuasaan dan wilayah

sekitarnya. Sesuai dengan temuan yang diungkapkan Caldwel pada tahun 1988 (periksa pula Kallupa dkk, 1989), menunjukkan konsentrasi kepadatan keramik asing dijumpai di wilayah Tinco, Laleng Benteng atau pusat pemukiman Soppeng, Ujung, Botto dan Bila. Sejarah keberadaan toponim atau wanuwa tersebut seperti yang juga direkam di dalam lontara memang telah disebutkan sebagai wilayah atau titik kekuasan kerajaan Soppeng pada masa lampau.

Referensi

Abd. Latif, and Nordin Hussin, and Rahilah Omar , 2012. “Konsep Wanua dan Palili di Konfederasi Ajatappareng di Sulawesi Selatan”.

Geografia: Malaysian Journal of Society and Space, 8 (7). 96-103.

Asba, Rasyid. A., 2010. Kerajaan Nepo. Penerbit Ombak, Yogyakarta. Binford, Lewis R. (1968). Post-Pleistocene Adaptations. Di Sally R. Binford

and Lewis R. Binford. New Perspectives in Archaeology. Chicago: Aldine Publishing Company. pp. 313–342.

Caldwell, Ian. 1988. “South Sulawesi AD 1300-1600; Ten Bugis Texts”, Ph.D Tesis, Australian National University, Canberra.

Caldwell, Ian. 1995. “Power, State and Society Among the pre-Islamic Bugis”, Bijdragen tot de Taal-, en Volkenkunde (151): 394-421. Gibson, Thomas, 2012. Narasi Islam dan Otoritas Di Asia Tenggara Abad

Ke-16 Hingga Abad Ke-21. Penerbit : Ininnawa. Makassar.

Kallupa, Bahru; Bulbeck. David; Caldwell, Ian; Suamntri, Iwan; Demmanari, Karaeng 1989. Survey Pusat Kerajaan Soppeng 1100–1986. Australia: Final Report to the Australian Myer Foundation.

Hamid, Pananrangi. 1991. Sejarah Kabupaten Daerah tk.II Soppeng. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional: Ujungpandang.

Hasanuddin 2015. “Kebudayaan Megalitik di Sulawesi Selatan dan Hubungannya dengan Asia Tenggara”. Thesis Ph.D. Pulau Penang: Universiti Sains Malaysia.

Mundarjito, 1993. Pertimbangan Ekologi Dalam Penempatan Situs Masa

Hindu-Buda Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi Ruang Skala Makro.

Pelras, Christian, 2006. Manusia Bugis. Penerbit Nalar. Forum Jakarta-Paris. Ecole Francaised’ Extreme-Orient. Jakarta.