Ramalan Watak dan Nasib
Primbon Jawa memuat berbagai ramalan watak manusia, bahkan sejak masih jabang bayi. Ramalan-ramalan itu sesuai dengan banyak hal, antara lain:
Menurut wuku kelahiran Menurut hari lahir
Menurut hari dan jam lahir Menurut pekan lahir
Menurut hari dan pekan lahir Menurut tanggal lahir
Menurut bulan lahir Menurut mangsa lahir
Menurut neptu hari/pekan lahir
Menurut hitungan neptu hari/pekan bagi 9 Menurut hitungan neptu hari/pekan bagi 8 Menurut hari/tanggal lahir
Sesuai letak tahi lalat
Sesuai letak toh (tanda lahir)
Sesuai hitungan huruf pertama dan terakhir namanya Sesuai ciri fisik
Dalam ramalan-ramalan tersebut, watak dan sifat manusia dikaitkan dengan waktu, ciri-ciri fisik dan proses pembuahannya. Di sini terlihat filosofi tentang nasib manusia yang ditentukan oleh hal-hal di sekelilingnya, mencermati faktor-faktor penentu ini menjadi sebuah “ngelmu” yang biasanya dimiliki oleh para dukun dan orang pintar. Primbon merangkum beraneka hal tadi sehingga menjadi pegangan utama para dukun Jawa.
Sengkala
Sengkala adalah rintangan hidup yang dialami oleh manusia yang diakibatkan adanya energi negatif atau aura hitam yang ada dalam diri seseorang sehingga mengakibatkan penderitaan lahir batin. Contohnya adalah ada orang yang rajin bekerja dan berusaha namun selalu mengalami kegagalan, padahal ada orang lain yang usahanya santai-santai saja selalu saja dinaungi keberuntungan.
Pada asalnya, istilah sengkala mungkin berasal dari Sang Kala atau Batara Kala. Dewa pembawa sial dalam mitologi Hindu yang dibuahkan secara sumbang oleh Batara Guru (rajanya para dewa) saat bangkit nafsunya melihat Dewi Uma. Mani Batara Guru jatuh ke laut dan menjadi Batara Kala. Setelah besar, Kala menghadap ayahnya dan disabda bahwa makanannya adalah orang-orang yang menyandang sengkala. Batara Kala kemudian menebar sial di antara anak manusia yang tak beruntung (sukerta).
Penyebab Sengkala bisa bermacam-macam. Ada sengkala yang sudah dibawa sejak lahir (ini biasanya akibat perbuatan jelek dikehidupan/ reinkarnasi sebelumnya), ada sengkala akibat berbuat zalim/tidak baik kepada orang lain di masa sekarang, ada sengkala yang sengaja ‘ditanam’ orang dengan tujuan jahat karena bermusuhan dengan kita, dan lain-lain sebab.
Berbagai Jenis Sengkala dapat dikategorikan menjadi 29 yaitu: 1. Kebo kemali (sulit dapat jodoh)
2. Bahu laweyan (jika menikah, pasangan atau anak anda meninggal) 3. Jlomprong (sepanjang hidup terus menerus dirundung sakit) 4. Cluwak bodas (dengan pasangan selalu bentrok)
6. Cekal kendit (karir macet, jabatan tak pernah naik) 7. Gotro Pati (rejeki seret, kerja siang malam tak ada hasil)
8. Kantong bolong (sebesar apapun hasil yang didapat selalu habis, boros)
9. Gendring bumi (usaha selalu gagal karena tanah yang ditempati wingit, angker/keramat)
10. Ruwing (sial terus menerus karena menyakiti orang tua) 11. Rerewo bodes (sering ingkar janji, hidup jadi apes) 12. Bandor sari (hidup sial karena dikutuk/disumpah ibu) 13. Jeblak (hidup sial karena dikutuk/disumpah ayah) 14. Cengis (selalu difitnah orang)
15. Gabuk (sudah tahunan menikah belum punya anak)
16. Cluring (hidup sial, usaha gagal, sering sakit pula alias sial multidimensi)
17. Branjang sunu (sial karena makan makanan haram) 18. Srigunting (selalu ditolak dalam urusan asmara)
19. Blunuk glontar (hidup sengsara karena menolak cinta seseorang) 20. Blorong (tidak betah kerja, selalu pindah-pindah karena berbagai
masalah)
21. Pantek jangkar (jiwa labil karena salah salah/belum siap belajar ilmu) 22. Gombak gimbal (sial karena bagian tubuh ada yang diubah misalnya
operasi plastik dll)
23. Jebluk (sering mengalami kecelakaan)
24. Borong cokro (sial karena ingkar nadzar misalnya pada makam kera-mat)
25. Surengkala (dimana-mana dimusuhi orang)
26. Cleret timbal (kesialan karena hukum karma akibat perbuatan di masa lalu)
27. Gendrung bedes (sial karena sering berbuat maksiat) 28. Blongkang suji (sial karena membunuh orang)
29. Birowo (sial karena disabda orang sakit)
Dalam tradisi Jawa, solusi untuk mengatasi sengkala adalah dengan mengikuti ruwatan.
Ruwatan dan Sukerta1
Ruwatan merupakan upacara adat yang bertujuan membebaskan seseorang, komunitas, atau wilayah dari ancaman bahaya. Inti upacara ini sebenarnya adalah do’a, memohon perlindungan dari ancaman bahaya seperti bencana alam, juga do’a memohon pengampunan, dosa-dosa dan kesalahan yang telah dilakukan yang dapat menyebabkan bencana. Upacara ini berasal dari ajaran budaya Jawa kuno yang bersifat sinkretis, namun sekarang diadaptasikan dengan ajaran agama.
Ruwatan bermakna mengembalikan ke keadaan sebelumnya, maksudnya keadaan sekarang yang kurang baik dikembalikan ke keadaan sebelumnya yang baik. Makna lain ruwatan adalah membebaskan orang atau barang atau desa dari ancaman bencana yang kemungkinan akan terjadi, jadi bisa dianggap upacara ini sebenarnya untuk tolak bala’.
Upacara ini berasal dari cerita Batara Kala, yaitu raksasa yang suka makan manusia. Menurut kepustakaan “Pakem Ruwatan Murwa Kala” Javanologi gabungan dari beberapa sumber, antara lain dari Serat Centhini (Sri Paku Buwana V), bahwa orang yang harus diruwat disebut anak atau orang “Sukerta” ada 60 macam penyebab malapetaka, yaitu sebagai berikut:
1. Ontang-Anting, yaitu anak tunggal laki-laki atau perempuan.
2. Uger-Uger Lawang, yaitu dua orang anak yang kedua-duanya laki-laki dengan catatan tidak anak yang meninggal.
3. Sendhang Kapit Pancuran, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu laki-laki sedang anak yang ke 2 perempuan.
4. Pancuran Kapit Sendhang, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu perempuan sedang anak yang ke 2 laki-laki.
5. Anak Bungkus, yaitu anak yang ketika lahirnya masih terbungkus oleh selaput pembungkus bayi (placenta).
6. Anak Kembar, yaitu dua orang kembar putra atau kembar putri atau
kembar “dampit” yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan (yang lahir pada saat bersamaan).
7. Kembang Sepasang, yaitu sepasang bunga yaitu dua orang anak yang kedua-duanya perempuan.
8. Kendhana-Kendhini, yaitu dua orang anak sekandung terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.
9. Saramba, yaitu 4 orang anak yang semuanya laki-laki. 10. Srimpi, yaitu 4 orang anak yang semuanya perempuan.
11. Mancalaputra atau Pandawa, yaitu 5 orang anak yang semuanya laki-laki.
12. Mancalaputri, yaitu 5 orang anak yang semuanya perempuan.
13. Pipilan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki.
14. Padangan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 1 orang anak perempuan.
15. Julung Pujud, yaitu anak yang lahir saat matahari terbenam.
16. Julung Wangi, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari.
17. Julung Sungsang, yaitu anak yang lahir tepat jam 12 siang. 18. Tiba Ungker, yaitu anak yang lahir, kemudian meninggal.
19. Jempina, yaitu anak yang baru berumur 7 bulan dalam kandungan sudah lahir.
20. Tiba Sampir, yaitu anak yang lahir berkalung usus. 21. Margana, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan.
22. Wahana, yaitu anak yang lahir dihalaman atau pekarangan rumah. 23. Siwah atau Salewah, yaitu anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit
dua macam warna, misalnya hitam dan putih.
24. Bule, yaitu anak yang dilahirkan berkulit dan berambut putih “bule” 25. Kresna, yaitu anak yang dilahirkan memiliki kulit hitam.
26. Walika, yaitu anak yang dilahirkan berwujud bajang atau kerdil. 27. Wungkuk, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bengkok.
28. Dengkak, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung menonjol, seperti punggung onta.
29. Wujil, yaitu anak yang lahir dengan badan cebol atau pendek.
30. Lawang Menga, yaitu anak yang dilahirkan bersamaan keluarnya “Candikala” yaitu ketika warna langit merah kekuning- kuningan. 31. Made, yaitu anak yang lahir tanpa alas (tikar).
32. Orang yang ketika menanak nasi, merobohkan “Dandhang” (tempat menanak nasi).
33. Memecahkan “Pipisan” dan mematahkan “Gandik” (alat landasan dan batu penggiling untuk menghaluskan ramu-ramuan obat tradisional). 34. Orang yang bertempat tinggal di dalam rumah yang tak ada “tutup
keyongnya”.
35. Orang tidur di atas kasur tanpa sprei (penutup kasur).
36. Orang yang membuat pepajangan atau dekorasi tanpa samir atau daun pisang.
37. Orang yang memiliki lumbung atau gudang tempat penyimpanan padi dan kopra tanpa diberi alas dan atap.
38. Orang yang menempatkan barang di suatu tempat (dandhang - misalnya) tanpa ada tutupnya.
39. Orang yang membuat kutu masih hidup. 40. Orang yang berdiri ditengah-tengah pintu. 41. Orang yang duduk didepan (ambang) pintu. 42. Orang yang selalu bertopang dagu.
43. Orang yang gemar membakar kulit bawang.
44. Orang yang mengadu suatu wadah/tempat (misalnya dandhang diadu dengan dandhang).
45. Orang yang senang membakar rambut.
46. Orang yang senang membakar tikar dengan bambu (galar). 47. Orang yang senang membakar kayu pohon “kelor”. 48. Orang yang senang membakar tulang.
sekaligus.
50. Orang yang suka membuang garam.
51. Orang yang senang membuang sampah lewat jendela.
52. Orang yang senang membuang sampah atau kotoran dibawah (dikolong) tempat tidur.
53. Orang yang tidur pada waktu matahari terbit.
54. Orang yang tidur pada waktu matahari terbenam (wayah surup). 55. Orang yang memanjat pohon disiang hari bolong atau jam 12 siang
(wayah bedhug).
56. Orang yang tidur diwaktu siang hari bolong jam 12 siang.
57. Orang yang menanak nasi, kemuadian ditinggal pergi ke tetangga. 58. Orang yang suka mengaku hak orang lain.
59. Orang yang suka meninggalkan beras di dalam “lesung” (tempat penumbuk nasi).
60. Orang yang lengah, sehingga merobohkan jemuran “wijen” (biji-bijian).
Itulah 60 jenis “Sukerta” yaitu jenis-jenis manusia yang telah dijanjikan oleh Sang Hyang Betara Guru kepada Batara Kala untuk menjadi santapan atau makanannya, bahkan menurut Pustaka Raja Purwa (jilid I halaman 194) karya pujangga R. Ng. Ranggawarsito disebutkan ada 136 macam Sukerta. Menurut mereka yang percaya, orang-orang yang tergolong di dalam kriteria tersebut di atas dapat menghindarkan diri dari malapetaka (menjadi makanan Betara Kala) tersebut, jika ia mempergelarkan wayangan atau ruwatan dengan cerita Murwakala. Ada juga lakon wayang kulit ruwatan yang misalnya: Baratayuda, Sudamala, Kunjarakarna dan lain-lain.
Selain Ruwat Sukerta, terdapat juga “Ruwat Sengkala atau Sang Kala” yang artinya menjadi mangsa Sangkala yaitu jalan kehidupannya sudah terbelenggu serta penuh kesulitan, tidak bisa sejalan dengan alur hukum alam (ruang dan waktu) ini disebabkan oleh kesalahan-kesalahan perbuatan atau tingkah lakunya pada masa lalu.
Adapun sesaji yang disiapakan yaitu kain tujuh warna, beras kuning, jarum kuning, dan bunga tujuh rupa. Untuk tolak bala’ bagi orang yang mengalami sial harus menjalani siraman air suci dan menggunting
rambut, rambut tersebut dihanyutkan ke sungai untuk menuju laut. Prosesi ini biasanya diawali dengan pertunjukan wayang kulit dengan lakon Murwakala yang menceritakan proses lahirnya Batara Kala dan kesialan yang dibawanya. Lalu turunlah Batara Wisnu sebagai Dalang Kandabuana yang meruwat para sukerta.